Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Buat kamu...


__ADS_3

“Aku mau kamu jadi iman aku Rozak Trina.”


Rozak seperti tersetrum saat Nama mengatakan itu. Semburat senyum langsung merekah di wajah Rozak.


“Kang,” panggil Nama malu-malu sambil menarik-narik lengan baju Rozak. Nama mengangkat wajahnya dan menatap Rozak, wajah Nama berubah merah, semerah kepiting rebus.


Rozak hampir tertawa melihat wajah Nama yang memerah, gadis dihadapannya ini benar-benar menggemaskan. “Apa?”


“Jawab.”


“Jawab apa?” goda Rozak, rasanya Rozak ingin melihat wajah menggemaskan Nama lebih lama lagi.


“Ih... jawab pertanyaan aku.”


“Yang mana?” tanya Rozak.


“Ah... kamu tuh, nggak suka ah. Jawab ih,” ucap Nama sambil mencubit perut Rozak keras.


“Aw... aw... sakit, Nyun.” Rozak mengaduh sambil mengusap perut bagian kirinya.


“Makanya jawab, aku malu ini.”


“Malu kenapa?”


Nama menatap Rozak dengan tatapan ‘yang-benar-saja’.


“Udahlah, aku mau nikah sama kebo aja,” jawab Nama.


“Hahaha... kebonya nggak mau sama kamu, Nyun.”


“Kenapa?” tanya Nama sambil mengusap air matanya yang berangsur-angsur mengering. “saking jeleknya muka aku, sampe kebo nggak mau sama aku?”


“Bisa jad—“


Bug...


Nama memukul bahu Rozak keras, dikerucutkannga bibirnya saking kesalnya. “Rese.”


“Haha... kebonya takut ama aku, masalahnya aku yang mau ngawinin kamu.” Rozak berkata sambil memeluk Nama. “Aku mau nikahin kamu, Nam.”


Nama langsung menelusupkan kepalanya di ceruk leher Rozak. Menghirup sebanyak-banyaknya, wangi Rozak. Wangi kesukaannya.


“Nanti anterin aku ijin ke Ayah, yah.” Nama berkata sambil mengeratkan pelukkannya.


“Iya, nanti Akang anterin, kemanapun selama kamu nikahnya sama Akang. Bukan sama kebo.”


“Hilih, ngaco.” Nama berkata sambil memukul punggung Rozak pelan.


Rozak tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam saku celanannya. Dengan tangan kirinya Rozak langsung mengangkat gantungan kunci berbentuk telur berwarna pink.


“Apa ini?” tanya Nama sambil menatap gantungan kunci berbentuk telur.


“Ini namanya gantungan kunci alarm.”


“Bua apa?” tanya Nama bingung.


“Buat kamu, jadi nanti kalau ada apa-apa.” Rozak menyimpan gantungan kunci itu ditangan Nama. “kamu tinggal tekan tombol ini, nanti alatnya bu—“


Wiu wiu wiu


Alat tersebut terdengar sangat nyaring, suaranya benar-benar sangat keras dan memekakkan telinga Nama dan Rozak. Rozak dengan cepat mematikan kembali alarmnya.


“Berisik banget Kang.”


“Iya, kaya kamu berisik banget,” kekeh Rozak.


“Ih, kok malah ngehina.”


“Hahaha, ya udah jangan marah. Ini kamu pegang, nanti kalau ada apa-apa pokoknya kamu teken aja tombolnya.”

__ADS_1


“Terus kalau aku teken tombolnya, fungsinya apa?” tanya Nama bingung. “Nggak ada faedahnya.”


“Kalau kamu pencet ini, aku bakal tau itu kamu. Aku bakal dateng dan nyelamatin kamu.”


“Hilih, geli ah denger kata-katanya, udah kaya sinetron channel ikan terbang aja kata-katanya, Kang,” kekeh Nama sambil menggenggam gantingan kunci tersebut di tangan kanannya.


“Kenyataannya gitu, gimana dong?” ucap Rozak sambil mengusap pipi Nama.


“Nyun.”


“Apa?”


“Aku ada permintaan.” Rozak berkata sambil mengelus-elus bibir Nama yang tipis.


Nama hanya bisa menghela napasnya pelan, sudah tidak perlu kekasihnya ini ungkapkan apa yang diinginkannya. Nama sudah tau pasti apa yang diinginkan oleh Rozak.


“Apa?” tanya Nama pura-pura tidak tahu.


“Aku mau gigit bibir ....”


Nama dengan cepat menempelkan bibirnya ke bibir Rozak, mengecupnya dan mengemut pelan bibir bagian bawah Rozak, mencicipi manisnya bibir Rozak menjadi kenikmatan dan sensasi sendiri bagi Nama.


Rozak langsung mengeratkan pelukkannya, menekan setiap inci ditubuhnya ke tubuh Nama. Mencoba untuk meleburkan tubuhnya dengan tubuh Nama, menjadikannya satu.


Nama mengurai ciumannya, dengan napas tersenggal Nama menatap netra mata Rozak.


“Kok udah?” goda Rozak.


“Hah?”


“Kok udah selesai ini?” tanya Rozak.


“Napas, Kang.” Nama berkata sambil tersenyum dan kembali mencium bibir tipis Rozak yang dengan sigap menerima kecupan demi kecupan yang diberikan Nama.


•••


“Makasih, yah,” ucap Rozak pada pemilik Batting cage.


“Apa sih lo, senyum-senyum?” tanya Rozak.


“Kagak, cuman mau bilang cantik juga pacar lo.”


Rozak melihat Nama yang sedang asik melihat berbagai macam tongkat baseball. Mulut Nama tampak bergerak-gerak pelan saat melihat pemukul bola baseball. Melihat bibir Nama membuat Rozak menahan hasratnya sendiri, bibir Nama benar-benar mampu membuat pikiran Rozak berkelana di rimba kemesuman miliknya.


“Dia bukan pacar gue,” ucap Rozak.


“Cakep, minta nomer teleponnya,” ucap Pemilik batting cage sambil mengedipkan salah satu matanya pada


“Matamu!?” ucap Rozak.


“Lah, katanya bukan pacar lo, bolehlah kasih gue. Gue udah jomblo dari semenjak lahir.” Pemilik batting bat itu langsung memberikan senyuman terbaiknya pada Nama.


Nama yang tidak tau apa yang dibicarakan oleh Rozak dan lelaki yang sedang tersenyum padanya hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan sopan dan menyelipkan rambutnya ke telinga kanannya.


“Aduh, makjan... cantik kali itu gadis, sudahlah. Kasih aku cepat itu nomernya,” logat batak langsung terdengar jelas dari mulut pemilik batting cage.


“Nggak,” jawab Rozak.


“Pelit kali, kasihlah nomernya. Abang pinginlah kali-kali pacaran sama cewe berkacamata kaya gitu,” ucapnya lagi sambil menatap Nama yang sedang memperbaikki letak kacamatanya. “aduh, manis kali. Itu bibirnya mungil, kalau dikecup ah....”


“Bang, itu bukan pacar saya....”


“Makanya, kasihlah nomer handphonennya.”


“Dia istri saya, Bang,” jawab Rozak sambil tersenyum pada pemilik batting bat.


“Eh... asem, aku sangka dia masih single. Ternyata udah double.”


“Udah ganda campuran dia mah,” canda Rozak sambil tersenyum.

__ADS_1


“Beruntung banget kamu punya istri cantik kaya gitu. Pake dukun mana?” tanya pemilik Batting Bat.


“Dukun Ki Dumang Brahamustika,” jawab Rozak ngasal sambil menepuk bahu pemilik batting bat, “duluan, maklum pengantin baru. Demennya kuda-kudaan.”


“Ah, makinlan aku ngenes jadi jomlo.”


Rozak hanya bisa terkekeh pelan sambil berjalan ke arah Nama.


“Kenapa?” Nama bertanya sambil menyelipkan anak-anak rambutnya ketelinganya.


“Nggak, nggak ada apa-apa. Pulang sekarang?” tanya Rozak.


“Iya, langsung pulang, yah,” pinta Nama.


“Pasti, kalau nggak langsung pulang aku takut kelepasan,” goda Rozak sambil mencolek bibir Nama.


“Kelepasan apaan?” tanya Nama.


“Kelepasan nyimpang ke hotel terdekat,” goda Rozak yang langsung mendapatkan pelototan maut dari Nama.


“Otak kamu tuh, mesum terus. Nggak kebayang nanti nikah kaya apa,” ucap Nama sambil mengelus keningnya.


“Nggak usah dibayangin.”


“Hilih, kalau nggak dibayangin terus diapain?” tanya Nama penasaran.


“Dijalani dengan ikhlas dan diresapi segala kenikmatannya,” kekeh Rozak sambil mengecup kilat bibir Nama.


“Astaga, Kang. Diliatin tukang parkir tuh,” ucap Nama sambil menunjuk tukang parkir yang sedang menghitung uang hasil kerjanya.


“Apaan, dia lagi ngitung uang, kok.” Rozak berkata sambil mencibirkan bibir bagian bawahnya.


Nama hanya bisa mendengus, “Mungkin tadi dia liat.”


“Nggak, mana ada dia liat.” Rozak berkata, “cepet masuk.”


Nama pun akhirnya masuk kedalam mobil dan duduk dengan manis di dalam mobil. Menutup pintu mobil Rozak, Nama tau kalau kaca mobil Rozak gelap, sehingga apapun aktivitas didalam mobil Rozak benar-benar tidak dapat dilihat oleh orang di luar mobil.


“Jadi kita....”


Rozak sama sekali tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Nama sudah menarik tubuhnya mendekat dan dengan cepat juga lincah Nama sudah mencium Rozak dengan cepat.


Ciuman paksa Nama benar-benar membuat Rozak kaget, lidah Nama dengan ahlinya menelusup kedalam bibir Rozak, meminta Rozak untuk memberikan akses tidak terbatas pada Nama.


Rozak benar-benar menikmati ciuman Nama yang liar namun lembut. Ciuman mendamba khas Nama, ciuman yang memabukkan Rozak. Ciuman yang mampu membuat Rozak menginginkan lebih dari Nama.


Nama tiba-tiba mengurai ciumannya dan berbisik pelan. “Kalau mau nyium itu kaya gini.”


Rozak kaget dengan perkataan Nama, “Astaga, Anyun aku sekarang udah pinter, yah.”


Nama hanya tersenyum kemudian mengusap bulu mata Rozak yang tebal dan hitam. “Siapa dulu dong calon suaminya?”


“Siapa?” tanya Rozak.


“Kebo,” jawab Nama sambil tertawa keras.


•••


Dor...


Kaget yah jam segini Kaka Gallon up, hooh lagi nggak ada kerjaan 🙈.


Ah mumpung pagi hari yang cerah dan ceria ini, kakak Gallon ucapkan terima kasih yang sudah memberikan kopi, bunga dan vocher vote nya untuk Kaka Gallon.


Jangan lupa tombol like disenggol dan tebarkan kommen kebajikan 🤣🤣.


Untuk semuanya terima kasih...


kangen pasangan RiCi 🙈

__ADS_1


Bikin ah...


XOXO GALLON


__ADS_2