
Kakek tua itu sepertinya menerima Arsen dengan baik. Nyatanya, saat ini kakek tua itu sedang memeluk Arsen sambil terus mengucapkan kata maaf. Untung saja suamiku mempunyai hati yang sangat pemaaf,kalau tidak, mungkin sudah terjadi keributan di rumah ini.
Suasana haru menyelimuti rumah mewah ini saat Arsen mendapat kasih sayang dan perhatian semua orang. Mulai dari ayah, kakek, om, bahkan adiknya Dera, dan sepupunya Dion juga menyambut anggota baru keluarga mereka.
Aku bahagia dan lega karena Arsen sudah mendapatkan anggota keluarganya yang utuh.
Dera, adik Arsen yang artinya adalah adik iparku, juga memelukku. Aku juga merasa diterima dengan baik di keluarga ini.
βKak Kimmora, aku senang mempunyai saudara perempuan sepertimu." Dera memanggilku dengan sebutan Kak, rasanya sangat aneh karena dia seumuran denganku.
"Iya, aku juga senang memiliki saudara perempuan, tapi jangan panggil aku 'kak' ya. Kita kan seumuran," kataku yang membuat kami sama-sama tersenyum.
Setelah itu, istrinya Pak Raffi, eh maksudku mama mertuaku, mengajak kami semua untuk makan siang bersama. Ini menjadi momen pertama bagi Arsen makan siang dengan keluarga ayah kandungnya.
Di meja makan besar yang muat banyak orang ini, kami semua makan bersama. Termasuk Dion dan orang tuanya, juga Pak Zayn. Sementara Pak Kaisar sudah meninggalkan rumah ini sebelum makan siang.
Setelah makan siang selesai, Pak Zayn pamit ke kamar yang kemudian diikuti oleh Dera, sedangkan aku dan Arsen masih ditahan Kakek yang masih ingin banyak mengobrol dengan Arsen.
"Kakek benar-benar merasa bersalah, Raffa, tolong maafkan keegoisan kakekmu ini," kata Kakek yang terlihat sangat menyesal.
__ADS_1
"Em, sudahlah Kek, aku sudah memaafkan semuanya. Kalau Tuhan Yang Maha Segalanya saja mau memaafkan makhluknya, aku yang bukan apa-apa ini pasti juga memaafkan Kakek tanpa Kakek minta." Arsen menjawab dengan tenang, lagi-lagi aku dibuat kagum oleh kesempurnaan yang dimiliki Arsen.
"Terima kasih Raffa, kamu benar-benar anak yang baik," ucap Kakek.
Laki-laki tua itu mengusap punggung cucu barunya dengan raut bangga di wajahnya.
Satu cucu membuat malu, satu cucu lagi membuat bangga. Eh, tapi aku belum mengkonfirmasi soal Dion dan Yumna sih.
"Sebenarnya, aku lebih nyaman dipanggil Arsen saja Kek, Raffa itu kan panggilan dari orang-orang kantor," kata Arsen yang duduk di antara aku dan kakeknya.
"Kamu kerja di kantor mana?" tanya papanya Dion. Laki-laki yang menjadi adik dari Pak Raffi itu juga sangat antusias dengan kehadiran Arsen di keluarga ini.
"Arsen ini Presdir PT. Ardy Grup, Pa," jawab Dion, sahabat Arsen, sekaligus laki-laki yang pernah aku pacari dulu.
"Benarkah?" Kakek menepuk punggung Arsen, senyum di wajah keriputnya semakin merekah sempurna.
"Hanya sementara Kek, sampai Kak Darren sembuh," jawab Arsen, tangannya berusaha meraih tanganku yang kemudian digenggamnya dengan erat.
Β
__ADS_1
"Oh, jadi kamu yang baru pulang dari Jepang setelah mengembalikan kondisi perusahaan perusahaan cabang mereka di Jepang, benar itu kamu?" tanya Papa Dion.
"Iya, Om. Itu aku."
"Wah, hebat ya kamu! Padahal Erick sendiri dan putranya hampir menyerah menangani ancaman kebangkrutan, tapi kamu bisa loh."
"Tapi, saya juga butuh waktu lama untuk memulihkannya."
"Erick selalu membanggakan menantunya, ternyata malah putraku sendiri." Papa Raffi tersenyum membanggakan Arsen.
"Jadi, kamu menantunya Erick?"
πΉπΉπΉ
Selamat pagi gaess udah mandi belum ππ
Jangan lupa ritualnya.
Kangen sama komen-komen readers lama yang nemenin dari awal. Kemana aja kalian π₯π₯
__ADS_1
Yang baru baca, readers baru.. lope you juga.. sayang kalian semua gaess π₯°π₯°π₯°
Sampai ketemu lagi ππ