Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Yang dibutuhkan...


__ADS_3

Riki diam melihat Cicil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kepalanya hampir meledak saat polisi mengatakan sudah menangkap orang yang melakukan perbuatan laknat itu pada istrinya.


Albert Connor, lelaki sinting yang benar-benar membuat hidup Cicil dan dirinya sengsara. Rasanya Riki ingin memukuli Albert, menyiksanya atau bahkan membunuhnya. Seandainya, Albert belum diamankan polisi mungkin dirinya sudah hilang akal dan membunuh Albert.


Detik ini, sudah empat hari Cicil dan Riki berada di rumah sakit. Selama empat hari ini Riki selalu ada disamping Cicil. Merawatnya, memandikannya, menenangkannya dan menyayangi Cicil. Tapi, sampai detik ini Riki selalu menolak untuk membicarakan peristiwa tersebut dengan Cicil.


Cicil tidak mengalami guncangan apapun, dia hanya lebih pendiam dari biasanya dan terkadang disaat malam hari Cicil berteriak mencari Riki di sela-sela tidurnya. Riki selalu siaga, saat Cicil berteriak, Riki dengan cepat memeluk Cicil hingga pagi menjelang.


“Aa,” panggil Cicil sambil mengelus pipi Riki.


“Kenapa, Neng. Neng mau apa?” tanya Riki pelan sambil mengusap tangan Cicil. Baru kemarin, impusan di tangan Cicil di lepas oleh Suster. Cicil pun sudah mulai mau makan, namun harus Riki yang menyuapinya. Cicil akan berjam-jam menolak makan bila bukan Riki yang menyuapinya.


“Neng mau mandi, boleh?” tanya Cicil sambil menunjuk pintu kamar mandi.


Riki hanya bisa menghela napas pelan, dari saat sadar sampai hari ini. Mungkin Cicil sudah mandi lebih dari 100 kali. Hari ini saja Cicil sudah mandi tiga puluh menit yang lalu.


“Neng ‘kan udah mandi, udah bersih. Tadi sama suster juga udah dimandiin. Neng mau mandi lagi?” tanya Riki sambil mengusap-usap rambut Cicil pelan.


“Neng kotor Aa, tuh kotor,” jawab Cicil sambil menunjuk ke lengan dan bagian dada. Cicil tampa sadar menarik piama lengan panjangnya. Riki langsung terkesiap melihat luka ditangannya, benar kata suster yang memandikan Cicil, setiap mandi Cicil seperti orang kesurupan saat menggosok badannya sendiri.


Riki memang tidak memandikan Cicil, Cicil selalu menolak dimandikan, bahkan disentuh badannya Cicil selalu menolaknya. Cicil masih mau menerima kecupan dan pelukkan Riki, tapi bila Riki meminta lebih, Cicil akan menolaknya lembut.


“Ini kenapa, sayang?” tanya Riki sambil mengusap lengan Cicil yang luka.


Cicil diam menatap lengannya, pikirannya kosong. Sudah selama empat hari ini tubuh Cicil seperti tidak berjiwa. Kosong, tubuhnya hanya seperti cangkang.


“Nggak tau, apa jatuh yah?” tanya Cicil bingung sambil menatap Riki dengan tatapan kosong.


Riki hanya bisa menghela napasnya, sabar adalah hal yang harus di miliki Riki saat ini. Riki tidak mungkin membentak atau memearahi Cicil, ini bukan salah Cicil ini salah Albert.


“Mungkin kamu jatuh, Neng. Ya udah, Aa mandiin aja yah,” ucap Riki sambil membuka selimut Cicil pelan.


“Jangan, Aa biar Suster aja yang mandiin atau neng mandi sendiri.” Cicil berkata dengan cepat dan panik, saking paniknya Cicil beranjak dari kasurnya dan hampir terjatuh, dengan sigap Riki menahan badan Cicil.


“Nggak papa, biar Aa yang mandiin. Udah, nggak papa, kasian susternya mandiin kamu berkali-kali. Udah biar Aa yang mandiin, yah,” rayu Riki sambil menggendong badan Cicil. Saat mengendonh badan Cicil, Riki merasakan sesuatu. Bobot tubuh Istrinya mengurang, Cicil ringan. Sangat ringan, benar kata dokter, bobot tubuh Cicil berkurang hampir 7 kilo dalam 4 hari.


“Aa, Neng mau sen....”

__ADS_1


“Nggak papa, Aa yang mandiin. Kasian kulit kamu, kalau di gosok terlalu keras. Udah biar Aa yang mandiin, yah.”


Cicil hanya diam dan menatap manik mata hitam suaminya. Air matanya tiba-tiba merembes, disusupkannya wajahnya ke dada Riki, tangisannya pecah tangannya bergetar hebat, Riki yang menggendongnya pun bisa merasakan getaran tangan Cicil.


Riki langsung mencari kursi terdekat, Riki yakin dia akan ambruk saat menggendong Cicil. Riki nggak sangup, hatinya menjerit saat melihat malaikatnya menangis di dadanya.


“Neng, sayang maafin Aa, yah. Aa nggak bisa jaga Neng. Maafin Aa, maaf yah sayang. Aa belum bisa jadi suami yang baik, Aa nggak bisa jaga Neng, maaf yah sayangnya Aa. Maafin Aa sayang, maafin Aa....”


Pecah sudah air mata Cicil dan Riki, tangisan mereka berdua terdengar pilu. “Maafin Aa, Sayang. Maafin Aa, Aa sayang sama Neng, tapi Aa nggak bisa jaga Neng. Suami macam apa Aa ini. Ampunin Aa yah,” isak Riki sambil menciumi tangan mungil Cicil.


“Aa... Aa... Neng, Neng nggak pantes buat Aa, Neng....” Cicil mengantungkan kalimatnya, kata ini sudah sering menari-nari diotaknya, Cicil tidak mampu dan sangup mengatakannya. Tapi, Cicil tidak mau manjadi beban untuk suaminya ini. Berat dan sakit tapi Cicil harus mengatakannya. Cicil terlalu sayang dan mencintai Riki.


“Mau apa, Sayang?” tanya Riki sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Cicil.


“Neng mau, Neng mau cerai, Aa....”


Jeleger....


Riki seperti mendapatkan guntur di siang bolong saat mendengar kata itu dari bibir mungil Cicil. “Kamu, ngomong apa?”


“Cicil mau cerai Aa, Cicil nggak pantes buat Aa. Cicil kotor, Cicil nggak bisa jaga diri, Aa terlalu baik buat Cicil. Cicil nggak mau bikin Aa sedih terus-terusan. Kayanya Cicil cuman jadi beban buat Aa, Cicil cuman kaya ... kaya ... beban. Kayanya, hidup Aa dulu lebih bahagia daripada saat sama Cicil. Cicil nggak mau liat Aa nangis, Cicil nggak mau...” Cicil mengusap air mata Riki yang membasahi pipi Riki. Seumur hidup Cicil, belum pernah Cicil melihat lelaki menangis. Pertama kali dia melihat lelaki menangis adalah Riki, suaminya dan itu karena dirinya. Pedih.


“Tapi Aa, Neng nyusahin Aa terus, Neng nyiksa Aa....” isak Cicil.


“Aa nggak papa di siksa sama Neng, asal Neng jangan tingalin Aa. Aku nggak mau, aku cinta sama kamu. Jangan tingalin, Aa,” ucap Riki sambil membenarkan posisi Cicil, dibuatnya Cicil duduk dipangkuannya dan menghadap wajahnya.


“Neng ini nyusahin Aa terus. Neng ini....”


“Segalanya buat Aa.” Riki mengusap rambut Cicil pelan, diusapnya air mata Cicil, pedih rasanya melihat Cicil yang terus menerus menangis. Riki rindu melihat senyuman di bibir Istrinya. Riki rindu Cicil yang memaksanya bercinta berkali-kali, Riki rindu Cicil yang manja pada dirinya, cemburu dan mencintainya tanpa meminta balasan apapun juga. Riki rindu istrinya.


“Neng harus gimana, kenapa Aa baik banget sama Neng. Neng harus gimana balesnya? Neng jaga diri juga nggak bisa. Neng harus gimana?” isak Cicil histeris sambil memeluk Riki dan menelusupkan wajangnya ke leher Riki.


“Aku cuman minta jangan tinggalin aku,” ucap Riki lagi. Sudahlah, Riki akan mengesampingkan egonya sebagai lelaki. Sakit, sakit bukan main mengetahui istrinya disentuh pria lain. Riki sebenarnya ingin mengumpat semua kata kebun binatang.


Tapi, saat melihat Cicil, demi apapun Riki tidak tega. Cicil lebih membutuhkan dirinya yang berkepala dingin dari pada Riki yang sumbu pendek. Cicil membutuhkan dirinya, Riki nggak akan sanggup kalau melihat Cicil menjadi hilang akal dan stress.


Masih jelas diingatan Riki saat Cicil bangun dihari pertama, Cicil menjerit dan berteriak. Mencabik semua baju yang melekat ditubuhnya. Melempar semua barang yang ada di sekitarnya, sampai Riki harus memeluk Cicil erat dan ikhlas saat dokter menyuntikkan obat penenang ke badan Cicil.

__ADS_1


Riki tau dengan pasti, Cicil akan hilang akal kalau dia meninggalkan Cicil. Mungkin, dimulutnya Cicil berkata kalau dia meminta cerai. Tapi, Riki yakin jauh dilubuk hati Cicil, istrinya ini sedang menjerit meminta pertolongan.


“Tapi, Neng kotor. Neng udah nggak pantes buat Aa,” isak Cicil sambil mengusap air matanya.


“Siapa bilang Neng kotor?” tanya Riki sambil mengecup kedua mata Cicil.


“Neng diper...” Cicil tidak mampu meneruskan kata-katanya, mulutnya seperti terkunci.


“Neng, diperkosa Albert. Yang salah Aa karena nggak bisa jaga Neng dan si keparat Albert bakal kena batunya. Aa nggak mau denger kata nggak, Neng harus tuntut Albert,” jawab Riki tegas sambil menatap mata Cicil.


Cicil menghela napasnya pelan, air matanya tidak berhenti mengalir dari mata Cicil. Rasanya, entah sudah berapa liter air yang keluar dari mata Cicil. “Kalau, Neng tuntut Albert, Aa kuat nemenin Neng? Aa kuat kalau sampai satu Indonesia tau istri Aa di perkosa orang?”


Riki diam. Jujur, Riki nggak kuat, bisa gila dia. Egonya sebagai seorang pria benar-benar menjerit. Tapi, Riki ingin Albert masuk penjara dan mendapatkan karma buruknya. Dan satu-satunya jalan adalah Cicil melaporkannya dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Iya, semuanya dia akan memohon pada Adipati untuk menolongnya dan pada mertuanya. Dan bila mereka tidak mau membantu Riki akan maju, menggunakam cara apapun. APAPUN..!


“Aa nggak tau, Neng. Tapi, Aa bakal selalu ada disamping Neng, sampai kapanpun.”


“Aa... Neng....”


“Neng nggak kotor, sini Aa yang bersihin yah,” ucap Riki sambil menggendong Cicil dan membawa ke kamar mandi.


“Aa...”


“Aa bukan orang kaya. Tapi, Aa akan selalu mendampingi, Neng. Dan berusaha untuk memperindah masa depan kamu, Cil.”


“Tapi, Neng selalu nyusahi. Aku, nggak pernah ngebahagiain kamu.” Cicil terisak lagi.


“Rasa bahagia itu, akan selalu didapat dalam keadaan apapun. Selama kamu hidup dengan pasangan yang kamu sukai, Cintai dan butuhkan. Dan pasangan itu adalah kamu, Cicil Bouw.”


Cicil tersenyum dan mengecup bibir Riki, hatinya tiba-tiba hangat. Sorot mata Cicil kembali bernyawa saat mendengar perkataan Riki. Tuhan, terima kasih telah memberikan lelaki yang Cicil butuhkan, bukan yang Cicil inginkan. Karena, apa yang di inginkan belum tentu di butuhkan. Sedangkan, apa yang di butuhkan akan selalu di inginkan. Layaknya suaminya, Riki Trina.


•••


Selamat puasa semuanya, selama puasa Update jam 7 malam dan jam 9 malam.


Jangan sungkan untuk memberi point dan votenya. Koin juga boleh hehee...


Wah baca komennya bikin Kaka Gallon Nano-nano. Tapi, mudah-mudahan masih tetep baca yah, tetap bersama di dunia halu Kaka Gallon.

__ADS_1


Xoxo Gallon.


__ADS_2