
"Nggak ada Pak, maaf. Bu Cicil, Pak Riki, Pak Edy, Bu Laura dan Pak Rozak sudah pergi. Mereka pergi kemarin, Pak," ujar Manda pada Jeff dan Albert.
Jeff dan Albert datang ke Water Teapot, bermaksud untuk meminta Cicil pulang. Kembali, kerumah Jeff dan melanjutkan pertunangannya dengan Albert.
"Kamu nggak bohong 'kan?" tanya Jeff pada Manda.
Manda menyimpan bakinya di meja yang ada didekatnya, "Nggak ada, Pak. Bapaka kalau nggak percaya cari aja, Pak," ucap Manda.
"Kamu tau kan dia siapa?" tanya Albert sambil menunjuk Jeff.
'Emang siapa? Artis loe?' maki Manda didalam hati sambil mengusap kepalanya kesal. "Nggak tau, Pak. Emang Bapak siap?" tanya Manda santai.
"Saya Jeff Bouw, saya Bapaknya Cicil, saya kesini mau bawa anak saya. Saya mau jauhkan anak saya dari si Riki," jawab Jeff sambil menunjuk dadanya.
Manda hanya bisa mengganguk-anggukkan kepalanya santai, diotaknya Manda hanya berkata, 'Ah jadi ini bapaknya Bu Cicil? lumayan lah yah, ganteng juga.'
"Mbak, jadi gimana? Cicil bagaimana?" tanya Albert.
"Aduh Pak Albert, saya sudah bilang kalau Bu Cicil nggak ada disini. Bapak mau marah-marah gimana juga, terima aja nasib, Pak. Bu Cicil nggak ada disini, sama sekali," ujar Manda santai.
"Kamu tuh yah, nggak takut kamu sama saya?" tanya Albert sambil menunjuk dadanya.
Manda langsung menatap Albert dari ujung rambut ke ujung kakinya, Manda kesal bukan kepalang mellihat Albert, boro-boro takut yang ada Manda ingin melempar baki ke kepalanya Albert. Lelaki kurang ajar itu sudah seenaknya saja menculik Cicil dan mengacak-ngacak restorannya.
"Takut? Ngapain takut, emang saya dikasih makan sama anda, digaji sama anda, hah?" tantang Manda sambil menatap mata Albert tajam.
"Tapi, saya ini tunangannya Cicil, kalian bisa saya laporkan ke kantor polisi, atas tidak penculikan," maki Albert.
"Eh, penculikkan gimana? Maling kok teriak maling, kamu dulu yah yang cu...."
"Udah ngaco nih orang, udahlah, Pih. Mending kita susul aja Cicil ke Citeko atau apalah itu namanya," Albert memotong perkataan Manda dengan sangat-sangat cepat. Albert langsung mendorong Jeff menjauh dari Manda, Albert takut bila Manda membongkar kejadian penculikkan yang dia lakukan kemarin.
"Nggak bisa dong, Albert. Papih nggak punya alamatnya," Jeff bersikukuh untuk menanyai Manda dengan lebih jelas lagi.
"Albet tau dimana, Cicil. Albert udah punya alamat lengkap Riki," ujar Albert sambil menggambil handphone dari saku celanannya.
"Dapet dari mana?" tanya Jeff penasaran.
"Albert sama dia kan bikin perjanjian, Pih. Jadi Albert punya alamatnya." ujar Albert sambil menunjukkan layar handphonennya pada Jeff, disana sudah tertera alamat lengkap Riki.
"Astaga kenapa, Papih nggak kepikiran sampai sana, Al. Padahal, Papih juga 'kan, bikin perjanjian sama dia kemarin," Jeff akhirnya mengikuti Albert yang sudah berjalan keluar dari restoran meninggalkan dirinya dan Amanda.
Saat Jeff akan melangkahkan kakinya, terdengar panggilan dari Manda.
"Pak," panggil Manda.
"Apa?" tanya Jeff sambil menatap Manda.
"Kalau anda adalah Ayah yang baik bagi Bu Cicil, pasti Bapak tau mana yang baik dan mana yang buruk. Menurut saya, Albert itu pengaruh buruk buat hidup Bu Cicil," ujar Manda memperingatkan Jeff.
Jeff mendengus keras sambil melambaikan tangan kanannya, tingkahnya tampak sangat merendahkan Manda. "Tau apa kamu? Kamu cuman pelayan disini, Mbak. Nikah aja belum, mau seenaknya aja mengatur kehidupan keluarga orang," ujar Jeff sambil membuka pintu restoran.
"Saya memang pelayan, Pak. Tapi, saya punya hati buat tau mana yang baik dan mana yang buruk. Nggak kaya Bapak, yang suka memaksakan kehendak untuk anaknya," desis Manda kesal sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut, masuk kedalam restoran yang saat itu sedang banyak pembelinya.
Jeff terdiam mendengarkan perkataan Manda, entah kenapa tiba-tiba merasa apa yang dikatakan Manda ada benarnya juga. Apakah dia selama ini terlalu memaksakan kehendaknya pada Cicil? Apakah selama ini anaknya merasa dipaksa?
Jeff langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha untuk melupakan pikiran yang baru saja lewat di otaknya tadi. Pikiran yang harus segera dihilangkan, karena menurut Jeff, Cicil baik-baik saja selama Cicil mengikuti semua keinginannya.
++++
"Abah, ini ayamnya tangkap..." teriak Cicil yang sedang berlari-lari mengejar ayam.
"Itu, ayam mau kemana sih? astaga itu ayam... sini ayam," panggil Abah sambil berlari-lari mengejar Ayam.
"Abah sangka Ayam manusia apa, yang bakal dateng kalau dipanggil?" protes Riki sambil berusaha menangkap Ayam yang ada didekatnya.
"Yah, kan siapa tau. Siapa tau ini ayam jenis baru, yang kalau dipanggil langsung mendekat gitu," cerocos Abah sambil menerjang Ayam betina dihadapannya.
"Astaga, Bah. Gimana kalau kita beli ayam yang udah di potong aja di warung depan," saran Rozak yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang dipinggir pohon.
__ADS_1
Rozak benar-benar kesal dengan kekeras kepalaan Abah, yang tetap ingin memasak ayam goreng, tapi ayamnya harus ayam sendiri dan ditangkap menggunakan tangan kosong. "Abah nggak lagi ngidam juga 'kan, udahlah beli ayam didepan warung aja," rayu Rozak.
"Abah tuh dapat wangsit, Zak. Di wangsit Abah katanya Abah harus masak ayam, tapi ayamnya, ayam punya sendiri."
"Hah ... ngaco ah Abah, wangsit gimana sih? Udahlah, Bah, jangan bikin perkara, udah beli di warung depan aja, yah," rayu Rozak sambil duduk ditempat duduk yang terbuat dari kayu yang ada didekat kakinya.
Abah langsung menatap Rozak kesal, "Heh ... kalah kamu sama Cicil, liat dia semangat banget ngejar-ngejar ayam, lah kamu malah nangkring disini begitu aja."
"Bah, Cicil mah happy ngejar-ngejar ayam, ngerasa ada mainan, Bah," bela Rozak sambil mengambil botol air mineral disampingnya.
KOKKOKOOOOOK.....
"Dapet...!!" teriak Cicil sambil menangkat ayam yang berhasil Cicil tangkap.
"Tuh, liat. Hebatkan Cicil, bisa nangkap ayam. Keren mantu Abah," ujar Abah sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
Rozak dan Riki hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka yang sudah biasa menghadapi Abah hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Cicil... Cil..."
Cicil yang sedang mengendong ayam, langsung menatap sumber suara. Cicil langsung melihat Laura yang berlari mendekati dirinya.
"Gawat, Cil...!" teriak Laura.
"Gawat apaan?" tanya Cicil sambil menyerahkan ayam yang digendong oleh dirinya pada Abah.
"Om Jeff, Om Jeff sama Albert," ucap Laura sambil menatap ayam yang sedang Abah gendong. "Itu ayam?"
"Iyalah, ayam. Masa gajah," jawab Cicil.
"Loe gendong ayam? Nggak jijik?" tanya Laura, sepertinya perhatian Laura teralihkan. Rasa panik akan berita yang dimilikinya, sudah berubah menjadi rasa aneh karena Cicil menggendong seekor ayam.
"Nggak, lucu malah. Liat, cantik banget 'kan," ujar Cicil sambil menunjuk ayam yang ada dipelukkan Abah.
"Loe, gil... argh.. back to topic," ujar Laura sambil menggerakkan kedua tangannya didepan wajahnya.
"Ada apa, Laura?" tanya Riki penasaran.
"Bullsh*t...?!" sentak Cicil sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jangan ngada-ngada deh, mana mungkin Papih Cicil sama Albert bisa disini," ujar Rozak, "tau darimana mereka alamat, Riki?"
"Nggak tau, tapi mata gue masih bagus dan nggak rabun, gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Didepan ada Albert sama Om Jeff," ujar Laura sambil menunjuk kearah pekarangan depan rumah Abah.
"Ini Om Jeff sama Albert tuh siapa?" tanya Abah bingung, kenapa semua orang disana ketakutan. Apakah orang bernama Albert dan Jeff ini tukang kredit?
"Om Jeff itu Papih aku, Abah," jawab Cicil.
"Terus Albert siapa?" tanya Abah penasaran, siapa pula Albert itu.
"Albert itu laki-laki yang Papih aku paksa buat nikah sama aku, aku nggak mau Abah. Albert itu psiko, Bah," ujar Cicil sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, tiba-tiba kelakuan Albert pada dirinya dulu terasa kembali oleh Cicil.
"Neng..." panggil Riki pelan.
"Ya udah, kita temuin dulu aja," ujar Abah bijak sambil menyerahkan ayam pada Rozak. "Zak ini ayam, potong terus bersihin ampe bersih, yah. Terus goreng," pinta Abah.
"Bentar, kenapa jadi Rozak yang masak ini teh, Laura mana si Edy?" tanya Rozak.
"Lele? Lele katanya masih dirumah Kakeknya, ada yang harus diurus," jawab Laura sambil berjalan meninggalkan Rozak yang hanya bisa pasrah diminta untuk memasak ayam.
+++
"Maaf disini ada yang namanya Riki Trina?" tanya Albert pada seorang ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya.
Dandanan ibu-ibu itu sangat-sangat menyilaukan mata Albert. Bagaimana tidak, dress macam berwarna ungu dan kacamata berwarna kuning bertengger cantik dihidungnya. Jangan lupa gelang emas ditangan kanan dan kirinya, benar-benar menyemarakkan tampilan manusia didepannya. Ah ... hampir lupa, rambutnya disasak sampai sangat-sangat tinggi, membuat tampilannya makin aneh.
"Siapa yah?" tanya wanita itu sambil melihat Albert dari bagian atas kacamatanya.
"Saya Albert, saya mau cari Riki Trina," jawab Albert, walau didalam hatinya Albert ingin melarikan diri dari sana, tapi Albert menahannya. Kakinya benar-benar terpatri di tempatnya. Dia membutuhkan alamat pasti Riki.
__ADS_1
"Ah, Riki Trina anaknya Pak Suhaedi Trina?" tanya wanita itu lagi.
"Ah... mungkin," jawab Albert kalem, peduli setan dengan nama orang tua Riki, yang dia butuhkan saat ini adalah alamat Riki.
"Kalau itu ada disana, mau ngapain kesana?" tanya wanita itu lagi.
"Bukan urusan anda," jawab Albert tenang.
"Oh tidak bisa, nama saya Rina, saya ini istri lurah Citeko yang terhormat, apapun yang terjadi di desa ini. Harus dan wajib ada di bawah radar saya, Pak Bule," jawab Rina.
Rina adalah wanita yang paling ditakuti di Citeko karena kehebatan bibirnya dalam menyinyiri dan menjulid-in orang. Semua yang ada di Citeko pasti pernah merasakan kehebatan bibir Rina yang termashyur.
"Kalau kamu istri lurah, hubungannya apa sama hidup saya" tanya Albert lagi, astaga wanita dihadapannya ini semakin dilihat semakin menakutkan.
"Eh, saya ini istrinya Lurah, harus tau semua info yang ada. Kamu bule mau apa ke rumah Riki? Mau apa, coba diterangkan," desak Rina meminta penjelasan sambil membenarkan posisi gendongan anaknya.
"Albert, sudahlah tinggalkan manusia aneh itu, Papih mau ketemu Cicil ini," ujar Albert sambil menutup pintu mobil miliknya.
Albert hanya menatap Rina sekilas, kemudian berjalan meninggalkan Rina, Rina menatap Albert dan Jeff kemudian mengambil handphonennya. Rina dengan sigap menchat di WAG emak-emak biang gosip cabang Citeko, memberitahukan adanya dua orang bule mendatangi rumah Abah.
"Hmmm... sepertinya ini mah, bakal rame, bener Elduardo," ucap Rina pada anaknya. Yah anak laki-laki Rina diberi nama Elduardo oleh Rina. Padahal suaminya Entis sudah melarangnya, kata suaminya masa, mamahnya namanya Rina dan papahnya namanya Entis, tapi anaknya namanya Elduardo. Tapi, Rina tetap dengan keinginnnya, anaknya harus diberi nama Elduardo.
"Elduardo, kaya kamu harus ketempat nenek dulu, Mommy merasa ada tanda-tanda pertempuran ini," ucap Rina sambil berjalan kerumah Ibunya
+++
"Papih," ucap Cicil saat melihat Jeff ada dipekarangan depan rumah Riki.
"Cicil, Nak, sini kamu, kemana aja kamu,Nak?" tanya Jeff sambil berusaha untuk mendekati Cicil.
Cicil yang awalnya ingin berlari kepelukkan Jeff langsung mengurungkan niatnya, saat melihat Albert yang berjalan dibelakang Papih. Napas Cicil langsung tercekat, dengan cepat dia mendekati badan Riki, berusaha menyembunyikan dirinya dari pandangan Albert yang seakan mau memakannya.
"Siapa ini, ada siapa yang datang kerumah Abah?" tanya Abah, berusaha untuk mencairkan suasana yang ada. Abah tau saat melihat mimik muka Jeff yang masam, Abah tau Jeff benar-benar sedang dalam kondisi marah. Siapa yang tidak marah melihat anak gadisnya berada dirumah orang lain.
"Saya Jeff Bouw, saya ayah dari Cicil Bouw," ucap Jeff sambil menyodorkan tangannya kearah Abah.
"Abah, nama saya sih Suhaedi Trina, tapi semua orang manggil Abah. Jadi, panggil aja saya Abah," jawab Abah sambil menyambut uluran tangan Jeff.
"Masuk dulu," pinta Abah.
"Nggak usah, saya kesini cuman mau ambil anak saya, Cicil pulang, Nak," pinta Jeff sambil mendekati Cicil.
Cicil langsung melangkahkan kakinya dua langkah kebelakang, saat Jeff mendekatinya. Cicil bukan takut pada Jeff, tapi dia takut pada Albert yang menatapnya terus menerus dengan tatapan menjijikan.
"Pih, Cicil nggak mau pulang," cicit Cicil.
"Kenapa?" tanya Jeff bingung, Jeff sama sekali belum sadar kalau anaknya detik ini sedang berjuang melawan ketakutannya pada Jeff. Ketakutan karena trauma telah dijadikan samsak hidup oleh Albert.
"Nggak mau," Cicil langsung bersembunyi dibalik tubuh Riki.
"Kamu mau bantah, Papih?!" bentak Jeff, kesabaran Jeff benar-benar sudah habis. Jeff masih memiliki tanda tanya besar, Jeff bingung kenapa dengan anaknya ini. Kenapa dengan Cicil.
"Pak, bagaimana kalau kita berbicara didalam saja?" tanya Abah, "tidak enak, dilihat tetangga, mari kita selesaikan masalahnya didalam."
"Tapi...."
Cicil langsung masuk kedalam rumah sambil menarik Riki, Cicil tidak mau ada disana, Cicil muak melihat Albert. Sudah cukup, dia tidak mau dekat-dekat dengan Albert. Muak.
Melihat Cicil yang masuk kedalam rumah bersama Riki, mau tidak mau membuat Jeff pun ikut masuk kedalam, rumah bersama Albert.
Abah langsung tersenyum dan menghadang Laura yang mau ikut masuk kedalam rumah. "Kamu, ketempat Edy, kamu bilang ke Edy. Bilang kedia kalau disini ada huru hara," pinta Abah.
Laura langsung menganggukkan kepalanya dan bergegas menjemput Edy yang ada ditempat Kakeknya.
+++
Maaf loh, update malem-malem mulu...
nulis banyak kata itu uwow sekali ternyata...
__ADS_1
tolong itu tombol likenya dicolek dikit, JOSS...
XOXO GALLON