Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Hanya Sebuah Pilihan.


__ADS_3

Cicil yang asik memakan keju disebelah Abah, sambil asik berbincang-bincang dengan mertuanya itu.


“Cicil, itu teh emang gitu kelakuan orang kaya teh?” tanya Abah sambil menunjuk Ahyar dan Tandika yang langsung menyambut Adipati dan Taca yang baru kembali dari mobilnya.


“Gimana maksudnya?” tanya Cicil sambil menatap Abah.


“Cari muka, caper. Yah, kaya gitu nggak jelas.” Abah menunjuk Ahyar dan Tandika.


Cicil hanya bisa tertawa melihat kelakuan Ahyar dan Tandika. “Udah biasa, orang-orang yang suka pansos. Berjuang untuk tenar ke orang lain, udah tenar kita yang dipanjat kegerus. Udah biasalah.”


“Benalu maksudnya, Cil?” tanya Abah kaget.


“Bisa dibilang gitu, Bah. Aku udah muak sama orang-orang kaya gitu. Mendekat dengan menggunakan berbagaimacam cara, menyanjung sampai ke nirwana. Setelah dapat apa yang mereka inginkan, kita dibanting sampai titik terendah kita.” Cicil berkata sambil memasukkan dua potong keju sekaligus ke mulutnya yang kecil.


“Atuh, kalau gitu. Kita kesana, ayo kita tolongin Adipati,” ucap Abah sambil menepuk tangan Cicil.


Cicil terkekeh, dengan cepat Cicil menahan tangan Abah. “Nggak usah, Adipati bukan orang baru. Dia tau mana yang palsu dan mana yang asli. Yang aku takutin sekarang itu Rozak.”


“Kenapa?” tanya Abah.


“Rozak terlalu polos, dia terlalu baik. Aku takut dia dimanfaatin sama Ahyar dan Tandika.”


Abah menatap anaknya yang sedang berbincang dengan Nama dan Islah, seutas senyum langsung berkembang diwajah Abah.


“Kok senyum, Bah?” tanya Cicil bingung.


“Iya, Abah cuman bahagia. Anak-anak Abah makin hari makin pintar. Makin banyak pengalaman,” jawab Abah santai.


“Bah, nanti Rozak kalau....”


“Biarkan Rozak sadar sendiri, tugas kamu sama, Adipati, Taca sama Riki buat mengingatkan, Cil.”


“Tugas Abah apa?” tanya Cicil pada Abah.


“Tugas, Abah udah nggak ada. Semua anak Abah udah nikah, udah bahagia. Abah sekarang tugasnya ngurus cucu aja,” ucap Abah sambil menatap perut buncit Cicil.


“Bah, kalau Rozak gimana-gimana?” tanya Cicil bingung.


“Yah, nggak papa. Biar dia belajar, kalau kita yang kasih tau dia nggak bakal sadar. Jadi, biarin aja. Nanti, kalau udah sadar Rozak bakal nyari kita. Karena, kita ini keluarganya.” Abah berkata sambil mengambil keju dan mencobanya.


“Astaga, Cil. Ieu teh naon? (ini tuh apa?)” tanya Abah sambil menyemburkan keju yang sudah ada dimulutnya.


Cicil terkekeh, “Keju Mailand Abah, tadi dikasih sama Tante Eva. Katanya keju dari New Zaeland, karena aku ingin keju yah aku makan aja, enak ‘kan?” tanya Cicil sambil memasukkan kembali sepotong keju ke dalam mulutnya.


“Rasanya tengik, Cil. Aduh, bisa bau atuh cucu Abah diperut kamu,” ucap Abah sambil menggaruk kepalanya.


“Hahaha... nggak, Bah. Cucu Abah bakal sehat kok. Mirip Kakeknya, aktif,” canda Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Tapi, aduh. Cil, udah jangan makan yang aneh-aneh begini.” Abah berkata sambil menatap bongkahan keju, yang terus menerus Cicil makan.

__ADS_1


“Enak, Abah. Udah nggak papa.” Cicil berusaha menenangkan Abah yang meringis melihat Cicil terus memasukkan keju kedalam mulutnya.


Setelah beberapa lama berselang, Abah langsung menyentuh bahu Cicil pelan, “Kamu udah nggak papa?” tanya Abah.


Cicil mengalihkan pandangannya dari bongkohan-bongkohan keju dihadapannya. “Bah.”


“Kamu udah nggak papa?” ulang Abah lagi. Abah sedikit risih menanyakan ini tapi, jiwa kebapaannya ingin mengetahui apa yang dirasakan oleh anaknya ini.


Cicil tersenyum pada Abah, “Cicil nggak papa, Bah. Cicil kuat karena Riki.”


“Bener kamu udah nggak papa?” tanya Abah lagi sambil menatap Cicil. Saat kemarin mendengar kabar yang terjadi pada Cicil, dunia Abah runtuh. Abah takut Cicil menjadi hilang akal dan mengakhiri hidupnya. Sebenarnya, Abah lebih takut Riki menyerah dan meninggalkan Cicil.


“Bah, Cicil nggak papa. Cicil udah lupain semuanya, nggak lupa sih. Cicil kadang masih inget, butuh waktu cukup lama buat Cicil nerima semuanya. Butuh waktu cukup lama buat mengizinkan Riki nyentuh Cicil lagi. Cicil beberapa kali, meminta Riki ninggalin Cicil.” Cicil berkata sambil menatap Riki yang sedang berbincang dengan Rozak.


“Tapi, Riki menolak. Dia menolaknya, Bah. Saking stressnya Cicil nggak paham lagi, kenapa ada laki-laki sebaik Riki. Kenapa, dia baik banget,” ucap Cicil sambil terus menerus menatap Riki yang tidak sadar bahwa saat itu dia sedang ditatap oleh Cicil.


“Karena, Abah ngajarin Riki paling keras. Abah ngajarin tanggung jawab sama dia. Dia anak pertama, dia harus mampu bimbing adik-adiknya. Ditambah, Riki punya pengalaman hidup yang buat dia tertampar dan sadar kalau dia harus bisa menjaga seseorang sebaik mungkin.” ucap Abah.


“Iya, Bah.”


“Abah selalu bilang sama Riki. Cari satu wanita yang benar-benar kamu cinta, pilih dia dan jaga dia sampai napas kamu hilang dari Raga. Jangan pernah disia-siakan.” ucap Abah sambil menepuk bahu Cicil pelan.


Cicil tersentak saat mendengar perkataan mertuanya. Ditatapnya Riki yang detik ini sadar bahwa Cicil sedang menatapnya, juga. Senyuman Riki langsung berkembang saat menatap Cicil.


“Bah,” panggil Cicil pelan sambil menatap mata kelabu Abah.


“Terima kasih,” ucap Cicil sambil tersenyum manis.


“Buat?” tanya Abah bingung.


Cicil turun dari kursinya dan memeluk mertuanya itu cepat. “Terima kasih, terima kasih karena sudah mendidik dan membesarkan lelaki sesabar dan sebaik Riki Trina, Bah.”


Abah tersenyum mendengar perkataan Cicil, ada rasa bangga didirinya. Bukan perkara mudah untuk mengurus empat anak sekaligus. Capek bukan main, berkali-kali Abah ingin menyerah. Tapi, rasa tanggung jawab dan sayang pada anak-anaknya membuat Abah maju terus untuk mendidik dan merawat mereka semua. Semampunya dan seikhlasnya Abah.


“Sama-sama Cil,” ucap Abah sambil mengusap bahu Cicil pelan. “Terima kasih juga sudah merawat anak Abah.”


Cicil tersenyum pada mertuanya, Cicil bersyukur menemukan keluarga sebaik keluarga mertuanya. Keluarga yang mau menerima segala kekurangannya dan tidak memanfaatkan segala kelebihannya.


•••


Nama berjalan bersama Rozak, acara lamaran sudah selesai. Rombongan Rozak semuanya sudah pulang. Sedangkan, Rozak tetap disana dan bermaksud untuk mengantar Nama dan Islah pulang kerumahnya.


“Maafin Ayah yah, nggak usah didenger. Aku mau bikin acara privat party aja. Yang diundang yang kita kenal aja. Nggak usah mewah, yang penting aku nikahnya sama kamu bukan sama kebo.”


“Nyun, maaf nih. Akang mau nanya, kamu ada hubungan apa sih sama Kebo? Dari kemarin ngomongin itu kebo mulu. Kamu teh nge-fans sama kebo?” tanya Rozak.


Nama menatap Rozak sambil menahan tawanya, “Hahaha... canda ih, ya kali aku ngefans sama kebo. Nggak ada keuntungannya sama sekali, ya udah ganti gimana kalau pokcoy?”


“Naha jadi kana pokcoy?” tanya Rozak bingung.

__ADS_1


(Kenapa jadi ke Pokcoy?)


“Hahahha... udahlah, obrolan tidak berfaedah,” kekeh Nama.


Nama dan Rozak pun berjalan kearah mobil, saat sampai di dekat mobil. Langkah mereka terhenti, mereka kaget dengan seseorang yang berdiri di dekat mobil Nama.


“Kamu ngapain disini?” tanya Nama.


••••


Ngapain hei, kamu ngapain disini?


Siapa ayo itu? Tebak-tebakkan hayo, hahaha...


Buat semuanya, yang mau masuk gc gallon bisa yah. Tinggal jawab ketiga pertanyaannya dibawah ini :




Nama kucing cicil?




Nama dukun Edy?




Nama Tunangan Rozak?





Tulis jawabannya saat mau masuk kedalam GC 👆🏻👆🏻👆🏻👆🏻👆🏻👆🏻 seperti diatas yah, jangan di kolom komentar.


Terima kasih yang sudah memberi bunga, kopi dan menekan tombol likenya.


Yang belum, masih aku tunggu ❤️.


Oh jangan lupa tingalkan jejak kalian di kolom komment. Terima kasih.


Xoxo Gallon.

__ADS_1


__ADS_2