Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Cemburunya Cicil...


__ADS_3

“Iki?”


Riki yang sedang berjalan di pinggir kolam renang hotel kaget saat melihat Putri berlari ke arahnya. Mantan pacarnya itu terlihat menggunakan celana hotpants kuning muda, baju berkerah sabrina dan sendal flip flop.


“Hai Put, kamu disini juga?” tanya Riki pada Putri yang tampak cantik.


Putri menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kanannya, “Iya, aku dapet jatah libur dua hari. Jadinya, sama temen-temen aku pada liburan di sini.”


“Ah... sibuk banget sekarang yah, jadwal libur aja cuman dua hari.”


“Hahaha... kalau dulu pengangguran banget ‘kan. Mau kemana-mana bisa, kalau sekarang mau liburan aja sudah,” jawab Putri sambil menyamakan langkah kakinya dengan Riki.


Riki hanya bisa terkekeh mendengar perkataan Putri. “Dulu mau apa-apa tinggal pergi, cuman terkendala sama satu hal ‘kan?”


“Apa?”


“Biaya,” kekeh Riki sambil menggaruk bagian belakang rambutnya.


“Bener, dulu kita kere banget. Ampe pas pacaran cuman makan di pinggir jalan ‘kan, Iki,” ucap Putri sambil mengusap bahu Riki pelan.


“Sampai sekarang juga aku masih makan di pinggir jalan, Put. Masih kere aku,” ucap Riki sambil duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir kolam renang hotel.


Putri membulatkan matanya, Riki ini sepertinya salah minum obat. Mana ada orang kere tinggal di hotel mewah, hotel yang harga sewa kamar semalamnya aja bisa 12.5 juta/malam. Itu pun harga kamar paling murahnya. Dan seingatnya tadi Riki keluar dari arah kamar yang permalamnya 50juta.


“Kamu kalau merendah pinter banget,” ledek Putri.


“Lah, emang aku masih kere kali. Kenyataan, bukan merendah,” jawab Riki.


“Kamu tinggal disini berapa hari?” tanya Putri.


“Seminggu,” jawab Riki santai sambil meminum kopinya.


“Mana ada orang kere tinggal selama seminggu di hotel dengan harga kamar 50juta/malam, Iki,” ucap Putri sambil tertawa pelan.


Riki berusaha menelan kopinya dengan susah payah. Mendengar harga kamar yang dia tempati saat ini, membuat dirinya pusing. Taca benar-benar mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk bulan madu dirinya dan Cicil. Tapi, Riki merasa itu semua sangat worth it, dia benar-benar menikmati hari-harinya bersama Cicil. Hari-hari panas dan liar bersama istrinya.


“Hadiah,” jawab Riki jujur.


Putri berdecak kesal saat mendengar perkataan Riki. Lelaki didepannya ini benar-benar membuat dirinya gemas. Ah, andai Putri tau kalau Riki bakal menjadi seorang lelaki kaya raya. Mungkin, Putri tidak akan berselingkuh denga kaka kelasnya dulu.


“Bohong banget.”


“Kenyataan,” ucap Riki sambil mengesap minumnya lagi. Rasanya Riki tidak peduli kalau Putri mau percaya atau tidak.


“Kamu nikah kapan?” Putri benar-benar ingin menyelidiki Riki. Entah kenapa jiwa keponya meronta-ronta.

__ADS_1


“Dua hari yang lalu, di Gor bulutangkis,” jawab Riki cuek.


Tawa Putri meledak saat mendengar perkataan Riki. “Kamu kalau ngaco bener-bener, yah. Istri kamu nggak ngambek apa, masa nikahan di Gor Bulutangkis, kurang uang?”


“Istri aku malah yang nentuin nikah disana, aku mah cuman dateng terus nikah. Selesai.” Riki mulai risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh Putri, terlalu pribadi menurutnya.


“Hahahaa... udahlah, kamu banyak bohongnya. Kayanya, kamu lagi merendah untuk meninggi,” ucap Putri sambil mengeluarkan handphonennya dari tas miliknya.


“Iki, boleh minta nomer handphonennya kamu?” tanya Putri sambil menundukkan kepalanya melihat layar handphonen miliknya.


“Nggak, nggak boleh. Buat apa?”


Suara seorang wanita yang terdengar judes langsung menghantam gendang telinga Putri. Dengan cepat diangkat kepalanya, dihadapannya sudah berdiri Cicil yang tampak cantik dengan rok panjang model flare dan kaos crop top. Putri, benar-benar dibuat rendah diri di hadapan Cicil.


“Neng, udah telepon Mamihnya?” tanya Riki tanpa ada beban.


“Udah, ngapain Aa duduk sama dia?” tanya Cicil sambil menunjuk Putri.


“Tadi, ketemu di kolam renang,” jawab Riki sambil menepuk kursi disampingnya meminta Cicil duduk disebelahnya. Cicil dengan patuh duduk disebelah Riki.


“Iya, tadi aku ketemu Iki di kolam,” ucap Putri.


“Iki? Siapa Iki?” tanya Cicil sambil menatap Riki dan Putri bergantian, perasaannya tidak enak.


“Kamu udah makan, Neng?” Riki mengalihkan pembicaraan, Riki tidak mau ambil resiko menerima amukan amarah Cicil yang cemburuan.


Cicil yang sudah mendengar perkataan Putri langsung menatap tajam Putri, “Panggilan sayang gimana?” tanya Cicil.


“Saya dulu mantan pacar Riki,” jawab Putri.


“Gimana? Kamu mantan pacar suami saya?” ulang Cicil.


Riki langsung menghela napasnya, bisa ada perang dunia ke tiga ini. Cicil yang cemburuan terkadang membuat Riki gemas. Karena, harusnya yang cemburuan itu Riki bukan Cicil.


“Iya, kita pacaran tiga tahun,” jawab Putri, entah kenapa dia ingin memberitahukan fakta tersebut pada Cicil. Rasanya Putri ingin memberi tahukan pada Cicil, kalau suaminya itu adalah bekasan dirinya.


Cicil langsung mengedipkan matanya, “Oh... kasian kamu,” ucap Cicil santai.


Riki yang mendengar perkataan Cicil langsung waspada, dia tau kalimat selanjutnya yang akan di lontarkan Cicil adalah kalimat yang mampu membuat Putri sakit hati.


“Neng, udah. Dia cuman mantan Aa. Itu juga udah lama, setelah putus dari dia Aa pacaran sama Neng,” ucap Riki berusaha untuk menenangkan Cicil.


“Wah, berarti move on kamu lama dong, saking susahnya ngelupain aku, yah?” Putri benar-benar merasa tidak mau kalah dengan Cicil, harga dirinya sebagai seorang wanita di pertaruhkah disini.


“Bener?” tanya Cicil sambil menatap Riki dengan tatapan sedingin es kutub utara.

__ADS_1


Riki benar-benar bingung menjawabnya. Karena, memang setelah putus dari Putri, Riki lama tidak berpacaran. Mungkin ada dua tahun dia tidak berpacaran dengan siapapun, bukan karena dia terlalu mencintai Putri. Tapi, trauma di selingkuhi oleh Putri benar-benar membuat Riki jaga jarak dengan wanita manapun, sampai dia bertemu dengan Cicil.


“Nggak gitu ceritanya,” ucap Riki sambil mengusap punggung Cicil.


“Terus ceritanya gimana? Ngomong kamu tuh, biar ini Kunti nggak jumawa,” ucap Cicil sambil menunjuk Putri.


Putri yang mendengar dirinya disebut Kunti langsung menatap Cicil, “Kok Kunti, nama saya Putri.”


“Oh, saya sangka Kunti,” jawab Cicil sambil lalu.


“Neng,” panggil Riki.


“Apa? Jawab udah pertanyaannya. Jangan ngolor ngidul, Aa tuh nggak pacaran lama gara-gara susah move on sama si Kunti?” Cicil sebenarnya tau nama Putri, tapi entah kenapa mulutnya gatal ingin memanggil putri dengan panggilan Kunti.


“Bukan, Aa nggak pacaran karena trauma di selingkuhin sama Putri. Jadi, Aa takut kalau pacaran lagi cewenya nyelingkuhin Aa. Aa bukan orang kaya, Neng. Putri aja milih pacaran sama Kaka tingkat yang mobilnya udah Porche. Lah, Aa kuliah naek motor bebek,” ucap Riki. Bodo amatlah, ada Putri didepannya. Lebih baik dia jujur kepada Cicil, dari pada seharian dia harus merayu Cicil yang mengamuk.


Putri yang mendengar penjelasan Riki hanya bisa menatap Riki dengan tatapan sedikit bersalah. Ayolah, siapa yang tidak butuh uang, sampai detik ini pun, cita-cita Putri adalah menikah dengan orang kaya raya.


“Oh, jadi kamu selingkuh?” tanya Cicil sambil menatap Putri.


“Jangan, munafik. Kamu, juga butuh uang kan. Kamu mana mau nikah sama Riki kalau Riki orang miskin, jangan munafik Cil,” ucap Putri membela dirinya.


Tawa Cicil pecah mendengar perkataan Putri, sepertinya si Kunti ini benar-benar minta di cingcang. Putri ini kalau di kalangannya bakal di santap, di pakai dan di buang, yang terakhir munggut bakal abis di hina-hina.


“Aku, mau Riki miskin pun, tetep aku cinta,” ucap Cicil sambil memegangi perutnya karena tertawa geli.


“Neng, hei. Udah jangan ketawa aja ih, malu diliatin orang,” ucap Riki sambil menahan senyumnya. Riki sama sekali tidak meragukan perkataan Cicil, buktinya Cicil dengan santainya mau menikah dengan dirinya yang bukan seorang sultan.


“Kalian ini pasangan munafik atau kenapa sih? Kenyataan kan?” ucap Putri kesal melihat tawa Cicil.


Cicil akhirnya hanya berdiri dan menarik Riki sambil mengusap air matanya. “Aa, mending kita tinggalin aja si Kunti. Susah ngomong sama orang kaya dia itu.”


Saat melangkah mendinggalkan Putri, Cicil melirik Putri sambil berkata. “Walau kamu pacaran sama Riki tiga tahun, tetep aja Riki nikahnya sama saya, bukan sama kamu. Jadi, jangan pernah berpikir deketin suami saya, ngerti kamu?”


Cicil menatap Putri dengan tatapan sedingin es kutub utara. Cicil tidak akan main-main, dia akan menebas bibit pelakor disekitarnya. Menebas dan membuangnya, tidak akan Cicil biarkan satu bibit pelakor pun tumbuh di kehidupan pernikahannya.


“Ngerti?” ulang Cicil yang langsung dijawab dengusan oleh Putri.


•••


Ish... Cicil di lawan, Cicil itu lebih menakutkan dari emak-emak motor matic yang sein ke kanan belok kekiri wkwkkwkw


Jangan diem aja ih, hari minggu gini asiknya tombol Like di pencet hihihihihi


Xoxo Gallon

__ADS_1


__ADS_2