Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Happy With you


__ADS_3

Dengan cepat Laura mendorong Edy dan menggelindingkan tubuhnya ke kanan. Diambilnya celana olah raga dan ikat rambutnya. Setelah mengenakan celananya, Laura langsung berjalan ke arah pintu. Saat menolehkan kepalanya Laura langsung menjerit saat melihat Edy yang berjalan mengikutinya tanpa sehelai benang pun.


“Lele, masa kamu nggak pake baju?” ucap Laura kaget melihat suaminya berlari kearah dirinya tanpa mengenakan pakaian.


“Astaga lupa,” ucap Edy sambil berlari dan menyambar kaus dan celana miliknya dengan cepat.


“Kamu mah ih … suka aneh-aneh aja, masa nggak pake baju keluar. Mau jadi Tarzan?” tanya Laura gemas dengan kalakuan Edy.


“Ya, maaf maaf.” Edy berkata sambil berusaha menstabilkan badannya karena getaran gempa yang terasa.


“Udah ayo,” ucap Edy sambil menarik tangan Laura dan berjalan ke luar ke area parkiran.


Laura dan Edy akhirnya sampai di area parkiran dan menemukan Riki, Cicil, Nama dan Rozak yang terduduk di pinggiran jalan.


“Akhirnya keluar juga kalian, aku sangka ke enakkan sampai nggak sadar ada gempa,” goda Rozak sambil menahan tawanya melihat Edy dan Laura.


“Sadar atuh, Mang. Masa nggak sadar ada gempa sih. Pasti sadar atuh,” ucap Edy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Gempanya paling bentaran kalau kaya gini. Bentar lagi juga aman,” ucap Riki sambil menggendong Richie yang tertidur pulas di gendongannya.


“Iya, moga nggak aneh-aneh yah.” Nama berkata sambil mengedarkan pandangannya.


“Ah … katanya gempanya nggak bikin kerusakan apa-apa. Kita bisa tenang,” ucap Cicil sambil menggulirkan jari jemarinya di layar ponselnya. “Aman … nggak ada wilayah yang aneh-aneh, semuanya aman terkendali.”


Semua langsung mengucap syukur saat mendengar penjelasan Cicil yang membaca berita dari bmkg. “Bentar lagi pasti kita di suruh masuk lagi ke hotel.”


“Kayanya kita mending pulang aja yuk, Neng. Aa nggak tenang ninggalin rumah kalau gini,” ucap Riki pada Cicil yang sedang menggaruk-garuk kakinya yang beralaskan sendal capit kuning merk swallow yang entah kenapa selalu Cicil pakai semenjak Riki membelikkannya dulu.


“Ah … pulang? Beneran mau pulang aja?” tanya Cicil yang langsung dijawab anggukkan oleh Riki. “Ya udah, aku ayo-ayo aja kalau disuruh pulang.”


“Kalian nggak pulang?” tanya Cicil pada Rozak dan Edy.


“Nggak aku mau disini aja,” ucap Rozak, “anggep aja bulan madu tambahan.”


“Hadeuh … yang baru nikah beda, dunia hanya milik pribadi yang lain ngontrak semuanya,” ucap Riki.


“Halah Aa juga dulu sama aja, bahkan lebih parah,” ucap Rozak sambil mendorong badan Riki kesal.


“Lah kamu nggak pulang?” tanya Cicil pada Laura.


“Nggak, mau di sini aja. Nggak bakal pulang,” ucap Laura sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Astaga … jangan bilang gara-gara gempa kalian nggak jadi—“


“Nggak usah dibahas,” ucap Laura kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


“Astaga, sedih amat sih dulu nggak jadi karena asma sekarang karena gempa. Lo berdua harus didoain ama—“


“Kayanya kita harus ke Ki Brondong, Laura.” Edy langsung memotong perkataan Cicil.


“Nggak, nggak mau aku nggak mau berurusan sama dukun sinting itu lagi. Aku nggak mau, udah cukup dia bikin kamu nikah pake baju kaya penyanyi dangdut. Nggak udah cukup,” ucap Laura sambil menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan semua orang.


“Eh … Sayangku, cintaku, sini yuhuu … sini,” ucap Edy sambil mengejar Laura yang sudah masuk kembali kedalam hotel.


Meninggalkan Rozak, Cicil, Nama dan Riki yang hanya bisa menahan tawanya melihat kelakuan pasangan absurd itu.


•••


Laura yang kesal hanya bisa memijat keningnya saat sudah sampai di depan pintu kamar hotel. Rasanya dia ingin menguliti manusia bernama Ki Brondong itu. Dukun sinting yang selalu membuat Edy melakukan tindakan diluar nalar manusia normal. Argh … kenapa sih harus ada manusia bernama Ki Brondong.


Dengan cepat Laura membuka pintu kamarnya dan saat masuk kedalam pintu Laura merasakan ada yang mendorong tubuhnya untuk masuk kedalam kamar miliknya.


Laura langsung berbalik dan mendapati Edy yang mendorong tubuhnya dan menghimpitnya diantara dirinya dan dinding kamar. “Apa mau ap—“


Edy langsung menautkan bibirnya pada bibir Laura. Laura terkesiap dan berjuang untuk berdiri tegak, dengan cekatan Edy menapang badan Laura dengan lenganya. Laura yang tidak mau jatuh langsung membelitkan kakinya dipinggul Edy.


Kecupan Edy terus turun dari bibir Laura hingga leher dan ceruk leher Laura. Tangan Edy menyusup kebagian dalam pakaian Laura mengusap dada Laura dengan pelan.


Usapan Edy membuat Laura mengeluarkan desahan sensual yang membuat Edy tersenyum karena menemukan bagian sensitif Laura. Laura yang bawal dan keras kepala. Detik ini mendesah tak tentu arah karena sentuhannya.


Edy kemudian mengecup kembali bibir Laura, mengesap manisnya bibir istrinya. Laura yang makin tersulut gairahnya mendorong badan Edy pelan.


Laura tersenyum dan mendorong badan Edy hingga membentur ranjang, Edy terduduk dan menatap Laura yang sedang membuka kaus oversize miliknya. Edy sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Laura.


Matanya sama sekali tidak berkedip saat Laura melepaskan pakaian dalamnya dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi membuat Edy dapat melihat leher jengjang milik Laura.


“Kenapa?” goda Laura sambil naik keatas tubuh Edy dan mendekatkan wajahnya ke wajah Edy. Menggesekkan bibirnya ke bibir Edu pelan.


Edy dengan cepat menarik kepala Laura dan mengecup bibir Laura, desahan demi desahan berloncatan dari mulut Laura. Edy yang ingin mendominasi permainan langsung menggulingkan badan Laura. Laura tersentak saat merasa dirinya sudah ada di bawah tubuh Edy.


Laura makin terkesiap saat merasakan sesuatu yang menekan bagian paling pribadinya. Napas Laura langsung tersegal saat Edy memberikan kepuasan pada dirinya.


Tubuh Laura meliuk dan menggelinjang saat Edy memberikan kenikmatan yang membuat Laura bergerak secara sensual mengikuti irama kenikmatan yang sedang Edy berikan.


“Lele ….” Hanya itu yang bisa Laura ucapkan selain desahan yang membuat gairah dirinya dan Edy sama-sama tersulut. Tangan Laura langsung mencengkram kepala Edy dengan keras.


Edy yang tau kalau dia sudah berhasi membuat Laura mencapai pelepasannya langsung mengusap bibirnya dan melap bagian tubuh Laura dengan kain.


“Le?” tanya Laura kebingungan.


“Laura, tenang yah. Sakit sedikit tapi tahan yah.” ucap Edy sambil menatap Laura. Netra mata Edy mengunci netra mata hitam milik Laura.

__ADS_1


Laura yang mengerti apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Edy hanya bisa menggangukkan kepalanya. “Iya.”


Edy dengan pelan menggesekkan bagian pribadinya ke mulut bawah Laura. Laura melengguh saat merasakan gesekkan tersebut. Jantung Laura berdetak cepat, rasa tegang membuat Laura menahan napasnya.


“Laura.”


“Yah.”


“Kalau sakit bilang, aku bakal pelan-pelan,” bisik Edy yang langsung di jawab anggukkan oleh Laura.


Edy langsung mendorong sedikit, sialnya benar-benar sempit. Edy seperti terhalang di pintu, matanya langsung menatap Laura yang sedang meringgis.


“Sakit?”


Laura hanya bisa menggangukkan kepalanya, “Nggak papa aku masih bisa tahan. Ngga ….”


Laura terkesiap saat merasakan Edy mendorongnya dengan cepat melesak kebagian dalam tubuhnya. Menghunjamnya hingga Laura merasa dirinya penuh, yah penuh dengan Edy di dalam dirinya.


“Sakit?” tanya Edy yang dijawab anggukkan oleh Laura. Mereka terdiam seakan menikmati semuanya, menikmati penyatuan tubuh mereka dalam diam.


“Laura ….”


“Iya nggak papa, lakuin aja. Aku tahan kok, nggak papa Le,” ucap Laura sambil mengusap punggung Edy.


Seperti mendapatkan lampu hijau dari Laura, Edy langsung menghentak Laura secara perlahan-lahan. Laura hanya bisa menahan rasa sakit yang dirasakannya, rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan yang baru pertama kali Laura rasakan seumur hidupnya.


Edy terus menghentak badan Laura dengan ritme yang membuat Laura melenguh dan menjerit. Desahan demi desahan berlompatan keluar dari bibir mungil Laura hingga Laura merasakan Edy memasukinya lebih dalam.


Edy benar-benar memberikan kenikmatan yang membuat Laura menjerit, bibir Edy menggigiti bagian pucuk dada Laura. Membuat Laura hanya bisa mencengkram seprai di sampingnya, menahan hasratnya yang sudah meledak.


“Lele!?” pekik Laura bersamaan dengan suara erangan Edy yang menandakan kalau dirinya sudah melakukan pelepasannya.


Tubuh Edy ambruk menimpa Laura, Laura hanya bisa pasrah saat dirinya ditimpa oleh badan suaminya. Suami kesayangannya.


••••


Dah tuh, udah ….


Happy kan happy Laura dan Edy udah belah duren. Happy kan dahlah…. Wkwkwkkw


Apa mau di bikin halangan lagi, bisa Gallon tulis aja ini semua hanyalah mimpi Edy wkwkw *tawa jahat.


Eh … gallon masih sakit, makasih doa-doanya yah. Moga2 sakit aku cepet sembuhnya, gallon lagi sakit yang lagi hits sekarang hehehee ….


Jaga jarak yah, karena sakit ini tuh nggak enak beneran. 😭 stay healty semuanya ❤️

__ADS_1


XOXO Gallon yang Hobi Kellon.


__ADS_2