Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 94


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, dengan orang yang sama pula. Pagi ini, kami masih di rumah Mama. Libur kuliah masih ada sisa beberapa hari lagi, dan mungkin kami akan kembali ke kontrakan saat kuliah kembali aktif.


Pagi ini, aku memasak omelet untuk sarapan kami. Kak Darren juga masih tinggal di sini.


“Makin hari, masakan kamu makin enak, Dek,” puji Kak Darren.


Kakakku yang paling ganteng itu masih belum bersiap ke kantor, berbeda dengan Arsen yang sudah ganteng maksimal dengan kemeja yang digulung sampai ke siku.


“Iyalah, aku kan udah jadi istri yang baik,” jawabku yang membuat Mama tersedak.


“Mama nggak papa?”  Kak Darren dengan sigap mengambilkan minum untuk Mama.


Mama menggeleng lalu meminum air putih yang diberikan Kak Darren.


Apa ada yang salah dengan kata-kataku? Apa Mama tersinggung? Padahal niatku kan hanya ingin pamer bukan untuk menyindir Mama.


***


“Kamu bawa mobil aja, Oppa,” ucapku saat mengantar Arsen berangkat sampai di depan pintu.


“Nanti kamu nggak bisa jalan-jalan. Emangnya kamu bisa naik motor?” Arsen mengancingkan kembali lengan kemejanya yang tadi tergulung.


“Nggak bisa sih, lagian aku nggak kemana-mana kok, karena nanti siang Tante Sabila mau ke sini.” Aku mengusap kemeja Arsen di bagian dada. Entahlah, melihatnya tampil rapi seperti ini, rasanya ingin sekali melihat Arsen menjadi Presdir, dia pasti akan semakin keren. Akan tetapi, aku sangat tahu, Asen tidak akan mau menempati jabatan yang bukan diraih dari kerja kerasnya sendiri.

__ADS_1


Cup.


Satu kecupan mendarat di keningku. Aku mendongak untuk menatap pemilik bibir yang secara tiba-tiba mengecup keningku.


“Kapan-kapan, kita akan belajar naik motor, pasti romantis,” ucapnya yang kemudian memelukku.


“Baiklah, aku akan menagihnya sebagai janji.”


***


Tante Sabila baru saja datang di rumah Mama, dengan membawa beberapa kantong buah dan sayur. Entah apa yang akan dimasak Tante Sabila dengan buah dan sayur sebanyak itu.


“Tante banyak banget buah sama sayurnya, Tante mau masak apa?” tanyaku sambil memasukkan buah dan sayur yang telah dicuci ke dalam kulkas.


Kesehatan Mama? Maksud Tante Sabila apa ya? Apa Mama sedang tidak sehat?


“Ini kamu kasih ke Mama kamu, ya.” Tante Sabila mengangsurkan blueberry yang sudah bersih kepadaku.


Aku hanya mengangguk, lalu berjalan menghampiri Mama dan Kak Darren di ruang keluarga.


“Ma, ini blueberrynya.” Sekotak blueberry telah diterima Mama.


“Makasih ya, Sayang.” Mama menerima buah itu.

__ADS_1


Aku memilih duduk berhadapan dengan Mama daKak Darren yang duduk berdampingan. Hubungan ibu dan anak itu  memang begitu dekat. Kak Darren bahkan belum berangkat ke kantor dan memilih menemani Mama, padahal di rumah ada aku dan tante Sabila, juga beberapa pekerja di rumah Mama.


“Kakak nggak ke kantor?” tanyaku yang semakin aneh melihat mereka berdua.


“Papa lagi di Jepang. Jadi, kakak mau santai aja, berangkat agak siang,” jawabnya santai.


“Kamu belum masuk kuliah, Sayang?” tanya Mama.


“Senin depan, Ma. Mama kok kayaknya pucet banget. Mama nggak pakai make up?”


Wajah Mama memang terlihat pucat, tidak seperti biasanya. Apa Mama benar-benar sakit?


“Iya, mama lupa nggak pakai, Sayang.” Mama tersenyum simpul seolah menutupi sesuatu.


Apa yang disembunyikan Mama dariku? Apa Kak Darren juga tahu soal itu?


***


...Cari tahu Kim, kepoin dong 😔😔...


Gengs, maaf baru nongol. Aku sengaja up 1 bab tadi, biar normalin like di bab sebelum-sebelumnya. Sedih banget yang like nggak ada 1% dari total baca seharinya 😂😂😂


Makanya, yuk like dong. Gratis ini kan. Kalau yang komentar, nanti pasti aku balas ya, sabar dulu. 🤭🤭🤭 gaya sok sibuk 😅😅😅

__ADS_1


Sampai ketemu lagi sayang-sayangnya Kimmy-Arsen 👋👋


__ADS_2