
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Albert duduk diam sambil melihat Kharis yang tertidur di kasur dihadapannya. Sudah dua hari semenjak kejadian penyerangan Ibu-ibu dan anak SMA brutal yang dialami oleh Albert membuat dirinya uring-uringan. Ditambah Albert sama sekali tidak bisa menghubungi Cicil.
Semua akses untuk menghubungi Cicil benar-benar terkunci. Bahkan semua barang-barang Cicil di apartemennya sudah lenyap, entah kapan Cicil mengambil barang-barangnya. Sebenarnya, Albert tau dimana Cicil berada tapi untuk ketempat itu lagi Albert akan sangat kesulitan.
Satpam restoran Water Teapot sudah mengenali dirinya. Arghhh... bagaimana caranya dia masuk kedalam restoran itu?
Diketuk-ketuknya telunjuknya ke meja, sepertinya dia harus berpikir lebih jernih. Apa yang bisa dia lakukan untuk membuat Cicil kembali, seandainya dia mendapatkan Cicil, Albert bersumpah akan memenjarakan Cicil dirumahnya. Menguncinya.
“Al...” panggil Kharis manja sambil mengerling nakal pada dirinya.
Albert hanya menatap Kharis sekilas, Kharis hanya pemuas nafsunya tidak lebih. Dia sama sekali tidak pernah merasa cinta pada Kharis. Cintanya hanya untuk seorang Cicil Bouw, wanita yang mampu membuatnya ingin memiliki Cicil sampai ke akhir napasnya.
“Apa?” tanya Albert dingin.
Kharis langsung terdiam mendengar jawaban Albert, rasanya Albert benar-benar hanya memanfaatkannya sebagai kasur atau selimut hidup.
“Kamu kenapa? Kaya yang pusing?” tanya Kharis sambil beranjak dari duduknya dan berjalan kearah Albert tanpa satu benangpun menutupi tubuhnya.
Albert menatap Kharis, tubuh Kharis jangan ditanya benar-benar mirip dengan tubuh seorang model, wajahnya manis dan cantik. Tapi, tidak pernah ada rasa cinta dihati Albert.
“Aku cuman lagi mikir gimana cara ngancurin Riki Trina,” ujar Albert sambil terus menatap Kharis yang makin mendekati dirinya.
__ADS_1
“Riki Trina? Riki Trina yang sekarang jadi pacar Cicil...”
PRANG...
Kharis menutup matanya saat sadar ada gelas yang melayang dipinggir kepalanya. “Kenyataannya ‘kan,” ujar Kharis sambil menatap Albert.
Albert diam sambil mengerutukkan giginya. “Keluar kamu,” ujar Albert sambil melambaikan tangannya.
Kharis hanya bisa tersenyum simpul mendengar perkataan Albert, sepertinya dia harus membantu Albert untuk menghancurkan Riki, agar mendapatkan perhatian Albert.
“Ya udah, padahal aku punya cara untuk bikin Riki ancur,” ujar Kharis sambil mengambil baku disampingnya kemudian mengenakannya.
“Kamu punya....”
“Iya, aku punya rencana, tapi kamu nyuruh aku keluar,” ujar Kharis sambil berjalan mendekati Albert.
“Apa?” tanya Albert penasaran sambil menepuk pahanya yang hanya mengenakan celana pendek.
“Kamu ingatkan kalau Riki sudah menandatangi kontrak dengan kamu?” Kharis mengingatkan Albert tentang kontrak yang sudah ditanda tangani oleh Albert dan Riki.
“Iya....”
“Kenapa, nggak kamu manfaatin itu semua?” tanya Kharis sambil duduk dipaha Albert sambil berhadapan dengan Albert.
“Manfaatin gimana?” tanya Albert bingung, sejujurnya bukan bingung, Albert sama sekali tidak membaca dengan jelas perjanjian yang dia tanda tangani dengan Riki. Albert menyerahkan isi dan semuanya pada Kharis.
Kharis tersenyum kemudian membisikan rencananya di telinga kanan Albert. Albert langsung tersenyum senang saat mendengar rencana Kharis yang benar-benar brilian menurut Albert.
“Gimana?” tanya Kharis sambil tersenyum senang pada Albert.
__ADS_1
“Terkadang kamu pinter juga, Kharis,” ujar Albert sambil menjawil hidung Kharis.
•••
“Kamu belum menemukan dimana Cicil?” tanya Jeff pada Tisa sekertaris pribadi Cicil.
“Belum Pak, saya sudah menelepon kesemua telepon milik Bu Cicil dan mencari keteman-temannya juga namun nihil, semuanya tidak tersambung bahkan tidak ada yang tahu keberadaan Bu Cicil,” jawab Tisa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tisa benar-benar sudah tidak mampu berkata-kata. Cicil benar-benar menghilang ditelan bumi, semua pakaian dan barang-barang pribadinya menghilang seperti ditelan bumi. Semua teman-temannya pun tidak tau dimana keberadaan Cicil.
“Pak, saya bener-bener bingung ini kerjaan banyak terbengkalai dan mandeg, banyak yang harus ditanda tangani oleh Bu Cicil,” keluh Tisa sambil menunjukkan bertumpuk-tumpuk berkas yang harus diperiksa oleh Cicil namun terabaikan begitu saja.
Jeff hanya bisa memijat dahinya, anak gadisnya ini tiba-tiba memberontak pada dirinya. Apa sih sebenarnya yang membuat anaknya ini kabur.
“Kamu sudah cari di tempat Riki?” tanya Jeff tiba-tiba saja dia mengingat kalau Cicil sedang menjalin hubungan dengan seorang bernama Riki. Lelaki yang sedang bekerja sama dengan dirinya untuk pengadaan makanan.
“Ah... belum Pak, saya sampai lupa dengan Riki,” ujar Tisa.
“Coba kamu cari kesana dan kabari saya. Saya butuh kejelasan dimana Cicil berada, kamu kerjasama dengan Rully, saya tunggu laporannya hari ini,” ujar Jeff sambil mengetuk-ngetuk meja dengan buku-buku jarinya.
“Iya Pak, kalau begitu saya pamit dulu,” ujar Tisa sambil pergi meninggalkan Jeff sendirian di ruangannya.
Sepeninggalan Tisa Jeff langsung melihat photo anak gadisnya di meja, kekesalannya langsung naik ke ubun-ubun saat melihatnya. Cicil benar-benar membangkang.
“Cil, kamu kenapa jadi membangkang gini? Kamu biasanya menurut semua perkataan Papih, Nak. Kamu kenapa? Apa hubungan kamu sama Albert ada masalah sampai kamu melarikan diri seperti ini?” monolog Jeff sambil menatap photo Cicil yang masih berusia 10 tahun.
•••
Maaf pendek, Kaka gallon lagi fokus ke sebelah. Mohon maaf bila seminggu ini ceritanya ngolor ngidul nggak jelas.
__ADS_1
Mungkin kalau kaka gallon hilang ide, besok novel ini belum Up. Mungkin tanggal 1 baru up secara normal lagi. Maaf yah.. 😭