
Sayup-sayup Edy mendengar suara teriakkan dan tangisan di kupingnya. Edy berjuang untuk membuka matanya. Namun, entah mengapa mata Edy menolak untuk terbuka, Edy hanya merasakan sakit yang teramat sangat dibagian hidungnya.
Pedih, bukan main hidungnya. Rasanya dia ingin menangis saking sakitnya. Namun, semua itu tidak bisa Edy lakukan, mengingat detik ini umurnya sudah diatas duapuluh tahun dan Edy yakin salah satu suara tangisan yang Edy dengar ditelinganya adalah tangisan Laura, kekasihnya.
“Laura,” panggil Edy terbata-bata. “Laura?”
Sama sekali tidak ada jawaban, Edy mulai terdiam. Mata Edy susah sekali terbuka, entah kenapa segala daya upaya yang Edy kerahkan untuk menggerakkan badannya atau kelopak matanya sangatlah sulit sekali.
Badan Laura sangat-sangat sakit dan sulit untuk digerakkan. Edy hanya mendengar sayup-sayup suara yang makin lama makin jelas. Edy seperti mendengar suara orang sedang memanggilnya, suara lelaki. Suara lelaki itu makin hari makin terdengar keras dan jelas.
Edy menajamkan telinganya, entah kenapa perasaannya tidak enak saat mendengar suara itu. Rasanya, apa yang diucapkannya benar-benar membuat Edy ketakutan.
Lagi Edy menajamkan pendengarannya, akhirnya Edy mendengar dengan jelas apa yang dikatakan lelaki tersebut.
“Kalau Edy tidak bangun, Laura akan langsung menikah dengan Ernest, salah satu atlit binaragawan kebanggangan Indonesia.”
Seketetika itu juga kesadaran Edy dipaksa untuk kembali. Pokoknya Edy harus bangun dengan cara dan kondisi apapun pokoknya Laura harus nikah sama Edy Edrosh bukan dengan yang lain. Cinta ditolak golok bertindak!?
“Tidak!?” seru Edy sambul meloncat dari kursinya. “Aaw..!?”
Akibat terlalu spontan berdiri dari tidurnya Edy menabrak sesuatu yang keras dan liat. Wanginya langsung mengingatkan Edy pada sesuatu yang pernah dia cium. Yah, wangi asem Sabar.
“Wah hidup, dia.” ucap Sabar santai sambil mendorong kepala Edy agar menjauh dari dadanya.
“Aw,” pekik Edy sambil menyentuh hidungnya yang patah. Entah kenapa Edy susah bernapas, mungkin karena darah kering yang menyumbat pernapasannya.
“Lele,” bisik Laura dari sebelah Edy. “kamu nggak papa?”
Edy menengokkan kepalanya sambil mengedip-ngedipkan matanya, “Sakit, Baby.”
“Halah, manja banget. Cuman patah hidung doang, belum aku patahin semua sendi di badan kamu itu, Lele dumbo.” Sabar menatap Edy dengan tatapan mematikan.
Edy langsung menelan salivanya, apakah dia harus menyerah mendapatkan cinta Laura kekasih pujaan hatinya atau harus maju terus pantang mundur dengan menggadaikan keselamatan hidupnya yang tidak seberapa ini.
“Kamu ngapain ke Banten kalau saya tonjok doang langsung pingsan?” tanya Sabar sambil mentapa Edy.
“Usaha Om, saya takut sebenernya ama Om. Badan Om gede gitu, lah badan saya kaya cacing kremi,” ucap Edy jujur sambil menunduk.
“Lah, udah tau bakal kalah kenapa maksa? Mending mundur,” ucap Sabar tanpa mengalihkan pandangannya dari Edy yang terus tertunduk.
“Saya maunya mundur, Om. Tapi, saya mau tanggung jawab sama anak, Om.”
“Tanggung jawab apa?” tanya Sabar lagi.
“Saya, saya udah pegang-pegang dia. Udah saya cium-cium, elus-elus, dan ud—“
“Lele!?” hardik Laura mencoba memperingatkan kekasihnya itu jangan memberi mintak pada api yang menggelora. Bisa-bisa Papihnya ngamuk mendengar perkataan Edy.
“Kenyataan, Baby. Aku tuh mau tanggung jawab, aku nggak bisa ninggalin kamu gitu aja. Aku teh sayang sama kamu, mau jaga kamu, cinta sama kamu,” ucap Edy sambil mengangkat wajahnya dan menatap Laura.
“Yah, walaupun saya bukan orang kaya. Bukan, anggota parlemen atau punya pendidikan tinggi. Saya mah cuman lulusah D3 Koki di Bandung. Itu juga beasiswa da Aki saya nggak sanggup sekolahin saya mahal-mahal,” ucap Edy.
“Terus?” tanya Sabar.
“Ayah saya nggak tau siapa, Ibu saya dulu TKW di Arab. Pulang-pulang hamil saya, pas ngelahirin saya Ibu saya ninggalin saya. Makanya Aki saya yang urus saya. Saya dari kecil udah cari uang sendiri bareng Riki ama Rozak.” Entah kenapa Edy merasa harus memberitahukan latar belakang keluarganya yang kelam.
“Saya mah apa sih anak yang tidak diinginkan. Makanya, saya mau tanggung jawab. Saya udah pegang-pegang Laura masa saya nggak tanggung jawab? Apa bedanya saya sama bapak saya yang nggak tau di mana rimbanya itu.” Edy berkata sambil menyentuh hidungnya yang membengkak.
__ADS_1
“Saya nggak kaya Om. Tapi, saya yakin saya mampu dan bisa ngehidupin Laura. Untungnya, saya bisa masak makanya saya jadi koki dan saya juga main Youtuye biar dapet uang,” ucap Edy.
“Jadi sekarang kamu mau apa?” tanya Sabar pada Edy.
Edy langsung mengangkat kepalanya dan menatap calon mertuanya tersebut, “Saya mau minta ijin buat menikahi anak Om, kalau syaratnya tanding ulang nggak papa. Saya siap Om, mau tanding berapa kali juga. Yang penting saya nikah sama anak Om.”
Sabar memicingkan matanya menatap Edy, “Kamu tau Laura itu anak saya satu-satunya?”
“Tau Om,” jawab Edy.
“Kamu taukan, saya sayang banget sama dia?” tanya Sabar. “Dia itu kaya permata buat saya.”
“Tau, Om. Saya juga sayang sama dia, dia mah bukan permata lagi buat saya.”
“Apa?” tanya Wina yang sebenarnya dari tadi ada di belakang tubuh Sabar. Namun, tidak terlihat saking besarnya tubuh Sabar.
“Laura itu udah napas saya, Tante. Saya mah sayang banget sama dia. Makanya, saya mah nggak bisa marah sama dia teh. Mau semenyebalkan dan semanja apa dia ke saya. Saya cinta sama Laura, Tante, Om,” jawab Edy.
“Kamu mau jaga dia, hah?” tanya Sabar dengan suara yang meninggi.
“Mau Om, saya mau jaga dia.” Edy menjawab dengan mantap.
“Kamu tau ‘kan konsekuensinya kalau kamu bikin dia sedih atau sakit hati?” tanya Sabar pada Edy.
“Apa Om?” tanya Edy penasaran.
“Kamu nggak bakal liat matahari besok, Edy Edrosh!?” seru Sabar sambil membulatkan matanya.
Glek...
“Apapun syaratnya?” tanya Sabar.
“Iya, Om. Ayo kalau mau tanding ulang sekarang juga, aku mah siap, Om. Demi cintaku pada Laura. Aku mah siap lahir dan batin,” tantang Edy, sudahlah biarkan nyawanya melayang yang penting orangtua Laura bisa melihat kesungguhan Edy untuk menjadikan Laura ibu untuk anak-anaknya kelak.
“Halah, kamu mau tanding ulang gimana caranya. Badan kamu udah ringsek gitu, dukun kamu aja tuh di depan lagi bikin ritual biar kamu sadar katanya,” olok Sabar sambil menunjuk pintu keluar yang saat ini terdengar sayup-sayup suara Ki Brondong membaca matra.
“Papih, udah kasian Lelenya. Udah Pih, Papih nggak denger kata-kata Lele kalau dia mau tanggung jawab,” bujuk Laura pada Papihnya berharap Papihnya mau menerima Edy.
“Gini, heh Lele dumbo. Saya ini nggak mau punya mantu yang badannya cacingan kaya kamu. Masa saya badannya otot kawat tulang besi dan hobinya goyang barbel punya mantu badannya kaya anak SD cacingan.”
“Papih, nggak semua orang badannya harus kaya Papih,” ucap Laura kesal.
“Makanya, kamu hei Edy,” panggil Sabar.
“Iya, Om.”
“Mulai minggu depan kamu wajib dateng kerumah saya.”
“Ngapain, Om?” tanya Edy bingung.
“Kamu mau nikah sama anak saya nggak?” tanya Sabar.
“Mau, Om.”
“Mulai minggu depan kamu olah raga bareng saya, katanya kamu koki ‘kan? Kamu bikin menu sarapan sehat, diet ketat khusus buat membentuk otot di badan,” ucap Sabar. “Saya bentuk badan kamu, enam bulan jadilah badan kamu tuh. Nggak usah gede-gede amat, Laura nggak suka yang gede banget, kata dia kaya satpam.”
“Emang, Papih kaya satpam tau,” ledek Laura sambil menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
“Ih, kamu jangan gitu,” ucap Edy sambil memukul tangan Laura pelan. “Suka bener kamu mah,” bisik Edy pelan takut terdengar Sabar dan langsung dijawab tawa kecil Laura.
“Ehem.” Sabar langsung berdeham.
“Iya, Om,” jawab Edy.
“Kamu mau nikahin anak saya punya mahar apa?” tanya Sabar.
Edy langsung mengangkat wajahnya menatap Sabar. “Saya punya....”
“Punya apa?” bentak Sabar.
“Punya emas Om, logam mulia saya tabung dari zaman saya SMA. Kemaren saya udah ngomong sama Aki saya di Citeko. Tadinya buat Aki saya tapi, kata dia udah buat mahar aja. Walaupun, kata Aki saya segitu masih kurang buat nikahin gadis sebaik Laura.”
“Berapa?”
“Lima puluh gram Om, itu tabungan saya selama sepuluh tahun, Om.”
Edy jujur selama dia bekerja di Abu Dhabi dulu menjadi salah satu koki di hotel bintang lima di sana. Edy menabung untuk Akinya. Tapi, Aki kemaren menolak emas itu katanya kasih saja untuk Laura. Untuk mahar.
“Apa lagi?”
Edy berpikir sepertinya tidak ada lagi, nasib orang nggak punya yah gini. “Nggak ada, Om.”
“Ya udah, enam bulan lagi kamu nikah sama anak saya,” jawab Sabar.
“Eh.” Laura dan Edy berkata berbarengan kaget dengan perkataan Sabar.
“Tapi, selama enam bulan kamu bentuk badan kamu. Masa nikah badan kaya anak SD cacingan.”
“Siap, Om. Jadi, ini teh saya boleh nikah sama Laura?” tanya Edy.
“Boleh, tapi....”
“Apalagi Papih?” tanya Laura gemas dengan banyaknya persyaratan untuk dirinya menikah.
“Laura kamu mau sama si Edy ini?” tanya Sabar.
“Mau Pih, malah Laura doa setiap hari.”
“Doa apa?” tanya Sabar, Edy dan Wina berbarengan.
“Tuhan, yang ini jangan diganti lagi yah,ini lebih dari cukup. Aku sayang banget sama dia,” ucap Laura sambil tersenyum malu-malu meong kepada Edy.
“Idih, nakal. Pacar Edy udah nakal,” canda Edy sambil memaju-majukkan bibirnya.
Sabar hanya bisa menatap anaknya dan Edy dengan tatapan bahagia. Sepertinya menitipkan anaknya pada lelaki kurang gizi dihadapannya ini sudah tepat.
••••
Yeah nikah kan tuh, asekkk HOBAAA hahahaaa...
Terima kasih yang sudah memberikan bunga dan kopinya. Juga yang sudah mau memberikan vote mingguannya untuk Mr. and Mrs. Trina kalian luar biasa 👌👌
Eh tombol like digoyang jangan lupa 😘
XOXO GALLON.
__ADS_1