Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Mau nikah, Aa...


__ADS_3

Riki sayup-sayup mendengar suara musik mengalun lembut ditelinganya, suara lagu itu mau tidak mau membuat Riki membuka matanya dan mendapati Cicil yang sedang berjalan mondar-mandir mengenakan kaus oversize miliknya. Perutnya yang sudah membesar tidak mengurangi kecantikan istrinya itu.


Riki hanya diam melihat Cicil yang sedang menuangkan kopi. Rasa syukur langsung menyelimuti Riki, melihat istrinya tersenyum sudah membuat dirinya berbahagia.


Meong...


Geulis langsung mendekati Riki dan menjilati ujung-ujung jari tangan kanan Riki. “Apa, kamu tuh manjanya sama kaya si Neng.”


Diangkatnya Geulis kemudian dielusnya, Geulis langsung mengusap-ngusap kepalanya ke lengan telapak tangan Riki. “Manja banget kamu.” Riki menciumi muka Geulis.


Saat sedang asik mencium Geulis, Riki merasa ada seseorang dihadapannya sedang mengerucutkan bibirnya. “Neng.”


“Aku mau dicium juga,” rengek Cicil sambil mengembikkan bibirnya.


“Astaga, ini yang punya kucing minta di cium juga?” tanya Riki sambil menatap manik mata coklat Cicil.


“Iya, masa Geulis dicium aku nggak,” rengek Cicil sambil menatap Riki.


“Aduh, kamu mah udah sering Aa cium, berbagilah sama Geulis.” Riki berkata sambil menunjuk Geulis yang sedang mengusap-ngusap kepalanya ke tangan Riki.


Cicil tiba-tiba mengusap-ngusap kepalan dan wajahnya di bahu Riki, “Meong.”


Mendengar ucapan Cicil otomatis membuat Riki tertawa. “Manja ucing kamu teh?”


(Ucing\=Kucing)


“Meong,” ucap Cicil sambil terus bermanja-manja pada Riki.


“Astaga, ini kucing gede sini.” Riki langsung mengecup bibir Cicil.


“Apa sih, kamu tuh ngapain?” tanya Cicil sambil mengerucutkan bibirnya.


“Nyium kamu,” ucap Riki.


“Ih, mana ada nyium kaya gitu.”


“Terus kaya gimana?” tanya Riki bingung, Geulis yang merasa tidak diperhatikan lagi langsung meloncat dari pangkuan Riki, seolah tau dia hanya menjadi kucing yang terabaikan.


“Kaya gini,” ucap Cicil sambil memeluk Riki dan menciumnya sampai membuat Riki terjengkang ke belakang.


“Astaga, Neng.” Riki menahan tawanya.


“Nyium tuh yang bener, Aa.”


“Iya bu guru,” ledek Riki sambil mencubit pipi Cicil yang mulai berisi.


“Aw...” Cicil tiba-tiba mengaduh.


“Kenapa?”


“Ini, dedenya nendang perut aku,” ucap Cicil sambil mengusap perutnya. “Ini semenjak kamu sering ajak ngobrol gini deh, hobinya nendang-nendang.”


“Hai, Dek. Jangan suka nendang-nendang, kasian Mamih kamu. Nanti, kalau udah keluar kita main tendang-tendangan sama Baba, yah.” Riki mengusap perut Cicil dan sepersekian detik kemudia Riki merasakan tendangan pelan di tangannya.


“Aw...”


“De, nakal kamu. Jangan gitu, yah.” Riki berkata sambil mengecup perut Cicil pelan.


Cicil langsung mengusap rambut Riki pelan, lagi dia jatuh cinta pada Riki.


Tok...tok...tok...


Cicil menatap Riki, “Siapa?”


“Nggak tau, Aa buka pintunya dan kamu Bu Cicil.”


“Apa?”


“Pake celana kamu, demen banget sih keliaran nggak pake celana,” ucap Riki sambil mengecup pucuk kepala Cicil.


“Hahaha... biar gampang, Aa. Jadi kalau mau kuda-kudaan tinggal diangkat,” goda Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Haduh, udahlah. Susah ngomong sama kamu tuh,” kekeh Riki sambil berjalan mendekati pintu.


Tok...tok...tok...


Riki langsung membuka pintu dan mendapati Rozak sudah berdiri sempurna menatapnya. “Apa Zak?”


“Mau nikah, Aa.”


“Hah?”


“Iya mau nikah,” ucap Rozak sambil menatap Riki.

__ADS_1


“Kumaha?” Riki benar-benar bingung dengan perkataan adiknya ini. Sepertinya hidupnya harus dikelilingi oleh orang-orang kepanasan pingin nikah. Mulai dari Taca dulu, Edy sekarang Rozak.


(Gimana?)


“Mau nikah, Aa.” Rozak berkata sambil masuk kedalam ruangan Riki.


“Duduk disana,” perintah Riki sambil menunjuk kursi yang ada disampingnya.


“Kenapa?” Seingat Rozak, setiap dia berkunjung selali diijinkan masuk ke bagian ruang tv bukan hanya diruang tamu.


“Cicil nggak pake celana, nggak ridho aku berbagi paha mulus istri aku sama adik kebelet nikah kaya kamu,” ucap Riki sambil duduk dihadapan Rozak.


“Halah, mulusan juga paha Nama,” ucap Rozak.


“Hadeuh, nggak tau juga dan nggak ada cita-cita aku liat pahanya Nama,” jawab Riki. “mau apa kesini?”


“Mau nikah.”


“Baleg sateh.” Riki yang kesal langsung ngegas saat mendengar perkataan Rozak yang dari tadi minta nikah.


(Yang bener kamu tuh)


“Bener, Aa. Aku mau nikah, semaleman dikasih kultum (kuliah tujuh menit) sama Abah. Aku pusing udahlah aku mau nikah aja,” jawab Rozak.


“Zak, kamu sangka nikah enak?”


“Enak aja kayanya, liat Aa sama Taca kayanya idupnya enak-enak aja,” ucap Rozak sambil menatap Riki.


Riki tidak menampik itu semua, menikah membuat hidupnya indah dan berwarna. Melihat kelakuan Cicil yang manjanya selai membuat dirinya tertawa benar-benar membuat dirinya betah dirumah.


“Yah, asal nikah sama orang yang tepat. Apa Nama tepat?” tanya Riki.


Rozak diam menatap Riki, “Nggak tau.”


“Nikah bukan cuman soal nafsu, Zak.”


“...”


“Kamu harus liat Nama kalau marah kaya gimana, kesel kaya gimana, nangis kaya gimana, atau terpuruk kaya gimana. Kalau dalam saat seperti itu kamu masih sayang dan cinta sama Nama, pertahanin.”


“Aa udah...”


“Liat Cicil marah, nangis, stress, ngambek, banting barang, apa lagi sok tanya. Udah, ampe dia ngiler juga...”


Rozak dan Riki langsung tertawa pelan saat mendengar teriakkan Cicil. “Ayo loh, Aa.”


“Hahaha... nggak papalah, udah biasa. Dia mah marah-marah juga ntar malem minta kuda-kudaan lagi,” kekeh Riki.


“Ah... susah ngobrol ama pasangan mesum,” ucap Rozak sambil memukulkan bantal kecil kearah Riki.


Riki hanya bisa mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum kecil, “Kamu ngapain kesini, nggak mungkim kamu kesini cuman mau bilang ingin nikah.”


“Hehehe... tau aja, minjem laptop yah, mau ngetik RPP, laptot aku rusak, Aa. Sekalian minjem mobil buat dua minggu.”


“Minjem atau maling eta, sampai dua minggu.”


“Hehehee... ya maaf, tangan kaya gini nggak mungkin bawa motor,” Rozak menunjukkan tangannya yang masih di gips.


Riki dengan cepat mengambil kunci mobil avanza milik Cicil. “Pake ini aja, Cicil nggak bisanpake mobil manual. Aa juga lebih suka naek motor kemana-mana,” ucap Riki sambil menyerahkan kunci mobil pada Rozak.


“Aku juga sukanya naik motor Aa, bisa sut sat set. Tapi, tangan di gips. Susah.”


“Ya, udah sana. Udah siang juga. Nanti kesiangan, laptop ada di bawah, bilang Manda.”


“Cil, pinjem mobil yah ama laptop,” teriak Rozak.


“Iya, ambil aja. Asal jangan pinjem Riki, aku nggak bisa tidur entar.” Cicil membalas Rozak sambil tertawa pelan.


“Siap.” Rozak berkata sambil pergi meninggalkan Riki dan Cicil.


•••


“Ih, tumben jemput pake mobil. Abis ngerampok siapa?” tanya Nama sambil masuk kedalam mobil Rozak.


“Rampok Aa Riki, Nyun.”


“Adik berbakti sekali kamu, hobi banget ngerampok kakaknya sendiri, Kang.”


“Abis mau ngerampok siapa lagi, ya kali aku mau rampok kamu,” ucap Rozak sambil mencawil bibir Nama gemas.


“Hilih, kalau ngerampok aku mau apa yang diambil. Mobil nggak punya, motor nggak punya...”


“Bibir kamu aku rampok, Nyun.” Rozak menjawil kembali bibir Nama pelan.

__ADS_1


“Modus,” ucap Nama sambil memukul bahu Rozak.


“Alah, kamu suka juga aku modusin,” ucap Rozak sambil tersenyum pada Nama. “Ngaku.”


“Hilih kagak, ini aja jadi pacar kamu kepaksa, kaya judul-judul novel yang lagi ngehits sekarang.”


“Apa?”


“Terpaksa menjadi pacar lelaki menyebalkan, yang berusaha untuk menikahi diriku ini.”


“Hahaha... panjang ya, satu cover nggak bakal muat itu.”


“Biarin,” ucap Nama menjulurkan lidahnya.


“Nyun, lusa aku kerumah yah. Aku mau minta kamu.”


Deg...


“Minta gimana?” tanya Nama.


“Minta kamu jadi istri aku.”


“Emang nggak kecepetan?” tanya Nama, seingatnya mereka baru bertemu belum ada satu tahun.


“Nyun, aku nggak mau pacaran lama-lama. Aku capek, aku capek nyia-nyiain waktu cuman buat pacaran. Umur dan pekerjaan aku udah mapan.”


Nama hanya bisa dia sambil mengelus bagian dalam pahanya lagi. Tiba-tiba peristiwa laknat iti mengebrak kembali kepalanya. Peristiwa yang membuat dirinya hampir bunuh diri.


“Nyun, kamu kenapa?” tanya Rozak sambil menyentuh pipi Nama.


“Kamu mau nikah sama perempuan kaya aku?” tanya Nama.


Rozak kaget saat mendengar perkataan Nama. Perempuan macam apa maksudnya, apa yang salah dengan Nama. “Nyun, kamu kenapa?”


“Aku...” tiba-tiba air matanya mengalir deras dari matanya. “Aku bukan perempuan baik-baik.”


“Maksudnya?”


“Aku nggak seperti yang kamu pikirin, Kang.”


“Nyun, aku cinta sama kamu. Nggak cukup?” tanya Rozak pada Nama.


Nama diam menatap mata Rozak, tangannya mengusap pipi Rozak pelan. “Kang, ngomong cinta gampang. Semua orang bisa ngomong aku cinta kamu. Tapi, saat mengetahui masa lalu aku dan siapa aku sebenarnya. Apakah kamu masih cinta?”


“Nyun, maksud kamu apa?”


“Maksud aku, saat kamu tau masa lalu dan siapa aku sebenarnya. Apakah kamu masih cinta dan setia sama aku?”


“Nyun.”


“Ngomong cinta gampang, Kang. Tapi, setia dan mau menerima seseoran itu sulit dan sampai detik ini, aku masih belum yakin apakah kamu orang yang setia dan mau nerima aku, Rozak Trina.”


•••


Hola...


Mulai masuk ceritanya Kang Rozak dan Edy Edrosh yah. Kalau nanya Riki gimana?


Riki dan Cicil akan selalu ada dengan keunyuan dan manisnya mereka berdua ❤️.


Kalau mau masuk GC, pas klik tombol GC nanti ada kolom yang harus diisikan.


Nah isi sama tiga jawaban dibawah ini.



Nama dukun Edy?


Nama Kucing Cicil?


Nama Pacar Rozak Trina ?



Langsung jawab, klo jawabannya bener nanti admin langsung bukain pintunya.


Ini hari senin, ayo kasih votenya buat MMT, dukung MMT biar nangkring cantik di ranking vote dan hadiah.


Menerima sumbangan bunga dan kopi, dengan catatan bukan kopi sianida dan bukan bunga ****** 🤣.


Terima kasih yang sudah kirim kopi dan bunga, luv you sekebon terong ❤️.


Like di klik dan tingalkan jejak kalian dengan koment hoho...

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2