Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Assalamualaikum ...


__ADS_3

“Eh ... jadi kalian nggak akan nikah dipestain?” tanya Cicil kaget saat mendengar penjelasan Rozak dan Nama yang datang ke tempat Cicil untuk mengabari kalau Nama sudah bisa mendapatkan wali hakim.


“Iya, Cil—“


“Teh Cicil,” potong Riki sambil menaikkan alisnya sebelah ke arah Nama.


“Teh Cicil?” tanya Nama bingung.


“Kamu mau nikah sama Rozak ‘kan? Nah Cicil itu Kakak Ipar kamu, mulai sekarang panggil dia Teh Cicil,” ucap Riki.


“Nggak papa Aa, panggil Cicil aja. Adipati juga manggil aku Cicil,” ucap Cicil.


“Nanti aku suruh dia manggil kamu Teh Cicil,” ucap Riki sambil mengambil buku di hadapannya.


“Beneran? Kamu bakal suruh si sialan itu manggil aku Teh Cicil? Ah ... suruh dia manggil aku Kak Cicil kayanya lebih baik.” Tawa renyah langsung terdengar dari Cicil, rasanya menyenangkan meminta Adipati memanggilnya Kaka atau Teh. Kepuasan terdendiri mendengar Adipati mengatakan hal itu.


“Iya nanti aku suruh dia panggil kamu itu, kenapa seneng banget kamu?” tanya Riki aneh melihat reaksi Cicil yang tampak sangat-sangat bahagia.


“Iyalah, si Adipati sialan itu ‘kan paling nggak mau manggil orang lain Kaka, Juan aja nggak pernah mau dia panggil Abang padahal umurnya beda delapan tahun sama dia.” Cicil tersenyum pada Riki, “kalau kamu bisa nyuruh dia manggil aku Kaka itu keren, nanti aku panggil dia de Adipati.”


“Iya nanti aku suruh dia panggil kamu Kaka, biar kamu bahagia,” ucap Riki sambil tersenyum pada Cicil dan mengacak pucuk rambut Cicil. Membahagiakan istrinya ini benar-benar sederhana.


“Bagus, eh ... balik lagi ke nikahan kalian, kalian beneran mau nikah biasa aja di KUA gitu?” tanya Cicil penasaran. Yah, walaupun pernikahan Cicil dan Riki jauh dari kata sempurna, karena mengandung unsur pemaksaan yang haqiqi dari Cicil. Tapi, Cicil nggak mau bisa Adik iparnya ini menikah hanya ala kadarnya.


“Iya, gitu aja. Uangnya mau kita pake buat bangun rumah,” ucap Nama dengan mata berbinar.


“Rumah? Kamu punya rumah?” tanya Cicil pada Rozak yang sedang membuka koaci.


“Punya Teh Cicil,” ucap Rozak sambil menatap Riki menahan tawanya karena ini pertama kalinya Riki protes istrinya tidak dipanggil Teteh oleh dirinya, Taca dan Adipati. Riki langsung memelototkan matanya pada Rozak.


“Di mana?” tanya Cicil penasaran, Cicil tidak terlalu peduli dengan panggilan Teteh yang Rozak sematkan di depan namanya. Sesungguhnya Cicil tidak peduli dengan tittle di depan namanya.


“Adalah, rumahnya juga nggak gede tipe 36,” ucap Rozak santai. Dia membeli rumah itu dengan cara dicicil, setiap bulan bank akan memotong gajinya.


“Ah tipe assalamualaikum?” ucap Cicil.


“Hah?” ucap Riki, Rozak dan Nama berbarengan, tipe rumah macam apa sampai ada tipe assalamualaikum.


“Tipe apaan?” tanya Riki.

__ADS_1


“Teh Cicil ngaco,” ucap Nama sambil menatap Rozak meminta kejelasan tipe rumah yang telah Rozak beli untuk dirinya dan hanya dijawab dengan mengangkat kedua bahunya bingung.


“Iya tipe Assalamualaikum,” ucap Cicil sambil menatal Riki, Rozak dan Nama bergantian. “Masa nggak tau sih.”


“Nggak tau, Neng. Seumur hidup Aa hidup belum pernah Aa denger rumah tipe Assalamualaikum. Islami sekali itu tipe rumahnya,” ucap Riki sambil menggaruk kepalanya bingung.


“Hahaha ... bukan ih, maksudnya tipe Assamualaikum itu, saking kecilnya rumahnya. Jadi, kalau ada orang di luar rumah teriak Assalamualaikum orang di dalam rumah bahkan di bagian belakang rumah juga bisa denger suara salamnya,” teranh Cicil sambil menahan tawanya. Penjelasan absurd memang tapi, Mamih Rea sering berkata kalau rumah kecil itu tipe Assalamualaikum.


“Astaga Neng, itu mah kamu ngehina sayangku,” ucap Riki sambil mencengkram paha Cicil geram. Cicil hanya bisa tertawa pelan.


“Nggak aku nggak ngehina ih, Mamih aku suka bilang gitu. Tapi, selamat yah Rozak, Nama kalian punya rumah. Tempat berlindung, moga rumah itu penuh dengan ke bahagian buat kalian,” ucap Cicil tulus.


“Happy for both off you, (bahagia untuk kalian berdua). Tadi, cuman candaan yah,” ucap Cicil sambil beranjak dari duduknya dan memeluk Nama yang dari tadi hanya bisa tersenyum mendengar guyonan Cicil.


“Iya, nanti kalau kerumah kita teriak assalamualaikumnya yang keras yah, karena aku mau nyuruh Kang Rozak pasang peredam suara,” kekeh Nama.


“Hahaha ... bener pasang peredam suara di bagian kamar utama, biar kamu bisa teriak-teriak tiap malem,” ucap Cicil sambil menegedipkan matanya pada Rozak dan dijawab senyuman tengil dari adik iparnya itu.


“Jadi, sebenernya kita kesini mau minta izin buat bikin acara makan-makan buat setelah nikahnya di sini. Boleh nggak? Jadi kaya resepsi kecil-kecilannya di restoran Aa,” ucap Rozak yang akhirnya memberitahukan maksud dan tujuannya untuk datang ketempat Riki, selain mengabarkan kalau Nama sudah mendapatkan wali hakim.


Riki menatap Rozak bingung, Riki tau kalau rumah makannya itu lumayan besar dan mampu menampung seratus orang. Ada halaman yang luas di belakang dan berbagai tempat yang memang dipakai untuk spot photo-photo. “Beneran? Belum pernah ada yang nikah di tempat ini loh.”


“Eh ... bener juga Aa, bisa loh kamu jadi nawarin venue buat acara nikahan yang emang cuman mau ngundang seratus orang aja. Ide bagus Zak,” ucap Cicil kagum dengan pintarnya Rozak menangkap peluan usaha.


“Iya sih. Tapi, kalian yakin? Nggak mau di hotel aja, kalau soal biaya Aa bi—“


“Nggak usah, udah sederhana aja emang kita mau lebih intim aja,” tolak Nama cepat, dia tau Rozak paling tidak mau dibantu dalam hal finansial.


Cicil langsung menggelengkan kepalanya pada Riki, saat Riki akan mendebat Nama. Riki langsung mengurungkan niatnya. Mengerti.


“Ya udah, mau kapan nikahnya? Biar Aa bikin pengumuman Restoran ditutup,” ucap Riki mengalah dengan keinginan Nama dan Rozak.


“Besok?” goda Cicil


“Nggaklah, belum siap semuanya Teteh,” ucap Nama bingung, bisa apa nikah tanpa persiapan apapun.


“Hahaha ... aku sangka mau nikah besok, kaya aku dulu ama Aa Riki. Nikahnya kaya dikejar setan,” kenang Cicil.


“Iya nyusahin beneran, ampe-ampe disangka Cicil hamil duluan. Saking kaya dikejar setan nikahnya,” kekeh Rozak mengingat betapa aneh dan absurdnya cara Cicil dan Riki nikah.

__ADS_1


“Abis Kakak kamu itu susah diajak nikah, ada aja alesannya. Kan aku kesel yah, ya udah biar cepet aku jebak aja, paksa nikah,” kekeh Cicil.


Riki hanya bisa menghembuskan napasnya, kelakuan dirinya dulu benar-benar patut di tertawakan. Seperti orang bodoh kabur-kaburan mencoba meninggalkan dan melarikan diri dari jerat cinta seorang Cicil Bouw. Padahal Cicil dengan tangan terbuka akan selalu ada di sampingnya dan memeluknya. Bodoh memang Riki terlalu pengecut untuk menyadari itu semuanya.


“Maaf atuh, Neng,” ucap Riki manja membuat Rozak, Nama dan Cicil tertawa.


“Udah kembali ke topik, ngobrol sama kalian tuh ngolor ngidul tau nggak,” kekeh Nama sambil mengusap air mata di ujung matanya karena tertawa.


“Iya udah mau kapan nikahnya?” tanya Cicil.


“Hmm ... mungkin sebulan lagi gimana?” tanya Rozak pada Nama yang langsung dijawab anggukkan oleh Nama.


“Ya udah, nanti Cicil urus semuanya. Pokoknya kalian udah nggak usah mikirin dekor, venue dan lain-lain,” ucap Cicil sambil tersenyum penuh rahasia pada Nama dan Rozak.


“Kalian tinggal bayar makanannya aja,” ucap Riki, “dan nggak ada harga sodara, bikin bangkrut nanti.”


“Pelit,” ucap Rozak.


“Bodo amat,” jawab Riki sambil menahan tawanya.


Tok ... tok ...


Suara ketukkan menghentikan pembicaraan mereka semua. Dengan cepat Cicil beranjak dan membuka pintu.


“Iya?” ucap Cicil yang membuka pintunya dan mendapati seorang wanita di hadapannya.


“Cicil ... huaaa ....”


•••


Sape pula yang nangis, woi ... sape lo?


Hahaha ....


Maaf yah kemarin nggak update, Gallon lelah. Lelah mengurus kehidupan dunia persilatan 🤣.


Pokoknya tetap semangat mengawali hari semuanya. Jangan lupa bunga, kopi dan votenya


Luv ...

__ADS_1


XOXO GALLON yang Hobi Kellon


__ADS_2