Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Cicil mouse...


__ADS_3

“Aa... keju, Neng mana?” tanya Cicil saat melihat Riki masuk kedalam ruangan.


Riki mengangkat kantong tas kain miliknya sambil tersenyum, dengan cepat Riki meloncat kearah Riki.


“Neng, jatuh. Kamu lagi hamil ini, hati-hati,” ucap Riki cepat. Ngeri juga melihat istrinya ini meloncat-loncat seperti kodok.


“Keju,” ucap Cicil sambil menunjukkan tangannya.


“Ini,” Riki memberikan bungkusan pada Cicil, “dasar Cicil mouse.”


“Hah?” Cicil bingung dengan perkataan Riki.


“Iya, Cicil mouse sodaranya Minnie Mouse,” canda Riki sambil mengacak rambut Cicil pelan.


“Idih, tega bilang istrinya sendiri tikus.” Cicil memukul bahu Riki pelan. “Aa mandi.”


“Udah mandi Aa, ditempat Rozak.” Riki membuka jaketnya dan menyimpannya di gantungan.


“Nggak, Aa mandi lagi. Cicil udah siapin sabun sama semuanya yang baru. Cicil suka wanginya, udah sana mandi.” Cicil mendorong Riki ke kamar mandi.


“Neng, Aa udah mandi tiga kali hari ini, kalau Aa mandi lagi ini udah yang ke empat. Hemat air, Neng.” Riki berusaha menolak untuk mandi yang ke empat kalinya. Capek mandi terus-terusan, bisa meriang Riki kalau mandi sehari sampai lima kali.


“Idih, uanh dari Aa buat kebutuhan bulanan masih ada sisanya buat bayar air.” Cicil benar-benar memaksa Riki untuk mandi.


“Neng, meriang nanti Aa,” ucap Riki lagi.


“Nggak papa, kalau meriang nanti Cicil pijitin. Cicil pijitin plus-plus,deh,” paksa Cicil.


“Plus-plus mah yang ada rontok lutut, Aa. Kamu mah kalau udah dikasih sekali tuh, suka minta ronde tambahan,” ucap Riki sambil menatap Cicil.


“Mandi atau aku minta jatah, Aa...!?” ancam Cicil sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.


Riki menelan salivanya, Riki tau bila kemeja yang melekat dibadan Cicil sudah tergeletak di lantai, jangankan Cicil. Dirinya sendiri juga tidak akan mampu untuk menahan hasratnya dan itu semua tidak baik untuk kesehatan lututnya, saat ini. Kayanya nggak lucu kalau dia datang ke dokter dan saat ditanya kenapa lututnya bisa cedera, dia menjawab karena terlalu asik melakukan transfusi darah putih. Mau ditaro dimana mukanya?


“Aa, mandi sekarang.” Riki menutup pintu kamar mandi dengan cepat, meninggalkan Cicil yang tersenyum senang.


•••


Selesai mandi, Riki melihat Cicil yang sedang mengusap-usap perutnya. Tampak Cicil sedang berbicara dengan perutnya. Riki menyembunyikan dirinya untuk mengetahui apa yang dikatakan istrinya itu.


“Dede... Mamih sayang Dede. Dede sehat di perut Mamih yah. Tapi, kalau Mamih boleh meminta.” Cicil tiba-tiba merasakan air matanya mengalir dari ujung-ujung matanya.


Rasa sakit yang dirasakan Cicil terasa di hati Riki, Riki rasanya ingin meloncat memeluk Cicil. Tapi, Riki mengurungkan niatnya, dia butuh mengetahui apa yang dipikirkan Cicil pada bayi didalam kandungannya itu.


“Mamih minta, kamu anak Papih Riki yah. Mamih, mohon dengan sangat, Nak. Izinkan Mamih mencintai kamu setulus hati Mamih. Izinkan Mamih menyayangimu dengan ikhlas. Mamih, Mamih nggak sanggup kalau kamu anak orang itu. Mungkin, mungkin Mamih nggak bakal sanggup, Dede.” Cicil terisak tangannya dengan cekatan mengusap air mata yang mengalir dipipinya.

__ADS_1


“Ya Tuhan, aku tau. Aku tau aku nggak pantas buat meminta padamu. Aku bukan umatmu yang beriman. Tapi, tapi maukan kamu mengabulkan permintaan sederhana umatmu ini?” tanya Cicil sambil mengusap perutnya pelan.


“Tolong, tolong buat ini anak suami saya. Saya tau ini egois. Tapi, tolong buat ini anak suami saya, saya ingin menyayanginya setulusnya. Jangan....” kata-kata Cicil tersenggal karena emosinya yang mulai tersulut. “jangan sampai saya membuat dosa yang lebih parah lagi. Saya nggak sanggup dan kasian suami saya, dia terlalu baik untuk menerima ini semua. Dia terlalu baik, tuhan.” Cicil menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Cicil mangambil bantal di sampingnya dan membenamkan wajahnya. Berusaha untuk menangis dalam diam, berkubang dengan kesedihannya sendiri. Jangan sampai ada orang lain yang tahu, apalagi suaminya.


Riki terdiam melihat wajah istrinya, istrinya benar-benar menutupi kesedihannya sendiri dengan baik. Dihadapannya Cicil meledak-ledak dan menolak menyayangi bayi didalam kandungannya. Namun, saat ini Riki melihat Cicil mengusap perutnya sendiri dengan lembut dan berdoa moga bayi yang dikandungnya adalah anaknya.


Suara tangisan Cicil yang terdengar samar karena terhalang bantal terdengar pilu. Riki benar-benar tidak kuat melihat istrinya menangis.


“Neng,” panggil Riki sambil menyentuh bahu Cicil.


Cicil yang kaget langsung menggosok-gosok wajahnya pada bantal. Berjuang untuk menghilangkan butiran-butiran air matanya, menyembunyikan kegelisahan dan kesedihannya.


“A...apa Aa, udah mandinya?” tanya Cicil sambil membalikan badannya dan menatap Riki.


Riki langsung mencium kening Cicil dan beralih pada bibir mungil milik istrinya. Dikecupnya pelan bibir Cicil, disesapnya manis bibir Cicil yang selalu mampu membuat dirinya bahagia, candu miliknya.


“Neng, kalau kau sedih bareng-bareng, yah.” Riki mengusap rambut Cicil pelan.


“Siapa yang sedih, ngaco nih.” Cicil berjuang menyembunyikan kesedihannya.


“Sedih bareng-bareng, Neng. Neng, Aa nggak mau kamu jadi gila. Aa udah tau dari Iis kalau kamu mood swing. Jangan dipendem, Neng.” Riki mengusap-usap bibir Cicil pelan dengan ibu jarinya.


“Tau, makanya kalau mau nangis, peluk Aa, yah,” pinta Riki sambil mengusap-usap rambut Cicil pelan.


“Kamu tuh titisan malaikat?” tanya Cicil pelan.


Riki terkekeh mendengar perkataan Cicil, “Bukan, Neng. Aku mah titisan Abah Suhaedi.”


“Kamu tuh nggak bisa marah atau gimana sih, bisa nggak kamu marah gitu ke aku?” tanya Cicil.


Riki mengusap-usap pipi Cicil pelan, “Aku pernah marah ke kamu.”


“Kapan?” tanya Cicil bingung.


“Lupa? Waktu kamu mau tunangan sama Albert?” Riki mengingatkan Cicil.


Cicil menganggukkan kepalanya pelan, iya Riki pernah marah. Tapi, marah Riki itu diam. “Kamu marahnya diam, emang nggak bisa teriak atau apa gitu.”


“Emang, Aa marahnya gitu. Aa capek teriak-teriak, nggak guna juga. Kalau marah sama kamu Aa teriak-teriak. Yang, ada kita malah adu urat.”


“Aku teriak-teriak kamu teriak-teriak?” tanya Cicil.


“Iya, yang ada disangka paduan suara, Neng.” Riki mengusap-usap rambut Cicil pelan. “pokoknya kalau mau nangis bilang ke Aa, yah.”

__ADS_1


Cicil menganggukkan kepalanya pelan. “Aa anak ini, boleh Cicil lahirin?”


Riki tersenyum, Cicil benar-benar plin plan. Kadang ingin menggugurkan, kadang ingin mempertahankan. Riki benar-benar harus sabar dengan sifat Cicil.


“Boleh, boleh Neng lahirin.” jawab Riki, “dia anak Aa, yah.”


Cicil menatap Riki, air matanya lagi-lagi mengalir deras. Sakit dan pedih bercampur menjadi satu, beban berat benar-benar membuat Cicil hampir gila. Suaminya terlalu baik, Cicil kadang tercekat karena kebaikan Riki, entah suatu keberuntungan atau kutukan memiliki suami yang sangat-sangat sabar seperti Riki.


“Aa...”


“Dia anak Aa,” ucap Riki sambil mengecup bibir Cicil pelan.


Cicil mengigit bibir bagian bawahnya setelah dikecup oleh Riki, sambil menyelipkan rambutnya ke balik telinga Cicil berkata. “Iya, ini anak Aa.”


“Panggil Baba yah,”


“Baba?” tanya Cicil bingung.


“Iya, Baba...” ucap Riki sambil menunjuk hidungnya pelan.


Cicil tersenyum kecil, “Iya, Baba Riki.”


Riki tersenyum dan mencium pelan bibir Cicil, ciuman pelan itu berubah makin panas dan berunjung pada sesuatu yang Cicil sukai. Sesuatu yang berhubungan dengan desahan dan kenikmatan duniawi.


“Hai...” panggil Cicil disela-sela napasnya yang memburu saat Riki menghentaknya lembut.


“Iya,” jawab Riki sambi menatap manik mata Cicil lembut.


“I love you, Baba.”


•••


Cut yah.... jangan minta di perjelas itu adegan I love you Baba. Bisa batal jamaah ini. 🤣🤣🤣.


Jadi kalau ada yang tanya kok Cicil bisa plin plan, kadang seneng kadang marang kadang sedih. Yah, emang gitu orang dengan gejala mood swing. Bahkan dia bisa berhari-hari diam di kasur tidak bergerak sama sekali. Jadi, jangan aneh kalau Cicil bisa tiba-tiba galak, nangis, manja, marah-marah nggak jelas yah...


Melihat hasil polling di instagram ditambah hasil dari kommen. Imbang yang, ada yang mau A ada yang mau B.


Bijimana kalau dibikin B, tapi di bikin asik aja. Jangan, dibikin stress tingkat kecamatan yah....


hehehe....


Itu tombol like di sikut biat kepencet, point, koin dan vote disebar. Kopi atau bunga diterima, asal jangan kopi dangdut sama bunga bangkai aja 🤣🤣🤣🤣🤣.


Xoxo gallon.

__ADS_1


__ADS_2