Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 68


__ADS_3

Saat ini, aku dan Oma menginap sementara di rumah Mama Papa, karena Mama sedang kangen katanya. Jadi, Arsen mengantar kami ke rumah Papa sebelum berangkat ke bandara.


"Aku ikut ya," rengekku saat menyadari suamiku sudah sangat rapi dan tampan.


Arsen tersenyum, meraih pinggangku dan mencium keningku. "Aku kan cuma sebentar Sayang, besok udah balik. Kamu di sini pasti nggak akan kesepian," kata Arsen yang kini menatapku sambil tersenyum.


"Iya, Kim. Ini kan rumah kamu, kenapa kamu merasa kesepian di rumah kamu sendiri?"  tanya Papa yang meletakkan tabletnya.


"Kayak nggak tau ratu drama aja," sinis Oma yang kin berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Nanti Mama sama Nana mau shoping, kamu ikut ya," kata Mama.


"Dia lagi marahan sama Markonah!" teriak Oma yang masih saja menyahut walaupun sudah berada di dapur.


"Kenapa?" tanya Papa dan Mama bersamaan.


"Aku malas bahas Nana."


"Sayang, jangan gitu, nanti anak kita jadi suka ngambek kayak kamu." Arsen mengusap perutku yang semakin terlihat buncit.


"Habisnya Nana nyebelin, masa dia bilang kamu sama Yumna dulu pernah gituan," jawabku dengan lirih.


Aku membenamkan wajahku di dada Arsen. Hormon kehamilan membuat emosiku naik turun, tapi aku beruntung karena Arsen selalu memahamiku.

__ADS_1


Arsen hanya menciumi kepalaku, membiarkanku mencari aroma maskulin tubuh Arsen, yang bercampur dengan aroma mint segar dari parfumnya.


"Iya iya, Nana emang salah. Aku kan pertama ngelakuinnya sama kamu Sayang. Kamu yang pertama dan satu-satunya. Nanti biar Mama yang marahin Nana ya," kata Arsen sambil mengusap punggungku.


Entah apa yang Arsen lakukan, kudengar Mama juga menyahut.


"Iya, Kim. Gini-gini Mama juga bisa jadi mertua yang jahat kok," kata Mama yang membuatku melepaskan diri dari tubuh Arsen.


"Mama bilangin tuh menantu Mama kalau ngomong difilter dulu." Aku merasa menang karena mereka membelaku.


"Duh, Bumil ini sensitif banget, Oma udah DM ke sosial medianya Nana, udah Oma omelin tadi," sahut Oma yang membawa minuman jahe dari dapur.


"Oma ini belain siapa sih?" Aku menatap tajam mata wanita yang sedari dulu sudah menjadi Nenek Sihir itu.


"Kamu lah, kamu kan cucu Oma." Oma mengedipkan sebelah matanya membuatku tersenyum geli.


"Iya deh."


Arsen tersenyum, lalu berpamitan pada semua orang di rumah, kecuali Kak Darren yang memang tidak ada di rumah.


Aku mengantarnya sampai ke pintu depan, tempat Arsen memarkirkan mobilnya.


"Sayang, Daddy berangkat ya, jangan nakal sama Mommy." Arsen mencium perutku cukup lama, ia pasti juga sedih karena harus berpisah sementara dengan anaknya yang masih di perutku.

__ADS_1


"Daddy juga jangan nakal." Aku mengusap wajah tampan Aarsen yang kini memakai topi terbalik. Kenapa dia semakin hari semakin tampan saja?


"Nggak akan istriku Sayang. Aku udah punya kamu punya anak kita. Aku nggak butuh yang lain lagi, kamu tau itu kan?"


Arsen benar, aku terlalu terbawa suasana, terlalu banyak menonton drama perselingkuhan. Arsen bukan laki-laki seperti itu. Dia suami terbaik.


"Hati-hati, jangan lupa kabari aku." Aku mencium tangan Arsen yang kemudian dibalas dengan kecupan lembut di keningku.


"Aku berangkat ya, jangan lupa minum susu sama vitamin nya." Arsen membuka pintu mobil. Ia memang berangkat sendiri ke bandara, menyusul Dion dan Papa Raffi yang mungkin sudah berangkat ke bandara.


"Iya, Saranghae."


"Apa? Sa apa?"


"Saranghae Dad, ih pasti me*sum. Udah sana berangkat, sebelum aku nangis pengen ikut nih."


♥️♥️♥️


...Emang Sa apa sih Babang dengernya? Sarang burung? Aih, Ada yang tau nggak?...


Selamat siang, gaess.


Jangan lupa ritualnya. Hari senin bagi votenya dong 🤭🤭

__ADS_1


Aku kasih 1 bab lagi, tapi janji bab ini juga di like. Awas kalau bohong 🤣🤣🤣


Sampai ketemu lagi 😘😘


__ADS_2