Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 86


__ADS_3

Xavier yang sedang digendong Arsen, masih tidak mau melepaskan baju sapinya. Sebenarnya bisa saja melepas labelnya dan membiarkan baju itu dipegang olehnya, tapi masalahnya Xavier menggenggam label dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya juga menggenggam baju sapi iu.


Saat kami menyerah, tiba-tiba seseorang menggerakkan boneka sapi di hadapan Xavier. Mata beningnya mulai fokus pada boneka sapi yang sengaja digerakkan di depannya, lalu ia melepas baju sapinya dan berusaha merebut boneka sapi itu.


"Ini buat kamu," kata seseorang itu. Lalu, Xavier menggenggam kedua telinga boneka dengan dua tangannya, sehingga mengabaikan baju itu dan aku segera menyerahkan ke kasir.


Aku memperhatikan wajah orang itu, inin mengucapkan terima kasih. Namun, aku sangat terkejut saat tahu ternyata dia adalah Kaisar. Wajah Arsen berubah masam, sedangkan Xavier tertawa-tawa.


Suasana mendadak canggung, sampai pegawai kasir menyebutkan nominal yang harus aku bayar. Kemudian, aku menyerahkan sebuah kartu untuk membayar belanjaanku.


"Terima kasih, Kak," ucapku memecah keheningan, mengusir kecaggungan. Meski kami semua tahu Kaisar sudah bersama Dara —sahabatku, tapi tetap saja hubungan Arsen dengannya sangat canggung.


"Sama-sama, anak kamu gemesin ya, kayak kamu," balas Kaisar yang melemparkan senyum padaku.


Sebagai wanita cantik, gombalan seperti yang diucapkan Kaisar merupakan hal biasa bagiku. Pasti Kaisar juga cuma bercanda dan hanya sedikit menggoda seperti laki-laki lainnya. Akan tetapi, yang paling penting bagiku hanya ada Arsen di hatiku.


"Sayang, kamu bayar juga bonekanya," kata Arsen yang masih memasang wajah kesal.


"Udah aku bayar kok, buat anak ganteng ini." Kaisar menowel dagu Xavier yang membuat Xavier ganti menatapnya.


"Orang bilang, anak gue mirip sama daddy-nya, secara tidak langsung berarti kamu mengakui kalau aku ganteng, 'kan?" sinis Arsen.

__ADS_1


Melihat Arsen yang mulai kesal, aku mengambil alih Xavier dari gendongannya.


"Bagus deh, kalau mirip kamu, kalau mirip aku kan bahaya," jawab Kaisar yang melirik Xavier.


"Mas, kamu di sini ternyata." Dara muncul lalu merangkul tangan Kaisar. "Halo Xavier! Kamu di sini juga, Kim?"


Setahuku hubungan mereka berdua belum mendapat restu dari papanya Dara, sehingga sampai saat ini mereka masih betah berpacaran.


"Iya, beliin baju Xavier nih, kalian lagi jalan-jalan?" tanyaku tanpa memperhatikan lagi ekspresi Arsen dan Kaisar.


"Iya, kita mau nonton rencananya." Dara menciumi pipi Xavier, pasti saking gemasnya.


"Maksud kamu tadi apa? Jelaskan mumpung ada Dara juga di sini!" kata Arsen yang menatap kesal pada Kaisar.


"Nggak ada maksud apa-apa. Kalau bayi ini mirip aku, artinya Kimmora sangat membenciku waktu hamil. Jangan salah paham, kawan." Kaisar menepuk pundak Arsen. "Ayo, Sayang. Kita nonton. Dah Baby," kata Kaisar yang kini merangkulkan tangannya ke pundak Dara.


Sepasang sejoli itu akhirnya berpamitan meninggalkan kami. Arsen membawa baju belanjaan dan Xavier mendapatkan boneka sapinya.


"Aku kok tetep nggak suka ya sama dia," kata Arsen saat kami berjalan meninggalkan toko.


"Kenapa? Xavier aja suka, tuh bonekanya dimainin terus," jawabku yang membuat Arsen semakin kesal.

__ADS_1


"Ya nggak suka aja."


"Dia itu pacarnya Dara, nggak mungkinlah dia ngejar-ngejar aku lagi."


"Tetep aja aku cemburu."


Mendengar Arsen yang sedang cemburu buta, aku menghentikan langkah kaki yang juga diikuti Arsen.


"Kamu masih aja cemburu, padahal aku sama dia nggak pacaran loh, Dad."


"Sama aja, intinya dia suka sama kamu."


"Padahal kan Mommy udah ada kamu ya Sayang, Daddy masih aja kayak anak kecil." Aku kembali berjalan meninggalkan Arsen.


"Xavier, belain Daddy dong."


Aku tidak mengabaikan suara Arsen yang kini berjalan di belakangku.


"Xavier, Mommy ngambek tuh, tolongin Daddy."


♥️♥️♥️

__ADS_1


...Daddy sih, sensi banget kalau ketemu Mas Kai aku, kan Mas Kai nggak ngapa-ngapain Kikim 🤭🤭...


__ADS_2