
Selamat membaca
❤❤❤
Pak Faisol langsung shock. Istrinya tak kalah panik. Sementara Kirana lebih bisa mengendalikan keadaan. Bergegas Kirana bangkit untuk mengambil air putih kemudian diminumkan pada lelaki paruh baya itu.
Ammar menyadari bahwa ia menghadapi situasi yang tidak nyaman. Biasanya acara lamaran itu penuh dengan suka cita dan kebahagiaan. Namun kali ini justru terasa menegangkan. Tapi ia sudah memutuskan, tidak mungkin menarik kembali ucapannya. Walau ia sendiri sebenarnya dalam suasana hati yang tak kalah gugup.
“Apakah Anda tidak main-main, Pak?” ucap Son lirih di samping Ammar. Son memang tampak kurang senang dengan keputusan Ammar yang terkesan asal tanpa pemikiran matang.
“Apakah menurutmu aku sedang becanda untuk urusan sepenting ini?” jawab Ammar tak kalah ketus.
Akhirnya mereka berdua diam larut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa menit kemudian Pak Faisol terlihat lebih rileks. Kedua wanita di samping kiri kanannya berusaha untuk membantu mengembalikan pada kondisi semula. Napas pak Faisol sudah mulai teratur kembali. Ammar lega. Namun Son, tetap saja, ia merasa tidak senang. Wajahnya manajer segala urusan itu beku.
“Pak Ammar ada yang ingin saya dan istri sampaikan pada Bapak. Bisakah kita berbicara sebentar.” Pinta Pak Faisol.
“Tentu saja bisa.” Jawab Ammar tegas kemudian menoleh pada Son. “Bisa kan kamu tinggalkan kami. Tugasmu di sini sudah selesei. Kamu bisa kembali ke kantor. Tolong buat undangan untuk acara resepsi nanti malam.”
“Siap laksanakan.” ucap Son datar tanpa semangat.
“Kamu naik taksi online saja,” perintah Ammar
“Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya permisi.” Son segera bangkit dan meninggalkan rumah Pak Faisol dengan perasaan masgul.
“Ki…tinggalkan kami bertiga, Nak! Kembalilah ke kamarmu!”pinta bapaknya lembut.
Ki beranjak dari temput duduknya. Matanya mengisyaratkan tanya. Tanpa membantah ia pun melangkah menuju kamarnya. Ammar memandangi wajah Ki yang kecantikannya tidak pernah pudar. Ia senang melihat Ki penurut. Itu wanita yang ia idamkan.
Dalam benak Ammar, Ki tidak ada kemiripan sama sekali dengan orang tuanya. Tapi Ammar hanya berani membantin tanpa berani menanyakan soal ini. Bahkan garis wajahnya bukan murni seperti orang jawa. Ki mirip-mirip wanita timur tengah seperti dirinya. Ammar memang memiliki keturunan Arab. Kakek neneknya asli berdarah Arab. Bapakya menikahi ibunya yang asli jawa. Jadi Ammar ini blesteran jawa-timur tengah. Sekilas wajah Ammar ini mirip Maher Zein. Sebelas dua belas.
Kini di ruang tamu hanya ada mereka bertiga. Ammar, Pak Faisol dan istrinya.
Pak Faisol bingung harus memulai darimana. Begitu halnya istrinya yang duduk di sampingnya sambil menunduk.
__ADS_1
“Silahkan Pak. Apa yang hendak Anda sampaikan.” pinta Ammar setelah beberapa menit berlalu tapi lelaki di hadapannya ini tak kunjung membuka suara.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” Ammar semakin penasaran.
Pak Faisol mengusap wajahnya.
“Sesungguhnya kami menyimpan sebuah rahasia besar. Bertahun-tahun kami berusaha menyembunyikan ini.” Sampai sini tenggorokan Pak Fisol seperti tercekat.
“Apakah ini ada kaitannya dengan Ki..”
“Iya, tentu saja.” jawabnya pelan.
“Teruskan, Pak!” pinta Ammar.
“Harap Bapak tahu, Ki.. sangat menjaga kehormatannya. Kalau soal ini Bapak tidak perlu khawatirkan. Ia bukan wanita sembarangan. Ibadahnya juga tak perlu diragukan. Pergaulannya terjaga. Kami yang menjaganya sedari kecil. Dialah berlian yang sangat berharga bagi kami.”
Istri Pak Faisol terisak mendengar penuturan suaminya. Ia mengingat masa kecil Ki. Cantik dan banyak prestasi diraihnya.
“Lantas. Apa yang Anda risaukan?” tanya Ammar.
“Ini sangat berat Pak. Hanya laki-laki yang berlapang dada saja yang bisa menerima kondisi ini. Kami pun tidak tahu, apakah Bapak akan menarik lamaran pada putri kami, setelah mengetahui apa yang terjadi. Itu terserah Bapak. Tapi sejujurnya sebagai orang tua, kami tidak ingin Ki terluka.”
“Katakan saja Pak. Saya berjanji. Apapun kondisinya, saya tidak akan mencabut ucapan saya. Saya akan tetap menikahi Ki.” Ammar berusaha meyakinkan.
“Apakah Bapak sungguh-sungguh?” tanya Pak Faisol seolah butuh kepastian.
“Apa menurut Bapak saya terlihat main-main?” balas Ammar kemudian.
Pak Faisol dan istrinya tampak lega. Kemudian menarik napas berat.
“Ketahuilah Pak, sebenarnya Ki ini bukan anak kandung kami. Dokter sudah mengatakan kalau saya mandul, jadi kami tidak mungkin memiliki anak. Mungkin Bapak sudah bisa merasakan, betapa berbedanya kami dengan Ki. Bahkan hingga usia Ki sekarang dua puluh dua tahun, ia tak pernah tahu orang tua aslinya. Karena memang begitu permintaan ibunya dulu.”
Wajah Pak Faisol menunduk begitu juga dengan istrinya. Serasa ada beban berat yang ia lepaskan dari pundaknya.
Ammar bergetar demi mendengar penjelasan Pak Faisol.
__ADS_1
“Saya harus menyampaikan ini pada Bapak. Karena Bapak akan menikahi Ki. Bapak akan menjadi suaminya. Sudah semestinya Bapak tahu. Kami tidak akan menyembunyikan asal usul Kirana.”
“Kalau begitu siapa orang tua Ki sebenarnya.”
Tangis Pak Faisol dan istrinya pecah.
Sesungguhnya ini bagian yang tak kalah beratnya untuk disampaikan.
“Pak, cepatlah katakan! Bukankah saya sudah berjanji tidak akan meninggalkan Ki” Lagi-lagi Ammar harus meyakinkan kedua orang tua itu.
Pak Faisol tidak sanggup menceritakan. Ia hanya bergeming. Istrinya juga demikian. Ia menyeka air mata yang merembes di pipinya. Wajahnya terlihat kacau. Bedaknya luntur. Blush on nya ambyar. Ammar semakin bingung. Hingga sepuluh menit kemudian laki-laki itu baru membuka suara lagi.
❤❤❤
“Jadi…Ibu Ki ini seorang TKW yang bekerja di Arab Saudi. Wajahnya ayu khas orang jawa. Kulitnya sawo matang-eksotik. Dengan kecantikannya itu tentu mengundang banyak lelaki tergoda dengannya. Namun sayang nasibnya tidak beruntung. Saat mengadu nasib ke negeri orang, dia sudah menikah. Namun suaminya ini tidak bertanggung jawab. Dia sering menerima kekerasan dalam rumah tangganya. Karena tidak tahan ia memilih untuk bekerja jauh agar tidak bertemu suaminya yang durjana itu. Sebelum berangkat ia sudah berusaha mengurus perceraian dengan suaminya. Tapi suaminya menolak menceraikannya. Setelah ia sampai di Arab Saudi, nasib buruk kembali menimpanya. Anak majikannya memaksanya untuk melayani nafsu bejatnya. Dia mati-matian menolak. Tapi sesuatu yang buruk itu terjadi. Dan beberapa bulan kemudian, dia dinyatakan hamil. Ia memutuskan untuk pulang ke tanah air. Majikannya tidak tahu apa yang menimpa dirinya.”
🌸🌸
Pak Faisol menarik napas. Begitu juga dengan Ammar. Ia berusaha tenang. Ekspresi datar. Kemudian ia melanjutkan ceritanya lagi.
“Saya dan istri dulu pernah bekerja di Bandara Juanda sebagai tenaga bersih-bersih. Saya bertemu ibunya Ki di sana. Ia tampak begitu pucat dan tertekan waktu itu. Kemudian kami mendekatinya karena merasa sangat kasihan. Setelah itu ia menceritakan apa yang menimpa dirinya. Kami mengajaknya tinggal di rumah sampai anak itu dilahirkan. Setelah habis masa nifasnya, wanita muda yang mengaku bernama Larasati ini pamit untuk pulang ke kampung halamannya di Banyuwangi. Sebelum meninggalkan Ki, ia memberikan sejumlah uang yang cukup besar pada kami sebagai biaya pengasuhan putrinya.
Larasati menyerahkan Ki pada kami untuk diasuh seperti anaknya sendiri. Dia bilang tidak akan pernah kembali menjadi TKW lagi. Ia juga minta untuk merasahasikan ini pada Ki, semata-mata agar Ki tidak terguncang. Dia juga berjanji tidak akan mengambil Ki dari kami.
Zanna Kirana Larasati itu nama yang ia sematkan pada putrinya yang cantik itu.”
🌸❤
Napas Pak Faisol terengah. Seolah ia baru saja menghempaskan beban berton-ton. Istrinya masih saja terus menangis mengingat kejadian dua puluh dua tahun silam.
Sementara itu di dalam kamarnya, Ki lamat-lamat mendengarkan semua cerita masa lalunya. Tangisnya terguguk.
Ammar tertegun. Ia mengatur napasnya. Entah apa yang ia pikirkan. Pak Faisol dan istrinya menunggu reaksi Ammar. Sepuluh menit sudah berlalu tanpa suara.
Akankah Ammar menepati janjinya?
__ADS_1
Bersambung❤❤❤
Di tunggu krisanya ya reader.