
Tuk....tuk...tuk...
Terdengar suara alat testpact diketuk-ketukkan ke meja oleh Riki. Hampir tiga puluh menit Riki duduk dan membisu, hanya menatap manik mata coklat Cicil lekat-lekat. Ekspressi mukanya sama sekali tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, antara marah, kecewa, kesal, putus asa, pokoknya semua ekspressi negatif ada di wajah Riki.
“Aa...”
Brak...
Riki menggebrak meja, membuat Cicil kaget. Riki langsung berdiri dan pergi meninggalkan Cicil kekamar mandi.
Brak...
Suara pintu kamar mandi ditutup dengan keras membuat Cicil terdiam, lututnya bergetar keras. Rasa takut benar-benar menjalar di tubuh Cicil. Riki memang baik. Tapi, Cicil selalu takut bila Riki marah.
Prang.... Brak... Brak...
Terdengar suara benda dipukul dikamar mandi dan benda jatuh. Cicil mematung mendengar keributan di kamar mandi, badannya lemas bukan kepalang. Air mata Cicil sudah mengalir dipipinya. Bodoh, kenapa dia menyembunyikan di tas make up. Harusnya disembunyikan di tempat yang lebih aman, contohnya brangkas bank.
Klik....
Riki keluar dari kamar mandi masih dengan muka yang ditekuk lima. Dengan cepat Riki duduk dihadapan Cicil.
“Kapan kamu tau?”
“Dua minggu lalu, pas Laura masuk rumah sakit. Aku kan ketemu perawat terus ditest.” Cicil mencoba menjelaskan setenang mungkin.
“Terus mau sampai kapan kamu sembunyiin?” tanya Riki sambil mengangkat dagi Cicil, Cicil mau tidak mau menatap manik mata hitam Riki. Tatapan mata Riki benar-benar membuat Cicil bergidik. Suaminya benar-benar marah.
“Sampai... sampai...”
“Sampai kapan? Jawab yang jelas, Neng.”
“Sampai aku test DNA. Katanya bayi didalam kandungan bisa di test DNA, saat kandungan tiga bulan. Aku mau tau siapa Bapak biologisnya, Aa.” Cicil berkata sambil menggenggam jari jemari Riki.
“Kalau kamu udah tau Bapak biologisnya siapa, kamu mau apa?” tanya Riki pada Cicil.
“Itu...” Cicil terdiam, dia tidak sanggup mengatakan rencananya. Suaminya ini titisan malaikat, mana mungkin suaminya menyetujui rencanannya.
“Kalau dia anak Aa. Aa yakin bakal kamu urus dengan baik. Tapi, kalau itu anak Albert. Mau kamu apaain?” tanya Riki sambil menarik tangannya dari genggaman Cicil.
“Aku bakal... aku...”
“Kamu mau gugurin?” tebak Riki dan tebakkan Riki tepat saat melihat ekspressi wajah Cicil.
__ADS_1
“Astaga, Neng. Tau dosa nggak sih kamu? Itu anak nggak tau apa-apa. Itu anak masih suci,” ucap Riki sambil menunjuk perut Cicil yang masih sangat-sangat rata.
“Tapi, Aa...”
“Nggak, udah nggak bener otak kamu tuh,” ucap Riki sambil berdiri dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar.
“Aa, dengerin dulu alesan aku,” ucap Cicil sambil menunjuk dada Cicil.
“Apa? Kamu tau dosa nggak sih? Apa karena kamu kelamaan tinggal di Belgia sana, jadi lupa kalau di dunia ini masih ada yang namanya dosa?” tanya Riki sambil menatap tajam Cicil.
“Dosa? Kalau ngomongin dosa jangan sama aku, hampir setengah hidup aku, aku berkubang sama namanya dosa, Aa.” Entah mengapa emosi Cicil tersulut parah. Hormon kehamilan benar-benar mengambil alih kewarasan dan akal sehat milik Cicil.
“Terus, kamu mau nambah lagi dosanya?” tanya Riki.
“Itu hak aku, ini badan aku. Kamu nggak berhak buat nentuin mau aku apain bayi yang ada didalam kandungan aku..!?” Cicil berdiri dan menghadap Riki.
Riki tersentak dengan perkataan Cicil, rasanya dia ingin mencekik wanita dihadapannya itu. Andai dia tidak ingat kalau Cicil adalah istrinya, mungkin sudah Riki lakukan dari tadi.
“Tapi, aku suami kamu dan anak diperut kamu itu anak aku,” ucap Riki sambil menunjuk perut Cicil.
“Kalau ini anak kamu, kalau anak Albert gimana? Kamu mau seumur hidup, kamu liat muka Albert?!” tanya Cicil sambil menatap Riki. “Realistis, Aa. Mungkin diluar kamu bakal ngomong ikhlas dan lainnya. Tapi....”
Cicil maju mendekati Riki sambil menunjuk dada Riki dengan jari telunjuknya. “Di hati kamu, pasti kamu teriak Aa. Pasti sakit, jangankan kamu. Aku aja yang hamilnya, nggak sanggup buat hamil dari seseorang yang merkosa aku. Tolonglah, Aa. Realistis kalau jadi orang!?”
“Arghhh.... aku udah capek jadi orang yang nggak egois Aa, izinin aku sekali ini aja egois. Aku nggak mau, ngurus anak ini kalau dia anak Albert. Aku nggak mau, tiap hari selama sisa hidup aku, aku liat anak dari seorang pemerkosa kaya Albert...!?” jerit Cicil sambil menarik rambutnya keras-keras.
Cicil menghentak-hentakkan kakinya dengan frustasi. Saking kesalnya Cicil terduduk dilantai dan menangis. Dia lelah berbicara dengan Riki, dia benar-benar tidak bisa menang bila debat dengan suaminya ini, lebih baik dia berdebat dengan taipan perusaahan minyak, daripada dengan suaminya ini.
“Neng, Aa tetep nggak setuju kamu gugurin kandungannya.”
“Terus, Aa kuat seumur hidup,” ucap Cicil sambil menatap manik mata hitam Riki dengan garang. “Inget Aa, seumur hidup. Seumur hidup Aa harus liat muka anak dari orang yang merkosa aku?”
“Neng bukan gitu...”
“Sanggup kamu?” tanya Cicil kesal.
“Neng, bukan sanggup nggak sanggup. Masalahnya, bayi didalam perut kamu nggak berdosa.” Riki benar-benar tidak ingin Cicil menggugurkan kandungannya.
“Neng mau tanya, jawab Aa,” ucap Cicil sambil berdiri dan menatap mata Riki. “Sanggup kamu, ngurus anak dari seseorang yang merkosa istri kamu sendiri...!?”
“Neng...”
“Sanggup, nggak?” tanya Cicil kesal.
__ADS_1
“Neng, Aa udah bilang bukan sanggup atau tidaknya. Ini masalah hati nurani, dimana nurani kamu kalau kamu dengan mudahnya menggugurkan kandungan kamu. Dimana?” tanya Riki.
“Aa...”
“Sedangkan diluar sana banyak orang tua yang berjuang untuk memiliki anak.” Riki menatap Cicil.
“Aa, Cicil mau tanya sama Aa.” ucap Cicil.
“Apa? Mau tanya apa?”
“Dimana hati nurani kamu, dimana hati nurani kamu. Saat aku berjuang untuk melahirkan anak dari seorang pemerkosa?” tanya Cicil sambil menatap Riki. “Tega kamu, tega kamu maksa aku bertaruh nyawa cuman buat melahirkan anak seorang pemerkosa?”
“Neng...”
“Tega kamu Riki Trina?” tanya Cicil sambil mendorong badan Riki saking kesalnya:
“Neng, Aa nggak bakal tega. Tapi, bayi didalam kandungan kamu itu bisa aja anak Aa.” Riki mencoba mengingatkan Cicil.
“Iya, makanya kita lakuin test DNA, biar ketauan ini anak siapa. Siapa Ayah biologisnya. Aku mau tau, aku mau tenang dalam masa kehamilan aku. Cara bikin aku tenang adalah dengan mengetahui siapa Ayah biologis anak didalam kandungan aku, Aa.” Isak Cicil sambil memeluk tubuh Riki.
Riki benar-benar bingung, apa yang dikatakan Cicil ada benarnya. Semua yang dikatakan Cicil benar. Tapi, dilain pihak hati nuraninya menjerit, ada rasa kasihan pada anak didalam kandungan Cicil. Rasanya tidak adil, bila merebut hak seorang anak untuk lahir kedunia ini, hanya karena dirinya anak Albert.
Riki benar-benar tidak dapet berpikir jernih, kenapa Cicil harus hamil sekarang sih. Riki hanya bisa menghela napasnya pelan.
“Neng, kita test DNA. Tapi, sekarang kita ke dokter kandungan. Kita liat anaknya yah,” ucap Riki sambil mengusap pelan perut Cicil.
Cicil hanya bisa menganggukan kepalanya.
•••
Dor....
Kaka Gallon kasih pilihan gimana cara tau siapa bapak biologis di kandungan Cicil.
A. Ketauannya yah gitu doang dari hasil test DNA. (Ketaunnya bakal cepet palingan keseling satu episode doang. Tapi, nggak bakal ngena ceritanya)
B. Ketauannya nanti, caranya? Hanya kaka Gallon yang tau dan Kaka Gallon pastikan babnya bakal epic. Bakal bikin gemas dan greget. (Tapi, lama ketauannya.)
Pilihlah yang bijak wahai pembacaku sayang 🥰😘❤️.
Jangan lupa yah, Vote, point, koin dan likenya, DIGOYANGGGG biar apa?
Yah biar HOBA lah 😘
__ADS_1
XOXO GALLON.