Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 50


__ADS_3

"Aku dari tadi udah nggak tahan." Arsen langsung menyerang bibirku dengan bibirnya.


Aku yang belum siap dengan serangannya, hanya bisa pasrah saat Arsen menciumku dengan ganas.


Arsen memaksaku berjalan mundur menuju ranjang dengan tangannya yang mengusap punggungku, rasanya benar-benar geli. Bibir Arsen beralih pada leherku yang membuatku mengeluarkan suara ******* yang tanpa bisa aku kontrol. Kakiku terasa lemas, tapi Arsen terus memaksaku untuk berjalan ke belakang sampai aku menabrak tepi ranjang dan terjatuh dengan Arsen yang menimpa tubuhku.


Arsen berhenti bermain di leherku, ia mengangkat wajahnya dan menatapku. Pandangan mata kami kembali bertemu, Arsen lalu tersenyum begitu menawan. Deretan giginya yang rapi terlihat menggemaskan saat ia berusaha menahan tawanya.


Aku ikut tersenyum malu saat melihatnya tersenyum begitu semringah. Rasa gugup mulai menghinggapiku, jantungku sudah berdebar tak karuan semenjak ia menciumku tadi.


“Apa kamu takut?” tanya Arsen yang kini jaraknya sangat dekat denganku.


“Sedikit,” jawabku.


Sejujurnya aku bukan takut, tapi benar-benar gugup. Jika malam ini kami berhasil bersatu, maka selamanya aku akan terikat dengan Arsen, aku tidak akan bisa lagi lepas darinya.


Napas Arsen berembus dengan sangat cepat, jakunnya naik turun, aku tahu dia juga sama gugupnya denganku.


“Apa kamu benar-benar sudah yakin akan melakukannya denganku, Kimmy?” tanya Arsen.


Aku mengangguk pasrah, meski di awal pernikahan kami aku sangat membencinya, tapi semenjak hidup bersama Arsen, aku mulai merasakan perasaan yang berbeda padanya. Arsen, aku yakin aku mulai mencintainya.


“Apa aku yang pertama?” tanyaku saat melihatnya seakan kehilangan rasa percaya dirinya. Tidak mungkin seorang yang berpengalaman akan bersikap sepertinya.


“Iya, aku belum pernah mencobanya dengan siapapun, kalau kamu?”


“Belum pernah, apakah akan sakit?” tanyaku.


Jujur aku dan Nana pernah melihat adegan dalam film terlarang, secara tidak sengaja waktu itu. Ketika pemeran laki-laki berusaha menyatukan bagian tubuh mereka, pemeran wanita berteriak kesakitan sampai mengeluarkan air mata, dan tepat setelah itu kami tidak berani melanjutkan film itu sampai habis. Jadi, aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi pada wanita itu.


“Aku tidak tahu, tapi kalau kamu kesakitan, aku akan berhenti. Aku janji.” Arsen terlihat bersungguh-sungguh.


“Apa kita perlu menonton sesuatu?” tanyaku, aku pikir kami sama-sama belum pernah melakukannya, jelas kami akan kesulitan nantinya.

__ADS_1


“Haruskah?”


“Aku masih ada dvd film yang pernah aku tonton sama Nana, tapi aku nggak berani lanjut. Apa kita lihat dulu?”


“Kita punya insting, Kimmy. Kita coba saja ikuti naluri.”


“Tapi ….”


!!!Warning please bocil jangan baca, dosa tanggung sendiri 😜😜!!


Arsen kembali menciumku, bahkan menggigit pelan bibir bawahku lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Ciuman itu membuat tubuhku terasa panas di bawah dinginnya AC kamarku. Arsen begitu pintar dalam hal ciuman, sampai rasanya aku tak bisa menyadari saat Arsen sudah mengangkat kausku menampilkan bra berwarna merah muda yang menutupi bukitku.


Arsen melepaskan ciuman kami untuk melepaskan kausku, dan ia sendiri melepaskan kausnya. Arsen menarik tubuhku agar aku duduk di tepi ranjang. Ia berjongkok lalu menatapku, kembali tersenyum kemudian melepaskan kait di punggungku, dan setelahnya ia membuang kain kacamata itu ke lantai dekat kakiku.


“Apa kamu yakin bisa melakukannya?” tanyaku saat ia hanya diam menatap tubuhku yang telah setengah polos.


Arsen tak menjawab  lalu mengangkat kakiku naik ke ranjang dan merebahkanku, ia kembali memposisikan dirinya di atasku.


“Kita coba,” ucapnya lalu kembali menciumku. Tangan kanannya bermain dengan bukitku, membuatku merasakan gejolak aneh setiap kali ia menyentuh bagian-bagian sensitif dalam diriku.


Sementara tangannya bergerak turun untuk melepaskan celana hot pants yang kukenakan. Mungkin Arsen merasa kesulitan saat tiba-tiba ia bangun dan berusaha melepas kancing celanaku dengan kedua tangannya, dan celana itu terlepas juga dari tubuhku menyisakan kain segitiga yang berwarna senada dengan kain kacamata milikku yang kini tergeletak di lantai.


Arsen mengamati tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuatku malu dan secara reflek menutup wajahku dengan kedua tangan. Namun, Arsen tentu saja tak mengizinkannya, aku merasa Arsen mendekat padaku, ia menarik tanganku dengan pelan yang membuatku kembali melihat wajahnya yang tampan dengan bagian atas tanpa kain yang menampilkan dengan jelas otot-otot di perutnya.


“Mau bantu buka ini.” Arsen menarik tanganku untuk memegang celana kain sepanjang lutut yang ia kenakan.


Aku tersipu mendengar kata-katanya. Lalu, dengan perlahan aku membuka kancing dan menurunkan ritsletingnya. Kemudian celana kain itu berhasil aku turunkan, menyisakan kain segitiga yang mencetak jelas sesuatu di dalamnya.


“Bukalah!” pinta Arsen yang akhirnya aku turuti.


Perlahan aku menarik turun kain segitiga milik Arsen yang kemudian memperlihatkan sesuatu yang baru pertama kali ini aku lihat secara langsung. Sesuatu yang berdiri tegak yang kira-kira tidak akan bisa masuk ke dalam bagian bawah tubuhku.


Jantungku terus berdebar, mataku berkedip-kedip setelah melihat langsung sesuatu yang menurutku aneh.

__ADS_1


“Arsen aku takut,” kataku lalu menutup mata dengan kedua tangan. Aku sungguh tak bisa membayangkan jika milik Arsen itu akan memasuki tubuhku. Pasti akan sangat menyakitkan.


“Tenanglah, hari ini kita akan mencobanya dulu.” Arsen mencium keningku lalu kembali membuatku merasakan getaran aneh saat ia mencium area-area sensitif yang mungkin sudah ia hafal letaknya.


Arsen kembali bermain di bukitku, menjepit puncaknya yang merah muda dengan kedua jarinya. Setelah dirasa cukup ia mulai melepas satu-satunya yang menutupi kulitku. Arsen kembali menghujaniku dengan ciumannya, tangan nakal itu mulai mengelus lembah milikku, menggosokkan jarinya pada benda berhargaku itu, membuatku merasakan area itu begitu basah.


"Kimmy, apa aku boleh melakukannya?" tanya Arsen dengan tatapan yang dipenuhi kabut gairah.


Aku mengangguk pasrah, tubuhku memang menginginkan Arsen melakukan sesuatu yang lebih.


Arsen memposisikan dirinya tepat di atasku, melebarkan kedua kakiku, lalu menuntun miliknya menuju lembah surga milikku.


Aku memejamkan mata saat perlahan Arsen menyatukan tubuh kami, benda itu memaksa masuk ke dalam diriku. Rasanya benar-benar sakit, perih dan panas.


Arsen menjatuhkan tubuhnya untuk memelukku, sementara satu tangannya menuntun adik kecilnya yang mulai mendobrak pintu surga milikku.


Aku benar-benar menahan kesakitan, saat perlahan pusaka Arsen bergerak maju dan menabrak sesuatu yang ku yakini adalah mahkotaku.


"Aku mencintaimu Kimmora, sangat mencintaimu." Arsen berusaha mendorong lebih keras, membuatku memekik karena tak tahan dengan rasa sakitnya.


Arsen kembali menciumku, sementara miliknya mulai berhenti bergerak, mengakibatkan rasa panas di area bawah itu. Sakit, rasanya benar-benar sakit. Aku tak sanggup menahannya sampai akhirnya tanpa sadar air mataku mulai mengalir keluar dari mataku.


Arsen yang sepertinya menyadari aku tersiksa, akhirnya kembali menatap wajahku.


"Jika kamu kesakitan, apa aku harus melepasnya?"


🌹🌹🌹


Huh, panas dingin, deg degan. Uhhh rasanya… gemetar nih ngetiknya.


Dah lah, nggak sanggup lagi aku, kasihan Kimmy.


Tinggalkan jejak cinta kalian, Like, Komen, Hadiah, dan Vote.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 👋👋👋


__ADS_2