
Suasana hangat menyelimuti ruang keluarga di rumah Mama. Aku dan Kak Darren yang sudah lama tidak bercanda kini tengah tertawa lepas bersama Mama juga. Mama hanya sesekali menimpali, lebih seringnya aku dan Kak Darren yang makin ngelantur bercandanya.
“Eheeemm.” Arsen sudah berdiri dengan muka yang sudah segar ta seperti tadi saat aku tinggalkan.
“Arsen, udah bangun?” tanya Kak Darren.
Aku melihat jam di rumah Mama sudah menunjukkan jam setengah tujuh pagi.
“Iya, semalam tidur kemalaman," jawab Arsen. “Kak Darren kapan sampainya?” sambungnya.
Bahkan sedari tadi aku lupa menanyakan pada Kak Darren pertanyaan yang Arsen lontarkan.
“Tadi malam jam sebelasan, papa kasih tahu aku kalau Kimmy sama kamu ada di sini. Jadi, aku langsung ke sini juga,” jawab Kak Darren.
Arsen hanya menggerakkan kepalanya naik turun setelah mendengar jawaban Kak Darren.
“Aku ke dapur dulu, ya,” pamitku pada mereka.
Saat aku berjalan melewati Arsen, suamiku itu langsung mencekal tanganku, membuatku menoleh padanya.
“Bikinin aku kopi ya,” pintanya lalu melepaskan tanganku. Tanpa senyum tanpa tatapan hangatnya, kenapa dia?”
__ADS_1
“Nggak terlalu manis, ‘kan?” tanyaku yang kemudian membuat Arsen menoleh. “Karena aku 'kan udah manis, kalau manis alami kayak aku gini nggak akan bikin kamu diabetes.”
Aku berjalan cepat meninggalkan Arsen yang terlihat kaget dengan jawabanku. Kemudian terdengar tawa dari Mama dan Kak Darren.
Tidak banyak yang aku lakukan di dapur, karena pembantu rumah tangga di rumah Mama sudah menyiapkan semua makanan, dan aku hanya membuatkan kopi untuk Arsen dan Kak Darren.
***
Setelah dua laki-laki itu berangkat ke kantor, Mama mengajakku untuk berbelanja. Wah, aku benar-benar antusias setiap kali mendengar kata belanja. Apalagi Mama janji akan mentraktirku hari ini.
“Ma, kita kepagian kayaknya,” ucapku saat melihat suasana mal yang masih sepi, hanya beberapa orang saja yang mulai memasuki mal.
Aku dan Mama cekikikan membayangkan apa saja yang akan kita beli nanti dengan leluasa.
Benar saja, baru satu jam berkeliling, aku dan Mama sudah mendapatkan beberapa pasang sepatu dan juga baju-baju cantik yang rencana akan kami pakai selama seminggu tinggal bersama.
“Kimmora, kamu sama Arsen udah resepsi belum sih?” tanya Mama saat kami melintasi toko yang menjual gaun-gaun pernikahan.
“Em, waktu itu cuma ada aku, Arsen, Papa, dan anak buah Papa aja sih Ma. Kalau resepsi di gedung gitu belum sih!” jawabku apa adanya.
Aku dan Arsen memang nikah mendadak, tidak ada persiapan apa pun, rumah Papa juga tanpa dekorasi saat kami menikah, bahkan kami aku baru tahu akan dinikahkan hari itu juga.
__ADS_1
“Nanti, Mama akan bilang ke papamu biar kalian adakan resepsi, Mama pengen lihat kamu pakai gaun pengantin.” Mama mengusap rambutku, mata sipitnya itu sudah berkaca-kaca seakan ingin menumpahkan segala perasaannya melalui air bening yang hampir tumpah itu.
Aku langsung memeluk tubuh Mama yang kemudian membalasku dengan pelukan hangatnya.
“Aku sama Arsen udah bahagia kayak gini kok, Ma. Yang penting kan udah sah di mata hukum dan agama. Nanti aku akan pakai gaun di pernikahan Kak Darren, ya.p AKu mengusap-usap punggung Mama yang tingginya hampir sama denganku.
“Kakakmu itu kapan mau menikah, pacar aja nggak punya.” Mama mengurai pelukan kami, wajah Mama terlihat basah karena air matanya.
“Mama tau dari mana?” selidikku.
Kak Darren sangat jarang membahas wanita saat bersamaku, mungkin karena dulu aku lebih sering curhat, dan Kak Darren tidak ada kesempatan untuk menceritakan kisahnya. Jahat sekali ya aku dulu.
🌹🌹🌹
...Iya, udah jelas kok Kim, kalau kamu pasti banyak ngomong daripada dengerin Kak Darren 😂😂...
Hai, aku up lagi 1 bab ya. Mohon maaf karena bab 84 tadi terlambat. Biasa, sistem dari noveltoon lagi perbaikan mungkin, semua penulis mengalami hal yang sama kok.
Karena ini udah up, jam 12 malam aku nggak up lagi ya gengs, aku mau leha-leha bentar. Jangan lupa, hari senin waktunya vote aku. Kembang sama Kopinya juga. Kan Othor banyak mau 😂😂😂
Okay, See You Again Gengs 🥰🥰🥰
__ADS_1