
Son terlonjak dari kursinya. Panggilan Ammar reflek menggerakkan tubuhnya untuk merespon secara cepat ke arah sumber suara. Tidak peduli ia masih terhubung dalam sambungan telpon dengan seseorang.
“Siap Pak!”
Ammar terlihat panik. Sorot matanya mengisyaratkan kebingungan tanpa dibuat-buat. Son tahu apa yang harus dilakukan. Ia memang bisa diandalkan dalam kondisi apapun. Ekspresi wajahnya tidak pernah berubah. Dalam kondisi panik, lucu, marah ia tetap konsisten. Datar. Son nyaris tak pernah tertawa lepas atau marah-marah sekalipun. Seperti manusia pada umumnya. Son sangat berkarakter. Cool, sigap dan cekatan.
Ammar segalanya bagi Son. Tentu setelah Allah dan Rasulnya. Bila Ammar mengatakan segera itu artinya harus cepat tak terbantahkan. Bila perlu ia akan berlari. Walau banyak tatapan mata yang terpapar melihatnya, ia tidak peduli. Buat seorang Ammar ia akan melakukan apapun. Ammar adalah alasan dimana ia harus patuh. Padahal Ammar bukan tipe yang gila hormat. Son telah membuat semua urusan Ammar menjadi mudah. Tak berlebihan bila Ammar mengangkatnya sebagai manager segala urusan.
Son mengangkat tubuh Pak Faisol nyaris tanpa keberatan. Sebelum bekerja pada Ammar ia pernah menjadi kuli panggul di pasar. Jangankan tubuh Pak Faisol yang kurus kerempeng, beras satu kwintal saja ia mampu memanggul sambil setengah berlari. Ammar melihat aksi Son dengan tatapan terpana sekaligus takjub.
“Ck..ck.” Ammar berdecak.
“Bapak tenang saja di sini. Saya akan amankan.” Ammar masih tidak berkedip. Seolah tersihir oleh aksi heroik Son.
Son membopong Pak Faisol keluar dari ruangan Ammar. Tatapan mata karyawan di luar mengikuti langkah Son. Ia tetap berjalan tidak peduli.
“Kenapa Pak Faisol?”
“Ada apa ini?”
Mereka tampak bertanya-tanya satu sama lain. Situasi itu tidak menyenangkan bagi seorang Son. Ia pun segera meletakkan tubuh Pak Faisol di atas sofa.
“Berhentilah berisik! Jangan mengurusi apa yang bukan urusan kalian. Kembalilah bekerja!” ucapan Son langsung membungkam mulut beberapa karyawan seketika. Padahal mereka sudah berebut mendekat. Jadilah mereka mundur teratur.
“Lis, tolong kayu putih.” Erlis yang posisinya paling dekat langsung mencari benda yang dimaksud.
“Tan. Tolong buatkan teh hangat!” Tania langsung bangkit menuju dapur. Matanya sempat mengerling teman di sebelahnya.
“GPL. Gak pake lama.” Ucap Son tegas. Erlis dan Tania bergerak cepat sesuai instruksi manager segala urusan.
Erlis mengerlingkan mata pada Tania. Sementara Tania mencibir sehingga bibirnya membentuk lengkungan.
Son membalur beberapa bagian tubuh Pak Faisol dengan kayu putih. Terutama hidung dan kening. Mengendorkan ikat pinggang dan melepas sepatunya. Ia juga memijat beberapa bagian tubuh Pak Faisol yang berkaitan dengan saraf kesadaran. Walaupun tidak lama, Ia pernah juga bekerja di pijat refleksi pada tetangganya yang buka kios dekat pasar. Selepas lulus sekolah, Son bekerja serabutan. Apapun asal ada duitnya dan halal , ia lakukan. Orang tuanya sangat miskin. Jadi ia harus berjuang sekuat tenaga. Siapapun terkesan dengan pekerjaannya. Tidak berapa lama Pak Faisol membuka mata. Son tersenyum tipis melihat mata Pak Faisol mengitari ruangan. Pak Faisol sedang berusaha mengembalikan sebagian ingatannya.
“Minumlah dulu Pak!” ucap Son.
Pak Faisol menuruti perintah Son seraya bersyukur dalam hati. Ia memang haus sekali. Segelas teh hangat manis bisa membuat badannya lebih nyaman.
“Pak Manager, bisakah djelaskan pada saya, bagaimana saya bisa tidur di sini?” Tanya Pak Faisol.
Son mengernyitkan dahi. Kemudian Pak Faisol melanjutkan ucapannya.
“Tadi saya bermimpi, Bos Ammar melamar putri saya. Seandainya itu beneran. Ternyata hanya mimpi di siang bolong.”
Pak Faisol terkekeh. Son menaikkan alisnya. Tampak ia sedang berpikir keras sambil manggut-manggut.
Setelah merasa fit, Pak Faisol berpamitan pada Son untuk melanjutkan pekerjaan. Ia tidak punya alasan untuk berlama-lama. Selama ini Pak Faisol dikenal sebagai pekerja keras dan disiplin.
Son bergegas ke ruangan Ammar untuk memberikan laporan terupdate.
“Bagaimana kondisi Pak Faisol?” Tanya Ammar pada Son yang sudah mengambil posisi duduk di depannya.
“Sudah kembali bekerja, Pak.”
“Baguslah. Apa dia mengatakan sesuatu?” Tanya Ammar.
Son mengingat-ingat ucapan Pak Faisol tadi. Ia harus menyampaikan ke Ammar. Tidak lebih dan tidak kurang.
“Pak Faisol bilang kalau ia bermimpi, Bos Ammar melamar putrinya. Seandainya itu benar, katanya.”
“Benar dia bilang begitu?” Ammar tersenyum sambil geleng-geleng. Son mengamati mimik bosnya.
“Son. Bilang ke Pak Faisol. Kali ini kamu harus hati-hati. Jangan sampai dia pingsan lagi.” Son mendekatkan wajahnya. Memasang telinga baik-baik.
“Siap Pak!”
__ADS_1
“Katakan padanya, itu bukan mimpi.” Kali ini Son tergagap.
Biarpun Ammar menyampaikan ini dengan pelan, rasanya ia seperti di gigit kalajengking. Matanya tidak berkedip. Membuktikan kalau dia benar-benar shock.
“Son.”
Suara Ammar menyadarkannya seketika. Son menepuk jidatnya sendiri. Barusan yang di dengarnya, benar-benar nyata bukan mimpi. Belum pernah ia merasa selinglung ini. Ia tidak tahu apa alasan Ammar ingin melamar putri Pak Faisol. Untuk selevel Ammar harusnya bisa mendapat perempuan yang setara.
“Siap, laksanakan!”
Son keluar ruangan dengan perasaan aneh. Tapi segera perasaan yang tidak penting itu ditepisnya jauh-jauh.
Son bertemu Pak Faisol di gudang sedang menata barang. Ia menarik napas panjang sambil berfikir. Ucapan Ammar ia ingat betul.
‘Harus hati-hati jangan sampai pingsan lagi.’
Oleh sebab itu Ia berinisiatif mengajak Pak Faisol ke kantin. Sambil minum teh dan makan gorengan ngobrol bisa lebih rileks. Sesuatu yang amat jarang dia lakukan. Selama ini Son selalu tampak serius.
Pak Faisol mengikuti Son dengan mengekor di belakangnya. Son mengambil posisi duduk berhadapan dengan Pak Faisol. Tentu saja Pak Faisol bingung dengan sikap Sang Manager berwajah kaku. Selama bekerja di sini baru kali ini dirinya bisa duduk dan mengobrol berdua dengan manajer segala urusan ini. Beberapa karyawan melihat Pak Faisol dengan tatapan jeoeles. Ini point bagi Pak Faisol. Ia merasa menjadi orang penting. Kapan lagi bisa ngopi bareng dengan orang nomor dua di perusahaan ini.
Son memulai percakapan dengan basa-basi. Memang tidak salah Ammar mengangkatnya sebagai manajer segala urusan. Ia selalu bisa melaksanakan misinya dengan perfect. Pak Faisol tampak menikmati. Ia menceritakan berbagai hal tentang keluarganya dengan berapi-api. Istrinya yang lugu dan baik hati. Kemudian beralih pada putrinya, Kirana. Ia juga menceritakan ketika Ammar menanyakan apakah putrinya sudah punya pacar. Sesekali Son terlonjak dan menahan tawa. Ia harus tetap terlihat cool. Kemudian Son manggut-manggut. Entah apa yang ia pikirkan. Hanya dirinya dan Allah yang tahu. Pak Faisol masih belum juga menyadari apa maksud Son membawanya ke tempat ini. Akhirnya Son jadi tahu semuanya. Ujung bibirnya menyungging penuh makna.
Tiba saatnya Son harus menyampaikan pesan bosnya. Tidak sulit karena Pak Faisol sudah terlihat rileks. Walaupun demikian Pak Faisol masih tergagap tidak percaya. Setelah menyampaikan pada Pak Faisol, Son tampak diam menunggu reaksi. Tak disangka Pak Faisol langsung berdiri. Son menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang setengah baya ini. Pak Faisol langsung sujud syukur di lantai kantin. Ia tidak mempedulikan lantai itu bekas sepatu orang yang lalu lalang.
“Alhamdulillah. Alhamdulillah Ya Allah.”
Ucap Pak Faisol berulang-ulang. Ia duduk sambil mengangkat kedua tangan ke atas.
Son mengelus keningnya sendiri sambil menggelengkan kepala. Beberapa karyawan yang sedang menikmati makanan terhenti. Mereka sontak memandang ke arah Pak Faisol dan Son secara bergantian. Ekspresi wajahnya sulit diartikan.
Pak Faisol meminta ijin Son untuk pamit pulang. Hatinya terlalu gembira. Ia harus segera menyampaikan pada istrinya dan Ki. Ia tidak sabar menunggu sore. Berita yang baik tidak boleh ditunda-tunda. Son sepakat. Apapun untuk kebaikan Ammar ia akan mendukung habis-habisan.
“Kabari saya secepatnya, Pak!”
Sementara itu Ammar di ruangannya tampak tidak bisa berkonsentrasi. Ia berharap Son bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Namun hingga dua puluh menit berlalu, Son belum kembali ke ruangannya. Sungguh tak biasanya. Manajer segala urusan itu selalu bisa lebih cepat menjalankan tugas. Biasanya tak sampai lima menit, ia langsung menghadapnya. Ammar mulai gusar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Beberapa menit kemudian Son sudah berada di ruangan Ammar. Seperti biasa, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ammar tidak tahu apa yang terjadi.
“Duduklah! Bagaimana?” tanya Ammar tidak sabar.
“Siap! Saya sudah laksanakan sesuai perintah.” Jawab Son tenang.
Ia juga menyampaikan kalau Pak Faisol pamit pulang untuk menyampaikan berita ini segera pada istrinya dan Kirana. Setelah itu akan secepatnya memberi kabar. Ammar tampak puas sekali dengan pekerjaan Son.
“Kamu boleh kembali. Terimakasih untuk hari ini.” Ucap Ammar.
“Siap. Bapak tidak perlu mengucapkan terimakasih . Itu sudah menjadi tugas saya.” Jawab Son seraya berbalik.
***
Sesampai rumah, Pak Faisol langsung memarkir motor di teras. Dengan setengah berlari ia masuk ke dalam rumah. Bahkan sampai lupa mengucapkan salam.
“Buuk! Buuuk! Ki! Ki!” Suara Pak Faisol menggelegar memekakkan telinga.
Istrinya tengah melakukaan sholat dhuhur pada rakaat keempat. Panggilan suaminya, membuatnya harus lebih mempercepat bacaan sholatnya. Padahal ia telah berusaha untuk khusyuk. Pak Faisol terus memanggil-manggil. Setelah salam istrinya langsung loncat keluar kamar. Sementara mukena masih melekat di badannya.
“Apa sih Pak, kok teriak-teriak kayak dikejar setan.” Gerutu wanita yang usianya genap empat puluh lima tahun ini.
“Buk. Buk. Mana Ki? Ki!” napas Pak Faisol tersengal-sengal
“Hadeuh Pak. Kenapa sih?. Duduk dulu!”
istrinya ngedumel seraya mengambil segelas air putih di dapur.
“Ini minum dulu biar fokus.”
__ADS_1
“Sueger, Buk!” ucap Pak Faisol. Istrinya tersenyum.”Yo jelaslah.”
“Sekarang Bapak cerita yang enak. Tarik napas dulu. Ayo! Lagi! Terus! Sampai tiga kali.” Pak Faisol mengikuti perintah istrinya. Ia mulai terlihat tenang. Tangannya memegang dadanya yang naik turun.
“Bapak akan mulai cerita.” Pak Faisol berhenti sejenak. Istrinya mengamati wajah suaminya, menunggu kalimat apa yang hendak diucapkan laki-laki yang sudah dua puluh lima tahun bersamanya.
“Bos Ammar akan melamar Ki, Buk!” kata-kata Pak Faisol meluncur tenang. Istrinya kaget bukan kepalang. Mulutnya ternganga. Matanya menatap suaminya tanpa kedip. Seolah ia tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya.
“Paaak! Bisa ulangi lagi. Ulangi, Paaak! Ibu ingin dengar sekali lagi.” Kata istrinya dengan mata berkaca-kaca sambil mengguncang bahu Pak Faisol.
“Bos Ammar mau melamar Ki, Buk!” Dia akan jadi menantu kita.” Istrinya langsung terisak.
“Akhirnya impian Bapak terwujud, Bu! dulu Bapak pernah berandai-andai Bos Ammar menikahi anak kita. Rupanya Allah mengabulkan.”
“Ya Allah..terima kasih Ya Allah.” Pekik istrinya.
Pak Faisol sangat terharu dan memeluk istrinya. Kedua suami istri itu saling berpelukan untuk beberapa saat. Mereka tidak menyadari Ki sedang memperhatikannya. Ia baru saja dari warung untuk membeli telur. Ki masih mematung di depan pintu selama sekian menit. Mendengarkan ucapan mereka diantara isak tangis yang mengharu biru. Kemudian Bapak dan Ibunya menoleh dan baru menyadari kedatangannya.
“Ki! Ucap Pak Faisol.
“Kemarilah!” Ki mendekat.
“Kamu sudah mendengarkan semua?” Ki mengangguk. Ibunya langsung memeluk tubuh Ki yang jauh lebih tinggi darinya.
“Alhamdulillah. Ini rejeki, Nduk! Ki tampak bingung dengan ucapan ibunya.
“Kamu mau kan, Ki sayang?Ya?” Bapak dan Ibunya mengangguk-angguk. Seolah meminta Ki untuk mengikutinya. Ki hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun.
“Ki, jawablah, Nak!” untuk beberapa saat Ki terdiam. Bapak dan Ibunya sudah menunggu dan saling menatap bergantian.
“Ki!” ucap Pak Faisol sambil memegang bahu putrinya yang cantik tiada tara.
“Baiklah, Pak. Tapi Ki ingin… Bos Ammar sendiri yang mengucapkan di depan Ki.”
“Segera. Bapak segera sampaikan.” Kedua suami istri itu berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil.
“Mana hape Bapak, Buk!”
“Gak tau, Pak. Kok tanya Ibu.”
Pak Faisol merogoh saku celananya dan menemukan benda jadul itu. Kemudian Ia tertawa terkekeh.
“Ki mau ke dapur dulu ya Pak! Buk!” ucap Ki sambil berlalu meninggalkan mereka. Ki merasa orang tuanya ini terlalu berhalusinasi. Ia tidak mungkin mempercayai sampai Ammar mengatakannya secara langsung di depannya. Bisa saja bapaknya ini salah paham. Ki senyum-senyum sendiri.
Di kantor, Son sedang memeriksa beberapa laporan. Handponenya berdering. Di layar tertulis Pak Faisol. Son langsung menyambar hapenya. Suara di ujung telpon terdengar sangat bersemangat. Son mendengarkan dengan seksama. Tidak sampai dua menit sambungan telpon sudah terputus.
“Hemm. Good news.” Son tersenyum sambil manggut-manggut.
Ia harus segera melaporkan ini pada bos Ammar. GPL. Gak pake lama.
Sementara Ammar sedang termangu di depan jendela kaca. Suara pintu di ketuk tiga kali. Son sudah berdiri di depan pintu.
“Iya, Son. Masuk!”
“Siap Pak!”
Ammar duduk di sofa dan Son mengambil posisi di ujungnya. Son menceritakan bahwa ia baru saja di telpon Pak Faisol. Semua ia sampaikan tanpa ada yang dikurangi atau ditambah. Terlihat Ammar begitu bersemangat. Senyum merekah, termanis yang pernah Son lihat.
“Son. Tolong atur pertemuanku dengan Ki segera!”
“Siap laksanakan!”
Son meninggalkan ruangan sambil memutar otak. Ia mulai berfikir apa yang harus dilakukan segera. Kini pekerjaannya bertambah banyak. Tapi ia tidak mau mengecewakan bos mudanya.
❤❤🌴🌴🌴
__ADS_1