Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Resah dan Gelisah


__ADS_3

Bug ...


Adipati merasakan pukulan di perutnya, pukulan tersebut langsung menyadarkan dirinya dari tidurnya. Matanya mengerjap, berjuang mengumpulkan nyawa.


“Da ... Da ....”


“Kafta,” panggil Adipati sambil menutup kedua matanya dangan bantal. “Argh! Batre kalian ada berapa sih? Nggak capek apa? Ini jam berapa?”


“Jam delapan, Di. Kamu nggak ngantor?”


Adipati terdiam saat mendengar suara yang sangat ia rindukan, suara yang mampu memacu hasratnya atau bahkan membuat kelimpungan menahan rindu. “Amore?”


“Iya Di, kenapa?” tanya Taca sambil duduk di samping Adipati.


“Amore,” panggil Adipati sambil bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk erat Taca.


“Kenapa, Di?” tanya Taca bingung melihat tingkah suaminya yang tiba-tiba memeluknya. “Kenapa?”


“Cara, mia cara moglie. Non devi più stare a casa di Cicil. Basta così, posso impazzire occupandomi di 3 bambini da solo. (sayang, istriku tersayang. Anda tidak harus tinggal di rumah Cicil lagi. Itu sudah cukup, aku bisa gila menjaga 3 anak sendirian.)” Adipati langsung mengoceh menggunakan bahasa Itali yang sangat-sangat cepat. Taca walaupun bisa berbahasa Itali tetap saja dia tidak bisa mengerti bila Adipati sudah mengoceh dengan cepat.


“Hold on (bentar), ngomongnya pelan-pelan. Aku nggak paham,” pinta Taca sambil melepaskan pelukkannya dan menciumi setiap jenkal wajah suaminya sambil tertawa.


Adipati hanya bisa menikmati kecupan demi Kecupan yang Taca berikan. Rindu.


“Kamu kenapa, Di?” tanya Taca.


“Kamu nggak usah nginep di rumah Cicil lagi. Udah kamu di rumah aja, udah aku nggak sanggup ngurus tiga bambini itu,” ucap Adipati sambil menunjuk Kama dan Kalila yang masih tertidur sedangkan Kafta sudah berguling-guling tak tentu arah.


“Kenapa? Mereka bikin rusuh?” tanya Taca.


“Jam setengah tiga mereka nangis berjamaah, sampai jam setengah empat. Aku udah nggak sanggup, Amore.” Adipati langsung memeluk tubuh Taca kembali dan membenamkan wajahnya ke dada istrinya.


“Kok bisa, kamu bentak mereka lagi yah?” tanya Taca.


Adipati langsung menganggukkan kepalanya, mengaku lebih baik pada Taca. “Iya.”


Tangan Taca langsung mengusap bagian belakang kepala Adipati dan mengecup pucuk rambutnya. “Kan, aku udah bilang jangan bentak-bentak anak. Nggak bagus, ah.”


“Maaf tapi, aku ngantuk banget dan ah ... sudahlah aku nggak mau nginget-nginget kejadian tadi subuh,” ucap Adipati.


“Hahaha ... ya udah, aku beneran nunggu Aa Riki keluar penjara dulu, Di. Kasian Cicil ....”


“Kasihanilah suamimu ini, Cicil yang waras aku yang kurang akal,” ucap Adipati tanpa mengalihkan wajahnya dari dada Taca.


“Hahaha ... ngaco kamu mah. Ih Aa Riki teh susah keluar penjaranya. Si Ahyar bikin ulah, tiap Aa Riki lepas dari tuntutan yang satu. Si Ahyar bikin tuntutan baru, kesel,” ucap Taca sambil mengusap-usap punggu Adipati.


Adipati hanya bisa mengeram kesal, apa yang dikatakan Juan benar. Ahyar ini licik dan licin seperti belut listrik, cara menghancurkannya juga nggak bisa seenaknya. Harus smooth dan soft.


Ah ... andai Juan dan Adipati punya satu saja bukti yang menunjukkan Ahyar melakukan korupsi, pasti mudah menjeratnya. Kalau Ahyar terjerat, Riki keluar dari penjara dan istrinya bisa kembali kepelukkannya.


“Iya, ah ... sudahlah aku mau mandi dulu, aku mau ngantor.” Adipati langsung mengecup bibir Taca cepat.


Taca hanya tersenyum dan menggendong Kafta, Kafta langsung tersenyum bahagia melihat Taca. Dengan cepat ditarik-tariknya kemeja Taca meminta menyusu.


“Nyo ... Nyo ....”


“Iya, kangen Mamih yah? Mau nyo nyo? Boleh.” Taca langsung menyusui Kafta dengan cepat.


“Enaknya jadi Kafta, mau nyonyo langsung dikasih. Lah aku, ah udahlah.”


“Mandi Di,” kekeh Taca.


“Mau ini mau mandi, Amore,” ucap Adipati sambil menghampiri Taca lagi kemudian menautkanbibirnya ke bibir Taca, merengkuh manisnya bibir Taca yang wangi mint.

__ADS_1


“Astaga, mandi suamiku sayang,” ucap Taca.


“Si, Amore.”


•••


“Mas hei Mas,” panggil Iis sambil menepuk-nepuk pipi Juan pelan.


“Hmm ....”


“Mas Juan bangun, yuk. Kamu nggak ngantor?” tanya Iis sambil menepuk-nepuk pipi Juan.


Juan tak bergeming, matanya menutup rapat. Dia tidak sudi membuka matanya sama sekali, rasa lelah berkutat dengan air mancur alami buatan Khalid membuat Juan stress tingkat kecamatan.


“Mas sayang, bangun yu,” pinta Iis sambil mengguncang pelan tubuh Juan.


“Nggak mau,” ucap Juan sambil membalikkan badannya.


“Bangun, ngantor dong.” Terkadang Iis suka bingung, mengurus Juan sama seperti mengurus anak umur delapan belas tahun, padahal umur suaminya ini sudah kepala empat. Bayi besar.


“Nggak aku ngantuk, Yang.”


“Bangun dong.”


“Aku bangun asal ....” Juan berbalik dan menatap manik mata Iis.


“Apa?”


“Kamu nggak usahlah nginep di tempat Cicil lagi. Udahlah, biarin Cicil.”


“Eh, kasian Mas.”


“Ya udah aku tidur lagi,” rutuk Juan sambil kembali tidur.


“Iya kamu mau beli berlian beli aja, beli aja beli.” Juan berkata sambil memeluk bantal.


“Hahaha ... dah ah, aku mau kerumah Cicil lagi aja. Di sini nyebelin.”


“Nggak, udah diam kamu di rumah. Hari ini aku bakal usahaiin Riki keluar penjara,” ucap Juan seraya berdiri dari tidurnya dan berlari ke kamar mandi.


“Eh ... mau kemana?”


“Kantor, demi mengembalikan istri ke habitatnya,” ucap Juan sambil mengambil handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandinya.


“Habitat apaan? Emang aku bebek?”


“Iya, kamu bebek kesayangan harus balik ke habitatnya.”


“Di mana?” tanya Iis penasaran.


“Pelukkan Masmu ini,” ucap Juan sambil terkekeh.


Iis hanya bisa tersenyum, ternyata rencana kecilnya dengan Taca berhasil. Membuat, suami-suami mereka turun tangan tanpa mereka minta. Yah ... Taca dan Iis mencoba mencari cara agar suami-suaminya itu mau membantu Aa Riki dan Cicil tanpa harus mereka memintanya dan berhasil walau harus menunggu selama dua minggu.


Iis langsung mengambil handphonenya dan menchat Taca dengan dua buah kata.


Berhasil, Taca.


•••


Cicil yang sedang asik menatap layar laptop di hadapannya kaget bukan main saat pintu kantornya dibuka dengan keras. Seketika itu juga Cicil mendapati Tisa yang kewalahan menghadang dua pria tampan yang pernah mengisi waktunya dulu.


“Pak nggak bisa masuk kaya gini, Bapak nggak punya janji sama Bu Cicil,” ucap Tisa sambil berusaha untuk membuat kedua pria itu mundur dan keluar dari ruangan Cicil.

__ADS_1


“Tisa,” panggil Cicil sambil berusah berdiri dari duduknya, perutnya sudah berat. Posisi anaknya sudah siap meluncurk keluar ujar dokternya.


“Iya Bu?” jawab Tisa sambil berlari kearah Cicil dan membantu Cicil untuk bangkit dari duduknya.


“Biarin aja mereka masuk, saya tau mereka mau apa. Udah kamu keluar aja, bawain aku air anget sama kasih aja mereka air putih. Nggak usah aneh-aneh, kalau mereka minta aneh-aneh kamu campurin racun tikus aja,” canda Cicil.


“Wah, baik banget lo. Udah bini gue lo rebut sekarang lo mau bikin gue ama Adipati almarhum,” ucap Juan kesal sambil menghempaskan pantatnya ke sofa.


“Hahaha ... kalian kesini karena meminta istri kalian dikembalikan yah?” tanya Cicil sambil berjalan kearah Juan dan Adipati.


“Iya!?” jawab Adipati dan Juan berbarengan.


“Gue udah minta mereka pulang kok, gue udah bilang nggak papa gue sendiri,” ucap Cicil sambil tersenyum.


“Terus kenapa mereka nggak pulang?” tanya Adipati sambil mengusap dahinya.


“Nggak tau, aku udah minta mereka pulang loh,” jawab Cicil sambil mengusap perutnya.


“Coba itu kenapa si Sinclair nggak bisa bikin Riki keluar?” tanya Juan.


“Ahyar licin, dia pakai segala cara buat Riki di penjara. Tuntutannya dari yang masuk akal sampai yang nggak masuk akal Ahyar buat,” terang Cicil, “dan lagi kamu tau kan status kewarganegaraan aku ama Papih?”


“Astaga pantes lama,” ucap Adipati yang merasa satu nasib dengan Cicil. Cicil dan Adipati memiliki kewargenagaraan Belgia dan Italia membuat mereka sulit bergerak bebas tentang masalah hukum di Indonesia. Ancaman deportasi membuat mereka patuh terhadap hukum yang berlaku.


“Yah lo lo dulu waktu umur enam belas tahun bukannya memilih warga negara Indonesia malah Belgia ama Itali. Repotkan sekarang,” ucap Juan sambil menatap Adipati dan Cicil bergantian.


“Waktu itu mana aku tau bakal nikah sama orang Indonesia,” ucap Adipati.


“Iya, mana aku tau bakal hamil anak orang Indonesia,” bela Cicil sambil menunjuk perutnya yang bulat.


“Hahaha ... iya juga sih. Ya udah sini gue bantu.”


“Beneran?” tanya Cicil.


“Beneran tapi, gue butuh bukti kuat kalau si Ahyar sialan itu melakukan tindakan korupsi,” ucap Juan.


Cicil terdiam, mana dia punya bukti itu. Dia bukan intel KPK. “Aku nggak punya.”


Adipati menghela napasnya sambil beranjak dari duduknya. Matanya melihat berbagai macam berkas di meja Cicil yang tertara rapih, matanya langsung melayang pada satu berkas yang membuat dirinya penasaran.


Dengan cepat Adipati membuka berkas tersebut, membacanya sebentar kemudian tersenyum manis.


“Cil, kayanya lo nggak bakal perlu bantuan gue ama Juan deh.”


“Hah, gimana caranya. Lo budek atau apa sih, kan gue dah bilang gue hati-hati banget gue nggak mau di deportasi dan ninggalin laki gue,” cecar Cicil sambil menatap Adipati yang tersenyum.


“Ini caranya ada di meja lo, entah sejak kapan,” ucap Adipati sambil menunjukkan berkas di tangannya.


Cicil menatap berkas tersebut dan seketika itu juga dia berteriak. “Astaga bolot banget aku, Tuhan!?”


••••


Woiii kasih komen ama like nya woiiii


Hahahahaa....


Jangan lupa vote dan kopi juga bunganya.


Tuh, Cicil baru sadar dari kebolotannya. Bener kata Juan Cicil kalau kalut bolot wkwkwk ...


Menuju Riki keluar dari penjara, Cicil melahirkan dan Rozak nikah. Jangan tanya Edy dia lagi angkat beban, beban Om Sabar 🤣🤣🤣🤣.


Astaga happy yeh ....

__ADS_1


XOXO GALLON yang bertengger di atas dispenser rumahmu 🤣


__ADS_2