
Kami baru saja meniup lilin ulang tahun milik Xavier, saat kedua mertuaku mendapat kabar bahwa Dera melahirkan, dan mereka langsung pamit pulang.
Entah apa yang terjadi, kehamilan baru memasuki tujuh bulan dan Dera sudah mau melahiran. Mungkin karena bayinya kembar empat, makanya Dera melahirkan lebih cepat.
Aku Arsen tidak ke rumah sakit karena akan lebih baik kalau menjenguk saat semua sudah tenang. Aku yakin saat ini keadaan di sana sedang tegang.
Xavier sangat tertarik dengan kado-kado yang ia dapatkan. Tingkahnya itu mampu mengalihkan perhatianku yang sempat melamun.
"Mommie, Mommie, Mommie." Xavier memberikan kado yang besarnya sangat pas di pelukannya. Dia ingin aku membukakan kado itu.
"Ini dari Onty Dera, Xavi mau buka?" tanyaku untuk memastikan dugaanku.
Dengan tingkah menggemaskan Xavier mengangguk dan bertepuk tangan. Ia menunggu sambil berputar-putar dengan tangannya yang terus bertepuk-tepuk.
"Xavier sit down please!" pintaku supaya bocah itu berhenti berputar-putar yang pasti akan membuatnya pusing.
"No-no-no!" tolaknya yang malah terus berputar.
Mbak Dian akan menangkapnya, tetapi respon Xavier justru marah dan akan memukul babby sitternya itu. Arsen yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri dan menangkap tubuh putranya yang mulai sedikit 'nakal'.
"No-no-no." Xavier terus meronta.
"Xavier kalau pukul Sus Dian lagi, daddy marah. Mommie jangan dibuka kadonya Xavier!" Arsen menatap Xavier. Ia sedang mendidik putra kami agar tidak bersikap semena-mena.
__ADS_1
"Mommie, mommie." Xavier menatapku, meminta bantuan.
"Kalau Xavier nakal, mommie nggak mau buka kadonya." Aku meletakkan kembali kado yang memang belum aku buka.
"Xavier sekarang mulai nakal ya," kata Mama yang duduk d sofa di belakangku yang duduk di karpet bawah bersama Mbak Dian.
"Mulai aktif-aktifnya dia Ma, makanya kalau nggak ada Mbak Dian aku kewalahan banget."
"Xavier, lihat daddy." Arsen membawa Xavier duduk. "Minta maaf sama Sus Dian. Bilang apa? 'I am sorry Sus'! Ayo Xavier bilang sorry." Arsen memosisikan Xavier di hadapan Mbak Dian.
"Aem colly, Cus." Xavier mengulurkan tangan, meminta maaf kepada Mbak Dian.
"It's okay." Mbak Dian bersalaman dengan Xavier.
Satu per satu kado yang didapat Xavier mulai dibuka. Rata-rata isinya mainan anak laki-laki.
Sesuai janji Arsen, kami mengajak Xavier jalan-jalan dengan mobil. Xavier sangat suka melihat kendaraan-kendaraan yang lewat.
Bocah tampan itu duduk tenang sambil menikmati jalanan ibu kota. Ia duduk sendiri di kursi depan dengan perlengkapan khusus. Bocahku sudah seperti pria dewasa dengan gaya santai begitu.
"Yah, mobilnya haus, kita kasih minum mobilnya dulu ya Xavier," kata Arsen setelah kami berhenti di pom bensin.
"Nyum, nyum." Xavier menirukan kata minum yang Arsen ucapkan.
__ADS_1
"Xavier mau minum juga?" tanyaku.
Ia mengangguk cepat, lalu Mbak Dian mengambilkan botol susu Xavier.
Baru saja selesai mengisi bahan bakar, Arsen mendapat telepon dari Papa. Karena Arsen sedang menyetir, dia memintaku untuk menjawab panggilan telepon itu.
"Ya, halo Pa."
"Kimmora, Arsen mana?" tanya Papa Raffi.
"Kak Arsen lagi nyetir Pa, apa ada yang penting, nanti aku biar telfon balik Papa."
"Anaknya Dera yang kedua meninggal dunia Kim, tolong sampaikan ke Arsen ya. Papa tutup dulu, mau urus soal pemakamannya."
"Iya Pa," balasku dengan lemas.
Kasihan sekali Dera, pasti saat ini dia sangat terpukul.
β€β€β€
Hai gaess, aku kembali setelah beberapa abad menghilang. Maafkan aku ya, bukannya malas tapi ya begitulah. Fokus ke Istri Big Boss sama novel baru yang baru dapat 1 bab πππ. Kalau penasaran sih boleh banget pencet aja profilku, nanti juga ketemu sama mas mas ganteng ππ Roman roman anak SMA πππ
Dahlah, aku update cuma mau menyapa, siapa aja yang masih menungguku πππ
__ADS_1