Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Pov Rozak dan Nama


__ADS_3

Setelah melarikan diri dari Edy yang akan mengasapi mereka dengan asap minyak telon Rozak dan Nama menahan tawanya saat sampai di dalam kabinnya.


Tawa mereka terdengar memenuhi cabin tersebut. Nama tertawa keras sekali sampai-sampai menahan perutnya.


“Astaga Nyun, kamu ketawa kaya yang enak gitu,” ucap Rozak sambil menatap Nama yang sedang mengusap air matanya.


“Abis Edy suka bikin perkara aja kenapa sih sama dia teh. Ada apa antara dia sama Ki Brondong. Ada hubungan ayah dan anak?” tanya Nama sambil menahan tawanya. Tak terpikirkan di kepalanya kalau ayah asli seorang Edy adalah Ki Brondong yang rambutnya awur-awuran.


Rozak hanya bisa menggeleng kepalanya pelan mencoba menjawab pertanyaan Nama yang sampai detik ini pun dirinya tidak tau jawabannya. Selama mereka berteman dari kecil Edy memang sudah mengabdi pada Ki Brondong. Jadi, Rozak tidak bisa menjawab apapun.


Rozak menyimpan tasnya dibagian bawah kasur. Rasa dingin langsung Nama dan Rozak rasakan, apa yang dikatakan Edy memang benar di sana dingin bukan main.


“Aku mandi dulu,” ucap Rozak sambil berlari kedalam kamar mandi. Nama hanya bisa menganggukkan kepalanya. Nama memilih menutupi tubuhnya dengan selimut daripada harus mandi.


Nama lebih suka berguling-guling di kasur dan memencet-mencet fitur lampu yang bisa berubah-berubah warna dan jendela kamar yang bisa berubah menjadi gelap sehingga apa yang terjadi di dalam ruangan tidak akan ada yang melihatnya atau di buat terang sehingga apa yang mereka lakukan di dalam kamar bisa dilihat oleh orang di luar.


Saat sedang mengubah mode bisa melihat bagian luar Nama melihat Edy dan Laura yang sedang asik berpelukkan di atas perahu. Nama hanya bisa menggelengkan kepalanya, malam-malam naik perahau apa nggak takut hantu apa? Gimana kalau kecebur? Astaga Edy memang pikirannya selalu di luar nalar. Untungnya Laura adalah wanita paling sabar menghadapi ke absurdan seorang Edy Edrosh yang hobi di endorsh.


Nama menahan tawanya, di ubahnya kaca jendela menjadi gelap, Nama benar-benar ngantuk. Dia butuh tidur, akhirnya Nama menatik selimut hingga dagunya dan menggulung badannya agar menghangatkan dirinya sendiri.


Tak berapa lama, Nama pun tertidur dengan tenang. Dengkuran halus langsung terdengar di seekitar kabin tersebut.


Beberapa lama kemuadia Rozak keluar dari kamar mandi dan menggodok kepalanya pelan. Di lihatnya Nama yang sudah tertidur pulas membut Rozak langsung duduk di samping Nama dan mencium pipi Nama pelan.


Rozak dengan cepat menyusupkan tubuhnya kebelakang Nama dengan pelan. Tidak ada maksud untuk membangunkan tidur Nama. Rozak tau Nama benar-benar butuh tidur.


Dibaliknya tubuh Nama agar menghadap pada dirinya dan memeluknya dengan erat dikecupnya kening Nama dan di hisapnya wangi tubuh istrinya itu. Nama hanya bergerak pelan dan menarik kaos Rozak agar memeluknya lebih eratnya lagi. Mata Nama terpejam.


“Peluk Kang,” pinta Nama dengan mata yang masih tertutup. “Dingin.”

__ADS_1


Rozak tertawa, Nama memang seperti ini dia bisa berbicara dalam keadaan mata yang terpejam. Nama bisa meminta Rozak melakukan sesuatu tanpa membuka matanya sama sekali. Kecuali bila Rozak menghentaknya otomatis manik mata hitam milik Nama akan terbuka dan menatapnya dengan tatapan nakal.


“Iya, kamu ngantuk? Tidurlah,” ucap Rozak sambil mengusap-ngusap punggung Nama.


“Nggak terlalu ngantuk sih, cuman beneran ini dingin banget, encok yang ada aku. Mana tadi aku liat Edy ama Laura lagi perahu-perahuan di luar. Malem-malem, kebayang kalau jatoh dari perahu. Astaga … aneh emang pasangan itu tuh,” ucap Nama sambil menahan tawanya.


“Kamu mau naik perahu? Biar romantis? Atau mau naik bebek-bebekan?” tanya Rozak sambil mengecup mulut Nama yang munggil.


“Astaga, bebek-bebekan. Nggak makaasih, masih mau idup aku, ya kali aku mau naik bebek-bebekkan terus di tengah danau nggak bisa gerak. Aduh nggak lah makasih.”


“Hahahaa … kalau nggak bisa gerak yah tinggal kita berenang aja ke tepian biar romantis. Kaya di film-film,” kekeh Rozak sambil menepuk-nepuk perut Nama.


“Nggak makasih, yang ada kedinginan masuk rumah sakit. Nggak ada romantis-romantisnya inget rumah sakit jauh dari sini, Kang.” Nama mencoba mengingingatkan Rozak sambil mengusap dada Rozak pelan menggelitiknya pelan.


“Nggak papa—“


“Nggak mau nanti anak kita jadi es batu!?” hardik Nama sambil menyusupkan kepalanya ke dada Rozak pelan.


“Sebentar kamu ngomong apa Nyun?” tanya Rozak bingung saat mendengar perkataan Nama, dia benar-benar ingin meyalinkan dengan pendengarannya.


“Apa?” tanya Nama pura-pura lupa dengan apa yang dikatakannya. Sebenarnya dia ingin mengatakan hal tersebut tapi nanti dia ingin menjadikan itu kejutan untuk suaminya. Namun, karena keinginan suaminya untuk bermain bebek-bebekkan di kolam membuat Nama akhirnya tak sengaja mengatakannya.


“Eh bangus hei, buka mata kamu. Eh … bangun cepet kamu bilang apa tadi. Bangun cepet,” paksa Rozak sambil mengguncang-guncangkan badan Nama ke depan dan ke belakang dengan pelan.


“Apa?” tanya Nama.


“Astaga tadi kamu bilang apa?” tanya Rozak penasaran.


“Nggak bilang apa-apa kamu salah denger aja,” ucap Nama sambil menatap mata Rozak dan tersenyum manis.

__ADS_1


“Nyun, aku nggak suka yah. Kalau kamu nggak mau ngaku aku pergi nih. Aku tinggalin kamu di sini,” ancam Rozak sambil menjawil hidung Nama kesal.


“Eh … jangan ih, aku takut sendirian di sini.”


“Ya udah tadi kamu ngomong apa? Ngomong apa cepet jawab,” paksa Rozak sambil menepuk pelan perut Nama yang rata.


“Aku bilang aku nggak mau naik bebek-bebekkan gimana kalau aku jatoh. Terus anak aku nih yang di perut aku ngebeku, Kang.” Nama langsung tersenyum manis pada Rozak yang detik ini sedang menatapnya dengan tatapan takjub dan penuh cinta.


“Kamu hamil?” tanya Rozak.


“Iya, kemarin aku cek. Aku hamil, tadinya pulang dari sini aku mau ke dokter kandungan dulu mau cek lagi baru aku kasih tau kamu. Eh … tadi aku kelepasan hehehe,” ucap Nama sambil mengecup bibir Rozak pelan dan menyisipkan lidahnya kebagian dalam mulut Rozak pelan.


“Ini beneran?” tanya Rozak kaget. Sepertinya Rozak benar-benar bersyukur mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan anak.


“Iya masa bohongan.”


Dengan cepat Rozak memeluk Nama dan menciumi pucuk rambut Nama dan menghisap wangi rambut Nama yang sangat Rozak sukai.


“Kamu nggak bohong? Hati kamu nggak bohong?” tanya Rozak.


Nama tertawa pelan sambil berkata, “Aku itu cuman beli satu tiket ke perjalanan ke hati kamu. Jadi nggak mungkin aku bisa bohong.”


“Tiket apa?” tanya Rozak bingung.


“Tiket pergi ke hati kamu dan nggak beli tiket pulang. Karena aku sayang kamu, Rozak Trina.”


••••


Xoxo Gallon yang Hobi Kellon

__ADS_1


Yang penasaran tempatnya dimana, cari aja di IG atau google nama tempatnya bobocabin. Ada dua lokasi kalau nggak salah. Cocok buat liburan barang sekejap hehehehe….



__ADS_2