Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Namanya siapa?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Riki berjuang untuk tidak tertawa melihat ekspressi Cicil yang dari tadi menekuk bibirnya kebawah. Cicil benar-benar kesal dengan penjelasan dan larangan dari dokter kandungannya.


“Aa, kayanya dokternya sensi ke aku deh,” tebak Cicil.


Riki yang sedang menyupir mobil hanya bisa memahan tawanya dan menggelengkan kepalanya.


“Ih ... kamu tuh yah, malah geleng-geleng mulu,” ucap Cicil kesal sambil memukul bahu Riki.


Riki malah dengan sengaja menggeleng-gelengkan kepalanya, apalagi bertepatan dengan lampu merah. Dengan jahilnya Riki menggeleng-gelengkan kepalanya kearah Cicil sambil membulatkan matanya.


“Apa sih ah, rese kamu tuh. Hahaha ....” Cicil tertawa sambil memukuli bahu Riki dengan keras. “Aku lagi kesel ini.”


Puk ....


Riki memukul pelan paha Cicil pelan dan mengosok-gosok telapak tangannya di sana. “Neng, sabar semuanya ada waktunya.”


Cicil mengerucutkan bibirnya kesal, dengan cepat disilangkan tangannya di dada. “Tau ah, nyebelin.”


“Hahaha ... gini deh, kalau udah empat puluh hari kita jalan-jalan gimana? Yang deket aja, seharian gitu. Bayi keju kita titip ke Taca atau kita bawa aja,” bujuk Riki sambil melirik bayi keju di belakang yang sedang tidur di kursi khusus bayi.


Cicil benar-benar menolak menggendong bayi keju di dalam mobil, demi keamanan Cicil memaksa Riki untuk memasang kursi khusus bayi di mobilnya. Dia selalu bilang beli mobil mahal bisa, masa beli kursi khusus anak demi keselamatan anak nggak bisa.


“Eh ... bener?” Wajah Cicil langsung merona, senyumannya langsung ceria saat mendengar perkataan Riki.


“Iya tapi, nggak usah jauh-jauh yah.”


“Hmm ... iya nggak papa nggak udah jauh-jauh, stay location di hotel aja nggak papa. Yang penting ada kasurnya,” ucap Cicil sambil menepuk kedua tangannya di dada.


“Terserahlah, terserah kamu Neng,” kekeh Riki sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pusing dia memikirkan kelakuan istrinya yang aneh ini. Mesum tanpa batas.


“Asik, aku mau nyiapin semuanya.” Cicil langsung mengambil handphonenya dan mengutak atik sesuatu di layar handphonenya dan tidak lagi memperhatikan Riki dan keadaan sekitarnya.


Riki hanya bisa tersenyum melihat kelakuan istrinya itu. Wanita yang sudah dinikahinya selama satu tahun lebih ini benar-benar sudah mewarnai hidupnya. Pait, manis, asem, asin udah mereka lewatin bersama dan Riki bersyukur dia masih bertahan bersama Cicil. Bersama jodohnya.


Jodoh itu jorok, saat dirinya menyukai Cicil dan membawanya mengenalkan ke kelurganya. Taca paling pertama yang mempertanyakan kewarasannya, Taca dengan cepat menceritakan semua kelakuan Cicil dan semuanya nggak ada yang baik. Riki mundur perlahan tapi ....


Riki menatap wanita yang sudah menjadi istri itu, Cicil tampak cantik dan bercahaya sambil mengoceh masalah apa yang akan dia lakukan saat stay location nanti. Wanita yang menurut semua orang galak, judes, menyebalkan, dan gampangan karena mau tidur dengan siapapun juga. Sampai orang-orang menyayangkan dirinya yang menikah dengan Cicil.


Detik ini Riki bersyukur dia menikahi Cicil, wanita yanh sudah memberikannya seorang anak laki-laki. Bayi keju yang sampai detik ini belum memiliki nama, karena lebih asik membahas tentang puasa empat puluh hari Cicil daripada nama anak mereka.


“Neng ....”


Cicil langsung mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya dan menatap manik mata Riki sambil tersenyum manis, cahaya matahari senja mempercantik wajah Cicil. Cicil dan matahari senja adalah perpaduan yang sempurna.


“Apa, mau nambahin gaya buat nanti kita transfusi darah putih?” tanya Cicil penuh semangat.


Riki langsung membulatkan matanya mendengar perkataan Cicil, “Neng, astaga pikiran kamu tuh yah, erotis mulu.”


“Biarin, apa-apa mau apa?” tanya Cicil.


Saat ini masih lampu merah dan Riki yakin lampu merah ini masih lama, disandarkannya kepalanya ke stir mobil dan menatap Cicil dengan tatapan teduh. Tatapan yang membuat Cicil jatuh hati.


“Neng,” panggil Riki lagi.

__ADS_1


“Iya kenapa?” tanya Cicil sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Riki sampai hanya berjarak beberapa inci saja mungkin bibir mereka sudah bertautan.


“Kamu cantik.”


“Baru tau?” tanya Cicil sambil mengusap bibirnya ke bibir Riki. Menggodanya.


“Kamu bidadari Aa, jangan tinggalin Aa, yah,” ucap Riki sambil mengusap pipi Cicil pelan.


“Nggak akan pernah, Sayang.” Cicil langsung menautkan bibirnya, mengicip bibir lembut milik Riki.


Teeeettttt ....


“Maju woi,” terdengar teriakkan di belakang mobil Riki.


Cicil dan Riki mengurai ciumannya dan saling tatap, “Eh ... maju cepet,”’ucap Cicil.


“Iya maju,” kekeh Riki sambil memajukan mobilnya meninggalkan mobil dibelakangnya yang murka karena terkena lampu merah lagi.


•••


“Selamat atas kelahirannya.”


Teriakkan terdengar nyaring saat Cicil membuka pintu dan mendapati keluarganya di sana. Ruangan di hias sebegitu meriahnya, hingga membuat Cicil tersenyum penuh haru.


Riki yang sedang menggendong bayi keju hanya bisa menahan badan Cicil yang tiba-tiba mundur kebelakang karena bahagia. “Hati-hati Neng.”


“Eh ... iya maaf,” ucap Cicil sambil mengecup pipi Riki.


“Haduh, ini anak Abah hobi bener dikecupin ama bininya,” ledek Abah sambil berjalan sambil menggerakkan tangannya ke udara seperti penari kecak.


“Ish, tarian selamat datang ini tuh buat cucu laki-laki Abah,” ucap Abah sambil mengambil bayi keju yang sedang digendong Riki.


“Astaga, Abah.” Riki hanya bisa pasrah saat bayi keju di ambil oleh Abah.


“Hei ... ganteng, alah idungnya kaya Riki ini mah. Mirip nenek kamu, kaya perosotan TK,” ucap Abah.


“Iyah, mirip Ambu,” kenang Riki, hidungnya memang mirip dengan almarhun Ambu.


“Eh ... Ambu idungnya kaya Aa?” tanya Taca yang tidak pernah mengenal sosok Ibunya sama sekali.


“Iya mirip banget,” ucap Riki sambil mengusap kepala Taca dan memeluk adik terkecilnya itu.


“Ah aku nggak pernah ketemu,” ucap Taca lirih.


“Neng,” panggil Abah pada Taca, “inget Ambu nggak pernah ada maksud ninggalin kamu. Ambu itu sayang sama kamu.”


“Iya, Bah,” jawab Taca sambil berusaha tersenyum senang.


“Hei, gantian dong. Saya juga mau gendong cucu saya,” ucap Jeff dari belakang tubuh Abah.


“Eh, nggak bisa saya dulu. Nggak liat itu idungnya kaya anak saya,” ucap Abah sambil memeluk bayi Keju.


“Eh, yang ngelahirin anak saya. Nggak liat mata ama kulitnya kaya anak saya, sini saya gendong dulu. Cucu saya ini,” ucap Jeff sambil mencoba mengambil bayi keju dari pangkuan Abah dengan paksa.

__ADS_1


“Aduh, Papih pelan-pelan masih rapuh itu,” pekik Rea yang stress melihat cucu pertamanya digendong dengan kasar dan beringas oleh Jeff.


“Eh ... kamu, kakek tua lepas. Saya mau gendong cucu saya,” ucap Jeff sambil membulatkan matanya pada Abah.


“Eh, ini juga cucu saya.”


“Tapi, anak saya yang ngelahirinnya,” ucap Jeff sambil mendorong tangan Abah jauh-jauh dari bayi keju.


“Eh ... sekata-kata kamu yah, Jeff bouw. Denger tanpa kelincahan benih anak saya, nggak mungkin anak kamu bisa hamil. Sumbangsih anak saya lebih tinggi tau,” ucap Abah tidak terima Riki di remehkan dalam pemberian sumbangsih untuk pembentukkan bayi keju.


“Eh ... nggak bisa ini cucu saya pokoknya,” ucap Jeff yang memang sudah sangat mendambakan cucu, ditambah Cucunya saat ini berjenis kelamin laki-laki makin bahagia dirinya.


“Eh ... bagi dua,” ucap Abah.


“Hah? Dibagi dua gimana?” tanya Cicil dan Rea panik, ketakutan bayi keju akan dibelah dua.


“Gantian gitu,” ucap Abah kesal.


“Nggak ini cucu aku,” ucap Jeff.


“Eh ...”


“Astaga ... Abah, nih udah Abah gendong ini aja,” ucap Taca sambil menyerahkan Kafta. “Sama cucu Abah juga, kalau masih kurang nanti Taca bikinin lagi, sok mau berapa.”


“Eh ... udah kamu mah jangan beranak lagi, udah stop. Abah pusing nanti liatnya, kaya anak kucing aja nanti,” tolak Abah sambil menggendong Kafta.


“Nggak papa, aku siap kok Bah, mau berapa?” tanya Adipati yang tiba-tiba muncul dibelakang Taca dan mengedipkan matanya pada Abah.


“Ah ... bule mesum, edyan. Terserah lah, pokoknya itu cucu Abah juga,” ucap Abah kesal.


“Iya, semuanya cucu Abah. Semuanya, tinggal Rozak yang belum kasih Cucu,” ucap Riki sambil menunjuk Rozak dan Nama yang asik menonton perkelahian Abah dan Jeff.


“Alah biarin aja Rozak mah, pusing mikiran nana,” kekeh Abah sambil duduk di kursinya.


“Eh ini namanya siapa?” tanya Rea sambil menunjuk bayi keju.


“Eh nama?” tanya Cicil bingung.


“Iya namanya siapa, Cil. Ini bayi harus kamu kasih nama,” ucap Rea sambil menatap Cicil, “astaga ... jangan bilang kamu sampai lupa mikirin nama anak kamu!?”


“Kok Mamih tau?” tanya Cicil takut-takut.


“Astaga Cicil!?”


•••


Hahahahaaa ... namanya sape?


Dah tau Cicil lemot kalau udah dalam kondisi genting wkwkkw


Next bab yah namanya 😍❤️


Eh, jangan lupa bunga, kopi dan votenya. Yang udah ngasih hatur nuhun yah 😘

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2