
Terdapat adegan kekerasan dan 18+,
mohon kebijakan saat membacanya.
Kalau tidak suka harap Dm atau hubungi kaka gallon.
Instagram : storyby_gallon
fb : Storyby Gallon
email: storybygallon@gmail.com
Jangan asal report, mari bicarakan baik-baik..
Ciao
•••
“Albert!?” Cicil spontan menutup pintu kamar hotelnya dengan cepat, berharap bisa kabur sejauh-jauhnya dari Albert. Sayangnya Albert lebih cepat dari Cicil, dengan santainya Albert mendorong pintu kamar hotel dengan sebelah tangannya.
Brak...
Pintu kamar hotel membentur dinding disampingnya, Cicil langsung berlari dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur bermaksud mengambil handphonennya di atas nakas yang ada didekat kasur. Dengan cepat Cicil menarik kabel pengisi daya miliknya dan mencari nomer telepon suaminya.
“Baby, sayang. Kamu nggak kangen aku?” tanya Albert sambil berjalan pelan kearah Cicil.
Cicil bergidik saat mendengar suara Albert, rasanya dia ingin memuntahkan semua isi perutnya saat mendengar suara Albert. Rasanya dia ingin menendang lelaki itu.
“Ngapain kamu disini? Ngapain?” tanya Cicil sambil mendorong tubuhnya ke arah headboard kasur.
Albert duduk didekat kaki Cicil, mendekatkan wajahnya di wajah Cicil. Wangi tubuh Cicil yang sangat Albert rindukan benar-benar membuat Albert hampir lepas kendali. Albert rindu Cicil.
“Aku kangen, Baby. Kamu nggak kangen aku?” tanya Albert sambil menyentuh pipi Cicil.
Badan Cicil langsung bergetar hebat saat mendengar pertanyaan Albert. Cuman orang gila yang kangen dijadikan samsak hidup. “Jangan pegang aku.”
Cicil menepis tangan Albert kesal dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya berusaha untuk menelepon Riki, entah benar atau tidak dia memencet tombol layar Handphoennya. Cicil panik.
“Baby, udah yah. Udah kabur-kaburannya, pulang sekarang. I miss you, Baby.” Albert mengendus bagian leher Cicil, tangannya merengkuh badan Cicil, menariknya lebih dekat.
Spontan Cicil meronta-ronta, dengan keras Cicil mendorong badan Albert. “Lepas, Albert. Aku istri orang...!?”
Mendengar kata-kata Cicil Albert langsung tersulut emosinya, dengan cepat dia mencengkram bagian tulang rahang Cicil dan mendorongnya ke headboar.
Dug...
Terdengar suara kepala Cicil yang terbentur headboar, Albert membenturkan kepala Cicil dengan sangat-sangat keras, saking kerasnya Cicil langsung merasakan pusing di kepalanya.
“Albert sakit,” bisi Cicil pelan sambil menahan napasnya. Rahang yang dicengkram Albert benar-benar membuat Cicil ngilu bukan main. Sakit.
__ADS_1
“Tapi, nggak sesakit aku pas liat kamu nikah sama Riki. Kenapa, kamu nikah sama Riki?” tanya Albert sambil mengelus paha bagian dalam Cicil.
“Sinting kamu, aku nikah sama Riki karena aku cinta sama dia. Aku sayang sama dia,” ucap Cicil sambil menahan tangan Albert yang makin naik ke atas berusaha untuk menjangkau bagian pribadinya.
“Bohong, kamu bohong, Baby,” bisik Albert di kuping Cicil. Cicil mendorong badan Albert.
“Bohong gimana? Aku cinta Riki, AKU CINTA RI....”
PLAK...
Albert menampar Cicil keras, badan Cicil langsung terhempas ke kasur. Tangan Cicil langsung dipiting ke belakang oleh Albert. Tanpa ampun Albert langsung menindih badan Cicil dengan badannya.
Bobot tubub Albert yang dua kali lipat dari badan Cicil, membuat Cicil menjerit keras. “Berat, sakit Albert...!”
“Bilang sekali lagi kamu cinta lelaki miskin itu, Baby. Bilang!?” tangang Albert.
“Aku cinta suami aku, aku cinta Rik...”
Dug...
Albert memukul bagian kepala Cicil, rasa pusing langsung menghantam Cicil. Albert benar-benar akan memukulinya. Cicil meronta, menggerakkan semua bagian di tubuhnya, berusaha untuk lepas dari pitingan Albert.
Albert langsung menarik rambut Cicil dari belakang, saking kuatnya tarikan Albert, kepala Cicil sampai terangkat. Air mata di sudut mata Cicil langsung mengalir karena menahan sakit.
“Sakit Albert...!?”
“Aaa...” Cicil menjerit kesakitan karena Albert mencubit bagian pucuk bukit kembarnya dengan keras. Perih.
Albert dengan cepat menelusupkan lidahnya kedalam mulut Cicil, membelit lidah Cicil. Cicil berontak, tangannya mendorong-dorong badan Albert. Dengan kesal Cicil memukuli dan menendang Albert. nihil, Albert malah dengan liarnya menelusupkan jari-jarinya kedalam bagian pribadinya.
Mata Cicil membulat sempurna, saat merasakan dimana jari-jari Albert berada. Rasa bersalah dan tidak ikhlas ada yang menyentuh bagian pribadinya kecuali Riki, langsung membuat Cicil mengigit lidah Albert dengan keras.
“DAMN...!?” teriak Albert sambil mendorong Cicil dan melonggarkan cengkramannya. Cicil yang merasa mendapatkan kesempatan langsung menendang badan Albert sekeras mungkin.
Albert terjengkang ke belakang, pantat Albert langsung mengenai lantai marmer hotel yang dingin. “Cicil Connor...!?”
Mendengar namanya di sebut dengan nama kelurga Albert, membuat Cicil merasa kesal. Sejak kapan nama keluarganya menjadi Connor. Tidak ada dalam bayangannya menikah dengan Albert. “Sinting, nama aku Cicil Bouw atau kalau kamu mau, panggil aku Cicil Trina...!?”
Cicil langsung melemparkan vas bunga ke arah Albert, sayangnya Vas bunga itu tidak mengenai Albert.
“Baby...!? Kamu benar-benar butuh didisplinkan,” teriak Albert sambil berdiri dan mengejar Cicil yang sudah berlari keluar kamar. “Sini kamu...!?”
Cicil berlari keluar kamar sambil berlari dia berusaha untuk menelepon Riki, sambil sesekali melihat ke belakang.
Tut... tut....
Riki sama sekali tidak mengangkat teleponnya, rasanya Cicil ingin mengutuki suaminya itu. Cicil yang tidak tau harus kemana, berlari melewati lorong-lorong yang berliku di hadapannya. Cicil berusah untuk mencari seseorang di sana. Nihin, tidak ada satu manusia pun. Cicil baru ingat, hotel yang Cicil tempati saat ini adalah hotel yang memberikan ketenangan dan private place.
“Baby, come back here..!?”
__ADS_1
Terdengar suara Albert dibelakang Cicil. Arghh... cuman orang gila yang ingin kembali ke tangan seorang Psikopat gila seperti Albert.
Cicil berpikir cepat, dia harus sembunyi, tapi dimana? Di edarkannya pandangannya ke seluruh penjuru. Cicil memaksa otaknya untuk bekerja dengan sangat cepat.
“Berpikir Cicil..!” peritah Cicil pada dirinya sendiri. Cicil langsung melihat semak-semak dihadapannya. Cicil dengan cepat melompat ke balik semak-semak disana. Berjongkok dan mengecilkan badannya sekecil mungkin, menutup mulutnya dengan kedua tangannya supaya tidak mengeluarkan suara sama sekali.
“Baby,” panggil Albert, Albert detik ini sedang berdiri di belakang Cicil, badan Cicil yang tertutup semal-semak membuat Albert tidak dapat melihat Cicil sama sekali.
Suara langkah Albert yang terdengar sedang hilir mudik, karena mencari Cicil benar-benar membuat Cicil makin menekan mulutnya, Cicil menahan napasnya.
Deg... Deg... Deg...
Jantung Cicil berdetak dengan sangat-sangat cepat. Air mata Cicil tiba-tiba mengalir dari pelupuk matanya. Ketegangan benar-benar Cicil rasakan. Saat Cicil menolehkan kepalanya, Cicil langsunh terkesiap saat melihat sepatu milik Albert disampingnya.
Cicil menahan napasnya, sampai rasanya paru-paru Cicil akan meledak karena kekurangan oksigen. Tapi, Cicil tidak perduli. Dia harus menahan napasnya, dia tidak mau tertangkap.
“Baby, dimana kamu?” ucap Albert sambil mengusap-ngusap bagian belakang rambutnya. Seandainya dia tadi mengikat Cicil, mungkin Cicil tidak bisa kabur dan detik ini mungkin dia sedang menikmati tubuh Cicil.
Cicil menundukkan kepalanya, ketakutan dan rasa tegang benar-benar membuat Cicil hampir muntah. Cicil takut...!?
“Aa... kamu dimana Aa? Aa...” pikir Cicil di dalam hati, dia butuh suaminya sekarang. Tolong..!?
TRING.... TRING... TRINGG....
Terdengar suara handphone Cicil, suaranya yang nyaring membuat Albert mengalihkan pandangannya dan mencari sumber suaranya.
Cicil langsung panik, dengan cepat Cicil mengangkat teleponnya. Ternyata yang meneleponnya adalah Riki.
“Aa...”
“Neng kenapa, Ini Aa mau pulang, kenapa sayang?”
“Aa...” Cicil menghentikan perkataannya saat merasakan ada tangan yang memeluknya dari belakang dan hembusan napas di telinga bagian kanannya.
“Baby, Do you wanna play?”
(Sayang, kamu mau bermain?)
“No...” bisik Cicil pelan sambil membulatkan matanya ketakutan.
Dengan cepat Albert menarik rambut Cicil dan menyeretnya keluar dari dalam semak-semak. Hentakkan dari tarikan Albert membuat Cicil berdiri dari duduknya dan menjatuhkan handphoennya.
Dengan sekali angkat Albert menggendong Cicil seperti mengangkat karung beras. Cicil yang kaget hanya bisa terdiam dan berteriak keras.
“AA TOLONG...!?”
•••
XOXO GALLON.
__ADS_1