Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Benda Terlarang


__ADS_3

Rozak terus menerus mengelusi punggung Nama. Nama tampak tenang tertidur di lengannya. Dengkuran halus terdengar di kuping Rozak, rasanya menyenangkan melihat Nama yang tertidur tenang di lengannya.


Rozak berusaha untuk menarik tangannya dari pelukkan Nama, dia ingin kekamar mandi. Saat Rozak menarik tangannya, Nama langsung menahan tangan Rozak. Nama berbalik dan menatap Rozak.


“Mau kemana?” tanya Nama sambil mengendusi wajah Rozak.


“Mau kekamar mandi, Nyun. Mau ikut?” canda Rozak sambil tersenyum pada Nama.


“Ngapain?” tanya Nama nakal sambil mengelus-ngelus dada Rozak.


“Mandi Nyun, mau Akang mandiin kamu sekalian. Tapi, jangan harap Akang bisa tahan iman,” kekeh Rozak sambil menepuk-nepuk punggung Nama.


“Ya ampun, Kang.” Nama berkata sambil menunjukkan ekspresi terkejut, “ya udah ayok.”


Rozak langsung tertawa mendengar perkataan Nama, kekasih malu-malu meongnya sudah berubah menjadi malu-malu ayo. Dengan cepat Rozak menggigit bibir bagian bawah Nama.


“Nggak, awas aku mau kekamar mandi,” ucap Rozak sambil mendorong tubuh Nama pelan.


Nama langsung berguling-guling menjauhi Rozak sambil tertawa pelan. “Guling-guling.”


“Astaga, kelakuan kamu kaya anak kecil,” kekeh Rozak saat melihat Nama berguling-guling ke kanan dan ke kiri.


“Biarin, udah sana mandi,” usir Nama.


Rozak pun berjalan ke kamar mandi namun berhenti dan berbalik menatap Nama. “Nyun, liat.”


Nama melihat Rozak kemudian tertawa saat melihat Rozak berputar-putar ala balerina. “Astaga Kang, nggak cocok banget ama muka kelakuannya.”


“Bodo, kamu doang yang tau.” kekeh Rozak sambil mengedipkan sebelah matanya dan masuk ke kamar mandi.


Nama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa Nama sadari Nama mengingip bagian bawah ranjang milik Rozak. Matanya, memicing saat melihat bungkusan berwarna putih, dengan rasa penasaran tingkat tinggi Nama menarik bungkusan tersebut.


Bungkusan itu tampak terbungkus rapih dan tertutup rapat. Hal itu membuat Nama makin penasaran, diselipkannya anak rambutnya di telinganya sambil membuka bungkusan tersebut.


Bungkusan itu tampak sangat mencurigakan, entah apa yang ada dibagian dalam bungkusan tersebut. Nama benar-benar penasaran, diliriknya pintu kamar mandi Rozak. Nama takut, saat membuka bungkusan tersebut Rozak tiba-tiba muncul dan memerogoki dirinya sedang mengutak ngatik barang-barang milik Rozak.


“Apa sih ini?” monolog Nama sambil membuka perlahan bungkusan tersebut.


Saat plastiknya terbuka Nama melihat bungukusan itu tertutup kain berwarna putih sewarna dengan plastik pembungkusnya. Pikiran Nama langsung berkelana memikirkan apa yang disembunyikan Rozak.


“Ini apa sih? Ampe dibungkus banyak-banyak gini? Apa obat terlarang?” tanya Nama lagi, Nama berbicara sendiri sambil membuka kainnya.


Saat kain tersebut berhasil dibuka, Nama makin penasaran saat melihat kotak kaleng berbentuk segi empat. “Astaga apa lagi ini, Kang Rozak nyembunyiin apaan sih? Ampe dikalengin segala?”


Nama makin kesal dan bingung, dengan cepat dia ambil kotak tersebut. Ia langsung membuka kotak kaleng itu. Saat terbuka, mata Nama membulat dan senyumannya mengembang, Nama berjuang untuk tidak tertawa melihat apa isi didalam kaleng tersebut.


Klik ...


Rozak keluar dari kamar mandi setelah mandi, “Nyun kalau mau man—“


“Akang sukanya dada tipe segede semangka?” tanya Nama sambil menahan tawanya dan menunjukkan majalah yang Nama temukan dari dalam kaleng tersebut.


Rozak kaget saat melihat majalah yang ditunjukkan Nama, itu adalah benda terlarang miliknya. Benda yang menemani kehidupannya selama masa-masa jomblonya, terkadang dia berbagi dengan Riki juga majalah tersebut. Yup, majalah berlogo kelinci itu tampak berada ditangan Nama.


“Astaga, Nyun. Itu benda terlarang,” pekik Rozak panik sambil berlari kearah Nama dan mengambil majalah di tangan Nama dan kaleng keramat miliknya.


“Hahaha, astaga Akang. Akang demennya yang gede yah? Aduh Nama jadi minder,” olok Nama.

__ADS_1


“Nyun, ini tuh benda keramat kenapa kamu bisa nemuin?” tanya Rozak bingung.


“Nggak tau, tadi nggak sengaja aku liat di bawah tempat tidur. Untung, Ibu nggak liat. Kalau liat nangis dia,” ucap Nama.


“Kenapa Ibu harus nangis?” tanya Rozak panik, nggak lucu dia nggak jadi nikah cuman karena benda terlarang dan keramatnya ini.


“Nangislah, ternyata tipenya Akang wanita berdada semangka. Bukan kaya anaknya yang dadanya standar showroom mobil,” ucap Nama sambil menatap dadanya.


Rozak mendelik kesal mendengar perkataan Nama, dengan cepat Rozak menyimpan kotak tersebut di meja. Ide nakal melintas dipikiran Rozak. “Oh, iya tapi kadang kalau urusan dada itu harus diteliti dulu. Harus dicek dulu, pas atau nggaknya, Nyun.”


“Hilih, dicek gimana?” tanya Nama sambil menatap rozak yang sudah berjalan mendekati dirinya.


“Iya pas atau nggak digenggaman tangan Akang, aerodinamis atau nggak,” ucap Rozak sambil duduk di samping Nama.


“Emang disangka ban, pake dikata aerodinamis segala,” kekeh Nama sambil mendorong badan Rozak.


“Eh iya, kaya gini.” Rozak menyentuh salah satu dada Nama, yang membuat Nama terdiam.


“Nah ini pas cocok di tangan Akang,” canda Rozak sambil meremas gemas dada Nama.


“Ngaco,” ucap Nama sambil mendorong tangan Rozak dan memukuli Rozak dengan bantal karena kesal.


Tawa pun terdengar memenuhi ruangan tersebut, membuat siang itu makin hangat bagi Rozak dan Nama.


•••


“Kang mau makan apa?” tanya Nama sambil menarik ayam potong beku dari dalam kulkas.


“Ikan,” jawab Rozak tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas pekerjaannya.


“Oh, ikan yah?”


“Ayam aja udah, ikannya belum mancing,” jawab Nama sambil membuka bungkusan ayam.


“Kalau tau mau masak Ayam nggak usah nanya, Nyun.” Rozak menahan tawanya saat mendengar jawaban Nama. Kebiasaan yang sudah Rozak kenal dari Nama yang menanyakan sesuatu tapi sebenarnya Nama sudah tau jawabannya benar-benar membuat Rozak tertawa.


“Kan biar komunikasi,” jawab Nama santai.


Rozak hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Nama. Nama itu punya peraturan Nama tidak pernah salah, kalau Nama salah ya maafin aja jangan diinget-inget.


Zrettt ... Zrettt ... Zrettt


Handphone Rozak tampat bergetar di meja dapur, Nama dengan cepat menengok layar Handphone Rozak. “Kang, telepon.”


“Siapa?” tanya Rozak yang malas beranjak dari tempatnya. Pekerjaannya sebentar lagi selesai.


“Cicil,” jawab Nama sambil mengambil Handphone Rozak.


“Angkat terus loudspeaker.”


Nama langsung melakukan permintaan Rozak, beberapa saat kemudian terdengar suara Cicil disebrang sana.


“Eh, Rozak kasih tau Nama, ini maksud dan tujuannya apaan?” bentak Cicil dengan intonasi suara marah. Cicil benar-benar membentak dengan keras tanpa ada basa basi terlebih dahulu.


Rozak dan Nama langsung terdiam, Rozak langsung mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas dihadapannya. Rozak tau Cicil itu judesnya jangan ditanya, tapi sangat jarang Cicil judes pada Rozak.


“Kenapa?” tanya Rozak sambil mendekati handphonennya.

__ADS_1


“Kenapa!?” bentak Cicil lagi kesal.


“Cil, ada apa?” tanya Nama bingung.


“Nah, sapa tuh? Nama bukan?” tanya Cicil dengan suara bergetar karena menahan tangis.


“Iya ini Nama,” jawab nama bingung kenapa dengan calon kakak iparnya itu.


“Eh, Nama kasih tau Ayah kamu, nggak lucu yah. Punya otak nggak Bapak kamu tuh? Otaknya di dengkul atau di mana, hah?” Suara Cicil terdengar bergetar saat berbicara.


“Cil, ada apa ini? Jangan marahin Nama, ada apa?” tanya Rozak yang merasa tidak terima Nama dibentak oleh Cicil.


“Nam, pikir sama kamu. Aku tuh lagi hamil, usia kandungan aku masuk delapan bulan, bulan depan aku lahiran, bapak kamu tega banget sumpah,” isak Cicil.


“Cil, kenapa?” tanya Rozak dan Nama berbarengan, rasa bingung langsung menyergap Nama dan Rozak.


“Nggak lucu yah. Ini ngapain, Aa Riki di bawa ke kantor polis?” tanya Cicil.


“Eh, kok bisa emang kenapa?”


“Kok bisa, kok bisa. Bapak kamu nuntut Aa Riki karena Aa nonjok dia kemarin, Aa Riki dituntut tidak kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan. Astaga, maksudnya apa? Aa marah juga gara-gara bapak kamu bilang aku jalang,”terang Cicil berang.


“Astaga.”


“Pokoknya ini apa maksudnya, aku mau Aa nggak masuk penjara. Sinting apa, suami aku masuk penjara. Aku ini mau lahiran mau tenang. Ada aja masalah, maunya apa sih bapak kamu itu? Tender? Sinting mau minta tender untungnya gede gitu, mau bikin Papih aku masuk rutan? Perusahaan aku gulung tikar?” sentak Cicil dengan suara tersendat-sendat.


“Cil, tenang yah,” pinta Nama panik.


Rozak langsung mengusap bahu Nama, “Cil, aku bakal ke kantor polisi sekarang.”


“Iya, urus itu kelakuan calon mertua kamu. Nggak usah bawa-bawa suami aku. Aku ini mau lahiran, astaga!?”


“Iya, udah tenang yah. Kita urus,” ucap Rozak.


“Urus pokoknya nggak mau tau, kalau sampai Aa Riki nggak bisa keluar dari penjara sore ini juga. Jangan salahin kalau aku turun tangan dan bikin sengsara kelurga Suhendar!?” ucap Cicil geram.


“Iya, Ci—“


Klik ...


Cicil menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu perkataan Nama selesai.


“Kang,” bisik Nama bingung.


“Udah, tenang.”


Rozak hanya bisa berkata tenang, walau dalam pikirannya Rozak sama sekali tidak tenang. Dia bingung bagaimana carnya mengeluarkan Riki dari kantor polisi.


•••


Dor ... selamat siang.


Terima kasih komen2nya aku kasih like yah, sorean semuanya. Tangan aku sakit jadi rada susah ketak-ketik. Hehehee...


terima kasih yang udah vote, bunga, kopi, kommen dan likenya ❤️❤️.


Perang yuk 🤣

__ADS_1


Xoxo Gallon


__ADS_2