Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 91


__ADS_3

Aku dan Papa berjalan cepat menuju ruang operasi di rumah sakit besar ini. Papa Raffi sudah berdiri di depan pintu ruangan yang tertutup itu sendirian. Papa menghampiri Papa Raffi sedangkan aku berdiri menatap pilu ruangan dengan pintu besar yang kini tertutup rapat.


Di dalam sana, suamiku sedang menjalani prosedur operasi untuk menghentikan pendarahan di otak, setidaknya itu yang bisa aku dengarkan dari obrolan Papa dan Papa Raffi.


Air bening terus meluncur deras, keluar dari mataku. Sesak di dada saat mendengar cerita Papa Raffi tentang penyebab kecelakaan Arsen.


Aku tidak menangis tersedu-sedu seperti yang hatiku inginkan, karena saat ini yang terlintas di benakku hanyalah cara Arsen mencintaiku. Semua berputar putar seperti rekaman yang membuat dadaku semakin sesak. Senyuman Arsen, dan tawa Xavier bergantian muncul. Menghancurkan seluruh pertahananku.


Kenapa? Kenapa harus Arsen?


"Semuanya terjadi dengan cepat, seharusnya saya yang ditabrak bukan Arsen. Kalau dia tidak menyelamatkan saya, pasti Arsen masih sehat saat ini," kata Papa Raffi yang duduk berseberangan denganku. Wajah tua itu memerah, dengan linangan air di ujung matanya.


Papaku langsung memberikan kenyamanan lewat pelukannya, tapi tetap saja semua itu tidak bisa membuatku tenang.


Arsen, kalau saja aku tahu akan seperti ini, aku pasti tidak akan membiarkanmu pergi hari ini.


"Semua sudah ditakdirkan, kita tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi pada kita setelah ini," sahut Papa.


Mama Nisa datang bersama Dion dan papanya. Wanita baik itu menghampiri suaminya dan bertanya tentang Arsen. Tak lama, ia menghampiri dan memelukku.


"Yang sabar ya, Sayang. Dia pasti baik-baik saja," kata Mama Nisa sambil memelukku.


Tiba-tiba aku menangis semakin kencang, rasa sesak di dada semakin menghimpitku.


"Aku takut, Ma."


Mama Nisa semakin memelukku erat, mengusap rambutku dan membiarkanku menangis dalam pelukannya.


"Mama tahu, mama ngerti. Kita berdoa sama-sama, semoga Arsen baik-baik saja."


Tuhan, jangan ambil suamiku. Selamatkan nyawanya Tuhan.


Kepalaku berdenyut, sakit sekali. Dadaku semakin sesak, lalu tiba-tiba semuanya gelap.

__ADS_1


*


*


*


Aku seperti berada di hamparan taman bunga di siang yang sangat cerah. Arsen memakai jas putih, persis seperti saat kami akan menikah.


"Kamu."


"Iya ini aku, suamimu."


"Suami?"


"Kamu tenang saja, aku akan terus berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu."


"Aku ...."


Aroma minyak kayu putih tiba-tiba menusuk indra penciumanku. Semakin lama, semakin menyengat, dan sosok Arsen semakin memudar.


Mataku membuka perlahan dan akhirnya kembali sadar. Ini seperti ruangan di rumah sakit.


"Kamu sudah sadar, Sayang?" tanya Mama Nisa yang ternyata sedang memegang botol minyak kayu putih.


"Arsen mana, Ma? Kepalaku pusing sekali," jawabku sambil memegang kepalaku.


"Kim, operasinya sudah berhasil," kata Mama Nisa.


"Syukurlah, aku ingin ketemu dia, Ma."


"Dokter masih memantau keadaannya, kita belum diizinkan menjenguk. Lagipula, kamu harus banyak istirahat juga, karena saat ini kamu kan sedang ...."


Mama Nisa sepertinya ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Sedang apa, Ma?"


Mama Nisa menatapku seakan sangat kasihan denganku. Matanya yang merah bekas menangis, kembali mengeluarkan air bening yang langsung diseka dengan gerakan cepat.


"Kamu istirahat saja, ingat Xavier juga butuh kamu, kamu harus tabah dan kuat," kata Mama Nisa yang kembali menangis, kali ini air matanya seakan tak bisa ditahan lagi. Ia menangis tersedu sambil menutupi wajahnya.


"Ma. Aku ingin lihat Arsen sebentar saja, Ma."


Mama Nisa mengangkat kepalanya, wajahnya sudah bebas dari air mata, tapi tetap saja sembab.


"Saat ini Arsen masih koma, Sayang."


Sesak di dada kembali menghimpit. Duniaku seakan pergi meninggalkan aku sendiri. Tanpa aku tahu ke mana arahnya pergi, apakah dia akan kembali?


Rasanya bagai disambar petir di siang yang terik. Langit seakan runtuh menimpa tubuhku detik ini juga.


Tuhan, kenapa begini? Apa yang terjadi dengan Arsen Tuhan?


Tiba-tiba seorang perawat masuk membawa makanan.


"Ini makanan sama vitaminnya, harus dihabiskan ya, supaya janinnya sehat." Wanita berpakaian putih itu tersenyum ramah.


"Janin? Janin siapa?" tanyaku bingung. Tidak mungkinkan makanan itu untuk Mama Nisa?


"Memangnya kamu belum tahu kalau lagi hamil, Sayang?"


Hamil? Aku hamil? Secepat ini?


♥️♥️♥️


Selamat siang gaess, please ikuti alurnya, kalian percaya aku kan 🤭🤭🤭 Kemarin kemarin udah happy, sekarang sedikit mellow dulu ya.


Jangan lupa ritualnya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2