
Cuaca pagi ini memang kurang bersahabat, rintik-rintik gerimis masih terasa saat mobil yang dikendarai Arsen keluar dari garasi rumah kami. Mobil warna hitam ini langsung berbaur dengan padatnya lalu lintas, karena rumah kami memang berada di tepi jalan raya. Aku dan Arsen hanya pergi berdua ke rumah sakit, tanpa Xavier.
"Cerita sama aku, apa yang saat ini kamu rasain? Aku tahu ini belum jadwalnya periksa rutin," ucap Arsen yang tangannya sibuk mengendalikan setir.
Perutku kembali terasa kencang, aku hanya mengusap perutku untuk menenangkan mereka.
"Nggak apa-apa, cuma sakit pinggang aja sih," jawabku. Aku sengaja tidak menceritakan mengenai flek merah yang ada pada pakaian dalamku saat aku ke kamar mandi tadi.
"Beneran?" Arsen seakan tidak percaya bahwa aku baik-baik saja. Apa aku kurang pandai berakting?
"Beneran ih, udah deh fokus nyetir aja, biar cepet sampai di rumah sakit."
"Tapi Δ·amu aneh, Sayang. Sepagi ini, Dokter Nayla pasti belum ke rumah sakit."
"Udah aku telfon kok, dia lagi siap-siap ke rumah sakit," balasku. Lalu, aku kembali membuka aplikasi bertukar pesan dan panggilan online itu.
Memang benar, Dokter Nayla bilang akan segera ke rumah sakit karena ini sudah mendekati tanggal perkiraan persalinanku.
Karena ada kecelakaan, lalu lintas menjadi cukup macet. Dua buah mobil yang bertabrakan itu menutup jalanan, menciptakan kemacetan cukup parah jika dilihat dari spion mobil.
"Aduh, kayaknya agak lama Sayang, kamu beneran nggak apa-apa? Apa kita panggil ambulan, mobilnya kita tinggal aja?" tanya Arsen yang kini mulai khawatir.
__ADS_1
"Nggak apa-apa suamiku sayang, udah tunggu sebentar aja, nanti kalau aku nggak kuat baru kita pikir lagi," jawabku.
"Aku takut kamu lahiran di sini," kata Arsen sambil mengusap perutku yang terasa sangat kencang.
"Udah deh Dad, jangan bikin aku panik, tuh lihat mereka selamat kan itu, kayaknya nggak ada korban jiwa." Aku menunjuk beberapa orang yang dibantu keluar dari mobil.
"Ya udah, kalau gitu."
Kami menunggu sekitar satu jam, sampai akhirnya kecelakaan lalu lintas itu selesai diatasi. Selama itu, aku sudah merasakan air ketubanku yang merembes keluar, tetapi, aku sengaja tidak memberitahu Arsen.
Selama perjalanan ke rumah sakit, aku menahan kontraksi yang sesekali datang menyerang, seakan mere*mas dagingku, dan akan merontokkan tulangku.
Setiap kali rasa itu datang, aku membuang muka untuk menyembunyikan ekspresi menahan rasa sakit. Aku tidak mau Arsen semakin panik dan membuatku panik juga.
"Baju kamu udah basah banget, Sayang." Arsen terlihat panik.
"Iya iya, stop!" Aku berhenti bicara karena menahan rasa sakit yang teramat menyiksa, sebentar lalu kembali hilang. "Udah dari tadi, Dad. Aku nggak apa-apa kok, aku bisa masih kuat jalan," lanjutku.
Seorang petugas keamanan menghampiri kami. "Apa butuh bantuan, Pak, Bu?" tanya petugas itu.
"Iya, Pak. Istri saya mau melahirkan," jawab Arsen.
__ADS_1
"Em, saya masih bisa jalan sendiri kok, masih kuat," sahutku. Lalu, aku keluar dari mobil dibantu Arsen.
"Sayang, kamu beneran nggak apa-apa jalan ke sana?" tanya Arsen.
Beruntung, aku bisa mencapai ruang UGD dengan selamat.
Arsen berbincang dengan petugas medis yang terus bertanya tentang apa yang terjadi. Sayangnya, karena rasa sakit yang datang semakin sering, aku tidak bisa lagi menyahuti pertanyaan mereka, dan Arsen pun tidak terlalu paham detail.
Setelah bidan melakukan cek pembukaan, ternyata sudah pembukaan delapan, dan aku langsung dibawa ke ruang bersalin. Sangat terlihat wajah Arsen yang panik saat kami sampai di ruang bersalin. Dokter Nayla pun sepertinya sudah siap membantu persalinanku.
"Sayang, aku belum sempat telepon Mama, apa aku telepon sekarang?" tanya Arsen.
Aku menggeleng dan menahan tangannya, aku ingin selalu ditemani Arsen disetiap detiknya sampai bayi-bayiku lahir.
"Kita cuma berdua, Sayang. Sama Dokter Nayla aja," kata Arsen.
"Nanti aja," jawabku susah payah.
β€β€β€
Segini aja dulu, maaf bukannya ngak mau doble up, tapi ada beberapa hal yang harus dikerjakan di dunia nyata.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca πππ
Sambil menunggu, boleh dong rekomen nama yang keren buat dedeknya Xavier πππ