
“Zurra?” tanya Rozak tidak percaya dengan matanya.
“Rozak? Kamu Rozak kan?” Zurra bertanya sambil memeluk Rozak. Rozak yang kaget di peluk Zurra hanya bisa mengangkat tangannya bingung.
“Iya, hai. Kok, bisa disini? Tumben dari Depok bisa kesini,” ucap Rozak lagi sambil mendorong pelan Zurra pelan.
“Bisalah, kan aku punya kaki. Masa nggak bisa, kemana aja kamu tuh. Ghosting banget jadi manusia,” ucap Zurra sambil mengedipkan matanya pelan.
Rozak tertawa pelan, rasanya hari ini kok bikin kepala Rozak pusing. Bagaimana, tidak hari ini dia harus menemui dua wanita masa lalunya sekaligus. Iis dan Zurra.
Iis mantan terindahnya yang susah buat dilupakan dan Zurra gadis yang pernah mengisi hatinya, tapi tidak bisa membuat Rozak melupakan Iis. Berbanding terbalik dengan Nama, yang mampu membuat Rozak melupakan Iis.
“Maaf, aku sibuk.” Rozak berbohong, tidak mungkin Rozak berkata kalau dia sudah tidak tertarik lagi dengan Zurra. Bisa ditendang Zurra yang ada.
“Sibuk banget, ampe nggak bisa nelpon sama sekali?” pancing Zurra, Zurra benar-benar merasa ini peluang emas. Lelaki didepannya ini benar-benar sudah menjungkir balikkan perasaannya. Zurra benar-benar terhanyut pada sifat manis Rozak. Tapi, entah kenapa Rozak tiba-tiba hilang seperti setan.
“Maaf Zur, mau apa ke sini?” Rozak berusaha untuk mengalihkan perhatian Zurra. Rozak belum mampu jujur pafa Zurra kalau dia meninggalkan Zurra karena memang dia tidak ada rasa dengan Zurra.
“Mau makanlah, ini restoran ‘kan. Masa ke restoran mau beli knalpot,” ucap Zurra santai.
“Masuk akal, tapi restorannya tutup. Jadi nggak bisa kamu masuk,” ucap Rozak sambil berjalan meninggalkan Zurra.
Saat melangkahkan kakinya Rozak merasakan tangan menggelayut di tangan kanannya. “Zurra, ngapain?”
“Tutupkan, terus kenapa kamu masuk kesana?” tanya Zurra lagi, sambil menyenderkan kepalanya ditangan Rozak.
“Itu restoran punya Kakak aku, ini mau ada acara penyambutan. Kakak aku baru pulang dari bulan madu sama istrinya,” ucap Rozak sambil mendorong badan Zurra pelan.
“Ah, punya Kakak kamu ‘kan? Ya udah aku ikut boleh?” tanya Zurra sambil mengedipkan kedua matanya beberapa kali.
Rozak langsung menghentikan langkahnya, perasaan Rozak mengatakan kalau sampai Zurra masuk dan bertemu Nama, Rozak akan mengalami perang dunia ke tiga.
“Nggak bisa, ini cuman keluarga, Zurra,” tolak Rozak sesopan mungkin.
“Aku juga keluarga ‘kan,” ucap Zurra sambil mengerucutkan bibirnya, bibirnya yang merah benar-benar tampak sangat menggemaskan.
“Hah, gimana caranya kita keluargaan?” tanya Rozak bingung. Sejak kapan dia berkeluarga dengan Zurra.
“Hooh, sama-sama...”
“Sama apaan?”
“Nama.” Rozak kaget saat melihat Nama ada di hadapannya, menatap Rozak dengan tatapan siap membunuh.
“Hai, aku Zurra,” ucap Zurra sambil mengangkat tangannya bermaksud berjabatan dengan Nama.
“Nama, nama gue N-A-M-A,” eja Nama sambil menjabat tangan Zurra. Nama sedang tidak ingin di ributkan dengan masalah nama.
“Ah, namanya unik yah, Nam,” ucap Zurra santai.
“Iya unik, kamu siapa? Keluarga Rozak dari pihak mana?” tanya Nama ketus.
“Saya...”
“Dia temen aku, sodaranya dulu pernah kerjasama sama aku,” potong Rozak cepat. “dia ini temen aku.”
“Temen? Astaga aku cuman dianggap temen?” tanya Zurra kaget, ternyata Rozak benar-benar menghosting dirinya.
__ADS_1
“Emang kamu temen aku, Zurra. Emang kamu siapa aku?” tanya Rozak bingung.
Plak...
Zurra langsung menampar Rozak keras, rasa kesal didadanya benar-benar membuat Zurra menampar Rozak keras.
Melihat Rozak di tampar Zurra, Nama hanya bisa melotot kaget. “Kok di tampar?”
“Kok ditampar? Masih untung ditampar nggak aku lempar ke sungai,” teriak Zurra kesal.
“Zurra...”
Bug... Bug...
Zurra memukuli Rozak dengan tas miliknya berkali-kali. Rozak mundur perlahan, sambil melindungi dirinya dari pukulan tas Zurra.
“Kurang ajar yah, untung waktu itu kita nggak sampai ngelakuin. Kalau ngelakuin, udah bener-bener yah. Nggak punya otak, laki-laki brengsek,” teriak Zurra keras, saking kesalnya Zurra melempar tasnya ke muka Rozak.
Tas Zurra terjatuh ke jalanan beraspal. Dengan cepat Zurra mengambil tasnya dan berlari meninggalkan Rozak dan Nama. Tangis Zurra pecah, hatinya sakit. Ternyata lelaki manis bernama Rozak itu titisan setan.
Rozak terdiam melihat punggung Zurra yang berlari meninggalkan dirinya. Rozak hanya bisa menggaruk kepalanya, tidak ada keinginannya barang sedikitpun untuk mengejar Zurra.
Rozak menatap Nama, “Nam, aku bisa jelasin. Ini tuh nggak kaya yang kamu pikirin. Zurra bukan pacar aku, aku nggak pernah pacaran sama dia. Aku emang pernah deket sama dia, tapi nggak pernah pacaran cuman...”
“Cuman hampir ngelakuin transfusi darah putih?” potong Nama kesal sambil berbalik dan berjalan kedalam restoran.
Rozak langsung berlari mengejar Nama, Rozak tidak akan mau melepaskan Nama. “Itu aku khilaf dan cuman sekali doang dan aku nggak lakuin lagi sama Zurra. Aku tinggalin dia, karena aku nggak mau rusak anak orang.”
Nama benar-benar menulikan telinganya, rasa kesal didadanya benar-benar membuat dia terus berjalan, berusaha meninggalkan Rozak.
“Nama, tunggu dulu,” teriak Rozak keras sambil menarik tangan Nama. Nama langsung menghentikan langkahnya.
“Denger, aku ninggalin Zurra karena aku nggak mau khilaf lagi, aku nggak mau ngerusak anak orang. Setelah kejadian itu, aku sadar. Aku tau kalau aku nggak cinta sama Zurra.” Rozak berjuang untuk menjelaskan kisah cintanya dengan Zurra.
“Basi lo jadi cowo, palingan sama mantan terindah kamu juga, udah pernah ngelakuin, kan?” Entah kenapa Nama benar-benar marah pada Rozak, hatinya sakit bukan main saat mendengar perkataan Zurra tadi.
“Sumpah demi apapun, aku masih perjaka, Nam. Sama mantan terindah aku itu pun aku nggak pernah ngelakuin yang parah. Cuman sama Zurra aku hampir ilang kendali, makanya aku tinggalin Zurra. Aku nggak mau rusak anak orang, Nam.” Rozak mengguncang bahu Nama.
Nama hanya diam menatap Rozak, tatapannya kesal bukan kepalang. Nama tau dia bukan kekasih Rozak dan tidak berhak sedikitpun untuk menilai Rozak. Tapi, Nama merasa harus melakukannya, ada rasa cemburu yang menelusup di dada Nama.
“Bokis lo,” ucap Nama sambil mendorong Rozak kesal.
Rozak bergeming, tangannya masih tetap mencengkram bahu Nama. Dia tidak akan melepaskan Nama, dia tidak akan pernah melepaskan lagi wanita yang dia cintai barang sejengkal pun. Rozak tidak mau menyesal dua kali.
“Nama, dengerin aku. Aku jujur,” ucap Rozak.
“Males gue, muka lo aja rohaniawan. Tapi, kelakuan roh halus..!” bentak Nama sambil melepaskan cengkraman Rozak dan berjalan menjauhinya.
“Nama, percaya sama aku,” pinta Rozak sambil menarik Nama pelan.
Nama menghentikan langkahnya, “Gimana caranya percaya sama kamu, mau kamu bawa mantan terindah kamu kesini, hah? Berani nggak? Biar aku yang tanya mantan kamu itu,” tantang Nama. Nama sudah kesal bukan main dengan Rozak.
Rozak terdiam mendengarkan permintaan Nama, Nama benar-benar nekat. Rozak tau Nama nekat. Tapi, nggak senekat ini juga.
“Maksudnya, kamu mau tanya mantan aku?” tanya Rozak.
Nama memejamkan matanya, “Iya, berani nggak? Mana nomer teleponnya, biar aku yang telepon mantan kamu itu.” Nama mengangkat tangannya meminta handphone milik Rozak.
__ADS_1
“Kamu yakin?” tanya Rozak lagi.
“Iya, kenapa? Takut?” tanya Nama, “takut ketauan kalau kamu bohong? Takut ketauan kalau kamu tuh kelakuannya udah nyaingin roh halus, hah?”
Rozak menarik-narik rambutnya dengan kesal. “Nama, apa untungnya aku bawa kamu ke mantan aku?” tanya Rozak. “dia cuman mantan, iya mungkin dia mantan terindah aku. Tapi, aku udah nggak ada rasa sama dia, Nam.”
“Aku cuman mau tau kamu jujur atau nggak,” pekik Nama kesal sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Oke, kalau misal aku bener, kamu bakal gimana?” tanya Rozak.
“Eh...”
“Yah, ini riskan Nam, mantan aku udah nikah. Jadi, kalau aku izinin kamu nanya langsung ke mantan aku, keuntungannya apa, buat aku?” tanya Rozak.
Nama terdiam, apa yang dikatakan Rozak ada benarnya juga. Tapi, Nama ingin tau, rasa penasaran dan cemburu seperti memerangkapnya tanpa ampun. “Aku bakal jadi pacar kamu, kalau kamu jujur.”
Rozak langsung memundurkan kepalanya, kaget dengan perkataan Nama. “Jadi, kalau aku jujur kamu bakal jadi pacar aku? Segampang itu?” tanya Rozak.
“Iya, segampang itu,” ucap Nama yakin, “jadi sekarang mana handphone kamu, aku mau telpon mantan kamu.”
Nama mengulurkan tangannya meminta handphoen milik Rozak. Dia benar-benar ingin masalah ini cepat selesai.
Rozak menghela napasnya pelan, “Nggak usah kamu cari handphone aku.”
“Nah, kan. Bokis udah kamu tuh, tukang tipu. Tukang rusak masa depan perempuan, nggak jauh dari penjahat kelamin,” cerocos Nama.
Tangan Nama langsung digenggam oleh Rozak, ditariknya Nama untuk mengikuti langkahnya. “Nggak usah di telepon.”
“Hah... nggak usah ditelepon gimana?” tanya Nama bingung.
“Kamu ketemu aja langsung sama orangnya,” ucap Rozak sambil membuka pintu restoran dengan kesal.
“Orangnya dimana?” tanya Nama makin bingung.
“Orangnya didalam, baru aja kamu ketemu sama dia.” Rozak menaikki anak tangga disana dengan cepat. “Aku pegang janji kamu, kalau aku jujur, kamu jadi pacar aku.”
Nama kaget mendengar perkataan Rozak. “Orangnya siapa?”
Rozak menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu disampingnya. “Mantan aku itu Lizbet Sandia Wijaya atau Iis. Istri Juan Wijaya.”
“Hah...!?”
•••
Maaf yah telat update, Kakak Gallon ada kerjaan dulu tadi.
Tadi, Kaka Gallon bikin vote kecil-kecilan dan ternyata semuanya lebih suka Mbak Nama yang jadi jodoh Rozak.
Uhuy, emang Mbak Nama ini cantik, tegas dan galak.
Oh sekarang hari senin, yuk kasih votenya buat Kaka Gallon. ❤️😍🥰
Jangan lupa itu tombol like di colek manjah, disebar pointnya, ditendang tombol Votenya, dan ditabur koinnya.
Aku padamu pokoknya.
__ADS_1
XOXO GALLON