
Tiga puluh menit sebelum Edy menelepon Riki...
Klik...
Laura mendorong pintu kamar hotelnya, dengan cepat dia menjatuhkan dirinya di kasur yang ada. Rasa lelah benar-benar menggerogoti tubuhnya. Melerai Riki dan Ki Brondong berkelahi benar-benar membuat Laura kelelahan.
“Baby, aku mau mandi dulu. Itu kamu baju gimana?” tanya Edy pada Laura.
“Aku bawa baju sama alat mandi kok, coba kamu pake aja alat mandi aku. Ada didalem tas aku,” ucap Laura sambil menunjuk tas merah miliknya yang sudah tergeletak pasrah di lantai.
Edy mengambil alat mandi dari dalam tas Laura, seketika itu juga Edy langsung mencium wangi strawberry dari dalam tas Laura. Wangi tubuh Laura.
Edy dengan santainya membuka polo shirt miliknya dan menunjukkan tubuhnya dihadapan Laura. Entah sejak kapan, Edy merasa santai saja melepaskan pakaian didepan Laura. Laura pun tampak biasa-biasa saja melihat Edy bertelanjang dada.
“Kamu emang bawa baju, Le?”tanya Laura sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi, dibukanya cardingan miliknya, Laura akhirnya hanya menggunakan tank top dan rok.
Edy terdiam melihat Laura, darahnya tiba-tiba menghangat saat melihat Laura yang sedang membuka sepatunya. Rambutnya yang hitam dan panjang benar-benar tampak cantik dibawah sinar lampu kamar hotel.
“Nggak, aku nggak bawa baju,” jawab Edy pelan sambil terus menatap Laura.
“Hih... terus udah mandi kamu pake baju siapa?” tanya Laura sambil mencoba membuka sepatunya. Entah kenapa sepatunya tiba-tiba tersangkut.
“Astaga, ini kenapa sepatu susah banget dilepas,” pekik Laura kesal sambil menghentak-hentak kakinya kesal.
“Nggak gitu bukanya, Bebz,” ucap Edy sambil berjongkok didepan Laura. Dengan pelan Edy membuka simpul tali di sepatu Laura.
“Susah, Le,” rengek Laura.
“Yah, dibuka simpul talinya dong, Bebz,” dengan pelan Edy melepaskan sepatu Laura. Laura langsung menggerak-gerakkan jari kakinya.
“Makasih, Lele kekasihku,” ucap Laura sambil mencubit kedua pipi Edy.
Edy mengambil kaki Laura yang lainnya dan mulai melepaskan tali sepatu Laura pelan. “Kalau buka sepatu tuh, jangan buru-buru. Moal (tidak) kabuka,” ucap Edy.
“Iya, maaf. Abis nggak enak sepatunya bikin lecet,” ucap Laura sambil mengambil sepatu yang dibukakan oleh Edy.
“Kalau lecet kenapa dipake?” tanya Edy bingung.
“Cocok sama baju aku, kalau pake sepatu yang lain nggak... Aaa” desah Laura saat merasakan pijatan di telapak kakinya.
Laura langsung menopang badannya dengan kedua sikunya, Edy benar-benar mampu membuat Laura rileks dengan pijatan di kakinya. Laura menatap manik mata Edy dengan tatapan sensual.
Edy hanya bisa diam dan terus memijat telapak kaki Laura. Diusapnya telapak kaki Laura pelan, ditekannya telapak kaki Laura.
“Le..” desah Laura sambil memajukan badannya dan menekuk kakinya.
“Apa?” tanya Edy sambil mengusap bagian dalam paha Laura pelan, menelusupkan jari jemarinya ke dalam rok milik Laura.
“Le,” desah Laura sambil mendekatkan bibirnya dengan bibir Edy, Laura menyentuh pelan bibir Edy dengan bibirnya, menggodanya.
__ADS_1
Edy langsung menahan kepala Laura dengan tangan kanannya. “Kamu nakal yah, pacar Edy nakal?”
Laura mengulum senyumnya, kekasihnya ini benar-benar tidak bisa serius. Bahkan, dalam keadaan romantis seperti ini saja, masih bisa bercanda.
“Iya, aku nakal,” ucap Laura, sudahlah lebih baik Laura ikutan gila saja.
“Eh... minta dihukum,” ucap Edy pelan sambil mendekatkan wajah mereka, beberapa inci lagi mereka bisa saling melakukan penukaran saliva.
Tangan Laura langsung mengelus dada Edy, gelitikan di dada Edy. Membuat Edy memejamkan matanya, menikmati elusan tangan Laura yang naik dan turun.
Edy langsung merasakan bibirnya ditekan dengan lembut oleh bibir Laura, manis dan dingin dirasakan oleh Edy. Laura menaikkan usapan tangannya, mengusap leher Edy yang keras dan maskulin.
Jantung Edy terpompa, napasnya memburu. Pikirannya langsung berimajinasi tentang hal-hal berbau erotis. Dirinya sudah sering bermain dibagian dada Laura, bagian yang sangat Edy sukai. Tapi, detik ini Edy ingin lebih. Jari telunjuknya semenjak tadi menekan bagian pribadi Laura, seperti mengetuk untuk meminta ijin pada pemiliknya agar jari jemari milik Edy bisa menelusup kebalik pakaian dalam tersebut.
“Bebz, boleh?” tanya Edy pada Laura.
Laura menatap mata Edy, pikirannya sudah buyar. Edy benar-benar membutakan pikirannya, hasrat untuk melakukan transfusi darah putih mengambil alih akal sehat Laura.
“Iya, boleh,” desah Laura pelan.
Seperti mendapatkan lampu hijau, salah satu jemari Edy menelusup ke balik pakaian dalam milik Laura. Seketika itu juga Laura terkesiap, kenikmatan langsung menggempurnya tanpa ampun.
“Le...” desah Laura sambil mencengkram bahu Edy dengan keras, Laura benar-benar dibuat semaput dan menaikkan pinggulnya seakan meminta lebih pada Edy.
Napas Edy dan Laura makin memburu, entah bagaimana caranya Edy sudah melepaskan pakaian dalam bagian bawah milik Laura. Saat Edy akan membuka celana boxer miliknya, kupingnya mendengar suara.
Tok...Tok...Tok....
“Siapa?” tanya Laura, seingatnya yang mengetahui dirinya di hotel itu hanya Cicil dan Riki.
“Nggak tau, kamu mesen apa gitu, Bebz?” tanya Edy pada Laura. Edy benar-benar berjuang untuk menahan hasratnya. Bukan, apa-apa saat ini Edy benar-benar sedang turn on.
“Udah, biarin aja. Mau dilanjutin nggak ini?” tanya Laura pada Edy.
“Oh, iya atuh, Kang Edy sudah lama menunggu ini semu...”
Brak...brak...brak...
“Laura Subagja, buka pintunya atau Papih dobrak ini pintu hotel!?”
Laura langsung memekik kaget, “Papih..!?”
“Hah?” Edy langsung terkena serangan panik saat mengetahui Papih Laura ada dibalik pintu kamar hotel.
“Laura, Papih tau kamu didalam, yah. Buka, Papih mau ngomong. Kenapa kamu nggak dateng ke acara kelurga, malah pergi ke Bandung,” ucap Papih Laura yang bernama Sabar Subagja.
Sabar Subagja pemilik bisnis berita di Indonesia, koran yang dimiliki oleh keluarga Subagja bukanlah koran abal-abal. Koran berita Empo, yang sudah berdiri semenjak 1977.
“Papih aku, Le. Gimana ini?” tanya Laura panik. Nama Papihnya memang Sabar. Tapi, tidak ada kata sabar didalam kamus Sabar Subagja.
__ADS_1
“Laura Subagja, berani kamu nggak buka pintu ini. Bisnis ice cream kamu Papih bredel!?” teriak Sabar.
“Lele, keluar...” perintah Laura sambil mendorong Edy kearah beranda kamar.
Edy yang ke bingungan auto mengikuti perintah Laura. Ekor mata Edy melihat handphonennya diatas nakas, dengan cepat diambilnya handphonen tersebut.
“Mau kamana ini, Bebz?” tanya Edy bingung.
“Udah diem diluar dulu, jangan bersuara,”perintah Laura.
“Tapi, diluar ujan, Bebz. Aku mau bawa baju aku, nanti aku masuk angin.,” ucap Edy sambil berusaha untuk masuk kedalam kamar kembali, bermaksud mengambil pakaiannya. Udara diluar kamar benar-benar dingin.
“Ben...”
Brak...brak...
“Kamu didalam sama siapa? Kamu bawa cowo lagi kekamar?” teriak Sabar keras sambil terus menerus menggedor-gedor pintu dihadapannya.
“Udah diem diluar jangan gerak, jangan napas, jangan ngintip. Papih aku galak, aku pernah ketauan mesra-mesraan sama cowo...”
“Sama siapa?” tanya Edy cemburu.
“Hilih, udah lama. Ketauan sepuluh kali. Sepuluh-sepuluhnya di gebukkin sama Papih aku. Papih aku pemenang MMA (Mixed Martial Art) waktu mudanya, jadi mending kamu diem disini,” ucap Laura sambil mengecup bibir Edy.
Brak...Brak....Brak...
“Laura Subagja buka, Papih yakin kamu bawa cowo lagi. Laura, kamu tuh perempuan susah banget disuruh jaga diri,” teriak Sabar dari balik pintu, dari cara menggedor pintunya Sabar benar-benar sudah kesal bukan main.
“Bentar, Pih,” jawab Laura. “Kamu disini yah, Lele.”
“Bebz, tapi ba...”
Brak...
Laura sudah menutup pintu dan gordeng dengan cepat.
“Bebz, baju aku disini mau hu...”
Jlegerrr....
Halilintar terdengar keras di sana, Edy hanya bisa pasrah. Tubuhnya menggigil parah, Edy hanya bisa meratapi diri. Sepertinya, tuhan tidak pernah mengijinkan Edy untuk melakukan transfusi darah putih dengan Laura.
Edy langsung melihat handphonennya, demi kebaikan tubuhnya dia harus meminta bantuan. Edy langsung menelepon seseorang.
“Halo, Edy.”
“GAWAT RIKI...!?”
•••
__ADS_1
Rasain mau transfusi darah putih nggak bisa, emang kurang bagus hoki lo tuh Ed, nggak bagus hahahaaa....
Xoxo Gallon.