Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Pembicaraan tak berfaedah


__ADS_3

“Aa, Aa kenapa?” tanya Rozak saat sampai ke rumah Taca bersama Nama. Rozak bingung melihat Riki yang terkapar sempurna di atas sofa milik Taca.


Riki hanya bisa merentangkan tubuhnya, mengayuh odong-odong bukan perkara mudah. Oke, kalau hanya Kama, Kalila dan Liz yang naik di odong-odong mungkin, Riki masih kuat. Masalahnya, istri tersayangnya itu juga ikut naik odong-odong. Sudahlah, retak sudah tulang-tulang sendinya.


“Aa, lagi mengistirahatkan jiwa dan raga. Aa capek, lutut Aa bergetar ini gara-gara Cicil,” ucap Riki sambil menatap Rozak dengan pandangan kuyu.


“Emang diapain ama Cicil?” tanya Rozak yang masih penasaran.


“Kang, Kakak kamu kenapa?” tanya Nama bingung.


“Sawan, kebanyakan digoyang sama Cicil,” kekeh Rozak.


“Hilih ngaco, masa kebanyakan digoyang sampe kaya gitu. Nggak mungkin, ngaco ih,” ucap Nama sambil memukul bahu Rozak pelan.


“Ih, Cicil itu menakutkan tau. Seminggu empat kali. Bisa kamu bayangin?” Rozak berkata sambil membulatkan matanya.


“Lima kadang tiga kalau dia lagi waras,” ucap Riki sambil bangkit dari tidurnya. Riki langsung terduduk di sofa. Dengan, cepat Riki mengambil minuman dingin berwarna kuning yang tampak menyegarkan jiwa dan raga orang yang meminumnya.


“What?!” Nama kaget dengan perkataan Riki.


“Ngomongin apa?” tanya Cicil yang tiba-tiba datang bersama Taca dan Iis.


“Ngomongin kamu,” ucap Riki sambil menunjuk hidung Cicil.


“Ih, kenapa jadi aku. Aku salah apa?” tanya Cicil bingung.


“Salah kamu nyuruh aku ngayuh odong-odong sampai lima putaran,” ucap Riki kesal.


“Sabar, orang sabar disayang tuhan.” Tiba-tiba Juan muncul dari belakang badan Iis bersama Adipati.


“Sabar ini, tuh. Untung cinta kalau nggak. Dahlah,” ucap Riki pasrah, entah kenapa sepertinya kadar kesabarannya sedang turun ketitik terendah.


Cicil hanya bisa menjulurkan lidahnya dan duduk di samping Riki. Merasa bersalah dia hanya bisa menepuk-nepuk badan Riki.


“Nggak papalah, nanti malem juga Cicil minta jatah. Aa pasti kuat,” ucap Taca sambil menunjukkan dua jempolnya kehadapan Riki.


Riki langsung menggoyangkan kedua tangannya ke arah Taca. Tanda menyerah, lebih baik Riki tidur di sofa daripada harus melayani keinginan erotis Cicil. “Nggak aku nggak sanggup. Maaf Neng, Aa mending tidur di Sofa daripada ikutin keinginan kamu. Mohon maaf.”


“Hahaha.” Adipati dan Juan langsung tertawa mendengar perkataan Riki. Dua bangsul sinting yang sudah sangat melagenda kelakuannya di Indonesia raya tercinta itu hanya bisa tertawa mendengar Riki.


“Mau saran?” tanya Juan pada Riki. Juan yang notabene mantan tunangan Cicil ingin berbagi pengalamannya dengan Riki.


“Apa?”


“Sekali-kali jangan diikutin keinginan ratu Cicil itu. Biarin aja, kamu lari aja tidur di sofa. Percaya sama aku, besok pagi dia udah ada di samping kamu. Ikut tidur, dia itu nggak bisa tidur sendiri. Nggak sanggup,” ucap Juan sambil menunjuk Cicil.


Cicil langsung membulatkan matanya, rasa kesal langsung membuat Cicil menendang tulang kering Juan. “Jangan ngajarin, yah.”


“Aww ... astaga sakit, oncom,” jerit Juan sambil mengusap tulang keringnya yang ditendang dengan keras oleh Cicil.

__ADS_1


“Sukur,” ucap Iis sambil mendelikkan matanya kesal. Iis kesal kalau Juan sudah mulai kegenitan dengan perempuan lain. “Demen banget ngejailin orang.”


“Ya ampun, Yang. Aku cuman menularkan ilm—“


“Serah, Mas. Tidur diluar aja sana kamu, Mas. Capek aku ngurus kamu, mending aku ngurus Khalid aja Mas,” ucap Iis sambil mengecup pipi tembem Khalid.


“Jangan gitu dong, Yang. Nggak baik kamu kalau nggak ngurus suami. Inget yang butuh susu itu bukan cuman Khalid, aku juga butuh banget, pake sangat susu cap Lizbet Wija ... auw ...,” teriak Juan sambil mengusap pahanya yang ditepuk dengan keras oleh Iis.


“Sakit, Yang.”


“Banyak orang malu, tau,” ucap Iis kesal.


“Nggak papa, emang semuanya juga butuh susu dari istri masing-masing, kok. Bener nggak Ki?” tanya Adipati pada Riki yang sedang minum minuman berwarna kuning itu.


“Bener, emang susu dari istri itu paling terbaik. Bikin bahagia jiwa dan raga ....”


Cicil langsung mendekatkan dirinya pada Riki. Dengan cepat Riki tersenyum pada Cicil sambil berkata, “Tapi, nggak sekarang Neng. Kasihanilah lutut, suamimu ini.”


“Oke sip, nanti malam?”


“Bunuh sajalah Aa, Aa ikhlas,” canda Riki dan langsung di sambut derai tawa orang-orang.


“Omongannya, mohon diganti aja topiknya. Kasihanilah kami yang belum menikmati semuanya itu,” pinta Rozak sambil menunjuk dadanya dan Nama yang mukanya sudah berubah merah.


“Bohong, kalau sedot-sedotan biasanya udah. Ngaku,” ucap Taca sambil menunjuk Rozak yang langsung dilempar bantal oleh Rozak.


“Nggak,” ucap Rozak sambil menatap Nama yang hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan membenarkan letak kacamata.


“Nggak salah lagi, Ta,” jawab Nama sambil menjulurkan lidahnya.


“Eh.” Tawa langsung terdengar di ruangan itu, mereka kaget dengan jawaban Nama yang mulai mengikuti alur pembicaraan mereka.


“Mau tanya boleh?” tanya Nama.


“Apa? Tanya aja, nggak papa. Sini mau tanya apa, aku jawab. Kalau soal Kang Rozak kita ahlinya, udah tau luar dalam.” Taca berkata dengan semangat. Taca ingin mengenal calon Kakak Ipar barunya itu.


“Aku cuman tau luarnya aja,” jawab Cicil sambil memasukkan sebongkah keju kedalam mulutnya.


“Aku luar juga,” ucap Iis sambil pura-pura tidak melihat tatapan mata Taca yang seperti menggoda Iis. “Apa?” desis Iis sambil membulatkan matanya pada Taca.


“Nggak,” jawab Taca pelan sambil tetap menatap mata Iis.


“Aku mau nanya, kok bisa kalian bertiga sedeket ini. Nggak ada filter kalau ngomong,” ucap Nama sambil menunjuk Taca, Rozak dan Riki.


“Iya, kenapa?” tanya Juan dan Adipati berbarengan, mereka penasaran dengan betapa santainya Taca, Rozak dan Riki bila mengobrol.


“Kamu nggak penasaran, Yang?” tanya Juan pada Iis yang sedang mengayun Khalid yang sudah tertidur sambil terbenam dibagian dada Iis.


“Nggak, karena aku tau. Mereka itu dari dulu nggak akur. Akur-akurnya waktu aku sama Taca kuliah semester satu.” Iis menjawab pertanyaan Juan.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Jadi dulu, Abah nemuin satu hard disk isinya film 21+ semuanya. Itu satu tera isinya gitu semuanya,” Rozak mencoba mengenang kelakuan mereka bertiga.


“Nah, disidanglah aku sama Rozak tuh. Kita ngerasa nggak pernah punya hard disk itu, hardisk milik kita berdua itu aman. Ada di tempat terahasia dan nggak mungkin, bisa diketahui Abah,” terang Riki.


“Akhirnya kita disidang, kelurlah kultum dari Abah. Sedang, asik-asiknya Abah kultum. Tiba-tiba Taca pulang dari pasar, dengan santainya Taca ngedeketin Abah dan bilang ....”


“Kok, ada di sini hard disk aku.” Iis dengan cekatana menirukan suara Taca yang cempreng bukan main.


“Hah!?” Semua orang di ruangan kaget mendengar perkataan Iis.


“Iya, itu punya Taca. Hard disk 1 tera penuh dengan adegan 21+ itu punya Taca Safina Trina,” ucap Rozak sambil menunjuk Taca yang tersenyum malu-malu.


“Semenjak itulah, kita kalau ngobrol udah nggak ada filter sama sekali. Jadi ....”


“Terima kasih hard disk 21+,” ucap Taca, Riki, Rozak dan Iis sambil tertawa keras.


“Astaga, Amore kamu dari kecil sudah berlatih. Pantesan,” ucap Adipati sambil menatap Taca.


“Pantesan ngangenin, yah?” canda Taca sambil tersenyum pada Adipati.


“Eh, kalian jadinya mau nikah di mana dan kapan ?” tanya Cicil pada Rozak dan Nama.


Rozak dan Nama langsung tersenyum sambil bertatapan satu sama lain. “Sebenernya, kita ke sini mau ngobrolin itu semuanya.”


“Kenapa emangnya?” tanya Adipati.


“Aku sama Nama ingin nikahan biasa aja yang sakral dan intim. Tapi, keluarga Nama dari pihak Ayahnya ingin yang meriah.” Rozak berkata sambil menatap Nama.


“Makanya, aku bingung,” ucap Nama. “Aku beneran daripada uangnya dipakai buat acara nikahan heboh. Mending uangnya aku pake buat beli apa gitu yang lebih berfaedah.”


“Bener,” ucap Taca dan Iis cepat. Iis dan Taca yang mengalami pernikahan tidak masuk akal benar-benar kesal dengan nominal yang dikeluarkan oleh suami mereka berdua.


“Makanya, kita bingung. Keluarga Nama tetep ingin pernikahan mewah atau nggak biasa.” ucap Nama bingung.


“Ya, udah ada sih tempat pernikahan yang nggak terlalu mahal tapi keliatannya mewah. Mau?” tanya Juan pada Rozak dan Nama.


“Dimana?”


•••


Dihatimu 🤣🤣🤣


Di mana coba, ayo dipikirikan di mana coba tempat pernikahan yang keliatan mewah tapi sebenrnya nggak mahal-mahal amat. Yang jawab di TMII auto coret yeh. Mahal di sana 🤣🤣🤣


Terima kasih atas point dan like juga komentnya yah semuanya 😘😘


XOXO Gallon

__ADS_1


__ADS_2