
Sepagi ini Nana sudah ada di sini. Pasti gadis cerewet itu datang untuk menemuiย Kak Darren. Jujur aku tidak menyangka hubungan mereka bisa sedekat ini.
Selama bertahun-tahun Nana menjadi sahabatku, tidak sekali pun aku berpikir bahwa Nana akan menjadi pasangan yang tepat untuk Kak Darren.
"Di rumah lagi bosan, Oma. Makanya aku ke sini lebih pagi." Gadis itu tetap ceria seperti biasanya. "Oma suka bunga? Mami di rumah juga suka bunga, pas sempat viral itu, Mami beli sampai jutaan loh Oma satu pot aja," ocehnya.
Di saat yang sama, aku melihat Kak Darren sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, berjalan ke arah kami sambil bermain ponsel.
"Kim, Oma, aku berang ... kat dulu." Kak Darren yang tadi fokus dengan ponsel, sepertinya terkejut dengan keberadaan Nana di sampingku, mendadak ia jadi senyum-senyum salah tingkah. "Kamu ada di sini?" tanya Kak Darren.
"Iya, Kak. Mau nemenin Kimmy biar nggak galau terus," jawab Nana dengan nada yang dibuat imut.
Ya, begitulah dua manusia kalau sedang proses pendekatan, awalnya terlihat malu-malu, lama-lama jadi memalukan.
"Oh. Oke aku ke kantor dulu." Kak Darren kemudian pergi dan tidak jadi menghampiri kami.
Setelah kepergian Kak Darren, Nana kembali senyum-senyum tidak jelas. Membuatku dan Oma saling menatap curiga.
"Oma, sepertinya akan ada pasangan baru di rumah ini," bisikku pada Oma, tapi aku yakin Nana masih bisa mendengarnya.
"Bisa jadi Kim. Ya, baguslah, kakakmu sudah waktunya memikirkan masa depan. Sudah saatnya juga dia menikah," kata Oma sambil menyirami tanamannya.
"Siapa yang akan menikah Oma?" tanya Nana.
"Kamu sama Darren," jawab Oma.
__ADS_1
"Oma ada-ada aja, aku masih kuliah Oma, masih mau berkarir juga."
"Kalau dia nggak mau, Oma carikan aja istri buat Kak Darren," sahutku.
"Jangan dong."
***
Hari ini Nana benar-benar menunjukkan bakatnya sebagai ratu dapur. Dia membuat dapur rumah Papa tidak berhenti mengepulkan asap, Bi Sri dan Mbak Lastri bahkan diusir dari dapur.
"Ini contoh menantu ideal keluarga kita," puji Oma saat Nana selesai memasak. "Oma telepon Darren dulu ya, biar bisa makan di rumah bareng-bareng."
Oma lalu pergi meninggalkan dapur. Menyisakan aku dan Nana yang sibuk menuang hasil karyanya di piring saji.
"Em, belumlah, kita masih pedekate, Kim" jawabnya tanpa mengalihkan fokusnya.
"Kalau lo putus sama kakak gue, jangan sampe ngerusak persahabatan kita," pesanku.
Aku takut jika nanti mereka tidak berjodoh lalu bermusuhan, aku juga yang terkena imbasnya. Masalahnya Kak Darren jarang sekali pacaran, sedangkan Nana orangnya gampang bosan, apalagi kalau sudah ketemu cowok ganteng.
"Sadis banget lo, pacaran aja belum udah ngomongin putus." Nana mendorong pundakku dengan pelan, lalu kembali fokus dengan potongan daun seledri di tangannya.
"Ya pokoknya awas aja kalau lo putusin Kakak gue apalagi demi cowok, gue hajar beneran lo." Akumengepalkan tinju tepat di hadapannya, untuk meyakinkan Nana bahwa aku serius.
"Galak amat sih lo. Eh, ngomong-ngomong Kak Arsen sampai kapan di Jepang?"
__ADS_1
Aku menghela napas berat, "Nggak tau gue, di sana 'kan lagi kacau banget, kalau feeling gue sih lama."
Dalam hati aku terus berdoa semoga Arsen bisa secepatnya pulang.
"Kalau malem lo kesepian dong, gimana kalau kita ke klub sama Dara juga."
"Ogah, gue udah tobat."
"Elah bisa tobat juga lo."
Aku meninggalkan Nana untuk mengambil ponsel di kamarku, mungkin saja Arsen mengirimkan pesan saat aku tinggalkan dari pagi.
๐น๐น๐น
...Jangan diajak nakal lagi Na, udah di jalan yang benar nih....
Aku udah UP 3 bab ya hari ini.
Jangan lupa ritual jejaknya ya gengs,
Abang Arsen masih lama di Jepang, lagi bulan madu sama Othor.
Okay, Like, komen, Hadiah, dan Vote jangan lupa.
Sampai ketemu lagi ๐๐๐๐
__ADS_1