
“Saya ingin dia masuk penjara,” ucap Jeff sambil menggebrak meja di kantor polisi.
Jeff benar-benar naik pitam setelah mengetahui apa yang terjadi pada Cicil. Hampir saja Jeff mencari Albert yang sudah diamankan oleh pihak kepolisian.
“Neng, itu bener?” tanya Riki kaget saat mendengar penjelasan Cicil.
Cicil hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menatap polisi didepannya, polisi itu berjuang untuk mengendalikan emosinya sambil terus mengetik berita acara.
“Neng, jawab Aa. Jadi, Albert perkosa kamu?” tanya Riki.
Cicil terlihat menelan salivanya dengan sangat kesusahan. Tangannya mengepal keras, saking kerasnya buku-buku jarinya memutih.
“Nak, jawab pertanyaan dia,” pinta Jeff, sebenci-bencinya Jeff pada Albert. Tapi, dia tetap tidak bisa menerima Riki.
Cicil mengusap air mata yang jatuh dipipinya, “Iya, Albert perkosa aku dihari aku ulang tahun. Dia siksa aku, saksinya satpam sama bibi,” ucap Cicil.
“Saya keluar dulu.” Riki langsung bangkit dari duduknya, rasanya dia tidak kuat berada di sana lama-lama. Bisa-bisa dia lepas kendali kemudian berlari ketempat Albert dan menghajarnya.
“Aa,” panggil Cicil pelan.
Riki langsung mengusap pucuk rambut Cicil pelan, “Aa mau keluar dulu, ada yang harus Aa lakuin. Aa....”
Riki berusaha mencari alasan yang masuk akal, tidak mungkin dia berkata pada Cicil, kalau dia bisa lepas kendali. Iya, Riki tau Cicil pasti sudah sering melakukan hubungan suami istri berkali-kali dengan Albert. Sebelum dan sesudah pemerkosaan itu terjadi. Cicil menceritakan semuanya dulu.
Riki hanya bisa mengelus dadanya setiap Cicil menceritakan itu semuanya. Tapi, mendengar Cicil diperkosa benar-benar membuat amarah Riki sampai kepuncaknya, rasanya dia ingin melempar semua benda di kantor polisi kemuka Albert sialan itu.
“Aa mau kemana?” Mata Cicil berkaca-kaca, entah kenapa Cicil merasa membutuhkan seseorang disampingnya. Merengkuhnya, dia nggak mau menjalani berita acara sendirian. Egois? Nggak juga dia butuh seseorang dan dia berharap orang itu adalah Riki.
“Aa....” Tatapan mata Cicil membuat Riki ingin memeluknya. Kerapuhan Cicil benar-benar membuat Riki jatuh cinta. Kerapuhan Cicil benar-benar menjeratnya.
“Neng, Aa....” Rasanya Riki ingin memberikan sejuta alasan pada Cicil agar dirinya diizinkan untuk keluar dari ruangan itu. Sialnya pandangan mata Cicil dan raut mukanya membuat Riki luluh. Dengan pasrah dia kembali duduk, spontan dipeluknya badan Cicil, dikecupnya bagian pucuk rambut Cicil.
“Neng, minta maaf yah, Aa,” isak Cicil, Cicil benar-benar di timpa rasa bersalah yang sangat banyak oleh perbuatannya dulu. Cicil seperti tersadar kalau gaya hidupnya dulu yang urakan selengean dan sekeinginan hati itu benar-benar membuat seseorang kecewa. Bukan orang tuanya, orang tuanya tidak pernah kecewa akan hal itu semuanya, mereka hidup bebas. Orang itu adalah Riki.
“Udah nggak usah minta maaf, udah. Udah, yah. Ada Aa disini, udah. Nggak usah minta maaf, Neng,” ucap Riki pelan sambil menciumi pucuk rambut Cicil dengan pelan.
Jeff hanya bisa mendengus didalam hatinya, ada perasaan kesal saat melihat Cicil dipeluk dengan mesra oleh Riki. Rasanya dia ingin menempeleng Riki. Entah kenapa, dia masih tidak suka Cicil berhubungan dengan Riki. Ayolah, lelaki miskin seperti Riki bisa ngasih apa untuk Cicil? Melindungi Cicil aja dia nggak mampu. Buktinya, setelah kasus penculikan Cicil kemarin oleh Albert, kenapa Albert masih bisa berkeliaran? Kalau Riki punya power dan kuasa, harusnya Albert sudah masuk bui.
“Maaf Bu, kita lanjut berita acaranya yah atau Ibu lebih nyaman ditanya oleh petugas wanita?” tanya Polisi yang sedang mengetik berita acaranya.
Cicil hanya bisa diam dan menatap petugas polis tersebut. Kepalanya sudah bersandar di dada Riki. Nyaman.
“Saya, saya akan ceritakan semuanya,” ucap Cicil sambil mengeratkan pelukkannya pada Riki. Memaksa Riki untuk tidak meninggalkannya. Lebih baik Cicil mati kalau Riki sampai mendinggalkan dirinya.
__ADS_1
Riki hanya bisa mengeratkan pelukkannya lagi, menciumi pucuk rambut Cicil adalah pilihan terakhirnya. Rasanya dirinya ingin menulikan kupingnya, dia tidak akan sanggup mendengar semua ucapan Cicil yang akan di berikan pada polisi. Tapi, Cicil mengeratkan pelukkannya dengan erat, memaksa dirinya untuk tetap ditempat.
Cicilpun menuturkan segalanya, dia menceritakan semua perlakuan dan perbuatan Albert pada dirinya. Obsesi Albert pada dirinya, pukulan yang selalu diterimanya dan semua hal, bahkan Cicil menunjukkan jari telunjuknya yang sudah tidak lurus lagi, jari telunjuk Cicil pernah patah.
Jeff mengepalkan tangannya, rasa marah benar-benar menghantamnya tanpa ampun. Rasa bersalah memaksa anaknya untuk hidup, bahkan gilanya, Jeff memaksa Cicil untuk menikahi Albert. Ayah macam apa yang memaksa anaknya untuk berhubungan dan mengikat janji pernikahan dengan seorang monster?
Astaga, Jeff benar-benar merasa sangat-sangat bersalah. Kebodohan dan ketamakan Jeff benar-benar membutakan dirinya dengan kenyataan yang sudah terpampang dengan nyata dimatanya. Beberapa kali Cicil sering datang dalam keadaan make up yang extra tebal atau terkadang badan yang kelelahan. Bahkan pernah Cicil menggunakan pakaian sangat-sangat tertutup dari atas sampai bawah tubuh. Ternyata itu semua untuk menutupi perbuatan Albert pada dirinya.
“Itu ceritanya,” ucap Cicil sambil menggesekkan hidung mancungnya ke dada Riki.
Selama Cicil bercerita Riki hanya bisa menahan amarahnya. Tangannya dikepal, sesekali Riki menahan umpatannya. Kakinya beberapa kali dihentakkan ke lantai.
Polisi dihadapannya hanya bisa menatap maklum, sejujurnya kalau polisi tersebut ada di posisi Riki, mungkin dia akan mengokang senjatanya dan menembakkannya ke dahi Albert. Urusan hukuman itu urusan nanti.
“Saya mau Albert dipenjara, dihukum seberat-beratnya,” ujar Jeff.
Saat berkata seperti itu tiba-tiba Albert dan seorang polisi masuk kedalam ruangan. Tampak kepala Albert yang di perban.
“Kenapa dia bisa disini? Dia harusnya di bui,” ucap Jeff kesal sambil menunjuk wajah Albert.
Albert hanya bisa mendengus dan menyeringai pelan. Sepertinya ayah mertuanya sudah berpindah posisi. Detik, ini sepertinya Jeff membencinya sampai ke tulang sumsum.
“Maaf Pak Albert akan melakukan tuntutan,” ucap polisi tersebut, terlihat dari baju yang dikenakan, pangkat polisi itu lebih tinggi.
“Hah? Maaf Pak, anak saya yang disiksa. Anak saya yang dipukulin. Kenapa jadi anak saya yang dituntut?” Jeff benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Sejak kapan korban yang dituntut.
“Terus siapa yang mau dia gugat?” tanya Jeff bingung. Siapa yang mau digugat oleh Albert?
“Pak Albert akan menggugat Pak Riki Trina atas tindakan pembongkaran dan pencurian di kantornya. Yang menyebabkan beberapa barangnya hilang,” jawab Polisi itu tenang.
“Apa?” teriak Cicil kaget.
Riki yang sedang memeluk Cicil kaget bukan main. Kenapa jadi dirinya yang dituntut.
“Maksudnya gimana?” tanya Riki bingung. Kenapa jadi dirinya yang dituntut.
“Anda terbukti melakukan pencurian di kantor Pak Albert,” ucap polisi itu sambil menyerahkan photo yang menunjukkan wajah Riki yang sedang memasukkan sesuatu ke dalam Tas.
Cicil yang melihatnya kaget, Cicil ingat dia ada disana juga. Tapi, dia ada dibagian depan Riki sehingga dirinya tidak terambil photonya. “Ini, ini....”
“Maaf, Pak. Anda saya tangkap,” ucap Polisi tersebut sambil mengeluarkan borgol dari sakunya.
Riki yang masih kaget hanya bisa berdiri dan dengan patuh mengangkat tangannya untuk di borgol oleh polisi tersebut.
__ADS_1
“Hah, ini gimana, Aa... Aa....” teriak Cicil panik, tangan Cicil mencengkram kemeja yang dipakai oleh Riki.
“Lepasin, Cil,” pinta Jeff, selama bukan anaknya yang kena masalah. Jeff tidak akan mengeluarkan sumber dayanya. Jeff tidak akan sudi mengeluarkan tim pengacaranya hanya untuk membebaskan Riki dari tahanan.
“Papih, Aa nggak salah. Aku juga ada di....”
“Neng, udah. Diem,” potong Riki cepat, dia tidak mau Cicil terbawa-bawa masalah.
“Aa ... Aa,” teriak Cicil sambil berusaha melepaskan pelukkan Jeff, sayangnya Jeff menahan Cicil dengan sepenuh kekuatannya.
“Cil, udahlah. Kamu mau sama maling kaya Riki?” tanya Jeff sambil menatap Cicil.
Cicil hanya bisa menangis mendengar perkataan Jeff. Rasanya Cicil ingin berteriak bahwa dialah otak dari aksi pencurian di kantor Albert tersebut.
“Pih, Aa ...” isak Cicil.
“Udah biarin, Papih masih mau nuntut Albert atas kejatannya,” ucap Papih sambil menahan Cicil.
“Aa...” teriak Cicil.
Riki berjalan terus mengikuti polisi didepannya, menundukkan kepalanya. Tiba-tiba dia ingat suatu hal, dengan cepat dia berbalik menghadap Cicil.
Cicil yang akhirnya bisa lepas dari pelukkan Jeff langsung berlari ke arah Riki. Dengan cepat Cicil memeluk Riki dan mencium bibir Riki cepat.
“Aa, Aa nggak salah. Neng yang punya....”
“Neng diem,” potong Riki, dia tidak mau Cicil terseret masalah ini. Dirinya tidak akan tenang kalau mengetahui Cicil pun ada dipenjara.
“Tapi....”
“Neng, telepon Taca....”
Cicil langsung menatap Riki sambil mengerjapkan matanya. Senyuman langsung berkembang di wajahnya.
Cicil lupa, mereka punya keluarga Berutti.
•••
Hai...
Maaf yah, update MMT belum jelas jadwalnya. Ada ide buat jadwal MMT nggak?
Mending jam berapa? Aku ingin update sehari 2 kali. Tapi, belum nemu jadwal yang pas.
__ADS_1
Ada ide?
XOXO GALLON