Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 112


__ADS_3

Bertemu setelah sekian lama terpisah memang membuatku berbunga-bunga. Apalagi saat ini kami sedang berada di suasana romantis. Ya, kami akhirnya sampai di pantai, malam-malam begini.


Kami jalan-jalan sebentar menyusuri bibir pantai. Meski tidak dapat menikmati sunset, setidaknya kami masih bisa menikmati kerlipan bintang-bintang di langit, ditemani suara deburan ombak yang menyapu tepian dengan kerasnya, juga tiupan angin pantai yang menerbangkan rambut kami.


Kami saling berpelukan, duduk di atas pasir putih menghadap lautan luas, mengamati setiap ombak yang menggulung seakan ingin menelan bulat-bulat apapun yang di tepian.


Arsen memelukku dari belakang, sehingga punggungku terasa hangat karena bersentuhan dengan dadanya. Aku banyak bercerita tentang rindu, juga tentang semua yang kurasakan padanya. Arsen hanya diam mendengarkan setiap ocehanku dengan sesekali menciumi leher dan wajahku dari belakang, terkadang menghisap leherku dengan kuat.


"Aku tu maunya kamu di sini aja temani aku, jangan lama-lama di Jepang, kamu nggak tau sih Papa itu cuma manfaatin kamu," ocehku yang entah sudah keberapa kalinya.


Arsen hanya diam mendengarkan semua keluhanku, sampai akhirnya ia membalik tubuhku untuk menghadapnya. "Percayalah, aku akan membayar semua rasa kecewa dan rindumu suatu saat nanti. Untuk saat ini, aku mohon bersabarlah sedikit lagi," jawab Arsen dengan tatapan lembutnya.


Aku menunduk, memikirkan lagi apa yang menjadi keinginan Arsen dan keinginanku. Tak berapa lama, Arsen menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu menciumku dengan gerakan cepat, membuatku tidak siap dan akhirnya berpegangan pada pundak Arsen agar aku tidak terjatuh.

__ADS_1


"Kamu nggak kangen lolipop?" tanya Arsen setelah melepaskan ciuman kami.


"Memangnya kita mau melakukannya di sini?" Aku balik bertanya, mengamati suasana pantai yang tidak sepi ini, jelas kami tidak akan bercinta di sini kan?


"Kita cari penginapan." Arsen berdiri kemudian menarik tubuhku untuk bangun.


Akhirnya kami mencari penginapan di sekitar pantai, beruntungnya kami masih mendapat satu kamar untuk menyalurkan kerinduan yang selama ini tertahan.


"Kamu selalu mendadak deh kalau ngajak nginep, kita kan nggak bawa baju ganti," omelku saat baru sadar bahwa kami tidak membawa persiapan apapun.


Arsen menempelkan bibir seksinya yang sangat kurindukan itu pada bibirku, aku memejamkan mata dan membuka mulutku, membiarkan lidah bibir Arsen menyesap bibirku atas dan bawah bergantian. Lidah itu menerobos masuk ke dalam rongga mulutku, menari dan menggoda lidahku, mengabsen satu persatu gigi putihku.


Di sela ciuman kami, Arsen membalik tubuhku, sehingga kini aku berada di atasnya. Aku hanya menahan berat tubuhku dengan kedua tanganku, membuat bukit kembar milikku menggantung dan tertahan oleh kain kaca mata yang melekat di tubuhku.

__ADS_1


Arsen melepaskan satu persatu kancing kemejaku dan memaksaku untuk menghentikan ciuman kami saat kemeja yang hampir terlepas itu mengganggu posisiku. Aku melepaskan sendiri kemejaku yang sudah berada di ujung tangan. Sementara Arsen tak tinggal diam, ia melepaskan pengait yang ada di punggungku, sehingga kain itu terlepas dari tubuhku.


"Aku sangat merindukan ini, penambah imunku." Arsen langsung melahap bukit kananku, menyesap dan menyedotnya dengan rakus. Satu bukit dilahapnya, satu bukitnya lagi di*re*mas dengan gemas oleh tangannya.


Aku hanya bisa mengusap-usap rambut Arsen, menikmati gelenyar nikmat yang beberapa bulan ini tidak aku rasakan.


🌹🌹🌹


Dah gitu aja, jangan protes, otak suciku ternodai oleh permintaan kalian 😝😝


Ritualnya jangan lupa, kembang sama kopinya. Kalau banyak nanti aku lanjut, kalau dikit, yaudah skip lagi 🤣🤣🤣🤣


Ingat kembang sama kopi di kolom hadiah ya. Jangan dikirim ke rumah 🥰🥰🥰

__ADS_1


Dah lah, sampai jumpa lagi, selamat hari minggu semuanya🥳🥳🥳🥳


__ADS_2