
Nama dan Rozak sedang asik makan daging ayam bersama-sama. Mereka sedang berhenti di sebuah tempat makan cepat saji yang sangat terkenal di Indonesia. Riki meminta mereka datang ke tempat Riki untuk ikut berlibur bersama Riki dan Edy.
“Kita mau kemana sih?” tanya Nama sambil memakan kentangnya satu demi satu sambil mengincar ayam milik Rozak. Seperti biasa Nama akan mengincar makanan suaminya dari pada makanan miliknya sendiri. Kebiasaan yang membuat Rozak kesal.
“Nggak tau, katanya sih mau ke daerah Ranca Upas,” jawab Rozak sambil mengawasi Nama yang ters menatap ayam miliknya yang tinggal satu buah lagi.
“Kamu liat apa?” tanya Rozak sambil mengangkat ayamnya ke hadapan Nama.
Spontan Nama langsung menggigit bagian bawah bibirnya mencoba untuk menahan keinginannya untuk mengambil ayam milik suaminya itu.
“Mau?” tanya Rozak yang langsung di jawab anggukkan antusias oleh Nama.
“Mau … aku mau, buat aku boleh? Please?” tanya Nama sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
Rozak menyodorkan ayamnya ke arah bibir Nama saat Nama akan menggigit ayamnya, Dengan cepat Rojak menarik kembali ayam tersebut sehingga nama sama sekali tidak bisa menggigit ayamnya dengan kesal nama mengerucutkan bibir nya dan mendelikkan matanya.
“Akang rese, ih … kalau nggak mau kasih nggak usah kasih. Nyebelin tau,” rutuk Nama sambil menyilangkan tangannya di dada dan menata Rozal dengan pandangan paling menyebalkan yang pernah Rozal liat.
Menikah dengan Nama selama beberapa minggu benar-benar membuat kehidupan Rozak penuh warna. Jangan tanya betapa semaraknya pagi hari di rumah mini miliknya yang penuh dengan dirinya, Nama, Ira dan Islah. Pagi-pagi selalu ada perebutan kamar mandi antara Rozak dan Nama atau Rozak dan Ira. Kadang Ira dan Nama. Terkadang Islah hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat anak-anaknya itu berebut kamar mandi.
Akhirnya, Rozak memutuskan dua minggu lagi mereka akan merenovasi rumah tersenbut dan membuat dua kamar tambahan dan tiga kamar mandi tambahan supaya tidak terjadi perebutan kamar mandi.
“Hahaha …. Eh istri nggak boleh marah-marah, dosa tau. Nih makan,” ucap Rozak sambil menyodorkan ayam pada Nama.
Nama menatap Rozak dengan pandangan curiga, dengan cepat Nama menyentuh tangan Rozak. Menahannya agar tidak menarik ayamnya lagi. Dengan sekali suapan Nama menggigit ayam milik Rozak dan menelannya dengan cepat. Rozak hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat betapa rakusnya istrinya itu.
“Enak?” tanya Rozak sambil menatap tulang belulang di tangannya.
“Yupz enak,” ucap Nama santai.
__ADS_1
“Kamu tuh yah, Nyun sedikit banget ngomong tapi ngunyahnya banyak yah,” kekeh Rozak sambil mengambil sisa-sisa daging yang masih bisa Rozak makan.
“Hehehe … ya maaf abis kalau nggak makan nanti aku mati gimana? Yang ngurus kamu siapa?” tanya Nama sambil menahan tawanya.
“Terserah kamu lah. Udah makannya?” tanya Rozak pada Nama.
“Udah, yuk ketempat Aa Riki nanti dia ngomel lagi. Ih … kakak kamu tuh kalau ngomol nyaingin emak-emak yang kehabisan beli sayur di tukang sayur komplek tau,” ucap Nama sambil meminum minumannya dan berdiri.
“Hahaha …. Riki emang cerewet, jangn tanya.” Rozak berkata sambil membayangkan bibir Rozak yang akan nyerocos sepanjang jalan kenangan.
Mereka pun akhirnya berjalan keluar restoran cepat saji tersebut. Saat melewati pintu keluar, mata Nama menangkap sosok seseorang. Sosok yang pernah membantu Cicil saat menuntut Albert. Siapa lagi kalau bukan Kharis.
Kharis sama sekali tidak sadar kalau Nama dan Rozak ada di sana. Selain tidak terlalu kenal dengan Nama dan Rozak. Kharus juga tampak sibuk menggendong seseorang anak laki-laki.
Anak laki-laki bermata biru dan tampak sangat tampan. Rambutnya coklat dan kulitnya putih, Nama langsung menarik tangan Rozak meminta Rozak menghentikan langkahnya.
Rozak dengan patuh menghentikan langkahnya dan menatap Nama dengan tatapan bingung. “Apa?”
“Itu,” ucap Nama.
“Apa? Siapa?” tanya Rozak bingung. “Kamu nunjuk siapa sih? Ibu-ibu yang dorong stroller?” tanya Rozak sambil memanjangkan lehernya agar bisa melihat wajah siapa ibu-ibu yang mendorong stroller tersebut.
“Iya, kamu nggak lupa kan? Itu kan Kharis,” ucap Nama sambil menepuk bahu Rozak pelan.
“Sapa Kharis?” tanya Rozak yang benar-benar tidak ingat dengan Kharis.
“Ih … inget nggak sekertarisnya Albert Connor yang hampir diperkosa sama Albert. Yang bantu Cicil dan jadi saksi Cicil. Yang bikin Albert makin berat hukumannya? Inget nggak?” tanya Nama sambil berusaha mengingatkan kembali ingatan Rozak yang memang sangat-sangat sulit. Ingatan jangka pendek Rozak benar-benar parah.
“Yang mana sih?”
__ADS_1
“Astaga … Akang inget nggak sekertarisnya Albert yang badannya sexy. Yang ininya gede,” ucap Nama sambil menunjuk dadanya yang sebesar standar showroom.
Rozak langsung menjentikkan tangannya, dengan cepat dia ingat siapa Kharis. Otak mesumnya benar-benar berjalan dengan cepat. “Ah … iya, inget. Yang nolongin Cicil juga ‘kan. Iya … iya aku inget.”
Nama hanya bisa mendengus kesal karena Rozak mengingat Kharis karena bagian dadanya bukan karena sumbangsihnya menolong Cicil dulu.
“Liat itu dia bawa anak, Anaknya mirip banget sama Albert,” ucap Nama sambil menarik Rozak agar mendekati jendela kaca transparan agar bisa melihat lebih jelas lagi anak lelaki yang sedang tertidur di dalam stroller.
“Nggak ah, nggak ada mirip-miripnya. Albert mukanya kaya minyak hohoba oil tau. Itu anaknya lucu gitu imut, ih minta Akang peluk,” ucap Rozak sambil menatap anak lelaki itu.
“Ih … mirip itu Kang, sumpah mirip banget aku nggak bohong. Aku yakin itu anak Albert, aku yakin seratus persen,” bisik Nama, mereka berdua terus menatap stroller itu seperti orang yang akan menculik bayi.
Sehingga membuat satpam menaruh curiga pada kelakuan Nama dan Rozak yang asik ngobrol sambil menunjuk stroller tersebut.
“Nyun, kalaupun itu anak Albert kita nggak bisa ngomong apa-apa. Itu udah tanggung jawab Kharis. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Kita nggak mungkin ngejudge Kharis.” Rozak mencoba mengingatkan Nama.
“Ditambah, kamu tau kan. Kabar terakhir ada yang bilang kalau Albert jadi kurang waras, itu aja pasti sudah berat buat Kharis dan anaknya. Kita bisa apa? Udahlah mending kita pergi aja. Nggak usah di urusin,” ucap Rozak sambil menarik tangan Nama menjauhi jendela. Saat berbalik Rozak kaget saat mendapati Satpam sedang menatapnya.
“Apa apa,Pak?” tanya Rozak bingung.
“Lah, saya yang mau nanya anada dari tadi saya liat asik sekali ngobrol sama mbaknya sambil nunjuk-nunjuk bayi itu. Kalian mau nyulik anak yah?” tanya saypam tersebut dan langsung di jawab gelengan oleh Nama dan Rozak.
“Nggak Pak, ini istri saya lagi hamil. Dia ngidam liatin bayi,” dusta Rozak sambil menarik tangan Nama menjauhi satpam tersebut yang masih menatap kereka berdua dengan tatapan curiga.
“Nah, kan kata aku juga apa. Kamu sih suka aneh-aneh disangka mau nyulik anak kan,” kekeh Rozak sambil mengacak rambut Nama dengan gemas.
“Hehe …. Maaf jiwa kepo ku meronta,” ucap Nama sambil memeluk Rozak dan berjalan mengiringi Rozak ke arah mobil mereka berdua. Bersiap ke tempat Riki untuk berlibur.
“Nggak usah kasih tau Cicil dan Riki. Masalah tadi. Nggak guna,” ucap Rozak dan lngsung di jawab anggukkan oleh Nama.
__ADS_1
•••••
XOXO GALLON yang Hobi Kellon.