
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Riki yang sedang sendirian di ruang kerjanya menatap surat perjanjian asli dan surat perjanjian buatan yang seminggu lalu berhasil mereka dapatkan. Mata Riki menari-nari di antara huruf-huruf didepannya.
Riki menyimpan berkas tersebut dimeja yang ada didepannya. Albert benar-benar berjuang untuk mendapatkan kembali Cicil. Ancaman yang diberikan Albert, benar-benar Albert lakukan. Albert sama sekali tidak memasok apapun ke restorannya, sedangkan kerestoran lainnya Albert memasok ayam dan daging kualitas terbaiknya.
Riki awalnya ketar ketir. Namun, Edy mendapatkan solusi, mereka akhirnya mengambil semua daging dari peternak lokal yang ada di pasar-pasar. Pemilik peternakan itu adalah fans berat channel Edy HIGHUP, jadi dia mau memberikan diskon.
Riki langsung menyenderkan badannya ke sandaran sofa miliknya. Astaga berpacaran dengan Cicil benar-benar menguras tenaga, Cicilnya dan dirinya sudah sama-sama nyaman, tapi masalah datang dari luar, Albert dan keluarga Cicil benar-benar membuat Riki pusing.
Riki mendorong tasnya kepinggir, tanpa sadar ada yanh terjatuh dari dalam rangselnya. Sebuah amplop coklat, Riki mengambilnya, Riki ingat betul itu adalah salah satu amplop yang Riki ambil dari brangkas Albert. Riki mengambil amplop ini karena melihat photo Cicil.
Dibukanya amplop coklat tersebut kemudian dikeluarkan semua isinya di meja kerja Riki, awalnya Riki sama sekali tidak sadar photo apa yang ada dihadapannya sampai...
Deg...
‘Astaga, apa-apaan ini?’ batin Riki didalam hati, ini apa?
Tangan Riki bergetar hebat, kepalanya seperti di pukul oleh martil yang sangat besar. Pusing dan sesak yang Riki rasakan saat ini, amarah benar-benar bergemuruh didadanya. Albert benar-benar nggak punya otak, biadap satu kata itu yang bisa Riki katakan untuk Albert.
Riki mengambil kembali amplop di meja kemudian mengoyang-goyangkannya, tiba-tiba keluar flashdisk dari dalam amplop. Riki memutar-mutar flasdisk tersebut ditangannya. Riki gamang.
“Apa yang kamu simpan didalam ini?” tanya Riki pada flashdisk ditangannya.
Tidak mau mati penasaran, Riki mengambil laptop di meja kerjanya, dihubungkannya flashdisk tersebut ke dalam laptop.
Setelah terhubung, Riki mulai mengutak ngatik laptopnya. Matanya menatap semua file disana. Terdapat dua file dengan dua tanggal yang berbeda.
Riki mengambil gelas disampingnya sebelum mengklik salah satu video yang ada, saat di play terdapat video seperti video CCTV, Riki menontonnya dan....
Prang....
Gelas di tangan Riki jatuh berkeping-keping ke lantai. Napas Riki memburu, kedua tangan Riki langsung mencengkram layar laptop miliknya sampai buku-buku tangannya memutih.
“BANGSAT...!!”
Brak....
Riki melempar laptop ke dinding, napas Riki memburu.
“AHHHH....”
__ADS_1
Saking marahnya Riki berteriak sangat-sangat keras, saking kerasnya Cicil dan Edy yang ada di bawah mendengar teriakkan Riki.
“Cil, Riki kenapa?” tanya Edy yang sedang menghitung stock sayuran.
“Nggak tau,” jawab Cicil.
“Coba kamu kesana, Riki kalau teriak gitu ada yang dikeselin,” saran Edy sambil menunjuk ke arak kantor Riki.
Cicil menganggukkan kepalanya dan berjalan kearah kantor Riki, berharap kekasihnya baik-baik saja.
•••
“Aa... astaga Aa kenapa?” tanya Cicil saat memasuki kantor Riki.
Cicil melihat pecahan gelas, berkar-berkas, photo-photo berserakan dan yang lebih parah Cicil melihat laptop yang terbelah dua. Astaga kenapa Riki?
“Aa, kamu kenapa?” tanya Cicil sambil mendekati Riki yang sedang berdiri membelakangi dirinya.
“Kamu kenapa nggak lapor polisi, Neng?”
“Hah... apa?” Cicil menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Riki. “Apa yang harus dilaporin ke kantor polisi?”
Riki membalikkan badannya kemudian menyerahkan photo ketangan Cicil. Cicil yang kebingungan mengambil photo tersebut, Cicil kaget dengan photo di tangannya.
“Ini apa? Kamu dapet ini dari mana? Aa, kamu dapet ini dari mana? JAWAB....!” ujar Cicil panik sambil menatap Riki.
“Aa... kamu dapet ini dari mana?” ulang Cicil lagi, badan Cicil bergetar hebat, dengan cepat ingatannya akan penyiksaan yang Albert lakukan saat Cicil ulang tahun dulu, kembali berkecambuk.
“Neng, itu kamu bukan?” bentak Riki sambil menunjuk photo di tangan Cicil.
“Aa kamu....”
“Jawab CICIL BOUW...!”
“Iya, ini aku ini aku, Aa. Maaf,” jerit Cicil sambil mengusap air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya.
Bug...
Seperti ada batang pohon besar yang menghantam dada Riki, walau Riki sudah tau dengan pasti itu adalah Cicil. Tapi, mendengarkan pengakuannya langsung dari Cicil benar-benar pukulan telak untuk Riki.
“Astaga Neng,” teriak Riki sambil menarik Cicil kedalam pelukkannya, diciumnya pucuk kepala Cicil.
Cicil menjerit keras sambil menjatuhkan photo ditangannya. Jeritan Cicil terdengar pilu dan pedih, rasa malu benar-benar menghantam Cicil, Cicil tidak pernah merasakan perasaan malu sama sekali dengan aktivitas sexsu*lnya. Tapi, saat ini rasanya dia ingin mengutuki semua kelakuannya dulu, kenapa dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Hidup diluar negeri bukanlah alasan untuk dirinya hidup secara bebas. Banyak sahabat-sahabatnya di Belgia yang menjaga kegadisannya sampai menikah. Tapi, dia dengan bodohnya memberikan kegadisannya pada orang lain, bukan pada lelaki dihadapannya yang sudah sangat berlapang dada mau menerimanya.
“Maaf Aa, maaf...”
“Neng astaga, kenapa bisa kaya gitu? Kamu diapain sama Albert sampai badan kamu jadi kaya gitu?” tanya Riki sambil melepaskan pelukkannya kemudian menyentuh kedua pipi Cicil dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Neng....”
“Jawab Neng, Aa mending dengar dari mulut Neng daripada dari orang lain, Neng diapain sama Albert?”
Cicil melepaskan pelukkan Riki kemudian berjalan kearah kasur dan duduk disana sambil menatap Riki. Cicil berusaha menenangkan dirinya, menormalkan detak jantungnya yang berdentam-dentam tak karu-karuan.
“Aa, itu kejadia pas Neng ulang tahun kemarin, kejadiannya....”
Cicil menceritakan semuanya dari awal. Dari pesta yang dibuatkan oleh Albert, kado dari Juan, permintaan Albert untuk membuang kado dari Juan. Pemukulan bahkan pemerkosaan yang Albert lakukan pada Cicil. Kelakuan Albert yang menghapus semua barang bukti dan mengancam assisten rumah tangganya dan satpam penthousenya.
Perbuatan Albert setelah kejadian itu, semuanya Cicil katakan tidak ada yang Cicil tutup-tutupi, Cicil merasa sudah basah mending mandi sekalian.
Riki hanya bisa diam menatap manik mata coklat Cicil. Rasanya Riki ingin mendatangi Albert dan membunuhnya, laki-laki macam apa yang dengan santainya memukuli perempuan. Lebih parahnya perempuan yang sangat Riki cintai.
“Aa, Itu ceritanya, kalau Aa nanya kenapa Neng nggak lapor polisi, jawabannya Albert itu manipulatif. Papih aku aja lebih percaya omongan Albert daripada aku. Sedangkan, aku nggak punya bukti sama sekali. Makanya aku tanya Aa, Aa dapet ini semua dari mana? Ini tuh bukti yang aku cari selama ini,” ujar Cicil sambil menunjuk photo-photo yang berserakan dihadapannya.
“Aa dapet dari brangkas Albert kemarin, Aa ambil aja, ternyata itu yah photo-photo penyiksaan kamu,” ujar Riki sambil memunguti satu persatu photo yang berserakkan di lantai.
“Aa maafin Neng, Neng nggak bisa jaga diri,” ujar Cicil sambil mengusap air mata yang sudah dengan suksesnya mengalir dari kedua matanya.
Riki menghentikan gerakkannya dan berjalan mendekati Cicil.
“Yang salah Albert, bukan kamu, Neng,” ujar Riki sambil mengusap pipi Cicil pelan. “Kamu sekarang maunya gimana? Lapor polisi?”
“Jangan, mending Aa simpen dulu ini semua. Suatu hari nanti kita bakal butuh ini.”
“Neng....”
“Aa, Neng belum sanggup kalau lapor ke polisi, Neng malu, mental Neng belum mampu buat menghadapi itu semuanya, maaf,” isak Cicil lagi.
Cicil belum mau seluruh dunia tau bahwa seorang Cicil Bouw, anak pengusaha sukses di Belgia diperkosa dan disiksa di dalam penthousenya sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana nyinyirnya bibir netizen diluar sana? Cicil nggak sanggup menghadapi semuanya.
Riki tersadar apa yang dikatakan Cicil benar, kebanyakan kasus seperti pemerkosaan akan sangat-sangat menyalahkan korban. Mulai dari pakaian dan gaya hidup korban akan di telusuri, Riki nggak akan tega melihat Cicil di bully satu Indonesia.
Riki nggak sanggup.
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1