Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Euforia


__ADS_3

“Ehem.”


Seketika itu juga Rozak menghentikkan aksinya untuk menautkan bibirnya dengan bibir ranum Nama yang sudah menggodanya dari tadi.


Nama dan Rozak pun langsung mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sedang batuk. Yang tak lain dan tak bukan adalah Islah, yang sedang menatap mereka dengan tatapan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


“Ibu,” bisik Rozak malu-malu sambil berdiri tegak dan menggaruk belakang kepalanya.


“Bisa jangan deket-deket dulu nggak, yah ngerti kok Ibu. Anak Ibu tuh gemesin dan cantik. Tapi, yah nggak di depan Ibu juga gitu, geli,” ucap Islah sambil tersenyum simpul sambil melihat Nama dan Rozak yang salah tingkah.


“Ibu, ih ... jangan gitu, aku nggak mau ngapa-ngapain kok,” ucap Nama sambil menyelipkan rambutnya ke balik telinganya. Berjuang untuk tidak terlihat salah tingkah.


“Iya, iya nggak ngapa-ngapain karena ada Ibu. Kalau ibu udah nggak ada gimana?” tanya Islah sambil terkekeh.


“Ibu, udah ah.” Nama berusah mengalihkan pembicaraan. Nama malu, wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


“Maaf, Bu ini jaketnya kalau mau,” ucap Rozak sambil menyerahkan jaket bersih miliknya kepada Islah.


“Aduh, kamu aja pake ini. Ibu pake selimut kamu aja, Nam.” ucap Islah sambil menyerahkan jaket milik Rozak dan mengambil selimut yang ada di bahu Nama.


“Eh iya, kenapa, Bu?” tanya Nama bingung.


“Nggak enak aja pake jaket calon suami kamu, mending pake selimut. Udah yuk, jadi kita ke hotel?” tanya Islah.


“Nggak usah ke hotel Bu, ke apartemen Rozak aja. Kalian bisa nginep di sana, Rozak tinggal nginep di tempat Taca atau Aa Riki.” Rozak berkata sambil menarik koper milik Islah.


“Lah, kok malah kamu yang keluar?” tanya Islah bingung.


“Nggak papa, sementara Ibu sama Nama tinggal di sana aja dulu. Aku mah gampang, tidur di mobil juga bisa,” jawab Rozak.


“Nggak ngerepotin Zak?” tanya Islah.


“Nggak, Bu. Itu juga apartemen cuman ada aku aja yang tinggal di sana. Semenjak nikah, Aa Riki pindah ke atas restorannya sama Cicil.”


“Beneran nggak papa?” tanya Islah, entah kenapa Islah merasa tidak enak.


“Iya, Bu nggak papa. Ayo, Bu,” ajak Rozak pada Islah dan Nama. Akhirnya Nama dan Islah akhirnya mengikuti Rozak.


Dengan cepat mereka masuk kedalam mobil dan pergi berlalu dari minimarket tersebut.


•••


“Bu, Ibu bisa tidur di kamar ini,” ucap Rozak sambil membuka pintu kamarnya.


Di dalam ruangan tersebut terdapat lemari, meja, kasur dan perlengkapan lainnya yang sangat-sangat simple dan maskulin. Rozak bersyukur dia selalu membersihkan kamarnya dengan baik dan menyembunyikan barang-barang terlarangnya dengan sangat-sangat baik.


“Iya, Ibu mau mandi dulu yah.” Islah pun berlalu meninggalkan Rozak dan Nama yang berdiri di dapur mini milik Rozak.


“Kang,” panggil Nama saat Islah hilang di kamar mandi.


“Ya,” jawab Rozak.


“Makasih yah, maaf nyusahin.” Nama berkata sambil tersenyum pada Rozak.


“Nggak papa,” ucap Rozak sambil berjalan ke dalam kamar dan keluar membawa satu buah bantal dan selimut.

__ADS_1


“Kamu mau apa?” tanya Nama.


“Tidurlah, aku tidur di sini kamu sama Ibu di kamar.” Rozak berkata sambil menunjuk kamar di sampingnya.


Nama tersenyum kemudian melirik ke pintu kamar mandi yang di dalamnya ada Ibunya. “Kang,” panggil Nama.


“Apa?” tanya Rozak bingung.


Nama langsung mengecup pipi Rozak cepat, “Makasih yah.”


Rozak tersenyum kemudian mengacak rambut Nama, “Sama-sama, Akang tidur duluan yah. Akang capek banget beneran ini, walau besok minggu tapi Akang nggak sanggup ini mau tidur aja.”


“Iya, tidur aja. Biar aku sama Ibu nggak papa, aku udah anggap rumah sendiri kok, kamu nggak perlu sungkan sama aku, Kang,” canda Nama sambil memukul pelan bahu Rozak.


“Astaga, dikasih hati minta jantung kamu, Nyun.”


“Tapi, suka ‘kan?” kekeh Nama sambil mencium pipi Rozak lagi dan berlalu dari sana.


Rozak hanya bisa mendengus pelan saat melihat Nama berlalu dari sana. Astaga, kekasihnya ini benar-benar membuat dirinya geram. Syukurlah ada Ibu di kamar mandi, kalau tidak ada sudah habis Nama oleh Rozak.


“Suka makanya aku mah sabar udah,” ucap Rozak sambil membentangkan selimutnya dan meringkuk di bawah selimut miliknya.


Hanya dalam hitungan jari, Rozak langsung tertidur. Tenggelam dalam mimpinya, mengistirahatkan lelahnya.


•••


Kuping Rozak mendengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sayup-sayup terdengar suara Islah dan Nama yang sedang berbincang-bincang.


Rozak yang masih setengah sadar hanya mendengar setengah dari percakapan yang ada. Rozak mendengar kalau Ibunya akan pergi kerumah temannya untuk bertanya mengenai pekerjaan. Sedangkan, Nama melarang Ibunya untuk bekerja karena Nama masih punya penghasilan.


Rozak baru bisa mengumpulkan semua nyawanya saat mendengar pintu apartemen di tutup dengan pelan oleh Ibu Islah. Rozak langsung terduduk dan mengerjapkan matanya.


“Ibu pergi, Nyun?” tanya Rozak pada Nama yang sedang mencuci piring dan membelakanginya.


“Eh, udah bangun Kang?” tanya Nama sambil tersenyum manis. Tampak Nama mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan menggunakan piayama.


“Udah, Ibu kemana?” tanya Rozak sambil berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya.


“Ibu ke rumah temennya, katanya mau nyari kerja padahal aku udah bilang sama Ibu buat nggak usah kerja. Aku masih sanggup dan mampu buat biayain hidup,” ucap Nama sambil membilas tangannya.


“Aku juga masih sanggup, Nyun,” ucap Rozak sambil mengambil air minum di kulkas dan meminumnya sampai tandas.


“Buat apa?” tanya Nama.


“Buat biayain kamu sama Ibu,” jawab Rozak, “aku masih punya gaji, nggak gede sih tau sendiri guru. Tapi, aku juga ada usaha beras sama Abah. Aku lebih dari mampu buat biayain hidup kamu, Nam,” ucap Rozak sambil menatap Nama.


Nama hanya tersenyum, “Iya tapi, Ibunya nggak mau. Dia mau berdiri di kakinya sendiri katanya. Gaya bener Ibu ....”


Nama terdiam saat melihat dada Rozak yang tampak memerah, “Ini kenapa?” tanya Nama sambil membuka sleting jaket Rozak.


“Apa?” Rozak menatap dadanya, “oh itu, kemarin ‘kan aku numpahin teh inget nggak? Yang waktu kamu telepon itu,” Rozak berkata sambil membuka jaketnya dan menunjukkan dadanya. Seketika itu juga Nama menahan napasnya.


Nama berjuang untuk menelan salivanya, pemandangan di depannya itu mampu membuat pikirannya melayang ke fantasi terliar milikinya. Seketika itu juga, ingatannya kembali pada kejadian di rumahnya, di mana dirinya dan Rozak melakukan perbuatan yang mampu membuat mulutnya mengeluarkan desahan demi desahan.


“Nyun,” panggil Rozak yang kesal dari tadi dirinya memanggil Nama tapi tidak digubris sama sekali. “Nyun.”

__ADS_1


“Ah.” Entah setan apa yang membuat Nama malah mengeluarkan desahan.


“Hei, kamu mikir ap—“


Perkataan Rozak terhenti saat Nama menautkan bibirnya, Nama membelitkan lidahnya dengan tergesah-gesah. Dijinjitkan kakinya hingga dirinya mampu menekan bibir Rozak dengan lebih leluasa.


“Astaga, Nyun. Kamu kenapa?” tanya Rozak bingung karena diserang oleh Nama.


Nama memundurkan badannya, “Astaga, maaf. Maaf, otak aku lagi nggak bener. Maaf, maaf Kang.”


Nama langsung berlari kekamarnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Astaga otaknya kenapa, kenapa tiba-tiba dia mencium Rozak.


“Aduh, Nama otak kamu kenapa?” rutuk Nama didalam hati. Saking bingungnya, Nama tidak sadar di belakangnya sudah berdiri Rozak.


“Kenapa, Nyun?” tanya Rozak.


Mendengar suara Rozak otomatis membuat Nama berbalik. Saat berbalik Nama kaget bukan main dan oleh.


“Kamu kenapa, sih?” tanya Rozak sambil menahan tubuh Nama yang hampir jatuh. Rozak mengeratkan pelukkannya, membuat bagian dada Nama menempel di dada Rozak.


“Nggak, papa. Aku cuman.” Nama menggantungkan ucapannya dan menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha menemukan alasan yang tepat. Tidak mungkin dia berteriak kalau detik ini hasratnya hampir meledak.


Rozak tersenyum, “Angkat kepala kamu.”


“Kenapa?” tanya Nama sambil mengangkat kepalanya.


Dengan cepat Rozak membuka kacamata Nama dan melemparkannya ke sembarang arah. Ditautkannya bibir mereka berdua, Rozak langsung mengelus punggung Nama dan menelusupkan tangannya ke bagian dalam piayama Nama.


Nama dengan cekatan mengalungkan tangannya di leher Rozak. “Akang,” pekik Nama saat merasa tubuhnya diangkat Rozak.


Rozak dengan cepat mendudukan Nama di pahanya, “Nyun aku nggak tau bisa naha atau nggak. Tapi, aku ingin.”


Nama tersenyum, “Kaya kemarin lagi?”


Rozak langsung membalas senyuman Nama dan dengan cepat mengesap bibir Nama, tangannya langsung menyusup ke balik piayama Nama dan mencengkram salah satu bukit kembar milik Nama. Desahan langsung meloncat dari mulut Nama.


“Akang,” desah Nama sambil membuka kemeja miliknya.


Seketika itu juga Rozak menelan salivanya, matanya tidak berkedip saat melihat bagian dada Nama. “Nyun.”


“Iya.”


“Cium Akang,” pinta Rozak.


Tanpa disuruh dua kali Nama langsung melabuhkan bibirnya ke bibir Rozak, meraup hangat dan manisnya bibir Rozak tanpa ampun. Hasrat Rozak makin memuncak, tangannya bergerak liat di bagian dada Nama.


Pinggul Nama bergerak, menggesek sesuatu yang keras di balik celana Rozak. Rozak mengerutukkan giginya, Nama benar-benar memiliki ritme yang membuat Rozak meledak.


“Nyun,” desah Rozak.


“Kang,” bisik Nama di telinga Rozak. Nama tersenggal saat merasakan kenikmatan yang terus mengguyur dirinya. Sampai akhirnya dirinya dan Rozak pun mendapatkan pelepasannya masing-masing. Tubuh Nama pun ambruk menimpa badan Rozak, mereka berdua hanya bisa terdiam menikmati euforia kecil yang baru saja mereka rasakan akibat perbuatan mereka. Euforia yang terlarang namun, memabukkan.


•••


Xoxo gallon.

__ADS_1


__ADS_2