Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Romantis itu manis


__ADS_3

“Kamu tuh yah, kebisaan,” ucap Rozak pada Nama yang asik mengunyah.


Nama menatap kekasihnya itu dengan tatapan jenaka, “Kenapa? Salah? Ada yang aneh?” tanya Nama.


Dengan cepat Rozak menatap Nama yang sedang asik mengunyah. “Nggak, nggak salah. Cuman bingung aja.”


Pisau juga garpu di tangan Nama tampak lincah memotong daging sedikit demi sedikit. Dengan asiknya Nama menyuapkan daging-daging tersebut kemulutnya yang mungil. Nama sama sekali tidak peduli dengan tatapan Rozak, hanya satu di otaknya saat ini, dia lapar.


“Apa?” tanya Nama akhirnya saat melihat tatapan Rozak yang tidak beralih dari wajahnya.


“Kamu sadar nggak sih?” tanya Rozak.


“Sadarlah, kalau nggak sadar tuh aku pingsan atau kesurupan,” canda Nama sambil menancapkan garpuhnya ke salah satu daging yang ada dihadapannya.


“Kamu sadar nggak? Dari tadi kamu tuh makananin makanan aku. Sedangkan, makanan kamu nggak kamu sentuh,” ucap Rozak sambil menunjuk tuna salad milik Nama yang masih utuh.


Sebuah cengiran langsung terbit di wajah Nama. Nama tau bahwa dirinya sedang memakan makanan pesanan Rozak dan tidak melirik tuna salad pesanannya. “Hehehe ... habis makanan kamu keliatannya lebih enak.”


“Ya kalau lebih enak, Nyun. Kenapa, kamu nggak pesen makanan yang sama?” tanya Rozak gemas.


“Aku ‘kan diet,” jawab Nama sambil mengigit garpuhnya.


“Astaga, kalau diet yah dimakan tuna saladnya. Bukan, steak Akang, Nyun.” Rozak berkata sambil menggelengkan kepalanya bingung.


“Hehehe ... tukeran makanan yah, kamu makan salad aku makan steak. Nggak papa kan?” tanya Nama manja.


Rozak menatap salad di hadapannya, rasanya dia ingin menangis melihatnya. Dia lapar dan detik ini dia harus memakan daun-daunan itu, oke dia memang orang sunda asli yang tersohor mampu memakan dedaunan. Tapi, Rozak lapar ya ampun kalaupun dia harus makan daun, harus ada nasi hangat dan ayam juga sambel ulek plus pete. Ah, kenikmatan duniawi.


“Nyun, aku mau pesen lagi aja, panggilin si Manda,” pinta Rozak pada Nama.


“Eh, terus ini saladnya gimana?” tanya Nama pada Rozak. “Nanti, saladanya nangis loh, kamu nggak kasian Kang?”


“Nyun, Akang cuman mau nanya. Kamu nggak kasian sama Akang?”


“Kenapa?” tanya Nama polos.


“Akang teh lapar, belum makan dari siang. Kenapa, kamu malah kasih Akang dedaunan?” tanya Rozak sambil menatap tuna salad dihadapannya, “Kamu mah tega sama Akang.”


“Bukannya orang Sunda sukanya makan sayur mayur?” tanya Nama sambil menusuk beberapa lembar sayuran di garpuhnya kemudian menyuapi Rozak.


Rozak dengan patuh membuka mulutnya dan mengunyah salada bercampur tomat dengan kesal. “Tapi, orang Sunda juga makannya pake nasi dan ayam goreng, Nyun.”


“Ya udah, nanti aku tambahin.” Nama langsung bangkit dari duduknya untuk mencari Manda dan meminta makanan yang diinginkan Rozak.


Rozak dengan cepat menyuapkan daging steak yang tersisa di piring miliknya. Dia benar-benar butuh asupan makanan.


“Kang, aku udah pesenin makanan buat kamu. Kamu mau ayam sama nasi dan ....”

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Rozak polos.


“Daging aku mana?” pekik Nama sambil duduk di samping Rozak dan melirik Rozak kesal.


“Tadi, ada tikus yang ambil,” canda Rozak.


“Oh, tikusnya gede pake baju item, kemeja coklat. Hobinya ngegerayangin aku, hah?” tanya Nama sambil mengerucutkan bibirnya dan mengembungkan pipinya.


Rozak hampir tersedak daging yang masih ada di dalam mulutnya saat mendengar perkataan Nama. “Astaga, Nyun. Ngambek gitu doang, kan nanti ada ayam juga.”


“Taulah, tikus nyebelin,” ucap Nama sambil melepaskan kacamatanya dan mengelap kacanya dengan menggunakan kaos miliknya.


“Ngembek kamu, Nyun?” tanya Rozak sambil menarik badan Nama mendekati tubuhnya.


“Iya,” jawab Nama ketus. Namun, pasrah saat badannya ditarik mendekat oleh Rozak.


Saat sedang kesal dengan Rozak, Nama tiba-tiba kaget saat lampu menggelap dan tiba-tiba alunan home music berubah menjadi lebih lembut.


“Kenapa?” tanya Nama bingung.


“Nggak tau,” ucap Rozak sambil menatap sekelilingnya.


Tiba-tiba di depan mereka ada sepasang wanita dan pria. Pria tersebut tampak berlutut sambil menyerahkan bunga camalia berwarna merah, putih dan pink.


“Ngapain itu, Kang?” tanya Nama penasaran.


“Nggak tau, liat aja dulu, Nyun. Kamu mau liat lebih jelas nggak?” tanya Rozak yang langsung dijawab anggukkan oleh Nama.


“Keliatan?” tanya Rozak memastikan Nama bisa melihat semuanya dengan jelas.


“Iya, keliatan. Eh unyu banget cowonya kayanya mau nembak atau ngajak nikah,” ucap Nama sambil memanjangkan lehernya agar bisa melihat lebih jelas lagi.


“Oh yah?” tanya Rozak sambil mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. “Mereka ngapain lagi?”


“Shutt diem nggak kedengeran,” ucap Nama kesal. “Kamu diem dulu.”


Tangan nama berusaha menggapai mulut Rozak, memberikan tanda agar Rozak menutup mulutnya. “Nggak kedengeran ini.”


Rozak langsung mengigit jari telunjuk Nama kesal. Nama spontan melirik Rozak dengan kesal, “Astaga sakit Kang.”


“Limianty, kita ini udah pacaran dua tahun. Aku merasa udah sewajarnya aku mengatakan ini sama kamu. Kamu mau nggak nikah sama aku?” tanya lelaki itu sambil menyodorkan buket bunga camalia yang sangat cantik.


“Aw ... so sweet, Kang bunganya bagus banget,” ucap Nama sambil menatap kedua pasangan tersebut dengan tatapan mendamba.


“Jako, maafin aku. Aku nggak bisa nikah sama kamu, maaf yah,” tolak Limianty sambil menggelengkan kepalanya.


“Eh, kok ditolak?” tanya Nama bingung saat mendengar penolakkan wanita bernama Limianty.

__ADS_1


“Kasian yah, Nyun.”


“Iya, ya ampun malu banget itu pasti,” Nama menatap pasangan tersebut.


“Kalau aku yang lamar kamu lagi pake cincin, ditolak juga nggak?” tanya Rozak pada Nama.


Nama yang masih asik melihat kedua pasangan tersebut, tidak memperhatikan apa yang dilakukan Rozak di bagian belakangnya. “Apa sih, Kang. Ngaco deh, kan katanya kamu nggak mau ngelamar aku lagi.”


Nama yang masih fokus kepada lelaki yang ditolak itu, kaget saat lelaki tersebut berjalan mendekati dirinya. Mata Nama membulat saat lelaki tersebut menyerahkan buket bunga camalia ke arah Rozak yang ada di belakangnya.


Saat Nama berbalik dirinya kaget saat melihat Rozak sedang memegang sebuah cincin berwarna putih yang tampak cantik. Cincin sederhana namun menarik.


Tiba-tiba lampu di cafe mati total dan berganti dengan lampu-lampu cantik berwarna kuning. Suasana berubah syahdu, alunan musik pun terdengar sangat pelan dan membangun suasana romantis. Nama benar-benar kaget dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


“Jadi, Akang mau kabulin keinginan kamu. Maaf Akang nggak bisa ngajak kamu skydiving, aku juga nggak bisa ngajak kamu berlibur di tujuh negara. Akang cuman bisa kaya gini, seadanya tanpa ada yang terlalu mewah. Akang cuman pria sederhana yang ingin membahagiakan kamu.”


Mata nama tampak berkaca-kaca mendengar perkataan Rozak. “Kang.”


“Purnama Iswanti, kamu mau nikah sama Akang?” tanya Rozak sambil menyelipkan cincin berwarna silver tersebut ke jari manis Nama.


“Akang sampai kapan mau ngajak aku nikah terus?” tanya Nama sambil menatap jari jemarinya yang akhirnya berhiaskan cincin cantik berwarna silver.


“Sampai kamu muak, Nyun.” Rozak berkata sambil memeluk Nama. “Jawabannya?”


“Astaga kamu udah minta aku ke orang tua aku loh, ini harusnya kamu tanya sebelum kamu minta ke orang tua aku. Kalau gini kaya muter-muter tau,” ucap Nama sambil terkekeh.


“Kan, kamu yang mau. Waktu di rumah sakit kamu minta aku bikin acara lamaran yang romantis.” Rozak mencoba mengingatkan Nama.


Nama hanya bisa terkekeh mengingat apa yang Nama minta di Rumah sakit kemarin. “Iya, aku sangka nggak akan di realisasikan.”


“Hahaha, apa yang kamu mau bakal kamu dapet, Nama. Aku yang bakal pastiin itu semua,” ucap Rozak.


“Hahaha ... makasih,” ucap Nama sambil mengusap air mata bahagia yang turun ke pipinya.


“Hei, jawab pertanyaannya. Jadi, jawabannya apa?” tanya Rozak.


Nama tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Rozak. “Kamu udah tau jawabannya, Kang Rozak Trina.”


“Apa? Jawab yang keras,” pinta Rozak sambil melepaskan pelukkannya dan menatap Nama.


“Iya, Nama mau Kang!”


••••


Muter yeh, biarin lah. Kita kasih yang manis dulu sebelum perang baratayudha wkwkkwkw....


Hai sekarang hari selasa, masih ada vote sisa? Point dan koin yang banyak dan bejibun? Bingung mau di kemanain? Gampang silahkan berikan pada novel Mr. and Mrs. Trina. Novel berkualitas yang mampu membuat anda tertawa, nangis, dan bengek. Tak percaya? Nggak papa, karena percaya itu pada Tuhan, bukan pada Gallon seperti saya 🤣🤣🤣

__ADS_1


Ps: koment ama like, lewat aja lo, ah. Sambit nih. Wkwkkw


XOXO GALLON


__ADS_2