
Sementara pasangan Riki dan Cicil akan pulang ke Jakarta. Di Jakarta sendiri Albert sudah duduk manis di ruangan kantor polisi. Jantungnya sedang menari-nari saking pusingnya, setelah mendengar nama Juan Wijaya.
Kepalanya tiba-tiba sakit. Kenapa disaat seperti ini dia harus berurusan dengan Juan Wijaya. Sialnya dia tidak bisa menggali informasi apapun tentang seberapa dekat Jun Wijaya dengan kelurga Riki. Argh... bodoh kenapa dia kemarin ingin memperkosa Kharis. Andai dia tidak melakukannya mungkin detik ini dia bisa menyuruhnya. Sekaranh, Albert benar-benar tidak memiliki assisten sama sekali.
“Pak Albert, sepertinya kami tidak bisa membantu Bapak,” ucap salah satu pengacara yang dia sewa.
Albert tersentak kaget saat mendengar perkataan mereka. “Kenapa? Ini masalah mudahkan. Semua sudah diatasi, polisi pun sudah di bungkam dengan uang.”
Pengacara dihadapan Albert langsung mengenunjukkan uang yang tadinya diberikan pada pihak kepolisian. “Mereka menolak, kasus ini sudah terlalu viral.”
“Viral gimana? Kemarin masih bisa di redam.” Albert benar-benar tidak percaya dengan perkataan pengacaranya itu. Seingatnya live instagram Kharis bisa diredam dengan cepat oleh pihak pengacaranya. Albert diatas angin.
“Itu memang sudah di redam. Kharis hanya memiliki pengikut yang sedikit. Tapi, orang ini....”
Albert langsung melihat layar tablet yang diberikan pada pengacaranya, matanya langsung tertuju pada Laura dan seorang lelaki berwajah lele. Mereka berdua sedang mewawancarai Kharis.
Dari percakapannya, Albert mendengar Kharis mengungkapkan semuanya. Wanita jalang sialan itu sekarang sudah membuat ulah. Benar-benar harus didisiplinkan wanita jalang itu.
“Ini semua bisa diredam, bilang itu semua bohong....” Albert menghentikan perkataannya saat melihat video dirinya menyiksa Cicil di hari ulang tahunnya, photo-photo dirinya menyeret Cicil di hotel.
“Ini nggak bisa di bungkam Pak Albert. Anda bisa di deportasi..!?”
“Dapat dari mana dia?” tanya Albert berang sambil berdiri dari kursinya.
“Saya tidak tau dapat dari mana. Tapi, nenek-nenenk umur 95 tahun penderita katarak akut pun tau kalau ini anda,” ucap pengacaranya lagi.
“Ini gila, nggak mungkin saya harus masuk penjara. Saya ini bangsawan, keluarga saya punya gelar di Inggris,” ucap Albert sambil menunjuk dadanya.
“Pak Albert cara satu-satunya mengakui kesalahan dan meminta maaf pada masyarakat dan korban. Mengakui kesalahan akan meringankan hukuman anda,” saran pengacara itu lagi sambil menatap Albert. Ini kasus sudah viral, cuman itu cara satu-satunya. Ditambah, sudah banyak LSM pembela hak kaum wanita yang turut campur.
“Jangan bikin saya ketawa, masa saya masuk penjara hanya karena hal ini. Saya nggak mau, dengar saya bayar kalian buat bisa membebaskan saya. Bukan malah menjerumuskan saya, buat apa saya bayar kalian mahal?” bentak Albert sambil menggebrak meja dengan sangat-sangat keras. Pengacara sampai meringgis saat mendengar gebrakkan Albert.
“Albert ini satu-satunya cara. Tapi, nanti kami pikirkan lagi, masalahnya sudah ada LSM besar yang memantau masalah ini,” ucap pengacara Albert yang bernama Susanto.
“Lsm? Gimana caranya LSM bisa ikut campur. Seingat saya Cicil, Kharis bahkan Riki itu tidak pernah berhubungan dengan LSM manapun,” ucap Albert bingung. Sejak kapan Cicil berurusan dengan LSM, apalagi LSM pembela kaum wanita, kalau dengan model papan atas atau Ivan Gunawan, Tex Saverio, Yosep Sinudarsono dan designer papan atas lainnya, Cicil pasti kenal. Lah ini dengan LSM mana pernah Cicil kenalan.
Susanto mengeluarkan gambar seorang wanita bertubuh tambun namun tampak cantik mengenakan pakaian formal. “Namanya ibu Tutti, panjangannya Tutti Frutty, dia yang paling lantang menyeruakan penghukuman Anda. Sampai detik ini Ibu itu masih berorasi di luar kantor polisi.”
“Tutti... Tutti what?” Albert langsung pusing saat mendengar nama yang disebutkan oleh Susanto.
“Iya Pak, Tutti Frutty,” ucap Susanto berjuang untuk menahan tawanya. Orang tua macam apa yang menamai anaknya Tutty Frutty.
“Aku masuk penjara cuman karena wanita bernama Tutty Frutty?” desis Albert sambil melemparkan kertas photo dihadapannya.
“Iya....”
Susanto langsung menghentikan perkataannya saat melihat delikkan Albert. Albert benar-benar murka. Saat Albert hampir berteriak dan mencaci datanglah seseorang dari balik pintu.
__ADS_1
“Hai Connor, lama nggak ketemu?”
Albert langsung berdiri dan memperbaikki kemejanya. Albert tidak pernah mau kalah didepan lelaki ini. “Juan Wijaya, sudah pulang dari Hongkong?”
Albert mengangkat tangannya bermaksud untuk menjabat tangannya dengan Juan. Tapi, Juan sama sekali tidak menyambutnya, dengan santai dia duduk di kursi yang ada disana.
“Silahkan duduk, Albert. Banyak yang harus kita bicarakan,” ucap Juan santai, dibelakangnya berdiri dua orang lelaki yang sudah dapat Albert pastikan salah satunya adalah sekertarisnya dan pengacara Juan.
“Duduk, Albert. Nggak papa kan kalau Saka sekertaris aku sama Pak Luhut pengacara aku ikut disini,” ucap Juan santai.
Si semprul di hadapan Albert ini benar-benar masih memiliki taringnya. Bertahun-tahun hidup di Hongkong malah makin membuat seorang Juan Wijaya di takuti.
“Kenapa pulang Juan?” tanya Albert basa basi busuk.
Juan tersenyum santai, “Istri saya kangen makan pecel lele. Jadi, saya pulang, ribet masalahnya kalau Istri saya ngambek,” jawab Juan.
Kepala Albert langsung sakit mendengar jawaban nyeleneh Juan. Entah jawabannya itu ngasal atau tidak. Tapi, peduli setan dengan jawaban Juan. Yang Albert penasaran adalah buat apa Juan kesini.
“Oke, di Hongkong usaha...”
“Usaha saya bagus, bisnis saya sama Adipati bagus. Cabang perusahaan E-commers kami di Singapura dan Hongkong makin pesat,” potong Juan santai.
“Kalau gitu, ngapain kamu pulang ke Indonesia? Ngurus perusahaan Ibu kamu?” tanya Albert pelan, dia benar-benar harus santai menanyakannya. Albert butuh suntikan dana dari Bank milik keluarga Juan. Kalau tidak ambruk usahanya.
“Iya, Ibu Liliana sudah memberikan usahanya pada saya. Mungkin saya harus balik ke sini, kenapa?” pancing Juan.
“Nggak, nggak papa. Cuman bingung gimana sama usaha kamu di Hongkong kalau kamu disini,” ucap Albert berjuang menyembunyikan rasa takutnya.
Albert langsung mengambil surat dihadapannya, matanya langsung membulat sempurna. Sialan, apa yang di katakan Jack ayahnya terjadi. Ditangannya detik ini sudah ada surat pembatalan perjanjian. Bank milik Juan membatalkan perjanjiannya.
“Kamu gila Juan, kamu mau batalin perjanjian? Kamu tau berapa kerugian bank anda dan bank saya?” bentak Albert sambil menatap Juan. Albert tidak bisa menahan emosinya lagi.
“Iya saya tau. Tapi, seingat saya kerugian akan banyak dipihak anda,” ucap Juan santai.
“Kenapa kamu ngelakuin ini Juan? Seingat saya, saya tidak pernah berurusan dengan keluarga Wijaya,” ucap Albert kesal.
Juan tersenyum kecil, “Kamu bikin masalah sama keluarga Trina.”
“Keluarga petani? Keluarga miskin itu? Apa juga urusan mereka dengan keluarga kamu?” tanya Albert bingung, siapa sebarnya Riki Trina ini.
“Selain kamu memperkosa mantan tunangan saya, yang sudah saya anggap adik saya sendiri.”
“Bullshit Juan, jangan bikin aku ketawa, kamu masih cinta Cicil kan?” tanya Albert berang, cuman orang gila yang tidak suka dengan Cicil.
Tawa Juan meledak, otak lelaki didepannya ini benar-benar kurang waras. Pantas saja Cicil berjuang mati-matian lari dari pelukkan Albert dan kembali ke pelukkan Riki. Ternyata, Albert kurang waras.
“No, saya cinta istri saya dan saya akan melakukan apapun juga untuk istri saya. Termasuk....”
__ADS_1
“Apa?” tanya Albert penasaran.
“Termasuk menyelamatkan Riki Trina, kakak angkat istri saya,” jawab Juan santai.
“What? Gimana maksudnya Riki Trina itu Kakak angkat istri kamu?” tanya Albert kaget.
Juan langsung berdiri dari duduknya, berjalan kearah pintu. “Kamu nggak usah tau terlalu dalam, Albert. Intinya, Riki trina adalah Kakak angkat istri saya, apa yang istri saya mau akan istri saya dapatkan. Detik ini, istri saya ingin Kakak angkatnya bahagia, maka dia mendapatkannya.”
Juan pergi meninggalkan Albert beserta pengacaranya.
Albert langsung menendang meja di hadapannya dengan sangat keras. Hancur, hancur sudah. Perusahaannya tanpa suntikkan dana dari Bank milik Juan, perusahaannya hancur. Hutang melilit perusahaannya, jalan satu-satunya adalah menjual perusahaannya.
Tiba-tiba Albert melihat beberapa orang polisi masuk kedalam ruangan. “Apa?”
“Pak Albert Connor, kami diminta untuk mengantar anda ke Rutan. Anda sudah ditetapkan menjadi tersangka dan anda saat ini harus berada di Rutan.”
“What? Jangan gila, gimana ceritanya saya jadi tersangka. Pak Susan...”
“Susanto, Susanto,” jawab Susanto membenarkan namanya.
“Terserahlah, ini gimana?” tanya Albert kesal sambil menunjuk kedua polisi didepannya. “Saya tidak mau masuk penjara...!?”
“Pak, lebih baik bapak ikuti dulu keinginan polisi, nanti kami yang urus. Tapi, untuk saat ini mending Bapak ikut dulu. Kami akan usahakan Bapak mendapatkan tahanan rumah,” bujuk Susanto.
“Saya nggak mau..!?”
“Maaf, Pak Albert saya harus paksa Bapak.” Polisi berkumis baplang langsung mengapit badan Albert. Menariknya untuk mengikuti dirinya.
“Saya nggak mau, saya ini turunan bangsawan,” ucap Albert lagi. “Susanto..!?”
“Iya, Pak nanti kami usahakan,” ucap Susanto sambil berlari mengejar Albert yang sudah ditarik oleh kedua polisi dihadapannya.
“SUSANTO....!?”
•••
Susan susan susan kalau gede mau jadi apa? Eh salah yah. Hahahaa...
Kurang yah Albertnya? Oke sip santai alon-alon, belum selesai penyiksaannya.
Mau nanya, ini Juan cukup segini aja atau butuh 2 bab ke bucinan Juan yang melagenda? Saking bucinnya Iis minta pecel lele aja langsung pulang wkwkkw...
Inget Tutti Frutti?
Jangan lupa disengol itu tombol like pake siku, kasian idung mulu bisa pesek yang ada wkwkwk...
Jangan sungkan memberikan Koin dan point juga vote untuk Kaka Gallon.
__ADS_1
Eh, kommen yang banyak. Asiknya diapain ini Pak Albertnya?
XOXO GALLON.