
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please...
Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
●●●
Riki langsung menarik Cicil untuk berlari menuruni tangga darurat. Riki menatap ke atas, Albert sudah membuka pintu dan menatap Riki dengan tatapan siap membunuh.
"Baby, sini kamu," perintah Albert sambil berlari mengejar Riki dan Cicil.
"Neng, ayo..." teriak Riki sambil terus berlari menuruni tangga.
Cicil berjuang untuk menuruni tangga dengan cepat, mengimbangi langkah kaki Riki yang lumayan lebar. Cicil beberapa kali meloncati dua anak tangga sekaligus, saking ingin mengimbangi langkah kaki Riki yang lumayan panjang.
"Cicil, sini kamu," teriak Albert sambil mengejar Riki dan Cicil dengan napas memburu. Albert bersumpah kalau seandainya dia bisa mendapatkan Cicil dia akan mendisiplinkan Cicil dengan lebih keras lagi. Cicil harus tau siapa sebenarnya dirinya, dimana seorang Albert Connor tidak akan melepaskan begitu saja wanitanya, apalagi untuk seorang lelaki miskin seperti Riki.
Riki sampai ke pintu keluar dengan cepat Riki berusaha untuk membuka pintu. Tapi, pintunya terkunci....
"Neng, pintunya nggak bisa dibuka," ujar Riki sambil terus berusaha membuka knop pintu dengan susah payah. Sialnya pintu benar-benar tidak bisa dibuka sam sekali.
Cicil langsung mencoba untuk membuka pintu, Tapi, nihil, pintu benar-benar tidak bisa dibuka sama sekali. Sepertinya, semesta ingin Riki dan Cicil saling bertemu dan membicarakan masalahnya. Tapi, orang waras mana yang mau ngobrol dengan seorang psikopat seperti Albert...!?
"Cicil, get back here. I promise treat you better than Riki," teriak Albert sambil terus berlari menuruni tangga. (Cicil, kemari kamu, aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik dari Riki)
"Aa, Albert makin dekat," teriak Cicil ketakutan.
"Kamu dibelakang Aa," Riki berusaha menenangkan Cicil, Cicil dengan cepat bersembunyi dibelakan badan Riki, tangannya masih berusaha untuk membuka pintu sialan yang tidak mau terbuka dibelakangnya.
Albert tersenyum saat melihat Riki dan Cicil yang berada didepan pintu tangga darurat. Dengan, tenang dan tatapan dingin Albert berjalan ke arah Riki dan Cicil.
"Aa..." Cicit Cicil sambil menahan napasnya, tangan kanan Cicil masih berusaha untuk membuka pintu sialan dibelakang mereka.
"Tenang, Neng. Neng dibelakang, Aa aja," Riki berusaha menenangkan Cicil. Riki pasti mampu baku hantam dengan Albert, tapi dengan keadaan Cicil dibelakangnya dan lokasi yang sempit, semua ini memberikan keuntungan bagi Albert yang ahli serangan jarak dekat.
"Baby, sini," perintah Albert keras.
"NGGAK..." teriak Cicil keras, lebih baik dia mati daripada harus kembali berhubungan dengan Albert. Bisa, tinggal nama dirinya bila berhubungan kembali dengan Albert.
__ADS_1
"Kamu mau aku disiplinin lagi, Baby?" tanya Albert sambil berusaha mencengkram bahu Cicil yang ada dibelakang badan Riki.
Badan Cicil bergidik saat mendengar kata mendisiplinkan, cara Albert mendisiplinkan itu sama saja dengan memukuli Cicil atau menyekapnya di kamar tanpa makan dan minum.
"Aa...." cicit Cicil berusaha meminta pertolongan pada Riki.
Bruk....
Riki mendaratkan pukulannya ke rahang Albert, Albert langsung mundur tiga langkah karena terdorong oleh pukulan Riki.
"Well, Baby. Wrong answer i think," ujar Albert sambil mengeremetakkan jari-jari tangannya bersiap untuk memberi Riki pelajaran.
(Baiklah, sayang. Saya rasa, itu jawaban yang salah)
"Aa..." Cicit Cicil lagi, Cicil tidak mau Riki terluka.
"Nggak apa-apa, tenang yah," Riki berusaha untuk menenangkan Cicil yang saking takutnya badannya bergetar hebat, saking bergetarnya Riki merasakan tangan Cicil yang bergetar.
"Riki trina, ingatlah hari ini, karena di hari ini kamu mati...!?" teriak Albert sambil mengangkat kepalan tangan kanannya bersiap mendaratkan pukulannya ke muka Riki.
Riki pun sudah bersiap mengantisipasi bentuk pukulan apapun yang akan diberikan oleh Albert dengan memasang kuda-kuda terbaiknya.
Cicil menutup matanya, mulutnya berkomat kamit mengucapkan berbagai macam doa yang dia tahu. Berharap tuhan berpihak pada dirinya dan memberikan kemenangan untuk Riki.
Albert tiba-tiba merasakan ada benda yang menghantam kepalanya dengan sangat keras. Rasa pusing dan sakit langsung mendera kepalanya. Tangan kanan Albert langsung menyentuh bagian belakang kepalanya yang merasakan sakit luar biasa.
Albert berbalik dan melihat Laura yang sedang memegang tabung pemadam kebakaran dengan napas memburu. "Laur... Laura, kamu ngapa...ngap...."
Brak....
Albert ambruk ditempat, sepertinya pukulan Laura menggunakan tabung pemadam kebakaran benar-benar melumpuhkan Albert.
Laura dengan cepat menyimpan tabung pemadam kebakarannya di lantai. Laura lalu menendang bahu Albert keras, untuk memastikan apakah Albert sudah pingsan atau hanya pura-pura saja.
"Rasain, enak nggak lo gue timpuk pake tabung pemadam kebakaran?" teriak Laura sambil menjulurkan lidahnya kesal.
"Laura," panggil Cicil sambil memeluk Laura erat.
"Albert sinting...!"
"Nggak usah ditegesin, Albert emang turunan dajjal," ujar Cicil sambil ikut menendang Albert di perutnya.
__ADS_1
Riki langsung menatap Albert dan memeriksa apakah Albert masih hidup atau tidak. Dipukul tabung pemadam kebakaran di kepala, bisa membuat seseorang geger otak atau bahkan mati. Riki bernapas lega saat menyentuk hidung Albert ternyata masih bernapas dan tidak ada genangan darah di lantai.
"Laura, lain kali jangan pukul orang pake tabung pemadam kebakaran yah, salah-salah bisa tinggal nama orang yang kamu pukulnya, Laura," Riki memperingatkan Laura.
"Ah, tadinya aku mau pukul dia pakai ini," ujar Laura sambil mengeluarkan dongkrak mobil dari dalam tasnya.
Riki kaget setengah mati melihat dongkrak mobil dikeluarkan dari tas rangsel Laura, "Nggak pake itu juga, Laura."
"Iya, aku ngerasa ini kurang enak buat diayunin," ujar Laura polos dan tidak mengerti arti perkataan Riki sebenarnya.
Riki langsung mengambil dongkrak mobil dari tangan Laura kemudian menaruhnya dilantai perlahan. Dia tidak mau seandainya Laura kelepasan, dongkrak itu bisa melayang dan mengenai kepalanya ataupun kepala Cicil.
Klik...
Pintu sialan itu tiba-tiba saja terbuka, napas Cicil, Laura dan Riki langsung tertahan. Kalau sampai ada orang yang melihat mereka sedang berdiri menggelilingi Albert yang tergeletak tak berdaya, bisa dipastikan mereka semua akan dibawa kekantor polisi detik ini juga, atas tindakan percobaan pembunuhan ditambah upaya pembobolan brangkas Albert.
"Udah?"
"Lele..." ujar Laura sambil tersenyum senang, tapi langsung berubah dingin saat dilirik CIcil dengan tatapan mengejek.
"Edrosh...."
"Udah belum ?" tanya Edy sambil masuk kedalam dan menahan pintunya dengan kakinya. "Lah, itu kenapa si Albert?"
"Ditimpuk Laura pake tabung pemadam kebakaran, Ed," jawan Riki cepat sambil menarik Cicil keluar dari sana.
"Laura kamu nimpuk dia?" tanya Edy kagum atas keberanian Laura sang pujaan hatinya.
"Iya, kenapa? Mau gue timpuk juga, hah?" tanya Laura sambil menghentakkan kakinya kelantai membuat Edy kaget.
"Aku mah mau ditimpuk pake cintamu, Laura," ujar Edy sambil memonyongkan mulutnya seperti ikan lele minta kawin adalannya.
"Hidih... amit dah," ujar Laura sambil pergi melewati Edy yang masih berharap mendapatkan ciuman dari Laura.
"Laura, sayangku cintaku pujaanku, tunggu Edy," teriak Edy sambil menatap Albert sekilas kemudian meninggalkan Albert tergeletak tak berdaya disana.
●●●
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon