Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 46


__ADS_3

Sepulang dari periksa kehamilan, aku langsung pulang ke rumah, setelah mampir membeli roti bakar. Oma dan Mama sudah menelepon terus supaya kami cepat pulang.


Seporsi roti bakar aku habiskan sendiri selama perjalanan pulang ke rumah Papa. Arsen sudah menyetir normal, tidak terlalu pelan seperti saat berangkat tadi.


Suasana hatiku sedang bagus saat ini, karena dokter sudah mengetahui keadaan bayiku yang baik-baik saja, juga karena sudah mendapat izin untuk mencapai nirwana bersama Arsen malam ini.


Sampai di rumah, semua orang sudah menunggu dengan antusias, bahkan Kak Darren dan Nana juga ikut tegang menunggu kabar dariku.


"Dia sehat, dan baik-baik saja," ucapku untuk menjawab raut tegang mereka semua.


Aku duduk di sofa bersama Oma yang sudah menggandeng tanganku sejak aku datang.


"Syukurlah kalau semuanya baik, kamu harus jaga baik-baik Kim, dia masih kecil, masih sangat rentan," kata Oma. Calon nenek buyut itu mengusap perutku.


"Bener kata Oma. Lebih baik kalian tunda dulu pindah rumahnya, kalau di sini kan ada Oma ada Mama yang akan mengawasi Kimmora," kata Papa.


Aku melihat Arsen dengan tatapan mengancam. Awas saja kalau kamu setuju!


"Em, dokter bilang kandungannya nggak masalah kok, Pa, dan sepertinya Kimmy butuh suasana baru," jawab Arsen sambil melirikku.


Selama perjalanan pulang tadi, aku sudah mengoceh panjang lebar pada Arsen kalau aku mau segera pindah rumah, dan sekarang Papa malah bilang sebaliknya.


"Bener, Pa. Aku di sini makin stres kalau terus-terusan diawasi." Aku mengatakan dengan sejujurnya, karena aku memang tidak nyaman dengan perlakuan mereka.


"Kalau kalian pindah, Oma setuju. Rumah itu kan sudah jadi dan siap dihuni, nggak baik kalau dibiarkan kosong, tapi oma punya syarat." Oma sedang dalam mode bijak.


"Syarat apa Oma?" tanyaku semringah.

__ADS_1


"Oma ikut kalian pindah," jawab Oma yang membuatku lemas. Sama saja bohong kan?


"Nah, cocok tuh Oma," sahut Kak Darren yang duduk bersama kekasihnya, Nana.


"Jangan biarkan Kikim sendirian Oma, berbahaya." Nana ikut memprovokasi.


"Ah, Oma. Aku kan mau romantis-romantisan sama suamiku di rumah baru. Kalau Oma pengen ikut, Oma nggak boleh keluar kamar kalau Arsen lagi di rumah." Aku menatap Oma setengah mengejek.


"Ini anak makin hari makin ngelunjak. Dasar Kimminah, cucu durhakim." Oma sudah mengangkat tangannya yang kemudian mendaratkan capitan di lenganku, tapi Oma tidak jadi mencubitku 


"Lihat deh, Baby, Oma galak ini mau nyakitin Mommy." Aku mengusap perutku seakan mengadu pada makhluk kecil penghuni rahimku itu.


"Kim, lo hamil malah makin nyebelin ya." Nana menatap kesal padaku.


"Biarin, makanya cepetan nikah biar bisa hamil, disayang semua orang kayak aku." Aku membalas Nana dengan cara memanas-manasinya soal pernikahan.


"Dih, kepedean, siapa yang sayang kamu, sayangnya ke anak kamu tuh." Kekasih Nana ikut membelanya.


"Sayangnya kakak pindah ke temen kamu, Kim. Kan kamu udah disayang suamimu, ntar kebanyakan disayang, kamu malah mual-mual."


"Dasar Kakak Jahara."


*


*


*

__ADS_1


Malam telah menyapa, menandakan manusia sudah saatnya beristirahat. Seharusnya Arsen ada di kamar ini, dan kami memulai malam yang indah ini dengan ciuman mesrah, tapi sayangnya dia tidak ada. Entah sengaja menghindar atau bagaimana, Arsen menyibukkan diri dengan bekerja bersama Papa dan Kak Darren.


Sudah hampir jam sepuluh, tapi Arsen belum juga kembali, padahal aku sudah bersiap dengan pakain sek*si untuk menggoda Arsen.


Aku tidak bisa sabar lagi, dengan pelan-pelan, aku menuruni tangga, menuju ruang kerja Papa dengan memakai kimono mandi.


Setelah mengetuk pintu, aku langsung masuk dan membuat tiga pria itu terkejut.


"Kimmora, kamu belum tidur?" tanya Papa.


"Mana bisa tidur kalau suamiku nggak ada," jawabku. Aku melangkah masuk mendekati Arsen yang sedang memijat pelipisnya. "Sayang, ayo kita tidur!"


"Sebentar lagi, ya. Ini mau selesai kok." Arsen menolakku sambil tersenyum.


"Udah lah Arsen, biar aku sama Papa yang selesaikan, kamu nina bobokan dulu anak manja ini."


Arsen mengembuskan napas berat. "Ya udah, ayo kita ke kamar."


"Kamu habis mandi apa gimana sih Kim? Kenapa pakai handuk gini?" tanya Papa sebelum kami melangkah keluar ruangan kerja ini.Apa perlu aku jawab?


Apa Papa akan syok kalau aku jawab aku sedang memakai li*ngeri*e?


♥️♥️♥️


...Jangan mengumbar aib Kikim 🤧🤧...


Selamat siang. Ada yang nungguin nggak? Mon maap ya telat.

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya.


Sampai ketemu lagi 😘


__ADS_2