
Ahyar mengetuk-ngetukkan pulpennya dibuku miliknya. Sudah hampir satu jam dia menunggu di ruang tunggu perusahan maskapai penerbangan milik Jeff Bouw. Sekertaris Jeff Bouw sudah mengatakan kalau Pak Jeff Bouw tidak dapat menemui Ahyar. Tapi, Ahyar berkeras menunggu di sana, dengan dalih ingin bertemu dengan Cicil Bouw.
“Pak Ahyar,” panggil seseorang yang ternyata adalah Tisa.
“Iya,” jawab Ahyar.
“Bapak sudah ditunggu Bu Cicil di ruangannya. Pak Jeff benar-benar tidak dapat menemui anda hari ini. Pak Jeff ada yang harus dilakukan. Mari, Pak,” ucap Tisa sambil menunjukkan jalan ke kantor Cicil.
Ahyar dengan tenang langsung mengikuti Tisa, kedatangannya ingin membicarakan kembali mengenai tendernya dengan perusahaan ini. Ahyar benar-benar ingin memenangkan tender pembelian pesawat terbang Abelig Aviation untuk maskapai negara. Dia ingin, mendapatkan keuntungan besar dengan membeli pesawat bekas maskapai ini dan menjualnya dengan harga tinggi ke negara. Dia harus mendapatkan tender ini. Keuntungan menggiurkan di depan matanya.
“Bu Cicil, ini Pak Ahyar,” ucap Tisa sambil mempersilahkan masuk Ahyar ke dalam ruangan Cicil.
Cicil langsung berdiri dari duduknya, badannya benar-benar sudah mulai berat. Ini adalah berat badan terberatnya, membuat dirinya sesak. Tapi, dengan percaya diri Cicil berjalan dan mempersilahkan Ahyar duduk di sofa yang ada.
“Wah, Nak Cicil. Sudah berapa bulan?” tanya Ahyar mencoba mencairkan suasana terlebih dahulu.
“Ibu Cicil,” koreksi Cicil sambil duduk di hadapan Ahyar.
“Oh, maaf. Saya sangka sebentar lagi anak saya akan menikah dengan adik suami anda, jadi kita bisa sedikit lebih informal.” Ahyar kembali mencairkan suasana.
“Nggak ada hubungannya, saya cerai dengan suami saya. Rozak bukan siapa-siapa saya dan kalau Rozak cerai dengan Nama anda juga bukan siapa-siapa saya,” jawab Cicil dingin, padahal di dalam hatinya dia mengucapkan kata amit-amit bila harus bercerai dengan Riki.
Ahyar hanya bisa menelan salivanya, Cicil Bouw memang terkenal sebagai wanita yabg ketus dan dingin. “Kalau begitu langsung aja, Bu Cicil. Saya kesini untuk menjalin kerja sama dengan anda dalam penjualan pesawat.”
“Iya, saya tau. Saya sudah baca berkasnya.” Cicil berkata sambil menatap mata Ahyar dingin.
“Jadi, gimana? Setuju dengan syarat yang saya berikan? Ini sangat mudah, keuntungan besar di perusahaan anda ‘kan. Anda memiliki dua pesawat yang terparkir di Bandara Soeta, tiap bulan biaya parkirnya tidak sedikit, lebih baik anda jual saja ‘kan. Pesawat pun masih layak terbang,” bujuk Ahyar.
“Syarat anda terlalu mengada-ngada, saya tidak mau main api. Kami maskapai swasta, sekali kami kena skandal saham kami bisa melambung turun. Saya tidak mau ambil resiko.” Cicil berkata sambil mengambil amplop dari samping kursinya dan memberikannya pada Ahyar.
“Ini aman Bu Cicil, hanya lima belas persen.”
“Saya tidak mau ambil resiko, anda sadar tidak saat ini anda sedang diawasi KPK?” tanya Cicil pada Ahyar, terima kasih pada Juan yang memperingatkan Cicil kemarin. Juan dan Adipati sudah menolak kerja sama dengan Tandika. Mereka ingin main aman, ini bisnis bukan permainan monopoli bocah ingusan.
“KPK tidak bisa mengendus ini, Bu. Saya bisa jamin,” bujuk Ahyar.
“Saya tidak percaya dengan jaminan anda, Pak Ahyar. Ini terlalu besar, minimal pengambilan keuntungan tidak sebesar ini, kalau anda mau bermain jangan dengan perusahaan saya. Saya tidak mau mengancurkan perusahan yang sudah di bangun oleh keluarga saya hanya demi keuntungan tak seberapa ini.” Cicil tetap menolak dengan tegas, dia tidak mau berurusan dengan pemerintahan saat ini.
__ADS_1
Perekonomian yang memanas ditambah dirinya hanya perusahaan asing. Yang berinduk di Belgia. Cicil tidak mau mengambil resiko, dia membutuhkan perusahaan tetap berjalan dengan normal.
“Bu Cicil, bagaimana kalau jadi sepuluh persen?” tanya Ahyar.
“2,5 persen Pak Ahyar. Itu batas maksimalnya, lebih dari itu sama saja dengan bunuh diri,” ucap Cicil sambil beranjak dari duduknya.
“Bu Cicil, anda taukan apa konsekuensinya menolak proposal ini?” ancam Ahyar.
Cicil hanya bisa menghela napas, seperti bandot keparat ini benar-benar akan menjadikan Nama sebagai ancaman. Cicil merasa kasihan dengan nasib Rozak kedepannya memiliki mertua seperti Ahyar. “Apa?”
“Saya bisa buat adik ipar anda tidak bisa menikah dengan anak saya,” ancam Ahyar sambil menatap Cicil.
Cicil hanya bisa menghela napas, dia tau Ahyar akan mengatakan hal ini. Tapi, nama baik perusahaannya dan keselamatan ayahnya tidak mungkin Cicil gadaikan demi kebahagiaan Rozak. Cicil hanya bisa memberikan doanya untuk Rozak dan mungkin nanti dia akan membicarakannya dengan Riki. Cicil yakin Riki akan mengerti semuanya.
“Bagaimana Bu Cicil?” tanya Ahyar sambil berdiri dan mengambil amplop berisikan berkas kerja sama miliknya.
“Bapak tau ‘kan di mana pintu keluarnya?” tanya Cicil sambil memberikan senyuman kecil pada Ahyar sebelum mengangkat teleponnya untuk menelepon Tisa.
“Anda yakin, saya bisa hancurkan keinginan Rozak,” ancam Ahyar.
Cicil menatap mata Ahyar dengan pandangan dingin dan dagu terangkat. “Bilang pada keamanan perusahaan untuk tidak mengijinkan Ahyar Suhendar menginjakkan kakinya di perusahaan kita lagi, Tisa.”
Ahyar langsung menelan salivanya, tatapan Tisa yang dingin benar-benar menghujamnya. Aura Cicil benar-benar mengintimidasi dirinya, membuat setiap inci tubuh Ahyar mengkerut. “Anda akan menyesa Cicil Bouw.”
“Oh, try me (coba saja) Ahyar Suhendar,” ucap Cicil sambil mengetukkan jari-jarinya ke meja kerja miliknya.
Klik...
Tisa masuk dan menatap Ahyar, “Pak Ahyar, mari saya antar anda ke pintu keluar.”
Ahyar langsung mendengus dan memasukkan surat kerja samanya kedalam tempat sampah di sana. “Anda akan menyesal, saya akan pastikan itu.”
“I am waiting, Mr. Suhendar. (Saya menunggu, Pak Suhendar.)” Cicil berkata sambil membalikkan badannya berusaha untuk mengabaikan bandot tua sialan bernama Ahyar Suhendar.
•••
Riki dengan tenang berjalan ke dalam perusahaan Cicil, Riki hendak menjemput istrinya itu. Dia tidak bisa melihat Cicil mengemudikan mobil dengan keadaan perut yang besar.
__ADS_1
Saat akan masuk kedalam perusahaan Riki langsung di sambut oleh teriakkan Ahyar, Riki menatap Ahyar bingung, untuk apa calon mertua Rozak ada di sana.
“Saya, tidak terima. Saya ini anggota parlamen RI komisi V, saya tidak terima akan saya tuntut perusahaan ini,” teriak Ahyar sambil berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Riki yang tak sengaja berpapasan dengan Ahyar hanya bisa saling tatap karena bingung mengapa lelaki itu memaki-maki perusahaan istrinya.
“Kamu!?” seru Ahyar sambil menunjuk Riki yang menatapnya bingung.
“Iya saya, kenapa?” tanya Riki.
“Kamu ajarin istri kamu, awas kamu yah. Saya pastikan anak saya tidak menikah dengan adik kamu,” ancam Ahyar sambil menunjuk Riki.
“Hah, apa salah adik dan istri saya?” tanya Riki bingung.
“Salahnya, tanya sama istri jalang kamu it—“
Bug....
Belum sempat Ahyar menyelesaikan kalimatnya Ahyar mendapatkan pukulan keras di perutnya. Tubuh Ahyar langsung melayang dan terjungkal kebelakang. Bersyukur ada satpam yang menahan tubuh Ahyar.
“Kalau ngomong dijaga, nggak ada yang boleh hina istri saya!?” sentak Riki berang.
“Sialan,” teriak Ahyar, “saya gugat kamu Riki, saya jebloskan kamu ke penjara.”
Riki hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Silahkan, saya tunggu di kantor polisi terdekat. Tapi, banyak saksi yang melihat anda yang menghina istri saya duluan. Mohon maaf, saya tidak akan sungkan menghajar anda berkali-kali bila saya mendengar anda menghina istri saya!?”
Ahyar yang berang langsung mendorong badan Riki dan berjalan keluar sambil di giring oleh satpam perusahaan. Diiringi tatapan penuh keingintahuan dari orang-orang sekitar yang berbisik-bisik mengenai kejadia barusan.
••••
Ribet emang si Ahyar ini, ambisinya terlalu besar dan merasa orang terpandang. Kena batunya baru nyaho kau Ahyar Suhendar...
Hai ini hari senin, yuk di kasih votenya untuk Kaka Gallon. Tapi, untuk hadih di tahan dulu yah, kalau yang mau kasih kopi dan bunga selasa aja.
Like dan kommennya dong Kakak kakak 😘😘😘
Xoxo Gallon.
__ADS_1