Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Anak kurang ajar


__ADS_3

“Ini benar-benar tidak dapat saya tolerir lagi, kalian sudah membuat ulah berkali-kali,” bentak Pak Sukoco pada Ira dan Wahyu.


Kepala Pak Sukoco hampir pecah saat mengetahui muridnya ada yang melakukan tindakan asusila, makin parahnya lagi tindakan itu dilakukan secara live. Mau di taruh dimana harga diri sekolahnya.


“Kalian ini maunya apa?” tanya Pak Sukoco sambil menatap Ira dan Wahyu yang sedang duduk dengan santainya. Tidak ada rasa takut di kedua mata mereka.


“Mau pulang,” jawab Wahyu santai.


Mendengar jawaban Wahyu, Pak Sukoco hanya bisa terdiam dan menatap penuh angkara murka pada Wahyu. Generasi millennial ini benar-benar membuat Pak Sukoco ingin membenturkan kepalanya ke dinding terdekat.


“Kamu—“


“Pak tenang.” Rozak berusaha untuk menenangkan kepala sekolahnya itu, Rozak tau mengurusi anak-anak remaja kelebihan hormon itu sangat-sangat sulit.


“Saya ini sudah tenang, masalahnya nama baik sekolah dipertaruhkan dan kamu Ira, kamu nggak sadar muka kamu tersorot di video live?” tanya Pak Sukoco gemas.


“Live apa?” tanya Ira bingung, seiingatnya tadi saat dia dan Wahyu bercumbu dengan liarnya, Pak Rozak memergoki mereka dan langsung menariknya dan Wahyu ke ruang kepala sekolah.


“Ira, kamu nggak sadar tadi Wahyu live sosial medianya?” tanya Rozak kaget, polos sekali gadis dihadapannya ini.


“Live?” Ira kebingungan, kemudian menatap Wahyu disampingnya. “Live apa, Yu?”


“Ira, kamu sangka saya tau dari mana kalian bermesraan di gudang ruang olahraga sekolah?” tanya Rozak gemas dengan kepolosan calon adik iparnya ini.


“Bapak nggak sengaja aja lewat sana. Kan Bapak guru olahraga.” Ira menjawab dengan polos.


Pak Sukoco yang sudah gemas dengan kelakuan anak didiknya langsung mengambil handphonennya dan menyerahkannya pada Ira. “Semua orang satu Indonesia tau kelakuan kamu Ira dan semua orang tau kamu itu anak siapa.”


Air muka Ira langsung memucat saat melihat video di layar handphone Pak Sukoco, “Ini kenapa bisa?”


“Ya, bisalah. Karena si Wahyu ini sembunyiin kameranya dan bikin live.” Pak Sukoco kesal bukan main.


“Wahyu kamu kok tega sih?” pekik Ira kesal sambil menantap Wahyu dengan tatapan kecewa.


“Cuman buat seneng-seneng doa—“


Plak


Ira dengan kesal langsung menampar Wahyu dengan keras. Kekesalannya sudah memuncak, “Kalau buat seneng-seneng, kenapa nggak muka kamu yang disorot, hah?”


Wahyu hanya menatap Ira dengan tatapan kaget, rasa sakit benar-benar terasa di pipi Wahyu.


“Sudah, sudah. Bapak sudah panggil orang tua kalian masing-masing,” bentak Pak Sukoco.


Mendengar perkataan Pak Sukoco air muka Wahyu dan Ira langsung berubah panik. Bagaimana tidak, pasti orang tua mereka berdua akan sangat-sangat murka dengan ini semua.


“Pak, ngapain manggil orang tua saya?” tanya Wahyu panik.


“Orang tua saya pasti sibuk, Pak.” Ira berkata dengan nada panik.


“Saya nggak peduli, saya sudah panggil mereka. Terserah, siapa yang mau datang.” Pak Sukoco berkata sambil menggebrak meja.


Wahyu dan Ira hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah saat menghadapi kemarahan kepala sekolahnya itu.


“Pak Rozak kamu kedepan, Pak Ahyar sebentar lagi dateng.” Pak Sukoco berkata sambil menunjuk arah pintu. Rozak langsung keluar meninggalkan ruangan tersebut.


•••


Nama langsung turun dari ojek online yang sudah mengantarnya kesana. Senyumannya langsung berkembang saat berjalan kedalam gedung sekolah dan mendapati mobil Rozak ada disana.


“Cari siapa, Mbak?” tanya Satpam yang menjaga pintu gerbang.

__ADS_1


“Mau ketemu Pak Rozak, guru olahraga.”


“Oh, masih didalam, mobilnya masih ada,” jawab Satpam itu ramah. “Mbak siapanya yah?”


“Saya Nama, Pak. Saya pacarnya Pak Rozak.” Nama menjawab sambil tersenyum.


“Ah, Pak Rozak punya pacar toh, ayu tenan.”


Nama tersenyum manis, “Saya kedalam dulu,” pamit Nama sambil masuk melangkah kedalam gedung sekolah.


Pada saat Nama hendak mengambil handphonennya, mata Nama membulat saat melihat mobil yang masuk kedalam parkiran. Jantungnya berdetak kencang saat melihat siapa yang datang.


“Ayah,” bisik Nama pelan.


Ahyar turun bersama Eva istrinya, mereka sama sekali belum sadar akan kehadiran Nama. Nama kebingungan dia benar-benar tidak mau bertemu dengan ayah dan istri pertama ayahnya.


Dalam keadaan kebingungan dan hampir menangis Nama melirik ke kanan dan ke kiri. Air matanya hampir tumpah saking panik dan ketakutan dengan sosok Eva, yang selalu merendahkan dirinya.


“Gimana in—“


Nama langsung merasakan kehangatan di wajahnya. Dekapan hangat seseorang langsung membuat Nama diam, wangi tubuh yang sangat Nama ingat langsung menggelitik hidung Nama.


“Diem dulu kamu disini.”


“Akang,” panggil Nama sambil mendongkahkan kepalanya dan mendapati Rozak yang tersenyum pada dirinya.


“Kamu, tunggu Akang disini yah atau mau ikut?” tanya Rozak sambil melepaskan pelukkannya.


“Aku mau—“


“Maaf, dimana ruang kepala sekolah?”


Rozak langsung berbalik dan menyembunyikan Nama dibelakang tubuhnya. Entah kenapa naluri melindunginya saat ini mengambil alih, ditambah dengan tangan Nama yang detik ini menggenggam kemejanya dengan erat.


“Ah, anda keluarga Ira Suhendar?” tanya Rozak basa basi.


“Iya, dimana ruangan kepala sekolah,” tanya Eva.


“Saya antar,” ucap Rozak.


Ahyar yang penasaran dengan wanita dibelakang Rozak, langsung terdiam saat melihat siapa wanita itu. “Nama?”


Deg...


Jantung Nama langsung berdetak kencang saat mendengar perkataan Ayahnya.


“Nama,” panggil Ahyar lagi.


Nama dengan takut-takut beranjak dari belakang tubuh Rozak. “Iya, Yah.”


“Kamu ngapain disini?” tanya Ahyar bingung melihat anak gadisnya ada disana.


“Sa—“


“Jangan bilang Ira minta tolong kamu, ngapain sih anak itu manggil kamu. Kakaknya juga bukan,” cerocos Eva kesal saat melihat wajah Nama, rasanya tensi darahnya naik saat melihat anak dari mantan istri kedua suaminya itu.


“Nggak, saya ke—“


“Alah, udah mending kamu pulang. Bikin emosi aja,” ucap Eva sambil menunjuk Nama kesal.


“Mah, jangan gitu. Kita nggak tau Nama kesini karena apa.” Ahyar mencoba menenangkan istrinya.

__ADS_1


“Dia kesini karena saya yang minta, Pak Bu. Dia pacar saya,” jawab Rozak yang gemas dengan perlakuan Eva pada Nama.


“Hah, kamu mau sama anak kaya dia?” Pertanyaan spontan langsung meluncur dari mulut Eva saat mendengar perkataan Rozak.


“Mamah!?” ucap Ahyar yang merasa kesal dengan perkataan istrinya yang kadang terlalu menyakitkan hati Nama.


“Apa?” tanya Eva sambil menatap Ahyar kesal, “mau bela dia sama ibunya lagi?”


Ahyar hanya bisa menghela napas pelan, sepertinya rasa sakit hati yang Ahyar torehkan sangat-sangat membekas dihati Eva.


“Sudah, kita ke ruang kepala sekolah, Ira butuh kita,” ucap Ahyar.


“Nyun, kamu mau ikut?” tanya Rozak pada Nama.


“Aku nunggu di kantin aja,” jawab Nama cepat.


Rozak langsung tersenyum, “Kamu nunggu diruangan aku aja, yah. Di sebelah ruang kepala sekolah.”


“Tapi—“


“Udah ikut aku aja, Nyun,” potong Rozak.


Akhirnya mereka berjalan bersama-sama ke arah ruang kepala sekolah, sepanjang jalan Nama hayang bisa terdiam dan tidak berkata apapun. Nama hanya menjawab dengan senyuman setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh Ayahnya. Nama seram melihat tatapan Eva yang menusuk.


“Silahkan, Bu.” Rozak mempersilahkan Ahyar dan Eva masuk kedalam ruangan kepala sekolah. Dengan patuh Ahyar dan Eva masuk kedalam ruangan kepala sekolah.


“Kamu nunggu di sana aja,” ucap Rozak sambil menunjuk kursi di dalam ruangan guru.


“Kang, ada apa?” tanya Nama penasaran kenapa sampai Ahyar dan Eva datang ke sekolah.


“Nggak ada apa-apa, Nyun.”


“Kang.”


Rozak hanya bisa menghela napasnya, “Ira ketahuan live sosial media ngelakuin tindakan asusila.”


“Hah, kok bisa?” tanya Nama kaget.


“Nggak tau, ini lagi mau dibahas. Kamu tunggu dulu, bisa?” tanya Rozak.


Nama hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Nama dan Rozak mendengar teriakkan dari ruangan kepala sekolah.


“Anak kurang ajar!?”


Brak...


Pintu kepala sekolah terbuka dan Nama mendapati Ira yang sedang menatapnya dengan bola mata yang berkaca-kaca.


“Ira.”


“Kamu!?” ucap Ira.


•••


Kita buat Nama dan Rozak sah yah, sekalian nungguin Edy yang lagi berguru ke Banten dan Cicil yang mau lahiran.


Kita nikmati dulu kisah Nama dan Rozak yang sendu-sendu manis hahaha...


jangan lupa tombol like di goyang, vote, koin dan point di tebar ke novel ini dan minta doanya moga novel ini popa-nya 2 juta akhir bulan ❤️.


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2