
Usai pulang dari butik, Arsen mengajakku untuk menemaninya membeli tinta printer. Karena aku ingin sekalian jalan-jalan, akhirnya kami membeli tinta di mal.
“Oppa, kita kayak orang pacaran ya,” ucapku sambil merangkul lengan kekar milik suamiku itu.
“Kita kan udah nikah Sayang.” Arsen merangkul pinggangku.
“Iya, tapi pasti orang ngiranya kita masih pacaran,” ucapku sambil menikmati es krim di tanganku.
“Aku bawa buku nikah kok.” Arsen menunjuk waist bagnya.
“Buat apa?” tanyaku karena sedikit aneh ke mana-mana membawa buku nikah.
“Kamu lupa kita pernah digiring ke kantor polisi gara-gara nggak bawa buku nikah, KTP kita juga bentar lagi mau aku urus,” kata Arsen.
“Ih, dasar!” Aku tersenyum mengingat momen memalukan bersama Arsen.
Namun, momen saat kami dibawa ke kantor polisi karena ciuman, jelas akan menjadi momen manis yang sedikit memalukan untuk kami.
kami terus berjalan tanpa tujuan pasti akan ke mana. Tiba-tiba seorang wanita menyenggol lengan Arsen.
“Eh sorry, Kak,” ucapnya sambil memungut paperbagnya yang berjatuhan.
“Biar aku aja yang bantuin.” Aku menahan Arsen saat ia berinisiatif membantu wanita itu.
Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan satu orang pun mempunyai kesempatan untuk menarik perhatian Arsen.
“Maaf ya, Kak.” Wanita itu meminta maaf karena memang dia yang bersalah.
Arsen dan wanita yang kelihatannya seumuran denganku itu saling pandang, hanya beberapa saat sebelum akhirnya ada yang datang menghampiri kami.
“Dera, Arsen.” Yumna tiba-tiba muncul. Wanita itu entah datang dari mana.
“Yumna.”
“Kak Yumna kenal mereka?” tanya wanita yang tadi menabrak Arsen.
“Temen di kampus,” sahutku sebelum Yumna menjawab.
__ADS_1
“Iya, mereka teman kuliah aku sama Dion juga,” jawab Yumna. “Arsen, Kimmora. Ini Dera sepupunya Dion.” Yumna memperkenalkan kami bertiga.
Lalu, Dera mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku dan Arsen secara bergantian.
“Hai, aku Kimmora, dan ini suamiku,” jawabku yang seketika membuat Yumna mengernyit.
“Arsen, suaminya Kimmora,” kata Arsen saat berkenalan dengan wanita bernama Dera itu.
“Aku Dera Kak, senang bertemu kalian,” kata wanita itu dengan ramah.
“Kalian udah nikah?” tanya Yumna.
“Iya,” jawabku, “Sayang, apa kita perlu menunjukkan buku nikah kita sama dia.”
“Em, kita pulang aja yuk. Nggak enak kalau nanti kamu adu mulut sama Yumna di tempat umum begini,” bisik Arsen di telingaku.
“Kapan kalian menikah?” tanya Yumna.
“Udah lama, em kita duluan ya.” Aku merangkul pinggang Arsen dan kemudian meninggalkan dua wanita muda itu.
***
“Udah dapat gaunnya Sayang?” tanya Mama saat aku dan Arsen bergabung
“Udah, Ma. Sepatunya aku mau pakai yang Mama belikan aja,” jawabku.
“Iya, Sayang. Mama besok juga mau pakai sepatu baru buat ketemu pa ….” Mamatak lagi melanjutkan bicaranya.
“Ehem, ehem, ehem.” Kak Darren berdehem seperti orang yang berpura-pura batuk.
“Ish, batuk Pak Darren?” godaku menirukan iklan obat batuk di televisi.
Kak Darren hanya menanggapi dengan anggukan saja.
“Besok kita ke salon bareng yuk!” ajak Mama.
“Mama sama Kak Darren mau ke mana sih sebenarnya?” tanyaku sedikit curiga, pasalnya Mama dan kak Darren benar-benar aneh, seolah ada yang mereka sembunyikan dariku.
__ADS_1
“Udah jangan bawel, buruan makan!” perintah kakakku itu.
***
Arsen kembali berkutat dengan skripsinya, ia benar-benar sibuk setiap harinya. Setelah otaknya diperas untuk bekerja di kantor Papa, pulangnya masih harus mengerjakan skripsinya. Sebenarnya aku sangat kasihan dengannya, tapi mau bagaimana lagi, yang bisa aku lakukan hanyalah membantunya menyalurkan hasratnya supaya tidak terlalu stres, dan itu hampir setiap hari.
Malam ini, aku masih menunggunya seperti malam-malam kemarin. Bedanya, malam ini, Arsen membawa tugas-tugasnya ke kasur. Sambil bersandar di headboard, ia memangku laptopnya.
Aku sibuk mengamatinya yang berkali-kali membuka buku, mengetik, membuka buku yang lain, lalu mengetik lagi. Sudah aku bilang ‘kan kalau Arsen selalu bertambah ganteng setiap kali menampilkan wajah seriusnya.
“Aku ganteng banget ya?” celetuknya yang masih sibuk menekan tombol keyboardnya dengan gerakan cepat.
Apa ia menyadari bahwa sedari tadi telah kupandangi?
“Lumayanlah, bisa bikin aku nggak bisa tidur nyenyak tanpa melihatnya,” godaku.
“Sebentar lagi selesai, jangan harap kamu bisa lepas ya, kalau aku sudah siap,” ucapnya masih terus fokus dengan laptop dan bukunya.
Aku hanya tersenyum meski entah dilihatnya atau tidak.
“Oh iya, cewek yang tadi sama Yumna itu sepupunya Dion, berarti sepupu kamu juga dong?”
Arsen langsung melepas kacamatanya dan menoleh padaku. Ia tampak berpikir sebelum menjawab pradugaku.
“Sepupu Dion kan belum tentu dari keluarga ayahnya, bisa saja sepupu dari ibunya,” jelas Arsen lalu kembali fokus dengan tugas akhirnya.
Ya, bisa saja sih saudara Dion dari keluarga ibunya seperti kata Arsen, tapi bisa juga kan dia saudaranya Arsen juga.
***
...Saudara atau bukan, buat apa dipikir sih kim, itu buat bab season 2 aja 😂😂😂...
Hai, gengs lolipop yang super kece, aku up sehari 2 bab ya, kalau khilaf, kalau gak khilaf ya satu aja.
Tapi plis, kalau kalian baca beberapa bab langsung, setiap babnya juga di like ya, jangan cuma bab terakhirnya aja 😄😄
Like, Komen, Hadiah, Vote. Itu ritual jejaknya ya.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 👋👋