Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Pov Laura dan Edy


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Edy tak henti-hentinya berbicara mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Ranca Upas.


“Nanti kalau di sana kita nggak boleh lakuin yang aneh-aneh. Ngomong yang aneh-aneh,” ucap Edy sambil menyupir mobilnya.


Laura, Rozak, Riki, Nama dan Cicil hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Mereka sama sekali tidak akan bertanya dapet informasi dari mana hal itu. Karena sudah di pastikan kalau jawabannya adalah ….


“Kalian pokoknya harus nurut sama aku, nanti aku oles kalian pake asap minyak telon. Demi keamana dan kebaikkan bersama.” Edy berkata sambil memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia.


“Iya.”


“Ini semua adalah petuah dari —“


“Ki Brondong,” jawab Rozak, Riki, Cicil, Nama dan Laura berbarengan sambil menahan tawanya. Siapa lagi yang membuat Edy punya pemikiran absurd kalau bukan ki Brondong.


“Pinter,” ucap Edy sambil turun dari mobil.


Mereka akhirnya tiba di suatu tempat di daerah Ranca Upas. Suatu tempat yang dinamakan Bobobox cabin. Sebuat tempat tinggal dengan konsep tinggal di dalam cabin ditengah hutan.




Mereka akan tinggal di cabin tersebut selama dua hari satu malam. Mereka akan melengkapi liburan mereka di dalam kabin tersebut di temani udara dingin yang akan mampu membuat mereka meringkuk berjam-jam di bawah selimut. Tanpa keluar sama sekali.


Mereka langsung mendapatkan kode untuk membuka kunci cabin. Tanpa menunggu apapun lagi mereka langsung berlari ke kabin masing-masing meninggalkan Edy yang sedang mengambil asap minyak telon untuk dioleskan ke tubuh mereka untuk menghalau hantu.


“Laura, gue sayang ama lo. Tapi, gue lebih baik ke cabin duluan daripada gue di kasih asap minyak telon.” Cicil berkata sambil mengecup pipi Laura dan menatik Riki untuk meninggalkan Laura.


“Aku duluan yah,” ucap Rozak sambil tersenyum dan menarik tangan Nama dengan cepat. Karena dia pun tidak mau di beri asap minyak telon oleh seorang Edy.


Laura hanya bisa pasrah saat mereka semua meninggalkan dirinya menunggu suaminya yang ajaib membawa entah apapun yang harus dengan pasrah Laura terima. Menikahi lelaki seunik Edy benar-benar membuat Laura harus banyak pasrah.


Tak berapa lama Edy datang dengan membawa dupa yang dirinya gerak-gerakkan ke kanan dan kekiri. Kemudian menggerakkannya ke bagian atas, bawah, depan dan belakang sambil berkomat kamit entah bahasa apa yang Edy ucapkan.


“Kemana yang lain?” tanya Edy penasaran pergi kemana yang lainnya.


“Udah pergi ke kabin masing-masing.”

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Edy bingung, padahal tadi Edy sudah meminta mereka untuk menunggu dirinya di sana.


“Ya mungkin mereka dingin kali, nungguin kamu lama banget,” dusta Laura, Laura tidak mungkin berkata kalau mereka semua pergi melarikan dirinya agar tidak di asapi oleh sesuatu yang aneh milik Edy.


“Padahal aku cuman sebentar, gimana kalau mereka kerasukkan coba?” tanya Edy khawatir.


“Nggak bakal,” jawab Laura santai, astaga ini zaman apa sampai ada yang kerasukkan segala. Oh … jangan bilang Edy bawa botol untuk memasukkan hantu ke dalam botol. Jangan sampai suaminya ini tiba-tiba ingin jadi dukun seeprti Ki Brondong. Jangan sampai!?


“Tapi gimana kalau—“


“Nggak usah di urusin, Le. Udah ah, yuk kita ke kabin punya kita. Dingin ini, kamu nggak dingin apa?” tanya Laura sambil mengeratkan jaketnya untuk menutupi hawa dingin yang masuk kedalam tubuhnya.


Mendengar istrinya yang kedinginan, akhirnya Edy mengalah dan berjalan ke arah kabin milik mereka. Saat sedang berjalan ke arah kabin yang akan mereka tempati nanti. Edy melihat suatu danau dan perahu.


“Laura,” panggil Edy sambil menarik-narik tangan Laura seperti anak kecil yang menemukan makanan kegemarannya di supermarket.


“Apa, Le?” tanya Laura sambil menghentikan langkahnya dan menatap Edy. Laura tau Edy pasti menginginkan sesuatu, sesuatu yang tidak dapat Laura tolak.


“Itu … itu ….” Edy menunjuk perahu dengan suka cita. Sesekali Edy meloncat-loncat.


“Apa sih, Lele. Ih … kamu aneh, kamu nggak kerasukan kan?” tanya Laura sambil menatap Edy dari atas ke bawah dengan tatapan bingung.


“Hah? Kamu yakin aman?” tanya Laura.


Edy langsung berjalan mendekati perahu tersebut dan meneliti perahunya. Setelah merasa cukup aman akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan mengacungkan ke dua jempol tangannya ke arah Laura. “Aman, Laura.”


Laura hanya bisa menghela napasnya sambil menggeleng kepalanya pelan. Masih ada perasaan sangsi untuk naik ke dalam perahu tersebut. “Yakin?”


“Yakin, ayo … sini naik,” pinta Edy bersemangat sambil mendekati Laura dan menariknya ke arah perahu.


“Lele, denger yah. Kalau kita kecebur gimana? Ini dingin loh. Kalau kita tenggelam terus kena hypothermia gimana? Inget Le … rumah sakit jauh!?” ucap Laura mencoba mengingatkan Edy yang saat ini sudah berada di atas perahu dan menariknya untuk naik kedalam perahu juga.


“Nggak ayo … masuk sini ayo,” pinta Edy sambil menarik Laura dan menduduki Laura di bagian depan badannya.


Laura hanya bisa pasrah saat Edy mulai mendorong perahu menjauhi dermaga, berdoa moga tidak ada aligator atau buaya yang siap menggigit salah satu bagian bokongnya.


Setelah berada di tengah-tengah kolam Edy langsung memeluk Laura dari belakang dengan erat. Mengecupi bagian belakang kepalanya yang tidak tertutup kupluk.

__ADS_1


“Astaga kamu ngapain sih ngajak ke sini ka—“


“Liat, tuh.” Edy menunjuk serombongan kunang-kunang yang terbang berkelompok dan membuat Laura terkesiap melihat keindahan kunang-kunang yang tampak indah menerangi mereka di malam itu.


“Cantik,” ucap Laura sambil mencoba menggapai kunang-kunang tersebut. Berusaha menangkapnya namun gagal.


“Jangan di tangkap, kasian,” ucap Edy sambil mencium pipi Laura yang sedingin es batu karena suhu udara yang benar-benar dingin bukan main.


“Kenapa?”


“Walau cantik, waktu hidup kunang-kunang cuman dua bulan. Nggak lebih, jadi mending kita nikmatin aja keindahannya. Jangan diganggu,” pinta Edy sambil mengeratkan pelukkannya.


“Ah … kasian, kalau aku jadi kunang-kunang aku bakal cepet-cepet cari pasangan hidup secepat mungkin biar bisa lebih lama menikmati cinta dan kebahagiaan sama pasangan kita, Le,” ucap Laura sambil menepuk-nepuk paha Edy pelan.


“Kaya aku sama kamu?”


“Iya kaya kita,” ucap Laura sambil menolehkan kepalanya dan menatap Edy. “Walau kamu kadang bikin kepala aku pecah tapi, aku yakin kalau kamu aku tinggalin kepala aku lebih pecah lagi!?” kekeh Laura.


“Lah kenapa?” tanya Edy bingung.


“Kalau aku ninggalin kamu, kamu bakal tidur di depan pintu rumah aku sampai aku maafin kamu. Atau kamu bikin ulang dengan berbagai atraksi yang bikin kepala aku, Papih dan Mamih pecah. Aku yakin,” kekeh Laura.


“Kok tau.”


“Tau lah, aku bareng sama kamu bukan satu dua hari tau,” ucap Laura sambil menjawil hidung Edy.


“Hahahaaa astaga ketauan banget yah. Aku sayang banget sama kamu Laura. Sampai kapan pun. Kamu sayang aku?” tanya Edy.


Laura bergerak pelan dan mengubah posisinya sampai berhadapan dengan Edy. Mata mereka saling bertautan memancarkan perasaan cinta yang akan membuat semua manusia jomblo meronta-ronta resah dan gelisah.


“Iya Edy aku sayang kamu, tempat kamu itu—“


“Di mana?” Potong Edy penasaran.


“You belong here, Edy Edrosh. (Tempat kamu di sini)” bisik Laura di telinga Edy, satu kalimat sederhana dengan berjuta makna.


“You belong here.”

__ADS_1


••••


XOXO GALLON YANG HOBI KELLON


__ADS_2