Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 110


__ADS_3

Hujan rintik mengawali pagi yang berkabut. Tetesan air di jendela kamar membuatku malas sekali untuk bangun. Masih dengan orang yang sama, aku terbangun di tempat hangat ini, dalam dekapan tangan kekar yang masih terlelap. Dengkuran halus itu sangat meyakinkan bahwa dia masih berkelana di alam mimpinya.


Pelan, aku menyingkirkan tangan itu dari tubuhku. Berharap dia tidak akan terbangun meski pergerakanku sangat halus. Arsen itu sangat peka, saat dia tahu aku terbangun, maka dia akan ikut terbangun.


"Kamu udah bangun, Sayang?" Suara parau itu membuktikan bahwa aksiku lagi-lagi gagal.


Sebenarnya aku sangat ingin terbangun sehari saja tanpa mengganggu tidurnya, tapi ... ah sudahlah.


"Udah, kamu tidur lagi aja, aku mau lihat Xavier," jawabku, lalu menghadiahi kecupan selamat pagi di bibirnya.


"Lihat Xavier dari tablet aja, aku mau peluk kamu di luar hujan tuh!" Ia bergerak meraih benda tipis berukuran sepuluh inci yang tergeletak di nakas.


Kami memang memasang CCTV yang terhubung langsung dengan kamar Xavier, dan itu dijadikan alasan oleh suamiku untuk tetap menahanku di pelukannya.


"Ya udah, iya." Aku akhirnya pasrah dan membuka video yang terhubung dengan Xavier.


Terlihat di layarnya, Xavier masih tertidur, dan Mbak Dian sedang menyiapkan baju-baju Xavier. Aku tersenyum melihat putraku yang terlelap di ranjangnya. Posisinya memeluk boneka sapi pemberian Kaisar beberapa waktu lalu, persis seperti Arsen yang saat ini memelukku. Dia benar-benar Arsen kecil.


"Belum bangun, 'kan?" tanya sang ayah yang seakan paham bahwa putranya tidak mungkin bangun di jam segini.


"Iya, masih ngelonin boneka sapi tu!" Aku menunjukkan video Xavier pada Arsen yang sedang mengerjap.

__ADS_1


"Harusnya aku buang aja itu sapi," ocehnya. Dia selalu benci dengan boneka tidak bersalah itu, menurutnya, pemberian Kaisar itu untuk menarik perhatianku, padahal saat ini Kaisar juga sudah menikah dengan Dara.


"Jahat banget sih, itu kan kesayangannya Xavier." Aku kembali mengamati putraku. Lalu, mematikan videonya dan memandang lagi ke luar jendela.


Rasa sakit di pinggang tiba-tiba membuyarkan lamunan. Dengan sekuat tenaga, aku menahan rasa sakitnya. Jika aku memberi tahu Arsen sekarang, mungkin dia akan panik dan langsung membawaku ke rumah sakit. Aku tidak mau panik seperti kelahiran Xavier dulu, aku ingin tenang dan tetap cantik.


"Dad, aku bangun dulu ya, aku kebelet pipis," ucapku mencari alasan. Bukan bermaksud ingin berbohong, tapi aku tahu bagaimana Arsen kalau sudah cemas dan khawatir.


"Hem, kamu nggak mau aku temani?"


"Nggak usah ih, ngapain."


Aku berhasil meloloskan diri dari Arsen, sampai akhirnya aku berhasil ke kamar mandi dan memeriksa area intiku.


Aku bergegas menyelesaikan urusan di kamar mandi. Lalu, aku mengeluarkan tas khusus berisi perlatan melahirkan yang sudah siap di lemari. Tas make up, peralatan mandi juga sudah siap.


Kemudian, aku menghampiri kamar Xavier dan memeriksanya. Ternyata, Xavier sedang dimandikan Mbak Dian di kamar mandinya.


"Xavie, Mommie mau ke rumah sakit, periksa baby twin, Xavie di rumah sama Sus ya." Aku mengusap pipi Xavier yang basah karena sedang mandi.


Seakan mengerti, Xavier mengangguk. Aku membalasnya dengan tersenyum lalu meninggalkan kamar Xavier.

__ADS_1


Setelahnya, aku menghampiri Arsen yang masih di kamar mandi, menunggunya sampai selesai.


"Kamu siap-siap mau ke mana?" tanya Arsen. Ia mengusap wajahnya dengan handuk.


"Ke rumah sakit. Kita periksa dulu aja, tapi tasnya masukin ke mobil."


"Emang kamu udah mau melahirkan, Sayang?"


"Mungkin, udah santai dulu aja. Yang penting kita ke rumah sakit dulu."


Arsen hanya tersenyum, lalu aku menggandengnya untuk membawakan tas dan peralatanku.


❤❤❤


Selamat malam, terima kasih masih setia baca ❤❤


Jangan lupa mampir di novel baruku, yang alan rutin update di Januari nanti 😘😘


Like, komen, hadiah dan vote masih aku tunggu ya, 😍😍😍


Gemoy Anaknya

__ADS_1


Pengen nyium bapaknya


Eh, baru inget, emaknya galak 🤣🤣🤣


__ADS_2