Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 96


__ADS_3

Setelah Arsen cukup tenang, aku mengajak semua orang untuk sarapan. Xavier yang memang belum jamnya makan, akhirnya dijaga Mbak Lastri.


Selama kami tinggal makan, Xavier terus rewel, ingin bersama daddynya. Bocah menggemaskan itu seakan tidak mau jauh dari Arsen yang memang baru kemarin pulang ke rumah.


Selesai sarapan, aku membuatkan makanan untuk Xavier. Setengah potong buah pir, yang dikukus dan disaring, dicampur dengan satu keping biskuit bayi yang sudah dihancurkan dengan air matang hangat.


Xavier saat ini berada dalam pangkuan Arsen yang duduk di kursi roda. Sebenarnya aku cukup was-was, karena Xavier yang mulai aktif bergerak dengan lincah. Namun, Arsen meyakinkan bahwa dia bisa melakukannya.


"Xavier mau sama Mommy?" tanyaku yang bermaksud ingin mengambil alih Xavier dari Arsen yang memang belum pulih sepenuhnya.


Xavier menggeleng, tangannya menggenggam erat kedua jempol Arsen.


"Mau sama Onty?" Nana menawarkan diri, tapi Xavier masih saja menggeleng.


"Apa mungkin om kamu itu menginginkan kamu berhenti membantu perusahaan Mahendra." Kak Darren membuka kembali percakapan mengenai masalah Om Doni.


Aku duduk di sofa dekat Arsen untuk bisa menyuapi Xavier.


"Papa rasa bukan itu alasannya. Pasti ada dasar lain yang membuat seorang pam tega melakukan hal sejahat itu pada keponakannya. Kamu tahu sesuatu tentang pembagian perusahaan, misalnya hak kepemilikan?" tanya Papa pada Arsen.


"Aku nggak tahu, Pa. Sejauh ini yang aku tahu cuma pembagian keuntungan aja, Pa. Aku juga jarang ke kantor atau ke rumah Papa Raffi," jawab Arsen.


"Kalau soal warisan kakek kamu?" tanya Kak Darren.


Tiba-tiba Pak Joko yang bekerja di rumah menghampiri kami.


"Permisi Nyonya, ada tamu," ucapnya yang membuat obrolan Arsen dengan Papa, dan Kak Darren terhenti.


"Siapa Pak Joko?" tanyaku.

__ADS_1


"Sepertinya mobil adiknya Tuan," jawab Pak Joko.


"Dera?" tebakku.


"Iya, Nonya."


"Suruh langsung masuk ke sini aja, Pak."


Pak Joko mengangguk, lalu berlari keluar untuk menemui Dera yang mungkin sudah menunggu.


"Jangan bahas ini dulu," usulku.


Tak lama kemudian, Dera datang bersama suaminya.


"Dera, Pak Zayn. Yuk duduk dulu."


"Biar mama buatkan minuman!"


"Gimana keadaan kamu?" tanya Zayn pada Arsen.


"Masih sedikit pusing, tapi lumayan udah bisa mangku Xavier. Kamu bentar lagi juga gini jagain anak sebelum berangkat kerja," jawab Arsen yang masih memangku Xavier.


"Xavier, sini sama Onty," ajak Dera. Saat ini dia sedang hamil, sama denganku. Mungkin anak kami akan sepantaran nantinya. Rumah Papa Raffi pasti akan sangat ramai saat semuanya berkumpul.


Xavier menggeleng dengan tegas. Gemas sekali dengan penolakan Xavier yang tidak mau ikut dengan siapa pun.


Aku dan Dera membicarakan Xavier yang lengket sekali dengan daddynya, sedangkan para suami sibuk membicarakan masalah yang lebih penting.


"Dera, Zayn. Kalian sudah di sini?" tanya Papa Raffi yang masuk dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Iya, Pa," jawab Zayn, suami Dera.


Papa Raffi langsung ikut bergabung, wajah Papa Raffi terlihat sangat tegang.


"Ada apa, Pa?" tanya Arsen.


"Mungkin ini berita buruk buat kita, tapi kamu harus tahu." Papa Raffi menarik napas berat.


"Berita apa, Pa?"


"Om Doni, dia terlibat dalam kecelakaan yang menimpa kamu, Arsen."


"Papa tahu dari mana?"


"Papa dapat bukti dari Zayn, dan sekarang, om kamu dibawa ke kantor polisi karena Pak Gery memberitahu keterlibatannya."


"Jadi Om Doni sekarang udah di kantor polisi?"


"Sebenarnya apa yang membuatnya tega melakukan hal itu, Arsen kan membantu perusahaan kalian. Dia tidak mengambil alih meskipun dia berhak," sahut Papa yang terlihat menahan emosi.


"Aku juga tidak yakin Rick, tapi sepertinya ini soal warisan."


"Warisan apa, Pa?"


"Kamu tahu 'kan, kakek mewariskan dua puluh persen dari seluruh hartaya untuk cicit laki-laki yang pertama, artinya harta itu jatuh kepada Xavier. Sepuluh persen untuk Dera, dan sisa tujuh puluh persen diberikan pada kamu, Dion, papa dan Om Doni. Sedangkan anak Dion tidak mendapat apapun. Sepertinya karena itu dia tega melakukan ini sama kita. Kecelakaan itu seharusnya papa yang ditabrak, iya kan?"


❀❀❀


...Aduh Papa Raffi, aku puyeng nih. Kesian juga Mireya nggak dapat bagian. Yang salah kan si Kakek Yusup, kenapa babang Arsen yang celaka 🀧🀧😭...

__ADS_1


Dahlah, aku terlalu malu mau minta hadiah karena updatenya nggak rutin, beneran lagi sibuk banget gaess, maapken aku ya. Boleh nggak minta jempolnya aja πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ


__ADS_2