Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 68


__ADS_3

Arsen terpaksa izin di hari pertamanya kerja. Setelah bertemu Tante Sabila, rasanya suasana hatiku benar-benar menjadi buruk. Papa menyuruhku untuk pulang bersama Arsen dan berusaha mengembalikan moodku lagi.


Dalam keadaan seperti ini, yang aku inginkan hanyalah menangis sepuas-puasnya. Walaupun aku terlihat jutek dan menyebalkan, tapi soal Mama aku sangat lemah. Rasanya benar-benar sakit dan kecewa.


Kebetulan kami bertemu Kak Darren di lobi kantor. Kak Darren yang melihat wajahku yang pasti sudah sangat sembab, akhirnya menghentikan langkahku.


“Kimmy, ada apa?” tanya Kak Darren yang baru saja mengantar tamunya keluar.


“Aku ketemu kembarannya Mama,” jawabku.


“Tante Sabila?”


Secara kebetulan Tante Sabila berjalan menghampiri kami.


“Aku mau pulang,mau makan siang sama Oma aja,” kataku sambil berjalan meninggalkan Arsen dan Kak Darren.


Arsen segera menyusulku, lalu menggandeng tanganku menuju tempat parkir.


“Kamu serius mau ketemu Oma?” tanya Arsen sambil memasang sabuk pengamannya.


Aku hanya mengangguk, walaupun Oma sangat cerewet dan seenaknya sendiri, tapi kadang Nenek Sihir itu berubah menjadi Ibu Peri yang baik hati. Oma akan mendengarkan keluh kesahku, lalu memberikan nasehatnya, dan saat ini aku sangat membutuhkan Oma.


Arsen segera melajukan mobil menuju rumah Papa yang tidak terlalu jauh dari kantor. Namun, saat hampir sampai di rumah Papa, Arsen menghentikan mobil di mini market.


“Kamu mau ikut apa di sini aja?” tanya Arsen yang sepertinya akan membeli sesuatu di mini market.


Lagi-lagi aku hanya menggelengkan kepala. Lalu, Arsen tersenyum lalu segera keluar dari mobil. Aku menunggunya dengan hanya melamun. Entah apa yang sedang dicari Arsen, aku tak memedulikannya.


Arsen kembali dengan membawa satu kantong plastik belanjaan. Lalu ia menyerahkannya padaku.


“Apa ini?” tanyaku.


“Buat balikin mood kamu.” Arsen kemudian masuk kembali ke dalam mobil.


Aku membuka belanjaan Arsen yang ternyata isinya adalah makanan semua. Ada coklat, es krim, permen, marshmallow bahkan coklat telur kesukaanku juga ada.

__ADS_1


“Ini ….”


pIya, biar kamu asik sama hadiah mainannya,” kata Arsen yang kemudian mengusap rambutku.


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Arsen benar-benar mengerti perasaanku, ia tahu apa yang aku butuhkan saat ini.


Mobil akhirnya terparkir sempurna di halaman rumah Papa yang anga luas ini. Setelah keluar dari mobil, aku berjalan menuju pintu utama rumah Papa dengan es krim yang terus kunikmati di tangan.


Saat masuk ke ruang keluarga, aku melihat Oma tengah memakai masker wajah berwarna putih yang membuatku sedikit kaget. Ternyata, Nenek Sihir ini sedang melakukan perawatan wajah.


“Oma, Oma ngapain?” Aku iseng menarik potongan timun yang menutupi matanya.


Oma langsung memukul pahaku, matanya hanya melotot dan tak bisa mengomel, karena pasti maker wajahnya akan pecah ketika Oma berteriak.


“Oma aku ada kinderjoy, dibeliin Arsen, nih!” Aku mengangkat kantong plastik bertuliskan nama mini market itu.


Oma malah memukul lenganku.


“Oma mukul aku rasanya nggak sakit. Apa karena perlakuan Mama lebih menyakitkan, ya. Oma tahu, Mama pasti secantik Tante Sabila,” ucapku kemudian beranjak pergi meninggalkan Oma dan berjalan menuju kamar, masih membawa serta kantong plastik di tanganku.


Selama ini aku begitu mengharapkan kehadiran Mama, tapi kenyataannya Mama tidak pernah mengharapkan aku. Mama bahagia berpisah denganku, tapi aku malah menangisinya, aku sangat bodoh memang.


Saat aku masih menangis, tiba-tiba seseorang mengusap punggungku.


“Kamu sudah tahu tentang mamamu?” tanya Oma yang terus mengusap punggungku.


Kemudian, aku bangkit untuk melihat wajah Oma. Setelahnya, aku memeluk tubuh Oma yang masih terlihat bugar itu.


“Apa kamu sudah mengingat semuanya?” tanya Oma yang balas memelukku juga.


“Nggak Oma, aku ketemu tante Sabila di kantor Papa, terus Papa ceritakan semuanya.”


“Itulah sebabnya, Oma dan Papa kamu tidak pernah mau membahas wanita itu.”


“Oma, kenapa Mama nggak suka sama aku?”

__ADS_1


Oma melepaskan pelukannya dariku, lalu mengusap air mata di wajahku.


“Karena kamu lebih cantik darinya, dia takut kalah saing, kamu kan cantiknya keturunan dari Oma, bukan dari dia,” kata Oma yang kemudian kembali kupeluk.


Setelah puas bercerita keluh kesahku tentang Mama, Oma mengajakku untuk ke dapur. Kata Oma supaya aku bisa melupakan kesedihanku, aku harus sering-sering ke dapur.


Aku dan Oma berjalan menuruni anak tangga yang melingkar di rumah milik Pak Ardy ini. Kami mencium aroma masakan yang benar-benar menggugah selera. Siapa yang sedang memasak? Apakah Bi Sri?


Saat berjalan menuju dapur, aku melihat Arsen tengah sibuk memasak di dapur. Saat melihatku, ia tersenyum, begitu manis.


“Belajar masak sana sama Arsen, Oma mau luluran.” Oma meninggalkanku dan Arsen di dapur.


“Aku bisa bantu apa?” tanyaku. Masakan Arsen sudah hampir matang, entah apa yang bisa aku lakukan untuk membantunya.


“Lapin keringat aku, nanti ganti aku yang bikin kamu keringetan.”


...♥️♥️♥️M.A.S🚗🚗🚗...


...Hayo hayo keringetan di kasur nih kayaknya. Udah lulus kontrak aku mau bikin part panas dingin ah,,...


Wei Gengs, lama nggak ketemu, seminggu ya 😄😄😄


Kalian Othor becandain gitu aja udah pada sensi 😅😅😅


Mau up lagi nggak?


Banyakin dulu hadiahnya.


Aku males sebenarnya kalau up lebih dari satu, karena pasti yang up pertama likenya dikit. Jempolnya pada keseleo nggak mau mencet like.


Dah Ah,


Kalau khilaf aja aku tambahin, kalau nggak yaudah.


Bye ….👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2