Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 52


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, semenjak pengalaman malam pertama kami yang rasanya di luar dugaan itu, aku dan Arsen sudah berkali-kali melakukannya. Ya, kami tidak akan memungkiri bahwa rasanya memang benar-benar nikmat dan membuat ketagihan. Meski begitu, aku tetap pada pendirianku, tidak ingin hamil sebelum aku lulus.


Aku memaksa Arsen untuk memakai pengaman daripada harus menanggung resiko, meskipun Arsen dengan terpaksa menuruti permintaanku itu.


Aku meminta Arsen untuk berhenti di apotek saat dalam perjalanan menuju kampus. Dengan malas, Arsen memarkir mobilku di depan apotek.


“Ayo, turun!” perintahku saat Arsen hanya diam tak ada niatan untuk melepas sabuk pengamannya.


“Kamu aja ya.” Arsen terlihat malas sekali menurutiku.


“Ya udah kalau nggak ada pengaman nggak usah nganu aja, aku tau kamu sengaja kan cuma beli satu, harusnya beli yang banyak.” Aku memanyunkan bibir supaya Arsen mau menurutiku, aku tahu dia akan luluh daripada harus menunda kegiatan ‘enak’ itu.


“Gimana kalau kita ke dokter, pasti ada cara lain selain pakai itu, kamu tahu nggak rasanya beda Kim pakai pengaman sama nggak, pakai pengaman itu nggak enak,” protesnya.


Wajah Arsen sudah terlihat begitu frustasi, tapi aku tidak peduli. Benda itu satu-satunya penyelamat untuk saat ini.


“Sebelum ke dokter, kita tetep harus punya stok.” Aku melepaskan sabuk pengaman itu dari Arsen, memaksanya untuk turun bersamaku.


Sebenarnya bisa saja, aku membeli sendiri benda itu, tetapi masalahnya adalah, aku sedikit malu untuk menyebutkan nama benda itu di hadapan kasir. Kami akhirnya memasuki apotek yang kebetulan sedang sepi, hanya ada seorang ibu-ibu saja yang sudah selesai dilayani.


“Mbak, selain balon, pencegah kehamilan ada apa aja ya?” tanya Arsen.


Kasir apotek itu menatapku dan Arsen bergantian.


“Mbaknya mau minum pil penunda kehamilan?” tanya kasir apotek itu.


 Lalu, ibu-ibu yang hampir meninggalkan apotek itu menghampiri kami.


“Mas, mbak, ingat sama dosa!” ucap ibu-ibu itu.


Aku dan Arsen saling melirik.


“Maaf ya, Bu. Kami sudah menikah.” Aku menunjukkan cincin yang diberikan Arsen saat dulu kami menikah. Lalu, Arsen menunjukkan foto buku nikah kami yang ada di ponselnya.


“Oh, jadi kalian sudah menikah. Kenapa nggak coba pasang IUD atau implan saja, jangan minum pil, kalau lupa minum bisa hamil,” ucap ibu-ibu itu.


Aku dan Arsen saling memandang, sementara ibu-ibu itu tersenyum lalu berjalan keluar dari apotek.


“Gimana?” tanya Arsen.

__ADS_1


Aku sendiri yang begitu awam dengan hal-hal seperti itu juga merasa bingung. Sedangkan ibu-ibu tadi yang lebih paham malah sudah menjauh meninggalkan tempat ini. Lalu aku mencoba bertanya pada kasir apotek yang mungkin lebih paham.


“Mbak, ada alat yang tadi dibilang sama ibu-ibu tadi?” tanyaku.


“Oh itu harus konsultasi ke dokter, di sini tidak menjualnya," kata kasir itu.


"Kalau gitu, yang balon aja mbak." Aku menunjuk alat pengaman yang kemarin juga dipakai Arsen, dan Arsen segera membayarnya.


Lalu setelah itu kami segera menuju kampus karena sebentar lagi kelas pertamaku dimulai.


Seperti biasa, aku dan Arsen berpisah di tempat parkir, tapi kali ini aku memeluknya dengan erat sebelum kami berpisah. Entahlah rasanya aku mulai sedih jika harus berpisah dengan Arsen, walaupun itu hanya sebentar.


Aku berjalan menuju kelas beriringan dengan beberapa mahasiswa lain yang juga baru datang. Di koridor kampus, aku melihat Kenneth, laki-laki yang seminggu lalu membuat Arsen cemburu sampai nekat menciumku di gedung olahraga.


Laki-laki itu sepertinya memperhatikanku, benar 'kan kataku, kalau kecantikanku ini membuat laki-laki manapun pasti terpesona.


Aku berjalan semakin dekat dengannya, saat tiba-tiba dia mengatakan sesuatu pada teman kami, Sam.


"Seperti apa? Tentu saja gitar spanyol yang membawa semangka," ucap Kenneth tepat di hadapanku.


Telingaku terasa panas saat laki-laki itu dengan mesumnya mengatakan hal yang menjijikkan. Aku langsung menamparnya dengan keras.


"Heh! Ganteng-ganteng tapi ngeres, ya," ucapku yang begitu kesal.


Dasar laki-laki mesum, menjijikkan!


Aku langsung menginjak kakinya dengan keras, rasanya aku benar-benar malu telah dilecehkan oleh laki-laki itu, apalagi aku sudah memiliki Arsen.


Aku segera berlalu meninggalkan Kenneth, si laki-laki mesum itu. Memasuki kelas yang sudah terlihat tenang karena dosenku sudah memasuki kelas, aku menghampiri Nana yang sedang melambaikan tangan padaku.


"Kenapa sih itu muka bete banget kayaknya?" tanya Nana setengah berbisik saat aku duduk dengan terus memanyunkan bibir.


"Gue kesel tau nggak sama si Kenneth," jawabku.


"Kenapa?" Nana merapatkan duduknya mendekat padaku.


"Dia itu bilang gue gitar spanyol bawa semangka, ngeselin nggak?" Aku melepaskan tas selempang yang ku pakai.


"Ih, kok bisa." Nana sepertinya begitu antusias.

__ADS_1


Laki-laki bernama Kenneth itu memasuki kelas dengan kakinya yang pincang, sepertinya aku menginjaknya cukup keras sampai dia meringis kesakitan seperti itu. Baguslah! Biar tahu rasa dia.


"Apa kau lihat? Itu perbuatan Kimmora!" ucap salah satu mahasiswi yang masih bisa kudengar. 


"Ya, aku ada di dekat sana saat itu."


Lalu, dosen yang mengajar kami pun angkat bicara. "Tidak bisa diam, silakan keluar! Kelas kita mulai!"


Semua mahasiswa pun tak lagi bersuara, bahkan Kenneth juga sudah duduk diam. Kami semua memperhatikan apa yang sedang dosen cantik itu jelaskan.


"Tugas kali ini berbeda. Aku akan membagi kalian dalam kelompok berisi dua orang." Dosen itu meraih ponselnya, lalu mulai mengetikkan sesuatu.


"Pembagian kelompok dan juga tugas sudah saya kirim. Silakan cek pesan kalian masing-masing," kata dosenku itu.


Lalu, aku meraih ponselku untuk mengecek dengan siapa aku akan menyelesaikan tugas, aku berharapnya akan bersama Nana, tapi … apa ini? Kenneth?


Aku memperhatikan laki-laki itu, dia pun juga memperhatikanku, dan pandangan mata kami saling beradu. Sial! Kenapa aku harus satu kelompok dengan laki-laki mesum itu?


Tak lama Kenneth berusaha berlari mengejar dosen kami. "Tunggu, Miss Kia," panggilnya pada dosen kami. "Apa Anda membawa baju dan sepatuku yang tertinggal di rumah?" tanya Kenneth.


Oh laki-laki mesum itu ada hubungan dengan dosen kami!


"Na, lo denger nggak tadi si Kenneth bilang apa?" bisikku pada Nana.


Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengan Kenneth yang sudah mele**cehkanku.


"Iya, apa mereka tinggal bersama?" tanya Nana tak kalah antusias.


"Aku rasa begitu, laki-laki mesum itu pasti sudah merayu Miss Kia," ucapku.


🌹🌹🌹


Eits, punya musuh baru nih Kimmy, haduhh bu dosen kenapa ditugasinnya sama cowok sih, Kimmy jangan khilaf ya. Kan udah mantan perawan 😅😅😅


Hayo hayo hayo, nggak ada yang nungguin kayaknya. Yaudah deh satu bab aja kalau gitu. ini udah mau kirim dari sore tapi ternayata ketiduran 🙈🙈🙈


Ritual jejaknya jangan lupa, Like, Komen, Hadiah dan Votenya.


Hadiah makin sepi aja 😅😅😅

__ADS_1


Dah ah,


Sampai jumpa lagi 👋👋👋


__ADS_2