
Adipati dari tadi hanya diam sambil menatap Taca dan seorang laki-laki. Gigi Adipati bergemerutuk keras, tangannya terkepal. Rasa kesal benar-benar sedang Adipati rasakan saat ini.
Laki-laki itu dari tadi tidak mau beranjak dari bagian dada Taca, malah dengan beraninya menarik-narik kerah kemeja Taca.
“Nape lo?” tanya Juan saat duduk di samping Adipati.
Adipati menatap Juan dengan tatapan kesal, “Kelakuannya sama yah, kaya lo.”
“Kelakuan siapa?” tanya Juan bingung, seingatnya di ruangan ini yang kelakuannya sama sepergi dirinya cuman Adipati.
“Anak lo,” ucap Adipati sambil menunjuk pada Khalid yang sedang asik bermanja-manja ria di pangkuan Taca.
“Anak gue yang mana?” tanya Juan sambil melirik Liz, Bernard dan Khalid. “Anak gue ada tiga.”
“Noh, si Khalid.” Adipati menunjuk Khalid yang detik ini sedang menggesek-gesekkan kepalanya ke bagian dada Taca, tangan mungilnya menelusup ke balik kemeja Taca.
Juan melihat apa yang sedang di lakukan Khalid hanya bisa menahan tawanya. “Insting, Adi. Sorry, like father like son,” ucap Juan.
“Kayanya, anak lo itu nggak usah deket-deket Kalila, bisa diembat anak gue ntar,” ucap Adipati sambil mengusap keningnya. Sekarang, kepalanya sering sakit bila ada anak laki-laki yang mendekati Kalila. Adipati, benar-benar harus extra menjaga anak perempuannya ini, jangan sampai anaknya bertemu dengan lelaki berkelakuan seperti dirinya atau seperti Juan.
“Anak lo, apa kabar?” tanya Juan sambil menunjuk Kama yang sedang bermain bersama Liz. Kama tampak asik bermain bersama Liz, Kama bahkan sesekali menciumi pipi Liz yang chubby.
“Noh, liat anak lo demen bener nyiumin pipi anak Gue, si Kama nyangka pipi anak gue permen kali, yah.” Juan menunjuk Kama yang sedang mengemut-ngemut pipi Liz.
“Insting?” ucap Adipati sambil melirik Juan.
“Hahhaa... kalau anak gue nikah ama anak lo, gampang. Kalau ada apa-apa sama Liz, gue keplak bapaknya.” Juan berkata sambi menepuk bahu Adipati.
“Lo nggak takut anak gue kelakuannya kaya gue?” tanya Adipati.
“Takut sih, tapi kalau Kama macem-macem sih gampang,” ucap Juan santai.
“Mau diapain anak gue?” Adipati benar-benar waspada, Juan ini walau senyam-senyum dan tampak ramah pada semua orang, kalau sudah kesal dan benci sama orang, orang itu nggak bakal bisa berkutik sama sekali.
“Nggak diapa-apain, cuman gue bikin hidup segan mati nggak mau,” ucap Juan santai.
“Mending anak gue, kagak usah sama anak lo,” ucap Adipati.
“Lo, ngebayangin kita besanan?” tanya Juan, Adipati langsung terdiam dan menatap Juan dari atas kebawah. Seketika itu juga tawa Adipati dan Juan meledak saat membayangkan mereka bisa menjadi besanan.
“Nggak bisa gue bayangin harus besanan sama cowo semprul kaya lo,” ucap Adipati.
__ADS_1
“Kebayang besan gue mesum, mana kita pernah tukeran pasangan dulu. Udahlah ambyar,” kekeh Juan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“Kalian ngomongin apa sih?” tanya Taca yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.
“Itu Khalid kasihin Juan aja, Amore,” ucap Adipati.
Taca langsung menuruti permintaan Adipati, saat memberikan Khalid pada Juan. Khalid menangis keras. Anak itu benar-benar menolak digendong Juan.
“Na... na... uu” ucap Khalid sambil memanjangkan tangannya, berusaha untuk menggapai kemeja Taca, berusaha untuk kembali kegendongan Taca, berusaha untuk kembali bergelung dan menepuk-nepuk dada Taca.
“Kenapa, Nak? Sini sama Aunty digendong lagi,” ucap Taca.
“Uu...uu,” ucap Khalid sambil menepuk kedua tangannya, berbahagia karena merasa akan di gendong kembali oleh Taca. Tapi, harapannya buyar saat Adipati menatap Khalid dengan tajam.
“Ini, anak bener-bener turunan Bapaknya, demen banget sama susu,” ucap Adipati sambil menarik Taca menjauh dari Khalid.
“Kita ke Mamih aja, yuk. Disini ada om-om nyebelin yang nggak mau berbagi uu istrinya,” bisik Juan sambil menahan tawanya dan pergi meninggalkan Adipati dan Taca.
“Ih, semprul,” maki Adipati kesal.
“Kalian kenapa sih?” tanya Taca bingung.
“Nggak kenapa-kenapa, Amore. Cuman ngobrol biasa aja,” ucap Adipati sambil mencium pucuk kepala Taca. “Riki udah sampai mana?”
“Kenapa nggak pake jet priba...”
Ucapan Adipati langsung terhenti saat Taca memelototinya. “Cicil udah jadi istri Aa Riki, dia harus bisa dan mau hidup sesederhana mungkin. Kaka aku bukan orang berada kaya kalian. Aku bukan orang berada kaya kamu, Di.”
“Amore, maksud aku bukan gitu.” Suara Adipati melembut. Entah kenapa, semenjak Cicil kena masalah pemerkosaan oleh Albert, Taca sangat sensitif mengenai masalah itu.
Terdengar helaan napas Taca, “Maaf, maaf aku emosi. Maaf yah, Di,” ucap Taca, semenjak mengetahui kakak iparnya diperkosa oleh Albert dan Albert dulu bisa bebas, hanya karena membungkam semuanya dengan uang, Taca benar-benar merutuki semua orang kaya. Walau detik ini, dirinya adalah salah satu dari orang-orang itu.
“Amore, nggak semuanya orang berada kelakuannya kaya Albert.” Adipati berusaha membujuk Taca. Dengan cepat Adipati memeluk badan istrinya itu.
“Maaf yah, aku cuman kesel aja. Untungnya, Aa Riki punya file photo dan video Cicil yang diperkosa dulu dan pihak hotel mau bekerja sama buat kasih semua video CCTV. Ditambah, Kharis punya video livenya dan Edy bikin popcast di channelnya, jadi masalah ini viral. Kalau nggak?” isak Taca sambil membalas pelukkan Adipati. Tangisnya pecah, kejadian Cicil membuat Taca ingat dengan apa yang dialami oleh Almarhumah Tasya.
“Udah, sekarang Albert udah masuk penjara. Sidang juga bakal dilakuin secepatnya ‘kan. Papih Cicil udah kasih team pengacara buat bantuin Cicil dan Riki,” ucap Adipati menenangkan Taca.
Taca mengusap air matanya dengan menggunakan punggung tangannya. “Iya, kalau kalian para orang “kaya” nggak bergerak kita mah bisa apa, apalagi Aa Riki. Kemarin dia nelepon aku sampai nangis-nangis, dia nggak kuat katanya,” isak Taca lagi.
Kuping Adipati sebenarnya jengah dengan label yang diberikan oleh Taca. Dia tidak pernah meminta dilahirkan di keluarga Berutti, bahkan dulu dia dan Juan pernah kabur mengelilingi Eropa tanpa membawa uang speserpun selama enam bulan, menggembel. Hanya karena lelah saat nama keluarga mereka membebani mereka berdua.
__ADS_1
“Udah, Amore. Sekarang kita kawal kasus ini, kita harus kuatin Riki sama Cicil juga. Karena yang paling sakit itu mereka bukan kita. Kita cuman penonton di kehidupan Riki dan Cicil, kita cuman bisa menyemangati mereka, nggak lebih.”
Taca menggangukkan kepalanya pelan, sebenarnya masih banyak ganjalan di hatinya. Tapi, rasanya tidak adil menyalahkan Adipati. Suaminya ini terlalu baik untuk disalahkan, dia terlalu manis.
“Iya, aku cuman berdoa moga Aa Riki mampu buat nemenin Cicil. Aku tau Aa Riki yang paling sakit disini. Harga dirinya sebagai laki-laki benar-benar dikoyak dan di tekan sedemikan rendahnya.”
Apa yang dikatakan Taca benar, laki-laki mana di dunia ini yang tidak akan marah saat mengetahui kalau istrinya di lecehkan secara brutal oleh mantan pacarnya. Mungkin, kalau Adipati yang mengalaminya, dirinya bisa saja sudah meledak dan membunuh Albert atau lebih parahnya merasa jijik pada istrinya sendiri. Makanya Adipati sangat salut dengan kehebatan Riki yang masih bersikap tenang dan rasional, walau setiap malam dia harus melihat Taca menangis saat menelepon Riki.
“Kalau Aa Riki nggak kuat dan ninggalin Cicil, aku takutnya Cicil ada apa-apa. Aku nggak sanggup ngebayanginnya. Cicil bisa hilang akal,” ucap Taca lagi sambil mengeratkan pelukkannya di badan Adipati.
Membayangkan Cicil bisa hilang akal seperti almarhum Tasya membuat seluruh tubuh Taca bergetar hebat. Bayangan masa kelam dirinya tiba-tiba terlintas dengan cepat.
“Amore, kamu nggak papa?” tanya Adipati sambil mengangkat dagu Taca.
“Nggak papa, Di. Peluk, aku mau dipeluk,” isak Taca sambil memeluk Adipati erat.
Adipati langsung memeluk Taca erat. Semenjak, kejadian Cicil, Taca benar-benar sering meminta di peluk Adipati secara tiba-tiba. Adipati benar-benar berusaha untuk menenangkan Taca sekuat dan semampu dirinya.
“Maaf Di, kalau aku manja,” ucap Taca pelan.
Adipati tersenyum kecil saat mendengar perkataan Taca. “Nggak papa, asal manjanya sama aku. Bukan sama Khalid.”
“Ya kali manja sama anak balita, Di,” kekeh Taca geli.
“Yah mungkin kamu suka daun muda,” canda Adipati pelan.
Taca tertawa pelan, sambil menelusupkan kepalanya ke dada Adipati. “Daun tua aja, lebih enak.”
•••
Dorrr...
Aneh yah, siang-siang ada aku update...
Nggak papa lah, wong nggak ada adegan uha-uha juga hihihihihii....
Mau bikin Kaka Gallon bergoyang? Gampang, tabok likenya sekeras mungkin. Ditebar point, koin dan votenya buat Kakak Gallon.
Mari bergoyanggg Bang....
Btw, Khalid anaknya Juan bener-bener kelakuannya kaya Juan. Bangsul sedari kecil 🤣🤣🤣.
__ADS_1
Xoxo Gallon